Suasana. Kemarin sore aku berkunjung ke rumah simbah-ku di klaten, bersama Setyo, sohibku. Sampai di sana, halaman rumah yg luas segera menyambut kami. Daun-daun yg gugur, berserakan di halaman rumah. Angin semilir menimbulkan irama akibat gesekan antar daun-daun pohon mangga. Sejenak dejavu.
Simbah putri sekarang tinggal sendirian di rumah yg tergolong luas itu, setelah seminggu yg lalu ditinggal simbah kakung. Sepi, dan sakit.
Setahun yg lalu mungkin aku masih bisa berharap simbah putri menyambutku di pintu masuk rumah, menunjukkanku kamar yg bisa kupakai untuk istirahat, atau meja makan tempatku bisa mengganjal perutku. Tapi kali ini tak pantas saja aku mengharapkan itu semua. Yg ada, halaman luas menghampar, daun2 gugur berserakan, pintu dan jendela rumah tertutup, dan hanya satu pintu utama yg terbuka. Aku segera masuk, n menuju kamar simbah seolah ku tahu pasti simbah ada di ruang itu. Dan, ya, memang benar. Dg suaranya yg setengah merintih, mungkin karena perih, ia masih sempat menyambutku, n memberi instruksi padaku untuk istirahat dulu. Ah!
Aku segera menjelajah ruang-ruang yang kini memang "kosong", di rumah itu. Berdebu, dan lembab. Kubuka jendela-jendela yg setahun lalu biasa terbuka, n pintu-pintu yg sepantasnya dibuka. Kuambil sapu, dan... ya, melakukan kebiasaanku seperti tahun-tahun lalu saat berkunjung ke rumah ini: menyapu.
Ya. Aku teringat, dulu pernah aku berkata pada ayahku saat aku diminta menyapu daun-daun berserakan di halaman rumah ini, "kenapa mesti disapu tiap pagi? toh nanti daun-daunnya juga akan berguguran lagi dan kotor lagi,". Jawabannya kutemukan setidaknya setahun yg lalu, ketika simbah kakung dan simbah putriku dua-duanya sedang sakit, dan saat itu aku ke rumah ini, lalu mendapati halaman rumah yg begitu aku melihatnya, aku langsung bertanya dalam hati, "berapa hari tak disapu ya?".
Dan baru kemarin sore aku berniat, untuk menyapu halaman "rumahku" secara rutin. Ya, ruang-ruang di qalbuku.
Penjelajahan, dalam diri, dalam detail, dalam suasana, dalam kata, dalam angka, dalam semesta, dalam waktu... sampai kapanpun, will always be more delicious
Tampilkan postingan dengan label inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label inspirasi. Tampilkan semua postingan
27 September 2010
16 Juli 2010
di trotoar

aku tersamarkan, dalam gegapnya lolongan beribu jiwa,
aku melelap,
dalam stagnansi pikir dan dinamika waktu
aku memang memilih hibernasi ini,
diam di tempat,
menyaksikan waktu terus berlarian,
detik-detik berseliweran di kanan-kiriku,
aku memilih berdiri sejenak di trotoar ini,
menyaksikan lalu lintas waktu,
dan kendaraan, dan manusia, yg selalu seperti terkejar..
di sini kubercermin
pada lalu lalang di jalan raya itu
kulihat dari dimensi ini
lagak sombong yg mungkin dulu melekat pula padaku
langkah angkuh yg dulu mungkin kujejak
irama kebanggaan semu yg
mungkin dulu pernah digetarkan oleh pita suaraku
kulihat lagi raut-raut munafik itu,
penuh,
wow,
mungkin aku seperti itu,
di trotoar ini, di tepi lalu lintas waktu
aku bercermin
dan di belakangku
sungai masih mengalir
***
Label:
cermin,
inspirasi,
introspeksi diri,
lifestyle,
renungan
31 Mei 2010
episode makan malam
Seharian beraktivitas, A makan malam bersama B,
B : apa yang sebenarya kaucari?
A : (cukup lama berpikir dan akhirnya menggelengkan kepala) aku tak tahu, entahlah… untuk apa aku beraktivitas seharian ini? apa yang kucari?
B : kau mencari uang.. (lalu menyeruput jus mangga di mejanya)
A : uang? (mengaduk-aduk es campurnya) iya sih, tapi sepertinya bukan cuma itu.. ada sesuatu yang lain yang seharusnya kucari, nonmaterial…
B : kau mencari popularitas? (menyendok nasi gorengnya)
A : ah! apa pula itu? (ada yang membenarkan di hatinya) tapi harusnya bukan itu yang kucari… itu hampa… penuh dengan pintu kekecewaan… manusia tak pernah sempurna… (menikmati capcay gorengnya)
B : mungkin kau mencari pahala?
A : pahala? (beberapa detik terdiam) bukan… mungkin seharusnya bukan itu yang kucari… aku tak peduli, Tuhan mau memberiku imbalan macam apa… (melanjutkan menyantap sesendok capcay-nya)
B : kau mencari surga? (masih asyik dengan nasi gorengnya)
A : ah! sama saja itu dengan pahala… aku cuma ingin memberi dan tak mengharap imbalan dari siapapun… (agak menggelengkan kepalanya)
B : aku tahu, kau mencari cinta… (beralih ke jus mangganya)
A : cinta? (cukup lama pandangnya menerjang apa yang ada di depannya, tak tahu kemana…, dan sendoknya menggantung…) ya, mungkin cinta yang kucari.. tapi cinta terlalu abstrak… aku tak mengharap cinta dari yang lain, aku ingin mencinta, tapi apa yang musti dicinta?
B : kau mencari ‘raga’ untuk dicinta? (beralih lagi ke nasi gorengnya)
A : raga? ia fana, akan rusak dan hancur… lalu harus kukemanakan cintaku jika sang raga itu telah rusak dan hancur?
B : kau mencari ‘jiwa dan raga’ untuk dicinta?
A : jiwa dan raga? suatu kesatuan? bagaimana jika nantinya sang raga mati, harus kukemanakan separuh cintaku?
B : jadi, kau hanya mencari ‘jiwa’ untuk dicinta?
A : (ia menarik dan menghembuskan nafas cukup panjang, dan pandangannya terus menerjang ke depan) jiwa… iya… tapi bahkan kemana jiwa itu pergi setelah tak punya raga, aku pun masih bertanya-tanya…
B : oh, aku tahu, ternyata kau masih mencari Sang Cinta untuk dicinta…
beberapa detik terdiam, saling pandang, lalu keduanya kembali asyik menyantap hidangannya masing-masing…
***
B : apa yang sebenarya kaucari?
A : (cukup lama berpikir dan akhirnya menggelengkan kepala) aku tak tahu, entahlah… untuk apa aku beraktivitas seharian ini? apa yang kucari?
B : kau mencari uang.. (lalu menyeruput jus mangga di mejanya)
A : uang? (mengaduk-aduk es campurnya) iya sih, tapi sepertinya bukan cuma itu.. ada sesuatu yang lain yang seharusnya kucari, nonmaterial…
B : kau mencari popularitas? (menyendok nasi gorengnya)
A : ah! apa pula itu? (ada yang membenarkan di hatinya) tapi harusnya bukan itu yang kucari… itu hampa… penuh dengan pintu kekecewaan… manusia tak pernah sempurna… (menikmati capcay gorengnya)
B : mungkin kau mencari pahala?
A : pahala? (beberapa detik terdiam) bukan… mungkin seharusnya bukan itu yang kucari… aku tak peduli, Tuhan mau memberiku imbalan macam apa… (melanjutkan menyantap sesendok capcay-nya)
B : kau mencari surga? (masih asyik dengan nasi gorengnya)
A : ah! sama saja itu dengan pahala… aku cuma ingin memberi dan tak mengharap imbalan dari siapapun… (agak menggelengkan kepalanya)
B : aku tahu, kau mencari cinta… (beralih ke jus mangganya)
A : cinta? (cukup lama pandangnya menerjang apa yang ada di depannya, tak tahu kemana…, dan sendoknya menggantung…) ya, mungkin cinta yang kucari.. tapi cinta terlalu abstrak… aku tak mengharap cinta dari yang lain, aku ingin mencinta, tapi apa yang musti dicinta?
B : kau mencari ‘raga’ untuk dicinta? (beralih lagi ke nasi gorengnya)
A : raga? ia fana, akan rusak dan hancur… lalu harus kukemanakan cintaku jika sang raga itu telah rusak dan hancur?
B : kau mencari ‘jiwa dan raga’ untuk dicinta?
A : jiwa dan raga? suatu kesatuan? bagaimana jika nantinya sang raga mati, harus kukemanakan separuh cintaku?
B : jadi, kau hanya mencari ‘jiwa’ untuk dicinta?
A : (ia menarik dan menghembuskan nafas cukup panjang, dan pandangannya terus menerjang ke depan) jiwa… iya… tapi bahkan kemana jiwa itu pergi setelah tak punya raga, aku pun masih bertanya-tanya…
B : oh, aku tahu, ternyata kau masih mencari Sang Cinta untuk dicinta…
beberapa detik terdiam, saling pandang, lalu keduanya kembali asyik menyantap hidangannya masing-masing…
***
Label:
inspirasi,
makan malam,
motivasi,
percakapan,
persahabatan,
pertanyaan,
refleksi,
renungan
12 April 2010
Pramoedya A. T., nice quotation
Wartawan: "Bagaimana sikap Bung terhadap penahanan yang 10 tahun ini?"
Pram : "Bukan 10 tahun, memasuki 13 tahun. Dalam Mahabharata, orang dipisahkan dari masyarakatnya selama 13 tahun. Dalam Ramayana 14 tahun. Dalam sejarah Digul 14 tahun (1928 - 1942). Dalam sejarah exorbitante rechten (hak-hak luar biasa) Gubernur Jenderal 5 tahun, kecuali bagi golongan nasionalis kiri. Tentang pribadiku? Masa yang memasuki 13 tahun ini kuanggap sebagai akibat proses nasional belaka."
Wartawan: "Perasaaan Bung sendiri? Perasaan pribadi?"
Pram : "Tidak ada apa-apa. Pribadiku tidak penting dalam proses ini."
(nyanyi sunyi seorang bisu)
***
Pram : "Bukan 10 tahun, memasuki 13 tahun. Dalam Mahabharata, orang dipisahkan dari masyarakatnya selama 13 tahun. Dalam Ramayana 14 tahun. Dalam sejarah Digul 14 tahun (1928 - 1942). Dalam sejarah exorbitante rechten (hak-hak luar biasa) Gubernur Jenderal 5 tahun, kecuali bagi golongan nasionalis kiri. Tentang pribadiku? Masa yang memasuki 13 tahun ini kuanggap sebagai akibat proses nasional belaka."
Wartawan: "Perasaaan Bung sendiri? Perasaan pribadi?"
Pram : "Tidak ada apa-apa. Pribadiku tidak penting dalam proses ini."
(nyanyi sunyi seorang bisu)
***
10 April 2010
Tuhan kalah
Sore itu, Ari dan teman-teman kontrakannya menyaksikan video ‘perang’ tak masuk akal antara Israel dan Palestina. Tak masuk akal menurutnya, karena sama sekali tak berimbang.
Lelaki itu menahan emosi yang sesekali berdesak ingin menguasainya. Marah, tapi tak tahu harus ditujukan pada siapa. Yang membuatnya bertanya-tanya, ironisnya, yang menjadi akar masalah ‘perang’ itu adalah Yerusalem, yang secara bahasa berarti: ‘daerah keselamatan’. Apakah masih pantas kota itu disebut Yerusalem?
Malamnya, ia tak bisa menghentikan dirinya untuk bertanya, yang lagi, entah ditujukan pada siapa. Ia hanya bertanya dalam benaknya, mengingat lagi berbagai tragedi dan konflik yang mengatasnamakan agama, mengingat lagi segala tindak penghancuran yang mengatasnamakan agama. Berapa ribu nyawa saja yang telah melayang karena tindakan ‘aneh’ yang mengatasnamakan agama?
Ari terpaku. Ia sadar, tiap agama punya benteng yang teramat tinggi atas ‘keraguan’. Padahal, tanpa adanya ‘keraguan’, diskusi dan dialog tak kan pernah nyata.
Ia jadi teringat kutipan kalimat yang ia baca di sebuah artikel: ”Bila seseorang menderita waham, gejala itu akan disebut gila. Bila banyak orang menderita waham yang sama, gejala itu akan disebut agama.”
Apakah nyatanya agama hanya seperti itu? Entahlah.
