Tampilkan postingan dengan label islamic. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label islamic. Tampilkan semua postingan

21 Agustus 2009

Cinta bukan sekedar kata

Cintailah Allah sebelum kau mencintai yang lain…
Ungkapan itu dulu begitu abstrak bagiku. Dulu aku selalu memaksa diriku untuk bisa memahaminya. Selalu kucoba untuk mengertinya… membayangkan bahwa aku harus menghormati, tunduk, cinta, patuh, dan mengingat sosok Allah… Maaf jika kusebut sosok, karena saat itu aku memang masih memahami Allah itu sebagai sosok…, yang tak kuketahui wujud-Nya seperti apa.
Dulu, yang ada dalam bayanganku adalah bahwa Ia sangat Besar karena ia Maha Besar, Maha tinggi, maha suci, maha segala-galanya… tak ada yang menandingi kebesarannya. Ia di atas segala-galanya. Pernah aku berpikir, dimana Ia duduk? dimana Ia berdiri? dimana rumahNya? Apakah di luar jagat raya ini? Ataukah ia melingkupi seluruh jagat raya ini? Lalu, sosoknya berupa apa? Lalu, ada yang bilang, Allah itu ada dimana-mana, tangan Allah ada dimana-mana. Baru saja aku mau mensintesa suatu pemahaman baru, terburu-buru ada yang meralatnya, bahwa katanya, yang benar adalah bahwa Allah itu tempat tinggalnya hanya satu, bersemayam di atas ‘arsy-Nya yang agung. Kembali aku berpikir, arsy : kursi. Berarti Allah duduk di atas singgasana yang super besar? dimana? Seperti apakah? Lalu kubaca buku, yang menurut analisis penulisnya, Arsy Allah itu terbuat dari ‘air’. Air? Segera saja otakku berimajinasi lagi membayangkan singgasana yang terbuat dari air, dan sangat megah… lalu di atasnya ada Allah.
Dulu saat masih TK, pernah terpikir, wujud Allah itu seperti manusia raksasa. Lalu, orang-orang bilang, Allah itu beda dari makhlukNya. Lalu aku pun meralat pemikiranku. Mencoba mereka-reka seperti apakah Allah itu? Lalu ada yang bilang bahwa cahaya Allah itu tak pernah redup, cahaya di atas cahaya…. Aku pun jadi berpikir, mungkinkah Allah itu bentuknya seperti bola cahaya yang terang benderang? Tetapi sekali lagi ada yang memarahiku karena katanya, bukannya cahaya itu juga makhluk ciptaan Allah? Kan Allah beda dari makhlukNya? Hah…. bingung lagi…. bingung lagi… Soalnya susah jika berdoa tanpa membayangkan ada sosok yang sedang mendengarkan doaku… Dan susah juga untuk mencerna kalimat, “La tahzan, innallaha ma’ana” tanpa membayangkan ada sosok yang sedang menyemangati dan terus memotivasiku.