Lelaki itu mengambil secarik kertas, menuliskan pertanyaan-pertanyaan tak terjawab yang terlintas di pikirannya. Tapi kali ini, ia tujukan pada Tuhan: “Apa benar, dulu Kau minta kami membuat agama? Maaf, sepertinya, saat ini Kau benar-benar telah menjadi: Yang Maha Asing bagi kami. Sejak dalam kandungan, orang tua kami telah menyiapkan kalung agama untuk kami, dan begitu kami lahir, dipakaikanlah kalung itu pada kami. Lalu kami ikuti arus kehidupan. Kami sibuk mengisi waktu. Kami juga tak lupa sembahyang. Tapi jangan-jangan, disana Kau sendiri menggeleng-gelengkan kepala sambil bersuara keras menegur kami: bukan seperti itu maksud perintah-Ku!!! Tapi kami seakan terhalang dinding yang amat tebal! Kami terbius ramai bisingnya mesin-mesin dunia! Kami terbius ramai bisingnya detik yang tak henti berganti! Dan suara-Mu…, teguran-Mu…: kalah, Tuhan!!!”
Entah kenapa, ia gunakan kata ‘kami’, seakan orang-orang lain juga sedang risau.
Malam semakin sunyi, dan hembusan angin seperti terus membisikkan pertanyaan pada Ari: “Bukankah agama, yang telah mengalahkan suara Tuhan?”
Dan Ari, cuma seorang lelaki yang sedang bertanya, tidak kurang, tidak lebih.
***
Lelaki itu menahan emosi yang sesekali berdesak ingin menguasainya. Marah, tapi tak tahu harus ditujukan pada siapa. Yang membuatnya bertanya-tanya, ironisnya, yang menjadi akar masalah ‘perang’ itu adalah Yerusalem, yang secara bahasa berarti: ‘daerah keselamatan’. Apakah masih pantas kota itu disebut Yerusalem?
Malamnya, ia tak bisa menghentikan dirinya untuk bertanya, yang lagi, entah ditujukan pada siapa. Ia hanya bertanya dalam benaknya, mengingat lagi berbagai tragedi dan konflik yang mengatasnamakan agama, mengingat lagi segala tindak penghancuran yang mengatasnamakan agama. Berapa ribu nyawa saja yang telah melayang karena tindakan ‘aneh’ yang mengatasnamakan agama?
Ari terpaku. Ia sadar, tiap agama punya benteng yang teramat tinggi atas ‘keraguan’. Padahal, tanpa adanya ‘keraguan’, diskusi dan dialog tak kan pernah nyata.
Ia jadi teringat kutipan kalimat yang ia baca di sebuah artikel: ”Bila seseorang menderita waham, gejala itu akan disebut gila. Bila banyak orang menderita waham yang sama, gejala itu akan disebut agama.”
Apakah nyatanya agama hanya seperti itu? Entahlah.
Lelaki itu mengambil secarik kertas, menuliskan pertanyaan-pertanyaan tak terjawab yang terlintas di pikirannya. Tapi kali ini, ia tujukan pada Tuhan: “Apa benar, dulu Kau minta kami membuat agama? Maaf, sepertinya, saat ini Kau benar-benar telah menjadi: Yang Maha Asing bagi kami. Sejak dalam kandungan, orang tua kami telah menyiapkan kalung agama untuk kami, dan begitu kami lahir, dipakaikanlah kalung itu pada kami. Lalu kami ikuti arus kehidupan. Kami sibuk mengisi waktu. Kami juga tak lupa sembahyang. Tapi jangan-jangan, disana Kau sendiri menggeleng-gelengkan kepala sambil bersuara keras menegur kami: bukan seperti itu maksud perintah-Ku!!! Tapi kami seakan terhalang dinding yang amat tebal! Kami terbius ramai bisingnya mesin-mesin dunia! Kami terbius ramai bisingnya detik yang tak henti berganti! Dan suara-Mu…, teguran-Mu…: kalah, Tuhan!!!”
Entah kenapa, ia gunakan kata ‘kami’, seakan orang-orang lain juga sedang risau.
Malam semakin sunyi, dan hembusan angin seperti terus membisikkan pertanyaan pada Ari: “Bukankah agama, yang telah mengalahkan suara Tuhan?”
Dan Ari, cuma seorang lelaki yang sedang bertanya, tidak kurang, tidak lebih.
***
07 April 2010
beban
Siti terbangun dini hari itu. Ia dapati jam dindingnya menunjukkan pukul 03.00. Mahasiswi yang sebentar lagi akan wisuda itu terbius sepi. Sunyi, yang sangat jarang ia rasakan.
Bertanya ia, dalam dirinya. Sekarang, skripsinya sudah selesai, sudah yudisium pula. Bukankah harusnya ia bisa merasa merdeka, bebas, seperti yang ia harapkan sejak dulu? Bebas dari skripsi, bebas dari kuliah, bebas dari tuntutan dosennya, bebas dari pertanyaan “kapan lulus?”. Tapi rasanya, ada yang berat mengganjal di hatinya, hingga ia merasa belum bebas, belum bisa ‘terbang’ sebebas elang-elang itu.
Sebentar ia termenung. Dan, ah, ya! “Aku akan menghadapi pertanyaan, ‘kerja dimana?’, ‘kapan nikah?’, ‘kapan punya rumah baru?’, ‘kapan punya anak’?’”
Tuntutan, beban. Siti seakan bertanya pada Tuhannya, “Kapan aku akan hidup merdeka, bebas dari segala tuntutan yang seakan memaksaku menjawabnya??”
Terdiam ia, merenungkan perjalanan hidupnya. Lalu….
Wow! Ia lahir 22 tahun yang lalu: -tuntutan neneknya atas kedua orang tuanya-
Ia besar, lalu sekolah, TK, SD, SMP, SMA : -tuntutan zaman, tuntutan orang tuanya-
Saat sekolah, ia juga tertuntut untuk jadi pintar, dapat nilai bagus, lulus tepat waktu setiap jenjangnya.
Kemudian ia kuliah: -tuntutan dunia kerja-. Ya, karena untuk lebih mudah dapat kerja, katanya harus punya ijazah S1. Dan saat kuliah, ia dapati beban 144 sks. Belum lagi, saat menyelesaikan skripsi yang penuh dengan tuntutan, baik dari dosen, teman, maupun saudara-saudaranya di rumah. Lalu sekarang ia dah lulus.
Angin yang masuk lewat jendela kamarnya menyapa wajahnya. Seakan ia temukan benang merah dalam perjalanan hidupnya. Ya, ini dia. Ia tuliskan di secarik kertas, sebuah pertanyaan: “apakah hidup itu hanyalah menanggung beban dan menjawab tuntutan?”.
Di luar, rumput bergoyang disapa angin, seperti saling bertanya satu sama lain, “Apakah Tuhan lupa memberitahu manusia untuk apa ia diciptakan?”.
***
Bertanya ia, dalam dirinya. Sekarang, skripsinya sudah selesai, sudah yudisium pula. Bukankah harusnya ia bisa merasa merdeka, bebas, seperti yang ia harapkan sejak dulu? Bebas dari skripsi, bebas dari kuliah, bebas dari tuntutan dosennya, bebas dari pertanyaan “kapan lulus?”. Tapi rasanya, ada yang berat mengganjal di hatinya, hingga ia merasa belum bebas, belum bisa ‘terbang’ sebebas elang-elang itu.
Sebentar ia termenung. Dan, ah, ya! “Aku akan menghadapi pertanyaan, ‘kerja dimana?’, ‘kapan nikah?’, ‘kapan punya rumah baru?’, ‘kapan punya anak’?’”
Tuntutan, beban. Siti seakan bertanya pada Tuhannya, “Kapan aku akan hidup merdeka, bebas dari segala tuntutan yang seakan memaksaku menjawabnya??”
Terdiam ia, merenungkan perjalanan hidupnya. Lalu….
Wow! Ia lahir 22 tahun yang lalu: -tuntutan neneknya atas kedua orang tuanya-
Ia besar, lalu sekolah, TK, SD, SMP, SMA : -tuntutan zaman, tuntutan orang tuanya-
Saat sekolah, ia juga tertuntut untuk jadi pintar, dapat nilai bagus, lulus tepat waktu setiap jenjangnya.
Kemudian ia kuliah: -tuntutan dunia kerja-. Ya, karena untuk lebih mudah dapat kerja, katanya harus punya ijazah S1. Dan saat kuliah, ia dapati beban 144 sks. Belum lagi, saat menyelesaikan skripsi yang penuh dengan tuntutan, baik dari dosen, teman, maupun saudara-saudaranya di rumah. Lalu sekarang ia dah lulus.
Angin yang masuk lewat jendela kamarnya menyapa wajahnya. Seakan ia temukan benang merah dalam perjalanan hidupnya. Ya, ini dia. Ia tuliskan di secarik kertas, sebuah pertanyaan: “apakah hidup itu hanyalah menanggung beban dan menjawab tuntutan?”.
Di luar, rumput bergoyang disapa angin, seperti saling bertanya satu sama lain, “Apakah Tuhan lupa memberitahu manusia untuk apa ia diciptakan?”.
***
06 April 2010
just a conversation
Each year, over than 21.000.000 people receive general anesthesia. The vast majority go to sleep peacefully. They remember nothing.
30.000 of this patients are not so fortunate. They find themselves unabe to sleep. Trapped in a phenomenon known as anesthesia awareness. These victims are completely paralyzed. They can’t scream for help. They are awake.
***
Itu prolog dalam film “Awake”. Tokoh Clay dalam film itu, menderita anesthesia awareness, dan ia baru tahu itu saat ia menjalani operasi transplantasi jantung. Ia tak bisa bergerak, tak bisa bicara untuk minta pertolongan - completely paralyzed-, tapi ia bisa merasa dan mendengar. Merasakan bagaimana sakitnya saat pisau membelah kulit dadanya, merasakan bagaimana sakitnya saat tulang rusuknya di potong, merasakan bagaimana sakitnya saat jantungnya diambil... Ia juga mendengar, mendengar apa yang sedang terjadi, mendengar ketika dokter yang adalah sahabatnya sendiri itu ternyata merencanakan akan membunuhnya saat operasinya itu dengan menyuntikkan adriamisin ke jantungnya yang baru, dan mendengar ketika istrinya yang baru saja dinikahinya semalam (yang karena itu ia harus berkonflik dengan ibunya), ternyata adalah dalang dalam perencanaan pembunuhan itu.
Dan mendengar, ketika akhirnya ibunya mendonorkan jantungnya untuknya.
Clay, dengan segala kesakitan yang telah diketahuinya, merasuki SMS-an Pinky and Brain.
Pinky : “Brain, I posted something in your new note! Sorry, coz hari ini dadaku berasa berat lg! tanpa sebab! bt! kayakna yang mesti test kejiwaan tu aku dech!”
Brain : “Thank u pinky.. I miss U”
Pinky : “Brain, aku punya hoby baru, nonton “Awake” pas adegan Clay mau pesta Halloween, pas dia diambil jantungna, pas dia ngrokok sendiri trus lampu2 mati sama pas dia inget kematian ayahna, ku ulang2 terus, aku masih bingung napa dia masih mau hidup!”
“Brain, i can’t find any reason to live Anestesia awareness, sekeras apapun aku membius diriku, aku masih sadar, masih bisa merasa, I need new heart, it’s my hell, tahu ini penyakit apa Brain?”
“Everything’s gonna be OK without me, Brain! I really want to sleep forever, no brain, no feeling again!”
Brain : “Ada hal yang tidak berjalan dengan OK jika kita tak lakukan apapun: diri kita sendiri. Allah menginginkan ciptaan-Nya tuk mengabdi padaNya. Di lain pihak, Ia membuat semuanya berjalan dengan OK-OK aja tanpa kita. Mungkin Ia ingin beritahu kita bahwa kitalah yang nggak akan OK kalo kita tetap berlagak terlelap. Bukan semesta ato Allah yang butuhkan pengabdian dari manusia, tapi manusia sendiri yang butuhkanya.”
“Tak lakukan apapun: menyia-nyiakan penciptaan kita. Mungkin dunia tak butuh pengabdianmu karena dunia pasti akan memenuhi kebutuhannya sendiri. Dunia menyambut mereka yang memilih tuk mengabdi. Tapi dunia tak memaksa mereka yang tak ingin mengabdi, karena pasti akan ada yang lain yang memilih tuk mengabdi. Memilih mengabdi: memilih menjadi terus berarti bagi dunia. Memilih terus melangkah. Terlalu banyak yang belum kita tahu, terlalu banyak yang belum kita mengerti, terlalu banyak yang belum kita lihat, terlalu banyak yang sesungguhnya belum kita dengar.. Tapi, dunia tak inginkan kita tuk sekedar menunggu agar semuanya menjadi jelas dengan sendirinya. Perjuangan tuk melihat, tuk mendengar, tuk tahu, tuk mengerti, tuk paham, kemudian menentukan pilihan langkah selanjutnya, bagian dari pengabdian yang memang tak mudah. Mungkin inilah falaq.”
“Apakah kita sudah pada tahap seperti saat Clay sudah mendengar semua yang sakitkannya, melihat semua yang hancurkannya? Dan pada akhirnya Clay harus memilih, untuk pergi tinggalkan semuanya, atau bangun tuk hadapi semuanya.”
“Ya, bagaimanapun juga, telah banyak yang berkorban untuk hidup kita.”
Pinky : “I’m so sorry Brain! I try to know what I feel, but it’s hard to tell to my self that I’m selfish, arrogant, and looser! Although it’s the fact. Seumur hidupku aku selalu mikir tentang hal yang kayak di film itu, sakit dan sendiri tapi berpura-pura jadi baik. Aku sadar kalo itu salah, nggak seharusnya anak kecil mikir tentang sakit. Aku jadi cari-cari tahu ke dalam diriku, apa yang terjadi, tapi aku belum tahu, jadi menerka-nerka sesukaku! Brain, I got something, maybe!”
“Jika Allah = dunia, dunia sakit, dunia butuh jantung baru, dunia lagi operasi. Orang-orang lain, sebagai bagian dari dunia mempan dengan biusnya, mereka dibius dengan mimpi dan ritual, tapi kita masih bangun, kita rasakan sakitnya proses ini. Jadi seperti Clay saat dia masih bisa mendengar tanpa orang lain tahu, dia nemuin banyak hal yang menyakitkan. Aku belum menikmati rasa ini, jadi aku masih iri sama mereka yang mempan dibius! Intinya aku cuma mereka-reka. Thank’s Brain, I know you’re always here to listen and give me inspiration!”
“No, Brain, I can’t handle anything about my feeling without you! You know my pain and how I try to be fine! But I’m too shy to tell another else about that, they’re just know that I’m Pinky! I need you, brain! And I hope you use me as you want! Miss you.”
Brain : “Hmm.. Mirip seperti itu, Pinky. Kita nggak mempan dibiusnya. Tapi Tuhan is more than this world which its heart is being changed. Tuhan juga tahu dunia ini sedang dioperasi. Tuhan tahu akan ada yang terbius. Tuhan juga tahu akan ada orang yang tetap tersadar. Tuhan tahu akan ada orang sadar yang milih tuk pura-pura tak sadar. Tuhan juga tahu akan ada orang tersadar yang milih tuk tetap sadar dan akhirnya bangun. And you Pinky, my another brain, use me as you want.”
Pinky : “Wih… sip lah! Jadi malu ma Tuhan, hehe… OK Brain, thank’s for the permission!”
Brain : “You’re always welcome.. hehe.. See U…”
Pinky : “Like this, mamen!!! See u”
(Lalu, ada yang menyela, untuk meminta ijin kepada mereka untuk mengabadikan SMS-an mereka di sebuah note…, dan ijin diberikan)
***
30.000 of this patients are not so fortunate. They find themselves unabe to sleep. Trapped in a phenomenon known as anesthesia awareness. These victims are completely paralyzed. They can’t scream for help. They are awake.
***
Itu prolog dalam film “Awake”. Tokoh Clay dalam film itu, menderita anesthesia awareness, dan ia baru tahu itu saat ia menjalani operasi transplantasi jantung. Ia tak bisa bergerak, tak bisa bicara untuk minta pertolongan - completely paralyzed-, tapi ia bisa merasa dan mendengar. Merasakan bagaimana sakitnya saat pisau membelah kulit dadanya, merasakan bagaimana sakitnya saat tulang rusuknya di potong, merasakan bagaimana sakitnya saat jantungnya diambil... Ia juga mendengar, mendengar apa yang sedang terjadi, mendengar ketika dokter yang adalah sahabatnya sendiri itu ternyata merencanakan akan membunuhnya saat operasinya itu dengan menyuntikkan adriamisin ke jantungnya yang baru, dan mendengar ketika istrinya yang baru saja dinikahinya semalam (yang karena itu ia harus berkonflik dengan ibunya), ternyata adalah dalang dalam perencanaan pembunuhan itu.
Dan mendengar, ketika akhirnya ibunya mendonorkan jantungnya untuknya.
Clay, dengan segala kesakitan yang telah diketahuinya, merasuki SMS-an Pinky and Brain.
Pinky : “Brain, I posted something in your new note! Sorry, coz hari ini dadaku berasa berat lg! tanpa sebab! bt! kayakna yang mesti test kejiwaan tu aku dech!”
Brain : “Thank u pinky.. I miss U”
Pinky : “Brain, aku punya hoby baru, nonton “Awake” pas adegan Clay mau pesta Halloween, pas dia diambil jantungna, pas dia ngrokok sendiri trus lampu2 mati sama pas dia inget kematian ayahna, ku ulang2 terus, aku masih bingung napa dia masih mau hidup!”
“Brain, i can’t find any reason to live Anestesia awareness, sekeras apapun aku membius diriku, aku masih sadar, masih bisa merasa, I need new heart, it’s my hell, tahu ini penyakit apa Brain?”
“Everything’s gonna be OK without me, Brain! I really want to sleep forever, no brain, no feeling again!”
Brain : “Ada hal yang tidak berjalan dengan OK jika kita tak lakukan apapun: diri kita sendiri. Allah menginginkan ciptaan-Nya tuk mengabdi padaNya. Di lain pihak, Ia membuat semuanya berjalan dengan OK-OK aja tanpa kita. Mungkin Ia ingin beritahu kita bahwa kitalah yang nggak akan OK kalo kita tetap berlagak terlelap. Bukan semesta ato Allah yang butuhkan pengabdian dari manusia, tapi manusia sendiri yang butuhkanya.”
“Tak lakukan apapun: menyia-nyiakan penciptaan kita. Mungkin dunia tak butuh pengabdianmu karena dunia pasti akan memenuhi kebutuhannya sendiri. Dunia menyambut mereka yang memilih tuk mengabdi. Tapi dunia tak memaksa mereka yang tak ingin mengabdi, karena pasti akan ada yang lain yang memilih tuk mengabdi. Memilih mengabdi: memilih menjadi terus berarti bagi dunia. Memilih terus melangkah. Terlalu banyak yang belum kita tahu, terlalu banyak yang belum kita mengerti, terlalu banyak yang belum kita lihat, terlalu banyak yang sesungguhnya belum kita dengar.. Tapi, dunia tak inginkan kita tuk sekedar menunggu agar semuanya menjadi jelas dengan sendirinya. Perjuangan tuk melihat, tuk mendengar, tuk tahu, tuk mengerti, tuk paham, kemudian menentukan pilihan langkah selanjutnya, bagian dari pengabdian yang memang tak mudah. Mungkin inilah falaq.”
“Apakah kita sudah pada tahap seperti saat Clay sudah mendengar semua yang sakitkannya, melihat semua yang hancurkannya? Dan pada akhirnya Clay harus memilih, untuk pergi tinggalkan semuanya, atau bangun tuk hadapi semuanya.”
“Ya, bagaimanapun juga, telah banyak yang berkorban untuk hidup kita.”
Pinky : “I’m so sorry Brain! I try to know what I feel, but it’s hard to tell to my self that I’m selfish, arrogant, and looser! Although it’s the fact. Seumur hidupku aku selalu mikir tentang hal yang kayak di film itu, sakit dan sendiri tapi berpura-pura jadi baik. Aku sadar kalo itu salah, nggak seharusnya anak kecil mikir tentang sakit. Aku jadi cari-cari tahu ke dalam diriku, apa yang terjadi, tapi aku belum tahu, jadi menerka-nerka sesukaku! Brain, I got something, maybe!”
“Jika Allah = dunia, dunia sakit, dunia butuh jantung baru, dunia lagi operasi. Orang-orang lain, sebagai bagian dari dunia mempan dengan biusnya, mereka dibius dengan mimpi dan ritual, tapi kita masih bangun, kita rasakan sakitnya proses ini. Jadi seperti Clay saat dia masih bisa mendengar tanpa orang lain tahu, dia nemuin banyak hal yang menyakitkan. Aku belum menikmati rasa ini, jadi aku masih iri sama mereka yang mempan dibius! Intinya aku cuma mereka-reka. Thank’s Brain, I know you’re always here to listen and give me inspiration!”
“No, Brain, I can’t handle anything about my feeling without you! You know my pain and how I try to be fine! But I’m too shy to tell another else about that, they’re just know that I’m Pinky! I need you, brain! And I hope you use me as you want! Miss you.”
Brain : “Hmm.. Mirip seperti itu, Pinky. Kita nggak mempan dibiusnya. Tapi Tuhan is more than this world which its heart is being changed. Tuhan juga tahu dunia ini sedang dioperasi. Tuhan tahu akan ada yang terbius. Tuhan juga tahu akan ada orang yang tetap tersadar. Tuhan tahu akan ada orang sadar yang milih tuk pura-pura tak sadar. Tuhan juga tahu akan ada orang tersadar yang milih tuk tetap sadar dan akhirnya bangun. And you Pinky, my another brain, use me as you want.”
Pinky : “Wih… sip lah! Jadi malu ma Tuhan, hehe… OK Brain, thank’s for the permission!”
Brain : “You’re always welcome.. hehe.. See U…”
Pinky : “Like this, mamen!!! See u”
(Lalu, ada yang menyela, untuk meminta ijin kepada mereka untuk mengabadikan SMS-an mereka di sebuah note…, dan ijin diberikan)
***
05 April 2010
pindah kapal
kutipan sebuah cerita:
Sakit menghunjam hati Talo, yang baru saja memutuskan untuk berhenti berlayar bersama kapal Greens yang hampir 4 tahun dijadikannya sumber penghidupannya.
Ya, sakit, atau tepatnya, ia tak bisa menerjemahkan rasa yang kadang berdesir di hatinya, atau berkelebat di otaknya setelah ia pamitan sama awak kapal yang lain dalam perpisahan itu. Pamitan yang sampai sekarang kadang masih mengusiknya. Ya, karena Talo bilang, ia menemukan kapal lain, ‘kapal belum bernama’, yang tempat tujuannya sesuai dengan tempat yang diinginkannya selama ini, sebuah pulau yang penuh dengan keberkahan, pulau Nirwana. Memang kapal Greens selalu bilang kalau tempat tujuannya juga pulau Nirwana. Tetapi, setelah ia analisa lebih jauh, Talo merasa bahwa pulau Nirwana yang dituju kapal Greens bukanlah pulau Nirwana yang ada dalam benak Talo, rute pelayaran kapal Greens juga masih agak kabur bagi Talo. Sedangkan ‘kapal belum bernama’ yang ditemukannya itu, menurutnya menuju pulau Nirwana yang sesungguhnya diinginkannya, dan rute pelayarannya pun jelas. Ya, karena selama dua tahun terakhir ini, diam-diam ia saling berkirim surat dengan salah satu awak ‘kapal belum bernama’ itu.
Talo pernah menyesal berpamitan dengan cara seperti itu, karena apa? Ia tahu ia akan dianggap pembelot dan harus menghadapi perlakuan awak kapal Greens yang tidak akan seperti dulu lagi. Tidak seperti dulu yang walaupun Talo bukan awak yang setia di kapal Greens, tetapi ia berusaha memberikan yang terbaik yang Talo bisa dalam pelayaran kapal Greens itu. Ya, Talo tahu, awak kapal Greens tidak akan sampai hati menyakiti Talo karena mereka adalah orang-orang yang lemah lembut kepada siapapun. Bahkan Talo sempat dikirimi puisi oleh salah seorang sahabatnya dari Kapal Greens, yang isinya, ia tetap setia menunggu Talo kembali, menginginkan Talo kembali lagi bekerja di kapal Greens. Talo sebenarnya meneteskan air mata saat membaca puisi itu, karena Talo juga masih sangat mencintai sahabat-sahabatnya. Talo hanya bisa bilang, jika memang tempat tujuan kita sama, yakinlah sahabat, bahwa suatu saat nanti, kita pasti kan bertemu di pulau itu, pulau Nirwana.
Kadang ia berpikir, kenapa dulu ia tidak langsung pergi saja dari kapal Greens, tanpa pamit, supaya tak ada asumsi pembelotan, pengkhianatan. Atau pamit menggunakan alasan lain. Tapi bagaimanapun juga, ia merasa tak pantas menyesalinya. ia telah memilih, dan ia kan terus melangkah dengan pilihannya itu.