Lalu, ada yang menghentikanku membayangkan sosok Allah, yaitu suatu pernyataan dari orang-orang bahwa manusia itu dilarang berpikir tentang zat Allah, karena hanya akan mejerumuskan manusia pada kesesatan. Saat mendengar hal itu, sebenarnya aku ingin bertanya, mengapa? kok bisa? Tapi, aku sadar kalau aku hanya mencari pembenaran atas pendapatku, jadi aku urungkan. Dan aku terus menipu diriku, bahwa aku mempercayai kebenaran pernyataan “tidak dibenarkan berpikir tentang zat Allah”. Dan itulah yang kujawab ketika temanku yang suka berpikir terlalu mendalam, menanyakannya padaku.
Tetapi, sesuatu yang terus ditekan di alam bawah sadar, nggak akan hilang, malah akhirnya akan mencuat dan meledak.
Suatu kali aku ngobrol dengan seorang teman yang pemahamannya tentang hidup dan kehidupan ini lebih luas dariku, dan dari perspektif yang beda juga dariku. Tak kusangka, ia bertanya, “bagaimana caramu mengingat Allah? Padahal, kamu belum pernah melihat sosok-Nya?”
Kupikir, iya juga ya? bagaimana caraku mengingat Allah? Jawabanku saat itu nggak jelas juntrungannya alias mbulet. haha…, biasa…. Tetapi jawaban temanku saat itu, masih kuingat sampai sekarang, “Mengingat Allah: dengan membaca, mempelajari, dan mengaplikasikan firman-firman-Nya di kitab suci dalam hidup dan kehidupan kita.”
Iya, saat itu, kenapa aku nggak kepikiran kesana ya? Padahal itu adalah jawaban yang sangat logis.
Saat itu aku nyeletuk, “iya ya? manusia kan tidak bisa melihat Allah?”
Temanku mengerutkan dahinya, “Tidak bisa melihat sosok Allah, memang iya. Tetapi manusia dikaruniai indera untuk bisa melihat kerja Allah, melihat hasil karya cipta Allah, melihat sistem Allah yang bekerja di alam semesta…., sistem yang sempurna…. Contohnya, adanya gaya gravitasi di bumi, rotasi planet-planet, revolusi planet-planet mengelilingi bintang, dan bahkan di sel tubuh manusia juga terdapat sistem ciptaan Allah yang sempurna, atau di atom-atom penyusun materi: terdapat sistem yang sempurna antara electron, neutron, ataupun proton.”
Lalu, bagaimana bentuk cinta manusia kepada Allah? Sahabatku menjawab, “dengan mengabdi kepada-Nya, tidak menyimpang dari sistem-Nya…, dan bila sistemNya telah dirobohkan, cintanya adalah dengan menegakkannya lagi….”
Dia melanjutkan, “Sistem Allah yang sempurna itu harusnya juga berlaku dalam kehidupan manusia. Tetapi, saat ini belum berlaku. Saat ini banyak manusia yang mengaku mencintai Allah melebihi apapun, tapi ia tak berbuat apapun untuk menegakkan kembali sistem Allah itu… Mungkin itu yang dimaksud dengan pernyataan alkitab bahwa : Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia (Mat,15: 8-9). Juga kata Al-Quran bahwa: Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelummu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut padahal mereka telah diperintahkan mengingkari thaghut itu, dan setan bermaksud menyesatkan mereka dengan kesesatan yang sejauh-jauhnya (QS 4:60)”

Lanjutnya, “Cinta itu tak cukup hanya diikrarkan di bibir saja, hanya sekedar kata, tetapi harus dibuktikan dengan tindakan, pengabdian kepada apa Yang dicintai, sesuai keinginanNya…”


***

15 Juli 2009

tinggal di sebuah panet milik Allah yang bernama Bumi

Suatu kali, aku ingin menginap di kos teman selama beberapa hari untuk suatu keperluan. Tak ingin diblacklist oleh pemillik kos, maka saat aku tiba di kos itu, aku langsung membaca dan kemudian mematuhi peraturan kos yang tertempel di dinding dekat pintu masuk kos itu… Peraturan itu tertulis pada selembar kertas yang dilaminating. Ada 14 poin peraturan yang harus dipatuhi penghuni kos. Peraturannya cukup rigid, jam malam, tatacara pembayaran, penggunaan fasilitas-fasilitas kos, tatakrama membawa teman ke kos… semua tertulis di selembar kertas itu…, dan disertai pula tanda tangan pemilik kos.

Yah… Memang, jika tidak ingin diblacklist oleh si pemilik tempat tinggal atau masyarakat di sekitar kita, caranya adalah dengan mematuhi peraturan yang berlaku di tempat itu.

Suatu tempat megah dan mewah yang sering dilupakan manusia adalah planet bumi. Jarang aku ingat bahwa aku sedang menapakkan kaki di sebuah planet milik Allah yang bernama Bumi. Jarang aku ingat bahwa rumahku dibangun di atas tanah di permukaan sebuah planet milik Allah yang bernama Bumi. Aku juga sering lupa kalau desaku terletak di salah satu bagian planet milik Allah yang bernama Bumi. Udara yang kuhirup juga adalah bagian dari atmosfer sebuah planet millik Allah yang bernama Bumi. Jarang aku ingat bahwa aku sedang tinggal di sebuah planet milik Allah yang bernama Bumi.

Karena aku tinggal di sebuah planet milik Allah yang bernama Bumi, harusnya aku juga membaca, mempelajari dan mematuhi aturan yang dibuat Pemilik planet yang bernama Bumi ini, yaitu Allah.
Bagaimana aku bisa memutuskan untuk lebih mematuhi aturan manusia lain yang menkhianati aturan Allah sementara aku dan manusia si pembuat aturan itu juga sama-sama tinggal di sebuah planet milik Allah yang bernama Bumi? Bagaimana aku bisa lebih takut di-blacklist oleh manusia pengkhianat aturan Allah daripada di-blacklist oleh Allah, sementara aku dan manusia itu sama-sama tinggal di sebuah planet milik Allah yang bernama Bumi?

Lalu, bagaimana orang-orang sekuler mau memisahkan system kehidupannya dari system Allah sementara ia tinggal di sebuah planet yang hak miliknya berada pada Allah?

***

19 Juni 2009

kampus hijau pun menguning

Tahun ini, kampus hijau sibuk. Orang-orang hijau yang baru turun dari kapal hijau diterjunkan untuk memberi warna hijau di kapal-kapal yang baru berlabuh yang berwarna merah, putih, hitam, kuning, ataupun biru.

Orang-orang hijau diberi modal cat hijau. Kapal-kapal pendatang pun segera setelahnya tampak hijau dan dipenuhi orang-orang hijau. Karena cat hanya mampu memoles warna permukaan, akhirnya muncullah orang-orang berpakaian hijau tetapi berjiwa pink, kuning, hitam, biru, dan sebagainya.

Salam hijau tersebar dimana-mana. Seseorang akan disebut hijau asalkan berpakaian hijau dan suka berbahasa hijau. Saat ini mulai dari yang berjiwa pink, merah, kuning, ungu ,sampai hitam pun berpakaian hijau. Semua kegiatan diberi embel-embel hijau. Atau, kalau nggak hijau, yang penting pelaksana kegiatannya orang-orang hijau. Mulai dari diskusi kecil-kecilan tingkat prodi sampai seminar tingkat nasional, dari penyambutan pendatang baru sampai pelepasan wisuda, orang-orang hijau ada di sana. Tak lupa selalu membawa cat hijau kemanapun perginya.

Hijau sekarang dijadikan warna penghias di setiap sudut kampus karena diyakini hijau adalah warna yang akan mengantarkan kepada kebahagiaan dan ampuh membentengi diri dari siksa.

Buku hijau ada di dalam tas orang-orang hijau. Atau karena dianggap saking sucinya, makanya buku hijaunya cuma ditaruh di rak paling atas atau bahkan di atas almarinya yang berdebu biar nggak ada yang menandingi ketinggian dan kemuliaannya.

Selalu digembar-gemborkan bahwa buku hijau itu isinya bukan syair, bukan pula sihir ataupun mantra. Tetapi tetap saja di rumah-rumah hijau, atau di pondok-pondok hijau orang-orang hijau belajar mensyairkan isi buku hijau. Komplit bin njlimet. Mulai dari panjang pendek pengucapan, hukum-hukum bacaan, bacaan-bacaan dengan ketentuan-ketentuan khusus, sampai lagu-lagu bacaan yang aduhai. Semuanya tampak indah karena dilakukan orang-orang hijau. Lomba hijau melagukan isi buku hijau pun jadi event besar di negeri dengan penduduk hijau paling banyak ini.