Talo memang membawa sebungkus rasa sakit di hatinya, karena tetap saja, sementara ini ia kehilangan sahabat-sahabat terbaiknya. Sahabat-sahabat terbaik yang bersama mereka, dulu Talo belajar banyak hal, melakukan perbaikan-perbaikan dalam hidupnya, dan bersama menjaga pelayaran kapal Greens.
Memang sakit, tapi Talo telah memilih kapal ini, dan selalu ia bisikkan pada dirinya, bahwa ia sudah siap menanggung segala resiko yang akan dihadapinya atas pilihannya itu. Tak peduli sesakit apapun, ia yakin bahwa kapalnya yang baru ini, akan benar-benar membawa penumpangnya ke pulau Nirwana itu, pulau yang akan memberikan keberkahan bagi manusia di dalamnya. Dan jika pun ia dapati kapal ini membohonginya, ia siap untuk mencari kapal lain lagi. Suatu ketika, di buku hariannya tertulis, “biar peluru menembus kulitku, biar 1000 pisau menusuk jantungku, aku tetap meradang menerjang”. Sepertinya ia baru saja membaca puisinya Chairil Anwar.
(mengandaikan diriku bisa setegar Talo)
***
Sakit menghunjam hati Talo, yang baru saja memutuskan untuk berhenti berlayar bersama kapal Greens yang hampir 4 tahun dijadikannya sumber penghidupannya.
Ya, sakit, atau tepatnya, ia tak bisa menerjemahkan rasa yang kadang berdesir di hatinya, atau berkelebat di otaknya setelah ia pamitan sama awak kapal yang lain dalam perpisahan itu. Pamitan yang sampai sekarang kadang masih mengusiknya. Ya, karena Talo bilang, ia menemukan kapal lain, ‘kapal belum bernama’, yang tempat tujuannya sesuai dengan tempat yang diinginkannya selama ini, sebuah pulau yang penuh dengan keberkahan, pulau Nirwana. Memang kapal Greens selalu bilang kalau tempat tujuannya juga pulau Nirwana. Tetapi, setelah ia analisa lebih jauh, Talo merasa bahwa pulau Nirwana yang dituju kapal Greens bukanlah pulau Nirwana yang ada dalam benak Talo, rute pelayaran kapal Greens juga masih agak kabur bagi Talo. Sedangkan ‘kapal belum bernama’ yang ditemukannya itu, menurutnya menuju pulau Nirwana yang sesungguhnya diinginkannya, dan rute pelayarannya pun jelas. Ya, karena selama dua tahun terakhir ini, diam-diam ia saling berkirim surat dengan salah satu awak ‘kapal belum bernama’ itu.
Talo pernah menyesal berpamitan dengan cara seperti itu, karena apa? Ia tahu ia akan dianggap pembelot dan harus menghadapi perlakuan awak kapal Greens yang tidak akan seperti dulu lagi. Tidak seperti dulu yang walaupun Talo bukan awak yang setia di kapal Greens, tetapi ia berusaha memberikan yang terbaik yang Talo bisa dalam pelayaran kapal Greens itu. Ya, Talo tahu, awak kapal Greens tidak akan sampai hati menyakiti Talo karena mereka adalah orang-orang yang lemah lembut kepada siapapun. Bahkan Talo sempat dikirimi puisi oleh salah seorang sahabatnya dari Kapal Greens, yang isinya, ia tetap setia menunggu Talo kembali, menginginkan Talo kembali lagi bekerja di kapal Greens. Talo sebenarnya meneteskan air mata saat membaca puisi itu, karena Talo juga masih sangat mencintai sahabat-sahabatnya. Talo hanya bisa bilang, jika memang tempat tujuan kita sama, yakinlah sahabat, bahwa suatu saat nanti, kita pasti kan bertemu di pulau itu, pulau Nirwana.
Kadang ia berpikir, kenapa dulu ia tidak langsung pergi saja dari kapal Greens, tanpa pamit, supaya tak ada asumsi pembelotan, pengkhianatan. Atau pamit menggunakan alasan lain. Tapi bagaimanapun juga, ia merasa tak pantas menyesalinya. ia telah memilih, dan ia kan terus melangkah dengan pilihannya itu.
Talo memang membawa sebungkus rasa sakit di hatinya, karena tetap saja, sementara ini ia kehilangan sahabat-sahabat terbaiknya. Sahabat-sahabat terbaik yang bersama mereka, dulu Talo belajar banyak hal, melakukan perbaikan-perbaikan dalam hidupnya, dan bersama menjaga pelayaran kapal Greens.
Memang sakit, tapi Talo telah memilih kapal ini, dan selalu ia bisikkan pada dirinya, bahwa ia sudah siap menanggung segala resiko yang akan dihadapinya atas pilihannya itu. Tak peduli sesakit apapun, ia yakin bahwa kapalnya yang baru ini, akan benar-benar membawa penumpangnya ke pulau Nirwana itu, pulau yang akan memberikan keberkahan bagi manusia di dalamnya. Dan jika pun ia dapati kapal ini membohonginya, ia siap untuk mencari kapal lain lagi. Suatu ketika, di buku hariannya tertulis, “biar peluru menembus kulitku, biar 1000 pisau menusuk jantungku, aku tetap meradang menerjang”. Sepertinya ia baru saja membaca puisinya Chairil Anwar.
(mengandaikan diriku bisa setegar Talo)
***
21 Agustus 2009
Cinta bukan sekedar kata
Cintailah Allah sebelum kau mencintai yang lain…
Ungkapan itu dulu begitu abstrak bagiku. Dulu aku selalu memaksa diriku untuk bisa memahaminya. Selalu kucoba untuk mengertinya… membayangkan bahwa aku harus menghormati, tunduk, cinta, patuh, dan mengingat sosok Allah… Maaf jika kusebut sosok, karena saat itu aku memang masih memahami Allah itu sebagai sosok…, yang tak kuketahui wujud-Nya seperti apa.
Dulu, yang ada dalam bayanganku adalah bahwa Ia sangat Besar karena ia Maha Besar, Maha tinggi, maha suci, maha segala-galanya… tak ada yang menandingi kebesarannya. Ia di atas segala-galanya. Pernah aku berpikir, dimana Ia duduk? dimana Ia berdiri? dimana rumahNya? Apakah di luar jagat raya ini? Ataukah ia melingkupi seluruh jagat raya ini? Lalu, sosoknya berupa apa? Lalu, ada yang bilang, Allah itu ada dimana-mana, tangan Allah ada dimana-mana. Baru saja aku mau mensintesa suatu pemahaman baru, terburu-buru ada yang meralatnya, bahwa katanya, yang benar adalah bahwa Allah itu tempat tinggalnya hanya satu, bersemayam di atas ‘arsy-Nya yang agung. Kembali aku berpikir, arsy : kursi. Berarti Allah duduk di atas singgasana yang super besar? dimana? Seperti apakah? Lalu kubaca buku, yang menurut analisis penulisnya, Arsy Allah itu terbuat dari ‘air’. Air? Segera saja otakku berimajinasi lagi membayangkan singgasana yang terbuat dari air, dan sangat megah… lalu di atasnya ada Allah.
Dulu saat masih TK, pernah terpikir, wujud Allah itu seperti manusia raksasa. Lalu, orang-orang bilang, Allah itu beda dari makhlukNya. Lalu aku pun meralat pemikiranku. Mencoba mereka-reka seperti apakah Allah itu? Lalu ada yang bilang bahwa cahaya Allah itu tak pernah redup, cahaya di atas cahaya…. Aku pun jadi berpikir, mungkinkah Allah itu bentuknya seperti bola cahaya yang terang benderang? Tetapi sekali lagi ada yang memarahiku karena katanya, bukannya cahaya itu juga makhluk ciptaan Allah? Kan Allah beda dari makhlukNya? Hah…. bingung lagi…. bingung lagi… Soalnya susah jika berdoa tanpa membayangkan ada sosok yang sedang mendengarkan doaku… Dan susah juga untuk mencerna kalimat, “La tahzan, innallaha ma’ana” tanpa membayangkan ada sosok yang sedang menyemangati dan terus memotivasiku.
Lalu, ada yang menghentikanku membayangkan sosok Allah, yaitu suatu pernyataan dari orang-orang bahwa manusia itu dilarang berpikir tentang zat Allah, karena hanya akan mejerumuskan manusia pada kesesatan. Saat mendengar hal itu, sebenarnya aku ingin bertanya, mengapa? kok bisa? Tapi, aku sadar kalau aku hanya mencari pembenaran atas pendapatku, jadi aku urungkan. Dan aku terus menipu diriku, bahwa aku mempercayai kebenaran pernyataan “tidak dibenarkan berpikir tentang zat Allah”. Dan itulah yang kujawab ketika temanku yang suka berpikir terlalu mendalam, menanyakannya padaku.
Tetapi, sesuatu yang terus ditekan di alam bawah sadar, nggak akan hilang, malah akhirnya akan mencuat dan meledak.
Suatu kali aku ngobrol dengan seorang teman yang pemahamannya tentang hidup dan kehidupan ini lebih luas dariku, dan dari perspektif yang beda juga dariku. Tak kusangka, ia bertanya, “bagaimana caramu mengingat Allah? Padahal, kamu belum pernah melihat sosok-Nya?”
Kupikir, iya juga ya? bagaimana caraku mengingat Allah? Jawabanku saat itu nggak jelas juntrungannya alias mbulet. haha…, biasa…. Tetapi jawaban temanku saat itu, masih kuingat sampai sekarang, “Mengingat Allah: dengan membaca, mempelajari, dan mengaplikasikan firman-firman-Nya di kitab suci dalam hidup dan kehidupan kita.”
Iya, saat itu, kenapa aku nggak kepikiran kesana ya? Padahal itu adalah jawaban yang sangat logis.
Saat itu aku nyeletuk, “iya ya? manusia kan tidak bisa melihat Allah?”
Temanku mengerutkan dahinya, “Tidak bisa melihat sosok Allah, memang iya. Tetapi manusia dikaruniai indera untuk bisa melihat kerja Allah, melihat hasil karya cipta Allah, melihat sistem Allah yang bekerja di alam semesta…., sistem yang sempurna…. Contohnya, adanya gaya gravitasi di bumi, rotasi planet-planet, revolusi planet-planet mengelilingi bintang, dan bahkan di sel tubuh manusia juga terdapat sistem ciptaan Allah yang sempurna, atau di atom-atom penyusun materi: terdapat sistem yang sempurna antara electron, neutron, ataupun proton.”
Lalu, bagaimana bentuk cinta manusia kepada Allah? Sahabatku menjawab, “dengan mengabdi kepada-Nya, tidak menyimpang dari sistem-Nya…, dan bila sistemNya telah dirobohkan, cintanya adalah dengan menegakkannya lagi….”
Dia melanjutkan, “Sistem Allah yang sempurna itu harusnya juga berlaku dalam kehidupan manusia. Tetapi, saat ini belum berlaku. Saat ini banyak manusia yang mengaku mencintai Allah melebihi apapun, tapi ia tak berbuat apapun untuk menegakkan kembali sistem Allah itu… Mungkin itu yang dimaksud dengan pernyataan alkitab bahwa : Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia (Mat,15: 8-9). Juga kata Al-Quran bahwa: Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelummu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut padahal mereka telah diperintahkan mengingkari thaghut itu, dan setan bermaksud menyesatkan mereka dengan kesesatan yang sejauh-jauhnya (QS 4:60)”
Lanjutnya, “Cinta itu tak cukup hanya diikrarkan di bibir saja, hanya sekedar kata, tetapi harus dibuktikan dengan tindakan, pengabdian kepada apa Yang dicintai, sesuai keinginanNya…”
***
Ungkapan itu dulu begitu abstrak bagiku. Dulu aku selalu memaksa diriku untuk bisa memahaminya. Selalu kucoba untuk mengertinya… membayangkan bahwa aku harus menghormati, tunduk, cinta, patuh, dan mengingat sosok Allah… Maaf jika kusebut sosok, karena saat itu aku memang masih memahami Allah itu sebagai sosok…, yang tak kuketahui wujud-Nya seperti apa.
Dulu, yang ada dalam bayanganku adalah bahwa Ia sangat Besar karena ia Maha Besar, Maha tinggi, maha suci, maha segala-galanya… tak ada yang menandingi kebesarannya. Ia di atas segala-galanya. Pernah aku berpikir, dimana Ia duduk? dimana Ia berdiri? dimana rumahNya? Apakah di luar jagat raya ini? Ataukah ia melingkupi seluruh jagat raya ini? Lalu, sosoknya berupa apa? Lalu, ada yang bilang, Allah itu ada dimana-mana, tangan Allah ada dimana-mana. Baru saja aku mau mensintesa suatu pemahaman baru, terburu-buru ada yang meralatnya, bahwa katanya, yang benar adalah bahwa Allah itu tempat tinggalnya hanya satu, bersemayam di atas ‘arsy-Nya yang agung. Kembali aku berpikir, arsy : kursi. Berarti Allah duduk di atas singgasana yang super besar? dimana? Seperti apakah? Lalu kubaca buku, yang menurut analisis penulisnya, Arsy Allah itu terbuat dari ‘air’. Air? Segera saja otakku berimajinasi lagi membayangkan singgasana yang terbuat dari air, dan sangat megah… lalu di atasnya ada Allah.