Padahal, katanya buku hijau itu berisi hukum-hukum tentang hidup dan kehidupan semesta. Tetapi dari pengeras suara di rumah-rumah hijau tiap hari Jumat siang yang terdengar adalah suara orang hijau mendendangkan isi buku hijau itu. Lucu. Hukum kok didendangkan. Bayangkan saja seandainya teks UUD ’45 dijadikan lagu lalu tiap hari Senin dinyanyikan dan nggak pernah dijalankan hukumnya. (^_^)

Karena katanya buku hijau itu susah dipahami, terlalu suci untuk ditafsirkan, maka yang terjadi di pondok-pondok hijau, pelajaran tentang hukum hijau malah bersumber dari buku-buku kuning tulisan tangan manusia. Kalau mau memahami buku hijau, ya pelajari dari tafsir kuning.

Maka yang lahir ya orang-orang hijau tadi..., berpakaian hijau, bermulut hijau, tapi berpemikiran kuning. Bahkan kalau diamat-amati, pakaian mereka semakin kuning saja, ada yang makin lebar, dan ada yang makin congklang.

Ya. Kampus hijau sibuk. Orang-orang hijau sibuk berdiskusi tentang hukum kuning. Judulnya sih mau menegakkan hukum hijau, tapi isi dan oututnya tetap saja hukum kuning. Judulnya sih mau menegakkan khilafah hijau, tetapi isi dan outputnya tetap saja khilafah kuning. Orang-orang hijau tak mau membedakan warna kuning dengan hijau. Bagi mereka, kuning itu ya hijau, hijau itu ya kuning. Mungkin orang-orang hijau telah buta warna.

Buku kuning itu sudah dianggap wakil dari buku hijau. Orang hijau yang hafal dan menjalankan seluruh isi buku kuning dianggap sebagai orang hijau kelas beringin yang berilmu tinggi. Orang sedikit skeptis yang menanyakan konten buku kuning yang tak masuk akal, yang tak tercantum di dalam buku hijau, selalu disodori pernyataan turun-temurun bahwa penulisan buku kuning itu butuh perjuangan keras, pencarian dan penelusuran kebenaran dari orang-orang hijau kelas beringin yang diakui kehijauannya, dan tak ada keraguan padanya. Padahal apa yang bisa menghalangi mulut manusia hijau sekalipun dari kesalahan periwayatan dan dari kebohongan? Bukankah tak ada manusia yang sempurna?

Orang sedikit skeptis pun akhirnya menipu akalnya sendiri untuk menerima konten buku kuning itu meski akalnya pengen muntah. Orang yang mempelajari buku hijau murni tanpa pendampingan buku kuning justru dicap sesat, ditangkap sampai dihukum mati.
Orang hijau kelas beringin berpemikiran kuning sudah seperti tuhan baru bagi orang-orang hijau kelas akar rumput. Ke arah mana angin meniup daun-daun beringin…, ke arah itu pula rerumputan mencondongkan daunnya. Padahal, bukan angin hijau yang bertiup, melainkan angin kuning karena membawa uap air kuning.

Kalau mau dicermati lebih detil lagi, ternyata orang-orang hijau di kampus hijau yang membawa cat hijau kemanapun pergi, juga membawa berbotol-botol air kuning untuk menumbuhkan pemikiran-pemikiran kuning pada diri orang-orang hijau yang baru.
Dimana-mana orang hijau tetap saja seperti itu, membawa air kuning kemanapun pergi. Karena air kuning itu tak bisa mengobati rasa haus, orang-orang hijau selalu saja haus. Mereka mencari-cari air di tempat-tempat yang biasanya ada air. Air yang dicari ya air kuning, yang dibungkus dengan wadah hijau. Bahkan film pink atau biru sekalipun, asalkan judulnya diberi embel-embel hijau, segera laris di pasaran hijau. Contohnya ya film tentang cinta yang kehijau-hijauan itu. Tak peduli air yang direguk dari sana warnanya kuning bahkan hitam pekat. Dalam pikiran kuning orang hijau, whatever-lah, yang penting niatnya, dan asiknya, rame-rame….


***

14 Juni 2009

Logos Membela Sang Utusan...

Tak disangka, ternyata bisa juga belajar dari humor terbongkarnya kebohongan seseorang yang mengaku buta....
"Nak..., kemarilah. Aku ingin meminta bantuanmu...," pinta si Buta.
"Apa yang bisa kubantu Pak?" tanya si anak.
"Aku minta tolong, tolong tuliskan di secarik kertas: 'Namaku si Buta dari Goa'..." kata si Buta.
"Baiklah...." kata anak itu yang kemudian langsung mengambil secarik kertas dan menuliskan di kertas itu: 'Namaku si Buta dari Goa Hantu'...
"Sudah selesai? Berikan padaku...," pinta si Buta.
Anak itu pun sambil nyengir memberikan kertas itu pada si Buta.
Si Buta kaget menerima tulisan itu....
"Lho..., kok?! Harusnya nggak ada kata 'hantu'-nya...," si Buta pun menghapus tulisan 'hantu' itu sendiri... (^_^)
Dan sejak itu terbongkarlah kebohongan si Buta...

Seorang utusan .... menerima mitos bahwa dia adalah seorang yang buta huruf... (yang diterjemahkan dari kata 'ummi'...) dengan alasan : kisah penulisan Perjanjian Hudaibiyah...

Ada suatu relasi antara kisah penulisan perjanjian Hudaibiyah itu dengan humor di atas...
Andaikan saja 'utusan' itu memang buta huruf...., kisah ini akan tampak lucu....
(kisah di bawah ini dikutip dari Sirah Nabawiah karya Shafiyurrahman Al-Mubarakfury halaman 445)

Beliau memanggil Ali bin Abu Thalib untuk menulis isi perjanjian ini. Beliau mendiktekan kepada Ali: Bismillahir-rahmanir-rahim...
Suhail menyela, "Tentang Ar-Rahman, demi Allah aku tidak tahu siapa dia. Tetapi tulislah: Bismika Allahumma."
Maka Nabi memerintahkan Ali untuk menulis seperti itu. Kemudian beliau mendiktekan lagi, "Ini adalah perjanjian yang ditetapkan Muhammad, Rasul Allah."
Suhail menyela, "Andaikan saja kami tahu bahwa engkau adalah rasul Allah, tentunya kami tidak akan menghalangimu untuk memasuki Masjidil Haram, tidak pula memerangimu. Tetapi tulislah: Muhammad bin Abdullah."
Beliau bersabda, "Bagaimana pun juga aku adalah Rasul Allah sekalipun kalian mendustakan aku."
Lalu beliau meminta Ali untuk menulis seperti usulan Suhail dan menghapus kata-kata Rasul Allah yang terlanjur ditulis. Namun Ali menolak untuk menghapusnya. Akhirnya beliau yang menghapus tulisan itu dengan tangan beliau sendiri..." (^_^)

...utusan itu menghapus tulisan yang dianggapnya perlu dihapus... dengan tangannya sendiri...

....
"Dan di antara mereka ada yang ummi..., tidak mengetahui al-Kitab kecuali sebagai dongengan bohong belaka, dan mereka hanya menduga-duga" (QS. Al-Baqarah:78)


***

10 Juni 2009

Muhammad buta huruf....? Mungkinkah...?