Dulu saat masih TK, pernah terpikir, wujud Allah itu seperti manusia raksasa. Lalu, orang-orang bilang, Allah itu beda dari makhlukNya. Lalu aku pun meralat pemikiranku. Mencoba mereka-reka seperti apakah Allah itu? Lalu ada yang bilang bahwa cahaya Allah itu tak pernah redup, cahaya di atas cahaya…. Aku pun jadi berpikir, mungkinkah Allah itu bentuknya seperti bola cahaya yang terang benderang? Tetapi sekali lagi ada yang memarahiku karena katanya, bukannya cahaya itu juga makhluk ciptaan Allah? Kan Allah beda dari makhlukNya? Hah…. bingung lagi…. bingung lagi… Soalnya susah jika berdoa tanpa membayangkan ada sosok yang sedang mendengarkan doaku… Dan susah juga untuk mencerna kalimat, “La tahzan, innallaha ma’ana” tanpa membayangkan ada sosok yang sedang menyemangati dan terus memotivasiku.
Lalu, ada yang menghentikanku membayangkan sosok Allah, yaitu suatu pernyataan dari orang-orang bahwa manusia itu dilarang berpikir tentang zat Allah, karena hanya akan mejerumuskan manusia pada kesesatan. Saat mendengar hal itu, sebenarnya aku ingin bertanya, mengapa? kok bisa? Tapi, aku sadar kalau aku hanya mencari pembenaran atas pendapatku, jadi aku urungkan. Dan aku terus menipu diriku, bahwa aku mempercayai kebenaran pernyataan “tidak dibenarkan berpikir tentang zat Allah”. Dan itulah yang kujawab ketika temanku yang suka berpikir terlalu mendalam, menanyakannya padaku.
Tetapi, sesuatu yang terus ditekan di alam bawah sadar, nggak akan hilang, malah akhirnya akan mencuat dan meledak.
Suatu kali aku ngobrol dengan seorang teman yang pemahamannya tentang hidup dan kehidupan ini lebih luas dariku, dan dari perspektif yang beda juga dariku. Tak kusangka, ia bertanya, “bagaimana caramu mengingat Allah? Padahal, kamu belum pernah melihat sosok-Nya?”
Kupikir, iya juga ya? bagaimana caraku mengingat Allah? Jawabanku saat itu nggak jelas juntrungannya alias mbulet. haha…, biasa…. Tetapi jawaban temanku saat itu, masih kuingat sampai sekarang, “Mengingat Allah: dengan membaca, mempelajari, dan mengaplikasikan firman-firman-Nya di kitab suci dalam hidup dan kehidupan kita.”
Iya, saat itu, kenapa aku nggak kepikiran kesana ya? Padahal itu adalah jawaban yang sangat logis.
Saat itu aku nyeletuk, “iya ya? manusia kan tidak bisa melihat Allah?”
Temanku mengerutkan dahinya, “Tidak bisa melihat sosok Allah, memang iya. Tetapi manusia dikaruniai indera untuk bisa melihat kerja Allah, melihat hasil karya cipta Allah, melihat sistem Allah yang bekerja di alam semesta…., sistem yang sempurna…. Contohnya, adanya gaya gravitasi di bumi, rotasi planet-planet, revolusi planet-planet mengelilingi bintang, dan bahkan di sel tubuh manusia juga terdapat sistem ciptaan Allah yang sempurna, atau di atom-atom penyusun materi: terdapat sistem yang sempurna antara electron, neutron, ataupun proton.”
Lalu, bagaimana bentuk cinta manusia kepada Allah? Sahabatku menjawab, “dengan mengabdi kepada-Nya, tidak menyimpang dari sistem-Nya…, dan bila sistemNya telah dirobohkan, cintanya adalah dengan menegakkannya lagi….”
Dia melanjutkan, “Sistem Allah yang sempurna itu harusnya juga berlaku dalam kehidupan manusia. Tetapi, saat ini belum berlaku. Saat ini banyak manusia yang mengaku mencintai Allah melebihi apapun, tapi ia tak berbuat apapun untuk menegakkan kembali sistem Allah itu… Mungkin itu yang dimaksud dengan pernyataan alkitab bahwa : Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia (Mat,15: 8-9). Juga kata Al-Quran bahwa: Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelummu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut padahal mereka telah diperintahkan mengingkari thaghut itu, dan setan bermaksud menyesatkan mereka dengan kesesatan yang sejauh-jauhnya (QS 4:60)”
Lanjutnya, “Cinta itu tak cukup hanya diikrarkan di bibir saja, hanya sekedar kata, tetapi harus dibuktikan dengan tindakan, pengabdian kepada apa Yang dicintai, sesuai keinginanNya…”
***
11 Juni 2009
bahagia itu...
Ada yang bilang,
bahagia itu... uang
bahagia itu... kursi
bahagia itu... wanita
bahagia itu... pria
bahagia itu... IPK
bahagia itu... lulus
bahagia itu... sekolah
bahagia itu... kuliah
bahagia itu... bekerja
bahagia itu... anak
bahagia itu... ibu
bahagia itu... bapak
bahagia itu... rumah
bahagia itu... alam
bahagia itu... senyum
bahagia itu... air mata
bahagia itu... pikiran
bahagia itu... hati
bahagia itu... sehat
bahagia itu... juwita
bahagia itu... harapan
bahagia itu... setyo
bahagia itu... persahabatan
bahagia itu... cita
bahagia itu... mereka
berjuta kata mewakili bahagia...
dan tentu saja, bahagia itu... kamu
***
bahagia itu... uang
bahagia itu... kursi
bahagia itu... wanita
bahagia itu... pria
bahagia itu... IPK
bahagia itu... lulus
bahagia itu... sekolah
bahagia itu... kuliah
bahagia itu... bekerja
bahagia itu... anak
bahagia itu... ibu
bahagia itu... bapak
bahagia itu... rumah
bahagia itu... alam
bahagia itu... senyum
bahagia itu... air mata
bahagia itu... pikiran
bahagia itu... hati
bahagia itu... sehat
bahagia itu... juwita
bahagia itu... harapan
bahagia itu... setyo
bahagia itu... persahabatan
bahagia itu... cita
bahagia itu... mereka
berjuta kata mewakili bahagia...
dan tentu saja, bahagia itu... kamu
***
31 Mei 2009
kenapa sih?
Kenapa sih, manusia terlalu sombong untuk mengakui kesalahan diri?
Manusia selalu saja gengsi untuk mengakui kebenaran orang lain...,
Apakah memang keyakinan itu sesuatu yang sudah tidak bisa lagi diganggu gugat?
MENGAPA "ragu" tak boleh mengunjungi keyakinan itu?
MENGAPA mempertanyakan keyakinan dianggap salah?
MENGAPA sekadar untuk nge-cek apakah keyakinan ini benar atau salah saja dipersalahkan?
Kenapa sih? kalau memang jelas benar, mengapa banyak yang mempertanyakannya?
Selalu saja manusia menggembar-gemborkan tentang bahwa keyakinannya-lah yang paling benar, bukan sekedar doktrin, bukan taklid. Kalau nyatanya manusia hanya menerima saja tanpa memikirkannya lagi, sekedar percaya kepada yang memberikan tanpa menge-cek ke "sumber" kebenaran mutlak, ya apa bedanya dengan doktrin? apa bedanya dengan taklid?
bukankah saat ragu itu artinya sedang ada proses berpikir? melarang manusia untuk ragu, bukannya sama saja melarang manusia untuk berpikir? apa bedanya dengan pembodohan? penumpulan otak? katanya "pendidikan"? katanya "pembinaan"?
kenapa sih?
Manusia selalu saja gengsi untuk mengakui kebenaran orang lain...,
Apakah memang keyakinan itu sesuatu yang sudah tidak bisa lagi diganggu gugat?
MENGAPA "ragu" tak boleh mengunjungi keyakinan itu?
MENGAPA mempertanyakan keyakinan dianggap salah?
MENGAPA sekadar untuk nge-cek apakah keyakinan ini benar atau salah saja dipersalahkan?
Kenapa sih? kalau memang jelas benar, mengapa banyak yang mempertanyakannya?
Selalu saja manusia menggembar-gemborkan tentang bahwa keyakinannya-lah yang paling benar, bukan sekedar doktrin, bukan taklid. Kalau nyatanya manusia hanya menerima saja tanpa memikirkannya lagi, sekedar percaya kepada yang memberikan tanpa menge-cek ke "sumber" kebenaran mutlak, ya apa bedanya dengan doktrin? apa bedanya dengan taklid?
bukankah saat ragu itu artinya sedang ada proses berpikir? melarang manusia untuk ragu, bukannya sama saja melarang manusia untuk berpikir? apa bedanya dengan pembodohan? penumpulan otak? katanya "pendidikan"? katanya "pembinaan"?
kenapa sih?
Label:
inspirasi,
pendidikan,
pertanyaan
26 Mei 2009
Salesman di Toko Roti
Dulu, sepertinya kami tak merasa lapar. Tetapi entah mengapa, orang tua kami mengantarkan kami ke Toko Roti. Di sana kami harus makan roti yang dijual oleh Toko Roti itu. Di toko itu ada banyak pelayan, penjual roti yang menawarkan rotinya kepada kami. Sebutlah para penjual roti itu para ’salesman’.
Orang tua kami sangat percaya kepada para salesman itu. Urusan makan kami pun dipercayakan kepada para salesman itu. Aneh memang. Setiap hari kami meluangkan waktu kami, dari jam 07.00 – 13.30, dan itu berlangsung lebih kurang selama 12 tahun, kecuali hari Minggu dan hari-hari libur. Kami benar-benar meluangkan waktu kami itu, hanya untuk pergi ke toko roti. Orang tua kami tidak lupa memberi kami uang saku untuk biaya transport kami ke toko roti. Bahkan, orang tua kami juga sudah membayar di muka, dan ada yang tiap bulan rutin membayar ke toko roti itu. Semua itu dilakukan agar gizi kami terjaga, agar kami bisa mendapatkan paket roti untuk bekal hidup kami nanti.
Kadang kami tidak merasa lapar, dan malas. Tapi bagaimanapun, kami harus selalu pergi ke toko roti itu. Seolah-olah toko roti itulah hidup kami. Kadang kami merasa, orang tua kami berharap terlalu besar dari toko roti itu. Ada benarnya juga sih, karena dengan gizi yang baik, kami akan sehat, dan aktivitas kami pun bisa berjalan dengan baik.
Sebenarnya, mungkin kami lapar, tetapi kami belum bisa menyadarinya. Para salesman, dan bapak ibu kami selalu berpesan, ”Pergi ke toko roti itu penting karena di sana kamu akan mendapatkan roti untuk bekal hidup kamu.”
Kadang kami bertanya-tanya, ”Mengapa harus pergi ke toko roti kalau hanya untuk makan roti? Bukankah di rumah, ibu juga bisa membuat roti dan kemudian memberikannya untuk kami? Bahkan di rumah kita bisa makan roti bersama keluarga?”
Namun, selalu saja dijawab, ”Kami sibuk, tidak bisa membuatkan roti untukmu, apalagi menemanimu makan roti. Pergilah ke toko roti itu. Carilah roti di sana sebanyak-banyaknya”.Hmmmph...., akhirnya, kami mencoba untuk nurut. Kami rajin pergi ke toko roti, untuk mendapatkan roti di sana. Ada roti yang harus kami makan di sana, dan ada juga roti yang harus kami bawa pulang, untuk kami makan di rumah.
Orang tua kami sangat percaya kepada para salesman di toko roti itu, begitu juga kami. Mungkin bahasa salesman itu sangat meyakinkan bagi kami, mungkin juga bimbingan dan arahan para salesman itu terlalu jelas bagi kami, atau mungkin tak terlalu jelas tetapi kami jalani begitu saja sarannya.
Kami tak bisa menolak paket roti yang diberikan oleh para salesman itu. Nggak sopan.... Dan lagipula, kami sangat percaya kepada para salesman itu. Kami yakin roti yang diberikannya itu adalah roti-roti bergizi, yang menyehatkan badan kami. Kami tak pernah berprasangka macam-macam. Rasanya di lidah kami juga enak-enak saja. Kadang, ada juga sih, roti yang agak susah kami telan, bahkan sampai ingin muntah. Namun karena percaya bahwa roti-roti itu bergizi, maka kami selalu berusaha menghabiskannya.