Seorang Muhammad lahir ketika pendidikan di Arab adalah hal yang sangat diperhatikan...
Seorang Muhammad lahir saat sya'ir menjadi nafas bangsa Arab...
Seorang Muhammad adalah cucu seorang Abdul Muthalib...,
adalah seorang keponakan dari Abu Thalib...
dua orang "guru" yang tentunya mahir baca tulis...
(thalib-thalaba-thulaby)
Mungkinkah seorang Abdul muthalib membiarkan cucu yang diasuhnya tak mengenyam pendidikan sama sekali....
Mungkinkah seorang Abu Thalib membiarkan keponakan yang diasuhnya tak mengerti baca tulis...?
Seorang Muhammad juga adalah tangan kanan bisnisnya Khadijah...
Muhammad adalah seorang entrepreneur muda yang profesional...
Sudah menjadi syarat bahwa seorang rasul pastilah cerdas dan berpemikiran lebih maju dari umatnya...
Mari mencari celah..., apakah mungkin seorang Muhammad buta huruf...?
Allah menjelaskan yang dimaksud dengan kata "ummi" di QS 2:78....

***

07 Juni 2009

mencari....

mencari itu adalah perjalanan...

mencari itu butuh waktu...
mencari itu butuh mencoba...
mencari itu butuh kesalahan...
mencari itu butuh keraguan...
mencari itu butuh pemikiran...
mencari itu butuh kemauan keras...
mencari itu butuh keberanian mengakui kesalahan...
mencari itu butuh fleksibilitas...
mencari itu butuh toleransi...
mencari itu butuh kesediaan untuk berpindah...

mencari itu tak butuh kesombongan...
mencari itu tak butuh kemarahan...
mencari itu tak butuh fanatisme...
mencari itu tak butuh ekstrimisme...
mencari itu tak butuh kalimat "milikku paling sempurna"...
mencari itu tak butuh kalimat "melihat saja sudah cukup"...
(Meski sombong, marah, fanatik, ekstrim, selalu menghambat pencarian...)

karena mencari itu adalah meninggalkan, mencoba, meninggalkan, mencoba, barangkali sampai n kali, baru bisa memilih...


***

24 Mei 2009

ini siang atau malam...........?

Dulu aku selalu tidak percaya saat ada sahabatku mengatakan: sekarang masih "malam".

Padahal matahari bersinar terang. Padahal orang-orang sibuk bekerja di kantor, di sawah, siswa dan guru beraktivitas di sekolah, mahasiswa sibuk kuliah di kampus, dan ada beberapa yang merencanakan demo. Partai sibuk kampanye, baik terselubung atau terang-terangan. Ya, physicly, ini siang.

Nggak siang, nggak malam, sahabatku selalu berkata: ini "malam".

Bingung aku jadinya. Sempat terpikir, mungkinkah sahabatku sudah gila?

Ia kemudian mengajakku melihat "arloji"nya. Ternyata, arlojinya memang menunjukkan waktu belum siang. Masih gelap, tapi hampir fajar. Sudah jam 03.30.
Kemudian, aku melihat lagi arlojiku. Arlojiku menunjukkan pukul 11.00, sebentar lagi waktunya makan siang. Itu arloji di tangan kiriku.

Ia kemudian berkata,"Coba lihat arloji di tangan kananmu."

Aku heran. Lama sekali aku tidak pernah melihat waktu di arloji di tangan kananku. Arloji di tangan kananku itu terlalu sulit dibaca. Aku menganggapnya arloji suci, arloji paling tepat waktu. Selalu berhati-hati mengenakannya. Jika masuk tempat-tempat yang tidak suci semacam toilet, aku harus melepaskannya dulu. Aku juga selalu diwanti-wanti oleh orang-orang di sekitarku:"Hati-hati dalam membaca dan menafsirkan arloji di tangan kananmu itu, bisa-bisa salah tafsir, sesat jadinya kamu, nggak tahu waktu". Tetapi, ironisnya, aku selalu diwanti-wanti supaya selalu membawa arloji itu kemanapun aku pergi. Walah-walah... bingung jadinya. Akhirnya, aku selalu memakai arloji itu..., di tangan kananku, tapi nggak pernah kulihat, cuma kupajang di tangan, pertanda bahwa aku bangga dengan "arloji" ini.

Ya, karena aku harus berhati-hati, maka aku diberi arloji lain untuk kukenakan di tangan kiriku. Mereka bilang, arloji ini adalah yang menjelaskan arloji di tangan kananku, waktu yang ditunjukkannya juga nggak berbeda dengan waktu yang ditunjukkan arloji di tangan kananku. Arloji di tangan kiriku itulah yang selalu kulihat untuk bisa mengetahui waktu.

Tetapi kemudian, aku diajak sahabatku untuk melihat dan mempelajari cara kerja arloji di tangan kananku itu. Ternyata sangat canggih dan revolusioner dibanding apa yang selama ini aku tahu dari orang-orang di sekitarku. Memang arloji di tangan kananku itu baru menunjukkan waktu pukul 03.30. Wow...

Lalu kulihat sekitar..., ternyata memang masih gelap. Tetapi herannya, orang-orang sangat sibuk bekerja. Pasar juga sangat rame, apalagi kampus. Kucermati mereka semua.

Adzan dzuhur berkumandang, dan serentak orang-orang yang sibuk bekerja itu menengok ke kiri,
.......ke arloji di tangan kiri mereka.
...

08 Februari 2009

Religiusitas Matematika

Saat belajar Biologi, aku bisa tahu tentang kerumitan susunan sel atau DNA makhluk hidup, yang mengantarkanku pada lantunan tasbih memuji Rabb-ku.

Saat belajar Fisika dan Astronomi, aku menyaksikan jalan-jalan yang dimiliki oleh bermilyar bintang, planet, serta galaksi di angkasa yang tidak saling memotong. Aku pun terbawa dalam decak takdzim, meng-akbarkan Rabb-ku.

Saat belajar Kimia, aku disuguhi kenyataan bahwa inti atom yang sebegitu mininya, ternyata menyimpan energi yang bisa menghancurluluhkan sebuah peradaban. Aku diajak menjelajahi bermacam-macam unsur di alam yang memiliki keteraturan sifat yang luar biasa. Bagaimana aku bisa percaya bahwa semua unsur itu muncul secara spontan tanpa ada yang mendesainnya? Dan aku pun mengakui kejeniusan Rabb-ku.

Saat belajar Sejarah, aku belajar tentang kegigihan, perjuangan, dan kebenaran yang suatu saat pasti menang.

Saat belajar Geologi, aku diajak menjelajah terjadinya gunung dan berbagai fenomena alam, yang ternyata sudah dijelaskan di Al-Quran 1400 tahun yang lalu. Bagaimana aku tidak semakin yakin akan kebenaran ajaran Rabb-ku?

Lalu, saat belajar Sosiologi, aku diajak berbagi dengan sesama, diajak mencintai dan mengasihi sesama. Dan itu adalah ajaran dari Rabb-ku.

Lalu...., tiba saat belajar matematika. Aku dihadapkan pada angka-angka yang bisa aku tulis sampai tak terbatas. Aku disuguhi persoalan-persoalan lucu: beli 2 apel dan 1 jeruk harganya segini, beli 3 apel dan 4 jeruk harganya segitu, berapa harga 1 apel? Sederhana, bukan? Aku diajak mengubah bahasa verbal menjadi kalimat-kalimat dengan simbol-simbol seperti x, y, dan angka-angka. Menghitung, menghitung, dan menghitung. Entah apapun yang dihitung, yang penting menghitung. Bukuku mulai dipenuhi angka-angka dan simbol-simbol aneh. Waktuku tersita oleh soal-soal latihan matematika yang sepertinya sangat bahagia jika aku pecahkan. Lalu, dimana decak takdzim, lantunan tasbih, serta gaung takbir dalam hati saat belajar matematika?