Setelah 12 tahun berlalu, toko roti itu menyatakan sudah tidak ada lagi roti yang pantas diberikan kepada kami.
Akhirnya, aku memutuskan untuk mencari tempat lain. Aku mencari roti yang bisa menjadikanku salesman roti. Aku ingin bekerja di toko roti. Orang tuaku pun memberiku uang saku, untuk pergi ke ’grosir roti’. Toko roti yang sangat besar. Salesman di sana, sebagian besar adalah orang yang sudah mengeerti bagaimana cara membuat roti, bermacam-macam roti.
Di grosir roti itu, aku dikenalkan dengan bermacam-macam roti, juga bahan-bahan yang digunakan untuk membuatnya, serta alasan mengapa roti-roti itu penting untuk hidupku.
Perlahan tapi pasti, aku mulai mengenal bahan-bahan penyusun roti. Aku benar-benar kaget mendapatkan kenyataan bahwa roti-roti yang dulu kumakan selama lebih kurang 12 tahun itu tak semuanya roti yang sehat dan bergizi. Ternyata ada beberapa roti yang mengandung pengawet, racun yang bisa membunuhku secara perlahan. Ada juga roti yang beragi, tampaknya besar, tetapi kandungan energinya sebenarnya cuma sedikit. Ternyata ada juga roti yang mengandung pemanis buatan, tak baik juga untuk kesehatanku. Mau bagaimana lagi? Roti-roti itu sudah terlanjur kutelan.
Kemudian aku mendapatkan sepaket roti yang merknya ”Filsafat Pendidikan Matematika”. Dengan makan roti itu, aku sadar, bahwa ternyata para salesman yang dulu melayaniku di toko roti itu tak sesempurna yang aku bayangkan. Aku juga jadi sadar, bahwa tugasku nanti, saat menjadi salesman di toko roti, tidaklah mudah. Hmmmph..., berat juga ternyata. Kesehatan ribuan pelanggan tergantung roti yang akan kuberikan pada mereka. Jadi, aku harus mengenal betul, mana roti yang bergizi, mana roti yang beragi, mana roti yang beracun. Kemudian, aku juga harus tahu roti seperti apa yang dibutuhkan pelangganku nantinya. Sebagai salesman, tugasku adalah melayani pelanggan dengan baik. Roti yang kuberikan nanti harus bisa menyeimbangkan perkembangan intelektual, emosional, dan spiritual mereka.
Tetapi, aku juga musti berhati-hati saat makan paket roti itu, harus memilah-milah, tapi juga nggak boleh setengah-setengah.
Sungguh, menjadi salesman roti itu bukan pekerjaan gampang. Apalagi dalam hal ini, roti adalah ilmu, dan toko roti adalah sekolah. Dan salesman, tentu saja gurunya.
Orang tua kami sangat percaya kepada para salesman itu. Urusan makan kami pun dipercayakan kepada para salesman itu. Aneh memang. Setiap hari kami meluangkan waktu kami, dari jam 07.00 – 13.30, dan itu berlangsung lebih kurang selama 12 tahun, kecuali hari Minggu dan hari-hari libur. Kami benar-benar meluangkan waktu kami itu, hanya untuk pergi ke toko roti. Orang tua kami tidak lupa memberi kami uang saku untuk biaya transport kami ke toko roti. Bahkan, orang tua kami juga sudah membayar di muka, dan ada yang tiap bulan rutin membayar ke toko roti itu. Semua itu dilakukan agar gizi kami terjaga, agar kami bisa mendapatkan paket roti untuk bekal hidup kami nanti.
Kadang kami tidak merasa lapar, dan malas. Tapi bagaimanapun, kami harus selalu pergi ke toko roti itu. Seolah-olah toko roti itulah hidup kami. Kadang kami merasa, orang tua kami berharap terlalu besar dari toko roti itu. Ada benarnya juga sih, karena dengan gizi yang baik, kami akan sehat, dan aktivitas kami pun bisa berjalan dengan baik.
Sebenarnya, mungkin kami lapar, tetapi kami belum bisa menyadarinya. Para salesman, dan bapak ibu kami selalu berpesan, ”Pergi ke toko roti itu penting karena di sana kamu akan mendapatkan roti untuk bekal hidup kamu.”
Kadang kami bertanya-tanya, ”Mengapa harus pergi ke toko roti kalau hanya untuk makan roti? Bukankah di rumah, ibu juga bisa membuat roti dan kemudian memberikannya untuk kami? Bahkan di rumah kita bisa makan roti bersama keluarga?”
Namun, selalu saja dijawab, ”Kami sibuk, tidak bisa membuatkan roti untukmu, apalagi menemanimu makan roti. Pergilah ke toko roti itu. Carilah roti di sana sebanyak-banyaknya”.Hmmmph...., akhirnya, kami mencoba untuk nurut. Kami rajin pergi ke toko roti, untuk mendapatkan roti di sana. Ada roti yang harus kami makan di sana, dan ada juga roti yang harus kami bawa pulang, untuk kami makan di rumah.
Orang tua kami sangat percaya kepada para salesman di toko roti itu, begitu juga kami. Mungkin bahasa salesman itu sangat meyakinkan bagi kami, mungkin juga bimbingan dan arahan para salesman itu terlalu jelas bagi kami, atau mungkin tak terlalu jelas tetapi kami jalani begitu saja sarannya.
Kami tak bisa menolak paket roti yang diberikan oleh para salesman itu. Nggak sopan.... Dan lagipula, kami sangat percaya kepada para salesman itu. Kami yakin roti yang diberikannya itu adalah roti-roti bergizi, yang menyehatkan badan kami. Kami tak pernah berprasangka macam-macam. Rasanya di lidah kami juga enak-enak saja. Kadang, ada juga sih, roti yang agak susah kami telan, bahkan sampai ingin muntah. Namun karena percaya bahwa roti-roti itu bergizi, maka kami selalu berusaha menghabiskannya.
Setelah 12 tahun berlalu, toko roti itu menyatakan sudah tidak ada lagi roti yang pantas diberikan kepada kami.
Akhirnya, aku memutuskan untuk mencari tempat lain. Aku mencari roti yang bisa menjadikanku salesman roti. Aku ingin bekerja di toko roti. Orang tuaku pun memberiku uang saku, untuk pergi ke ’grosir roti’. Toko roti yang sangat besar. Salesman di sana, sebagian besar adalah orang yang sudah mengeerti bagaimana cara membuat roti, bermacam-macam roti.
Di grosir roti itu, aku dikenalkan dengan bermacam-macam roti, juga bahan-bahan yang digunakan untuk membuatnya, serta alasan mengapa roti-roti itu penting untuk hidupku.
Perlahan tapi pasti, aku mulai mengenal bahan-bahan penyusun roti. Aku benar-benar kaget mendapatkan kenyataan bahwa roti-roti yang dulu kumakan selama lebih kurang 12 tahun itu tak semuanya roti yang sehat dan bergizi. Ternyata ada beberapa roti yang mengandung pengawet, racun yang bisa membunuhku secara perlahan. Ada juga roti yang beragi, tampaknya besar, tetapi kandungan energinya sebenarnya cuma sedikit. Ternyata ada juga roti yang mengandung pemanis buatan, tak baik juga untuk kesehatanku. Mau bagaimana lagi? Roti-roti itu sudah terlanjur kutelan.
Kemudian aku mendapatkan sepaket roti yang merknya ”Filsafat Pendidikan Matematika”. Dengan makan roti itu, aku sadar, bahwa ternyata para salesman yang dulu melayaniku di toko roti itu tak sesempurna yang aku bayangkan. Aku juga jadi sadar, bahwa tugasku nanti, saat menjadi salesman di toko roti, tidaklah mudah. Hmmmph..., berat juga ternyata. Kesehatan ribuan pelanggan tergantung roti yang akan kuberikan pada mereka. Jadi, aku harus mengenal betul, mana roti yang bergizi, mana roti yang beragi, mana roti yang beracun. Kemudian, aku juga harus tahu roti seperti apa yang dibutuhkan pelangganku nantinya. Sebagai salesman, tugasku adalah melayani pelanggan dengan baik. Roti yang kuberikan nanti harus bisa menyeimbangkan perkembangan intelektual, emosional, dan spiritual mereka.
Tetapi, aku juga musti berhati-hati saat makan paket roti itu, harus memilah-milah, tapi juga nggak boleh setengah-setengah.
Sungguh, menjadi salesman roti itu bukan pekerjaan gampang. Apalagi dalam hal ini, roti adalah ilmu, dan toko roti adalah sekolah. Dan salesman, tentu saja gurunya.
Label:
inspirasi,
lifestyle,
matematika,
pembelajaran matematika
24 Mei 2009
ini siang atau malam...........?
Dulu aku selalu tidak percaya saat ada sahabatku mengatakan: sekarang masih "malam".
Padahal matahari bersinar terang. Padahal orang-orang sibuk bekerja di kantor, di sawah, siswa dan guru beraktivitas di sekolah, mahasiswa sibuk kuliah di kampus, dan ada beberapa yang merencanakan demo. Partai sibuk kampanye, baik terselubung atau terang-terangan. Ya, physicly, ini siang.
Nggak siang, nggak malam, sahabatku selalu berkata: ini "malam".
Bingung aku jadinya. Sempat terpikir, mungkinkah sahabatku sudah gila?
Ia kemudian mengajakku melihat "arloji"nya. Ternyata, arlojinya memang menunjukkan waktu belum siang. Masih gelap, tapi hampir fajar. Sudah jam 03.30.
Kemudian, aku melihat lagi arlojiku. Arlojiku menunjukkan pukul 11.00, sebentar lagi waktunya makan siang. Itu arloji di tangan kiriku.
Ia kemudian berkata,"Coba lihat arloji di tangan kananmu."
Aku heran. Lama sekali aku tidak pernah melihat waktu di arloji di tangan kananku. Arloji di tangan kananku itu terlalu sulit dibaca. Aku menganggapnya arloji suci, arloji paling tepat waktu. Selalu berhati-hati mengenakannya. Jika masuk tempat-tempat yang tidak suci semacam toilet, aku harus melepaskannya dulu. Aku juga selalu diwanti-wanti oleh orang-orang di sekitarku:"Hati-hati dalam membaca dan menafsirkan arloji di tangan kananmu itu, bisa-bisa salah tafsir, sesat jadinya kamu, nggak tahu waktu". Tetapi, ironisnya, aku selalu diwanti-wanti supaya selalu membawa arloji itu kemanapun aku pergi. Walah-walah... bingung jadinya. Akhirnya, aku selalu memakai arloji itu..., di tangan kananku, tapi nggak pernah kulihat, cuma kupajang di tangan, pertanda bahwa aku bangga dengan "arloji" ini.
Ya, karena aku harus berhati-hati, maka aku diberi arloji lain untuk kukenakan di tangan kiriku. Mereka bilang, arloji ini adalah yang menjelaskan arloji di tangan kananku, waktu yang ditunjukkannya juga nggak berbeda dengan waktu yang ditunjukkan arloji di tangan kananku. Arloji di tangan kiriku itulah yang selalu kulihat untuk bisa mengetahui waktu.
Tetapi kemudian, aku diajak sahabatku untuk melihat dan mempelajari cara kerja arloji di tangan kananku itu. Ternyata sangat canggih dan revolusioner dibanding apa yang selama ini aku tahu dari orang-orang di sekitarku. Memang arloji di tangan kananku itu baru menunjukkan waktu pukul 03.30. Wow...
Lalu kulihat sekitar..., ternyata memang masih gelap. Tetapi herannya, orang-orang sangat sibuk bekerja. Pasar juga sangat rame, apalagi kampus. Kucermati mereka semua.
Adzan dzuhur berkumandang, dan serentak orang-orang yang sibuk bekerja itu menengok ke kiri,
.......ke arloji di tangan kiri mereka.
...
Padahal matahari bersinar terang. Padahal orang-orang sibuk bekerja di kantor, di sawah, siswa dan guru beraktivitas di sekolah, mahasiswa sibuk kuliah di kampus, dan ada beberapa yang merencanakan demo. Partai sibuk kampanye, baik terselubung atau terang-terangan. Ya, physicly, ini siang.
Nggak siang, nggak malam, sahabatku selalu berkata: ini "malam".
Bingung aku jadinya. Sempat terpikir, mungkinkah sahabatku sudah gila?
Ia kemudian mengajakku melihat "arloji"nya. Ternyata, arlojinya memang menunjukkan waktu belum siang. Masih gelap, tapi hampir fajar. Sudah jam 03.30.
Kemudian, aku melihat lagi arlojiku. Arlojiku menunjukkan pukul 11.00, sebentar lagi waktunya makan siang. Itu arloji di tangan kiriku.
Ia kemudian berkata,"Coba lihat arloji di tangan kananmu."
Aku heran. Lama sekali aku tidak pernah melihat waktu di arloji di tangan kananku. Arloji di tangan kananku itu terlalu sulit dibaca. Aku menganggapnya arloji suci, arloji paling tepat waktu. Selalu berhati-hati mengenakannya. Jika masuk tempat-tempat yang tidak suci semacam toilet, aku harus melepaskannya dulu. Aku juga selalu diwanti-wanti oleh orang-orang di sekitarku:"Hati-hati dalam membaca dan menafsirkan arloji di tangan kananmu itu, bisa-bisa salah tafsir, sesat jadinya kamu, nggak tahu waktu". Tetapi, ironisnya, aku selalu diwanti-wanti supaya selalu membawa arloji itu kemanapun aku pergi. Walah-walah... bingung jadinya. Akhirnya, aku selalu memakai arloji itu..., di tangan kananku, tapi nggak pernah kulihat, cuma kupajang di tangan, pertanda bahwa aku bangga dengan "arloji" ini.
Ya, karena aku harus berhati-hati, maka aku diberi arloji lain untuk kukenakan di tangan kiriku. Mereka bilang, arloji ini adalah yang menjelaskan arloji di tangan kananku, waktu yang ditunjukkannya juga nggak berbeda dengan waktu yang ditunjukkan arloji di tangan kananku. Arloji di tangan kiriku itulah yang selalu kulihat untuk bisa mengetahui waktu.
Tetapi kemudian, aku diajak sahabatku untuk melihat dan mempelajari cara kerja arloji di tangan kananku itu. Ternyata sangat canggih dan revolusioner dibanding apa yang selama ini aku tahu dari orang-orang di sekitarku. Memang arloji di tangan kananku itu baru menunjukkan waktu pukul 03.30. Wow...
Lalu kulihat sekitar..., ternyata memang masih gelap. Tetapi herannya, orang-orang sangat sibuk bekerja. Pasar juga sangat rame, apalagi kampus. Kucermati mereka semua.
Adzan dzuhur berkumandang, dan serentak orang-orang yang sibuk bekerja itu menengok ke kiri,
.......ke arloji di tangan kiri mereka.
...
15 Mei 2009
jas merah-nya Bung Karno...
Siapa sangka Indonesia adalah eks peradaban luar biasa gemilang? Siapa sangka JAS MERAH-nya Bung Karno menyimpan pesan moral sangat dalam untuk kebangkitan bangsa?
Berikut saya nukilkan sebuah analisis tentang keberadaan Atlantis dan Lemuria, peradaban hilang yang mulai terkuak...:
sumber: Nabble-Spiritual Indonesia
***
Berikut saya nukilkan sebuah analisis tentang keberadaan Atlantis dan Lemuria, peradaban hilang yang mulai terkuak...:
ahmad chodjim:
Ini analisis dari saya saja setelah banyak membaca literatur tentang Daratan Lemurian dan Atlantis dari literatur Barat. Kesimpulannya, Daratan Lemurian adalah "lembah" yang sekarang menjadi laut antara Sumatra dan Kalimantan dan laut Jawa, yang dikenal sebagai Dataran Sunda. Delapan ribu tahun sebelum Masehi, terjadi pencairan besar terakhir Gunung es utara setinggi 300m sehingga menenggelamkan Dataran Sunda tersebut.
Sebelum lembah tersebut tenggelam posisi Sumatra, Kalimantan dan Jawa adalah bukit. Dan, di antara bukit itu yang paling subur adalah Bukit Jawa yang akhirnya menjadi Pulau Jawa. Jadi, dulu Bengawan Solo itu muaranya ya di Laut Sulawesi yang memang benar-benar laut yang amat dalam. Laut antara Kalimantan dan Sulewesi itu paling dangkal 1000 m dan terus ke tengah hingga 8000 m. Sedangkan Laut Jawa hanya berkisar 100 -300 m. Sebelum lembah itu hilang, memang peradaban dunia itu ada di Lembah Jawa (Dataran Sunda atau Lemurian).
Atlantis ada di mana? Menurut berbagai riset, Atlantis yang hilang itu ya berada di sekitar laut yang diapit oleh Afrika dan Eropa. Jadi, kalau di Alquran ada istilah "Kaum Ad", menurut orang Barat yang dimaksud ya penduduk Atlantis, dan bukti-bukti tenggelamnya kaum Ad itu semakin nyata.
Kalau sekarang ada kekuatan Eropa dan Asia dan dimenangkan oleh Eropa, maka menurut berbagai tulisan orang Barat, yang akan tampil adalah masyarakat ex Lemurian yang sekarang ini amburadul, tapi kemampuan spiritualnya semakin ditakuti Barat. Oleh karena itu, Barat secara umum berusaha menutupi akan bangkitnya masyarakat Kepulauan Nusantara. Dan, upaya itu telah dilakukan oleh Barat sejak zaman Negara Kahuripan.
Jadi, memasuki Milenium II alias seribu tahun yang lalu, kekuasaan Mataram yang semula di Jateng terus digempur meski telah pindah ke Jatim. Dan, penggempuran ini berhasil ketika Raja Airlangga membelah Mataram Kahuripan menjadi dua, yaitu Jenggala (Singosari) dan Panjalu (Kediri). Meskipun semasa Majapahit sempat dipulihkan kebesaran Mataram itu, namun rontok juga setelah 100 tahun. Lha, memang mangsa jayanya kan di Milenium III ini?
Kata Bung Karno: "Jas Merah" (jangan sekali-kali meninggalkan sejarah).
Suwun,
ahmad chodjim
sumber: Nabble-Spiritual Indonesia
***
20 April 2009
menyapa ragu
dulu sering terucap, tak kenal "ragu"
tanpa disadari ternyata "ragu" selalu tertawa terbahak-bahak saat itu
diri membiarkan "ragu" berdiri, duduk, atau tiduran di sudut itu
tanpa pernah ada keinginan untuk menyapanya...
hanya tatapan mata yang beradu beberapa detik
dan selesai begitu saja
tetapi semakin penasaran dengan "ragu" yang selalu menyeringai
akhirnya tiba saat dimana diri tak kuasa untuk tidak menyapanya...
dan diri menyapa "ragu"...
tak disangka...., sambutan "ragu" itu begitu hangat...
dia mengajukan pertanyaan-pertanyaan besar
yang dulu selalu enggan ditanyakan
setiap diri menjawab satu pertanyaan, "ragu" menambah pertanyaan lain
yang harus dijawab
diri tertahan di sudut itu berbincang dengan "ragu"
"ragu" tak membiarkan diri berlalu
karena ia mengajukan pertanyaan-pertanyaan terus menerus
tanpa sadar, terjalin persahabatan dengan "ragu"
hanya karena diri menyapanya, satu kali...
***
tanpa disadari ternyata "ragu" selalu tertawa terbahak-bahak saat itu
diri membiarkan "ragu" berdiri, duduk, atau tiduran di sudut itu
tanpa pernah ada keinginan untuk menyapanya...
hanya tatapan mata yang beradu beberapa detik
dan selesai begitu saja
tetapi semakin penasaran dengan "ragu" yang selalu menyeringai
akhirnya tiba saat dimana diri tak kuasa untuk tidak menyapanya...
dan diri menyapa "ragu"...
tak disangka...., sambutan "ragu" itu begitu hangat...
dia mengajukan pertanyaan-pertanyaan besar
yang dulu selalu enggan ditanyakan
setiap diri menjawab satu pertanyaan, "ragu" menambah pertanyaan lain
yang harus dijawab
diri tertahan di sudut itu berbincang dengan "ragu"
"ragu" tak membiarkan diri berlalu
karena ia mengajukan pertanyaan-pertanyaan terus menerus
tanpa sadar, terjalin persahabatan dengan "ragu"
hanya karena diri menyapanya, satu kali...
***
05 April 2009
sebuah kalimat
mengapa tergeletak di situ?
padahal huruf-huruf sudah ngantri sangat panjang di benak...
mengapa memposisikan diri ditempat itu?
menghentikan ratusan kata yang masih bisa tertulis...
mengapa kamu tidak selunak saudaramu?
mempersilakan huruf untuk berhenti sejenak,
kemudian menyediakan jalan untuknya kembali merangkai kalimat yang panjangnya tanpa batas
mengapa terdiam di situ?
membuat pena ikut diam tak berkutik...
koma tak kan muncul lagi karena titik
di sebuah kalimat...
padahal huruf-huruf sudah ngantri sangat panjang di benak...
mengapa memposisikan diri ditempat itu?
menghentikan ratusan kata yang masih bisa tertulis...
mengapa kamu tidak selunak saudaramu?
mempersilakan huruf untuk berhenti sejenak,
kemudian menyediakan jalan untuknya kembali merangkai kalimat yang panjangnya tanpa batas
mengapa terdiam di situ?
membuat pena ikut diam tak berkutik...
koma tak kan muncul lagi karena titik
di sebuah kalimat...
17 Maret 2009
Apakah benar bahwa 1/2 (setengah) itu positif?!
Sebuah pertanyaan yang mungkin bagi sebagian orang tampak bodoh dan sudah tak perlu ditanyakan lagi. Tetapi, inilah pertanyaan yang muncul saat perkuliahan Analisis Real beberapa hari yang lalu.
Sebagian orang mungkin akan langsung berkata: tentu saja setengah itu positif, tak perlu dipertanyakan lagi. Ternyata, matematika mempertanyakan: mana buktinya?
Yang kami ketahui adalah suatu teorema bahwa 1 itu positif, yang berdampak pada kenyataan bahwa semua bilangan asli adalah positif. Kami juga sudah mempelajari beberapa teorema urutan dalam himpunan bilangan real. Pembuktiannya menggunakan beberapa teorema itu.
Jadi, jika setengah itu bukan bilangan positif, ada dua kemungkinan: pertama, setengah adalah bilangan negatif; kedua, setengah sama dengan nol. Pernyataan kedua sudah jelas tidak mungkin karena nol adalah elemen identitas terhadap penjumlahan, dimana elemen identitas itu tunggal.
Pembuktian selanjutnya :

Jika kurang jelas, silakan klik gambar di atas.
Terjawablah mengapa setengah itu positif.
phiuh...
***
Sebagian orang mungkin akan langsung berkata: tentu saja setengah itu positif, tak perlu dipertanyakan lagi. Ternyata, matematika mempertanyakan: mana buktinya?
Yang kami ketahui adalah suatu teorema bahwa 1 itu positif, yang berdampak pada kenyataan bahwa semua bilangan asli adalah positif. Kami juga sudah mempelajari beberapa teorema urutan dalam himpunan bilangan real. Pembuktiannya menggunakan beberapa teorema itu.
Jadi, jika setengah itu bukan bilangan positif, ada dua kemungkinan: pertama, setengah adalah bilangan negatif; kedua, setengah sama dengan nol. Pernyataan kedua sudah jelas tidak mungkin karena nol adalah elemen identitas terhadap penjumlahan, dimana elemen identitas itu tunggal.
Pembuktian selanjutnya :

Jika kurang jelas, silakan klik gambar di atas.
Terjawablah mengapa setengah itu positif.
phiuh...
***
Label:
inspirasi,
motivasi,
real analysis
12 Maret 2009
Leonhard Euler: blind but super productive

Leonhard Euler (1707 – 1783) lahir di Basel, Swiss. Ayahnya berharap agar ia menjadi seperti dirinya, bekerja di kementerian. Tetapi ketika Euler memasuki Basel University di usia 14 tahun, talenta matematikanya berhasil membuat Johann Bernoulli, mentornya, terpukau. Di tahun 1977, Euler pergi ke Rusia untuk bergabung dengan putra Johann, Daniel, di Akademi St. Petersburgh yang baru. Disana dia bertemu dan akhirnya menikah dengan Katharina Gsell, putri dari seorang seniman Swiss.
Di tahun 1741, Euler menerima tawaran dari Frederick The Great untuk bergabung di Akademi Berlin, dimana dia akhirnya berada di sana selama 25 tahun. Selama masa itu dia menulis beberapa buku tentang Kalkulus dan secara kontinu mempublikasikan paper-papernya. Ia juga menulis beberapa volum paper yang diberi judul Letters to A German Princess, atas permintaan Putri Anhalt-Dessau.
Di tahun 1766, dia kembali ke Rusia memenuhi undangan Catherine The Great. Euler mengalami gangguan pada penglihatannya, dan selang beberapa waktu setelah ia kembali ke Rusia, dia mengalami kebutaan total.
Yang menakjubkan adalah, kebutaannya menimbulkan efek yang luar biasa pada karya-karyanya di bidang matematika. Dia tetap berkarya, menulis beberapa buku dan lebih dari 400 paper ketika dia buta. Dia senantiasa sibuk dan aktif sampai hari kematiannya.
Produktivitas Euler semasa hidupnya memberikan kontribusi yang besar terhadap perkembangan matematika dan dunia ilmu pengetahuan : dia menulis buku-buku teks Fisika, Aljabar, Kalkulus, Analisis Real dan Kompleks, Geometri Analitik dan Diferensial, dan Berbagai Macam buku Kalkulus. Dia juga menulis ratusan paper yang original mencapai lebih dari 74 volum, yang beberapa di antaranya memenangkan penghargaan.
***
04 Maret 2009
Matematikawan Amatir?

Menurut wikipedia, Matematika adalah ilmu yang mempelajari tentang kuantitas, struktur, ruang, perubahan, dan topik-topik yang berkaitan dengan pola dan bentuk. Para matematikawan mencari pola yang ditemukan pada bilangan, ruang, ilmu alam, komputer, abstraksi imajiner, atau tempat yang lain.
Kata matematika berasal dari bahasa Yunani, mathema, yang berarti proses pembelajaran, proses studi, ilmu pengetahuan.
Matematika muncul ketika ada permasalahan yang melibatkan kuantitas, struktur, ruang, atau perubahan. Permasalahan seperti ini pada awalnya ditemukan dalam perdagangan, pengukuran tanah, dan astronomi. Sekarang, hampir semua ilmu pengetahuan membutuhkan matematika.
Matematika bukanlah sebuah sistem intelektual yang tertutup, dimana segalanya sudah terselesaikan. Masih banyak hal yang belum terselesaikan dalam matematika. Buktinya, setiap bulan terbit ratusan paper yang berisi penemuan-penemuan baru dalam matematika, oleh orang-orang yang mempelajari matematika dari berbagai penjuru dunia.
Bahkan, matematika berhutang besar kepada para matematikawan amatir. Mengapa disebut amatir? Karena bidang utama yang mereka tekuni sebetulnya bukan matematika. Tetapi kontribusi mereka bagi perkembangan matematika termasuk bisa diperhitungkan.
Para matematikawan amatir itu, antara lain (nama dan pekerjaan):
* Ahmes (scribe)
* Robert Ammann (programmer and postal worker)
* John Arbuthnot (surgeon and author)
* Jean-Robert Argand (bookkeeper)
* Rev. Thomas Bayes (Presbyterian minister)
* Harlan J. Brothers (teacher, inventor, and musician)
* Sir James Cockle (judge)
* Martin Demaine (goldsmith and glass artist)
* Reo Fortune (anthropologist)
* Bernard Frénicle de Bessy (counsellor)
* Danica McKeller (actress)
* Britney Gallivan (high school student)
* James Garfield (United States President)
* Thorold Gosset (lawyer)
* Hermann Grassmann (school teacher)
* George Green (miller)
* Oliver Heaviside (telegraph operator)
* Kurt Heegner (private scholar)
* F. H. Jackson (navy chaplain)
* Alfred Bray Kempe (lawyer)
* Emanuel Lasker (chess player)
* Napoleon I (general)
* Florence Nightingale (nurse)
* Kathleen Ollerenshaw (politician)
* Rudolf Ondrejka (veterinarian)
* Nicolò Paganini (schoolboy)
* Panini (linguist)
* Kenneth Perko (lawyer)
* Pingala (musician)
* François Proth (farmer)
* Marjorie Rice (homemaker)
* William Shanks (landlord)
* Gaston Tarry (civil servant)
* Nigel Chan (undergraduate student)
* Magnus Wenninger (monk)
Dan yang dianugerahi gelar sebagai "The King of Amateurs", adalah:
Pierre de Fermat (lawyer)
(sumber: wikipedia )
***
08 Februari 2009
Religiusitas Matematika
Saat belajar Biologi, aku bisa tahu tentang kerumitan susunan sel atau DNA makhluk hidup, yang mengantarkanku pada lantunan tasbih memuji Rabb-ku.
Saat belajar Fisika dan Astronomi, aku menyaksikan jalan-jalan yang dimiliki oleh bermilyar bintang, planet, serta galaksi di angkasa yang tidak saling memotong. Aku pun terbawa dalam decak takdzim, meng-akbarkan Rabb-ku.
Saat belajar Kimia, aku disuguhi kenyataan bahwa inti atom yang sebegitu mininya, ternyata menyimpan energi yang bisa menghancurluluhkan sebuah peradaban. Aku diajak menjelajahi bermacam-macam unsur di alam yang memiliki keteraturan sifat yang luar biasa. Bagaimana aku bisa percaya bahwa semua unsur itu muncul secara spontan tanpa ada yang mendesainnya? Dan aku pun mengakui kejeniusan Rabb-ku.
Saat belajar Sejarah, aku belajar tentang kegigihan, perjuangan, dan kebenaran yang suatu saat pasti menang.
Saat belajar Geologi, aku diajak menjelajah terjadinya gunung dan berbagai fenomena alam, yang ternyata sudah dijelaskan di Al-Quran 1400 tahun yang lalu. Bagaimana aku tidak semakin yakin akan kebenaran ajaran Rabb-ku?
Lalu, saat belajar Sosiologi, aku diajak berbagi dengan sesama, diajak mencintai dan mengasihi sesama. Dan itu adalah ajaran dari Rabb-ku.
Lalu...., tiba saat belajar matematika. Aku dihadapkan pada angka-angka yang bisa aku tulis sampai tak terbatas. Aku disuguhi persoalan-persoalan lucu: beli 2 apel dan 1 jeruk harganya segini, beli 3 apel dan 4 jeruk harganya segitu, berapa harga 1 apel? Sederhana, bukan? Aku diajak mengubah bahasa verbal menjadi kalimat-kalimat dengan simbol-simbol seperti x, y, dan angka-angka. Menghitung, menghitung, dan menghitung. Entah apapun yang dihitung, yang penting menghitung. Bukuku mulai dipenuhi angka-angka dan simbol-simbol aneh. Waktuku tersita oleh soal-soal latihan matematika yang sepertinya sangat bahagia jika aku pecahkan. Lalu, dimana decak takdzim, lantunan tasbih, serta gaung takbir dalam hati saat belajar matematika?
Bahkan ketika aku berjalan-jalan di dunia maya aku menemukan suatu pernyataan bahwa matematika telah membuktikan bahwa God = 0, dan sebuah gambar seperti di bawah ini:

Seorang guru pernah berkata: Matematika itu alat, kawan. Ia adalah sarana. Keindahannya tak kan nampak ketika ia hanya berdiri sendiri. Ia harus digunakan, baru akan jelas kehebatan dan keindahannya. Ia tidak membuat orang kagum kepadanya. Tetapi orang yang memahaminya, akan dibawanya mengerti kehebatan Sang Pencipta.
Guru itu lalu melanjutkan: Coba ingat saat kamu belajar Biologi, kamu dibuat terpesona oleh keunikan bilangan pada molekul DNA. Itu karena kamu paham matematika, kawan. Saat belajar Fisika maupun astronomi, kamu pasti bertasbih melihat planet-planet berotasi dan berevolusi tanpa saling bertumbukan, dan kamu berdecak takdzim saat melihat bilangan bintang dan galaksi yang besarnya masyaAllah. Itu karena kamu memahami matematika, kamu tahu bahwa bintang dengan ukuran sebesar itu dan jumlah yang seabreg itu, ternyata tidak pernah saling bertumbukan dalam geraknya. Kamu pun jadi bisa membayangkan, betapa dahsyat ukuran alam semesta itu. Apalagi ditambah kenyataan bahwa ia selalu mengembang. Ditambah, saat belajar Kimia kamu terkagum-kagum dengan bilangan-bilangan massa atom yang membentuk barisan bilangan yang unik. Sehingga, kamu jadi bisa membayangkan betapa jenius, hebat, dan Maha Besarnya Rabb-mu yang menciptakan itu semua.
Guru itu berkata lagi: Matematika itu sangat arif. Ia tidak berharap manusia mengaguminya. Ia hanya ingin dipahami. Karena dengan itu, ia bisa mengantarkan manusia kepada rasa syukur dan ketundukan kepada Rabb yang telah menciptakan alam semesta.
Saat belajar Fisika dan Astronomi, aku menyaksikan jalan-jalan yang dimiliki oleh bermilyar bintang, planet, serta galaksi di angkasa yang tidak saling memotong. Aku pun terbawa dalam decak takdzim, meng-akbarkan Rabb-ku.
Saat belajar Kimia, aku disuguhi kenyataan bahwa inti atom yang sebegitu mininya, ternyata menyimpan energi yang bisa menghancurluluhkan sebuah peradaban. Aku diajak menjelajahi bermacam-macam unsur di alam yang memiliki keteraturan sifat yang luar biasa. Bagaimana aku bisa percaya bahwa semua unsur itu muncul secara spontan tanpa ada yang mendesainnya? Dan aku pun mengakui kejeniusan Rabb-ku.
Saat belajar Sejarah, aku belajar tentang kegigihan, perjuangan, dan kebenaran yang suatu saat pasti menang.
Saat belajar Geologi, aku diajak menjelajah terjadinya gunung dan berbagai fenomena alam, yang ternyata sudah dijelaskan di Al-Quran 1400 tahun yang lalu. Bagaimana aku tidak semakin yakin akan kebenaran ajaran Rabb-ku?
Lalu, saat belajar Sosiologi, aku diajak berbagi dengan sesama, diajak mencintai dan mengasihi sesama. Dan itu adalah ajaran dari Rabb-ku.
Lalu...., tiba saat belajar matematika. Aku dihadapkan pada angka-angka yang bisa aku tulis sampai tak terbatas. Aku disuguhi persoalan-persoalan lucu: beli 2 apel dan 1 jeruk harganya segini, beli 3 apel dan 4 jeruk harganya segitu, berapa harga 1 apel? Sederhana, bukan? Aku diajak mengubah bahasa verbal menjadi kalimat-kalimat dengan simbol-simbol seperti x, y, dan angka-angka. Menghitung, menghitung, dan menghitung. Entah apapun yang dihitung, yang penting menghitung. Bukuku mulai dipenuhi angka-angka dan simbol-simbol aneh. Waktuku tersita oleh soal-soal latihan matematika yang sepertinya sangat bahagia jika aku pecahkan. Lalu, dimana decak takdzim, lantunan tasbih, serta gaung takbir dalam hati saat belajar matematika?
Bahkan ketika aku berjalan-jalan di dunia maya aku menemukan suatu pernyataan bahwa matematika telah membuktikan bahwa God = 0, dan sebuah gambar seperti di bawah ini:

Seorang guru pernah berkata: Matematika itu alat, kawan. Ia adalah sarana. Keindahannya tak kan nampak ketika ia hanya berdiri sendiri. Ia harus digunakan, baru akan jelas kehebatan dan keindahannya. Ia tidak membuat orang kagum kepadanya. Tetapi orang yang memahaminya, akan dibawanya mengerti kehebatan Sang Pencipta.
Guru itu lalu melanjutkan: Coba ingat saat kamu belajar Biologi, kamu dibuat terpesona oleh keunikan bilangan pada molekul DNA. Itu karena kamu paham matematika, kawan. Saat belajar Fisika maupun astronomi, kamu pasti bertasbih melihat planet-planet berotasi dan berevolusi tanpa saling bertumbukan, dan kamu berdecak takdzim saat melihat bilangan bintang dan galaksi yang besarnya masyaAllah. Itu karena kamu memahami matematika, kamu tahu bahwa bintang dengan ukuran sebesar itu dan jumlah yang seabreg itu, ternyata tidak pernah saling bertumbukan dalam geraknya. Kamu pun jadi bisa membayangkan, betapa dahsyat ukuran alam semesta itu. Apalagi ditambah kenyataan bahwa ia selalu mengembang. Ditambah, saat belajar Kimia kamu terkagum-kagum dengan bilangan-bilangan massa atom yang membentuk barisan bilangan yang unik. Sehingga, kamu jadi bisa membayangkan betapa jenius, hebat, dan Maha Besarnya Rabb-mu yang menciptakan itu semua.
Guru itu berkata lagi: Matematika itu sangat arif. Ia tidak berharap manusia mengaguminya. Ia hanya ingin dipahami. Karena dengan itu, ia bisa mengantarkan manusia kepada rasa syukur dan ketundukan kepada Rabb yang telah menciptakan alam semesta.
Langganan:
Postingan (Atom)