Bahkan ketika aku berjalan-jalan di dunia maya aku menemukan suatu pernyataan bahwa matematika telah membuktikan bahwa God = 0, dan sebuah gambar seperti di bawah ini:



Seorang guru pernah berkata: Matematika itu alat, kawan. Ia adalah sarana. Keindahannya tak kan nampak ketika ia hanya berdiri sendiri. Ia harus digunakan, baru akan jelas kehebatan dan keindahannya. Ia tidak membuat orang kagum kepadanya. Tetapi orang yang memahaminya, akan dibawanya mengerti kehebatan Sang Pencipta.

Guru itu lalu melanjutkan: Coba ingat saat kamu belajar Biologi, kamu dibuat terpesona oleh keunikan bilangan pada molekul DNA. Itu karena kamu paham matematika, kawan. Saat belajar Fisika maupun astronomi, kamu pasti bertasbih melihat planet-planet berotasi dan berevolusi tanpa saling bertumbukan, dan kamu berdecak takdzim saat melihat bilangan bintang dan galaksi yang besarnya masyaAllah. Itu karena kamu memahami matematika, kamu tahu bahwa bintang dengan ukuran sebesar itu dan jumlah yang seabreg itu, ternyata tidak pernah saling bertumbukan dalam geraknya. Kamu pun jadi bisa membayangkan, betapa dahsyat ukuran alam semesta itu. Apalagi ditambah kenyataan bahwa ia selalu mengembang. Ditambah, saat belajar Kimia kamu terkagum-kagum dengan bilangan-bilangan massa atom yang membentuk barisan bilangan yang unik. Sehingga, kamu jadi bisa membayangkan betapa jenius, hebat, dan Maha Besarnya Rabb-mu yang menciptakan itu semua.

Guru itu berkata lagi: Matematika itu sangat arif. Ia tidak berharap manusia mengaguminya. Ia hanya ingin dipahami. Karena dengan itu, ia bisa mengantarkan manusia kepada rasa syukur dan ketundukan kepada Rabb yang telah menciptakan alam semesta.

20 Januari 2009

Dzikrullah

Apa itu dzikrullah? Dzikrullah secara bahasa berarti “mengingat Allah”.

Para ulama telah sepakat bahwa obat yang paling mujarab dan penawar yang paling baik adalah dzikrullah.

Beberapa penjelasan Allah:
  1. “Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah qalbu menjadi tenteram” (Q.S Ar-Ra’du (13) : 28)
  2. “Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Quran yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan qalbu mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tak ada baginya seorang pemimpinpun.” (QS Az-Zumar:23)
  3. Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik. (QS Al-Hadiid : 16)
  4. Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat kebesaran Allah (QS Adz Dzariyat :49)
  5. Hai orang-orang yang beriman, ingatlah Allah, ingatlah selalu, dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang. (QS Al-Ahzab : 41-42)
  6. Maka bersabarlah kamu atas apa yang mereka katakan dan bertasbihlah dengan memuji Rabb-mu sebelum terbit matahari dan terbenamnya. (QS Thaha (20) : 130)
  7. Dan ingatlah Rabb-mu jika kamu lupa (salah). (QS Al-Kahfi (18) :24)

Sedangkan Penjelasan dari Nabi Muhammad:
  1. Hendaklah lisanmu tetap basah karena mengingat Allah (HR Tirmidzi)
  2. Rasulullah bersabda : “Al Mufaridun akan mendahului kita”. Para sahabat bertanya: “Ya Rasulullah, siapakah al Mufaridun itu?” Beliau menjawab: “Lelaki dan wanita yang banyak mengingat Allah” (HR Muslim)
  3. Muslim meriwayatkan dari ‘Aisyah, ia berkata: “Adalah Rasulullah senantiasa mengingat Allah dalam setiap waktunya.”
  4. Perumpamaan orang yang mau mengingat Allah dan orang yang tidak mau mengingat Allah bagaikan orang hidup dan orang mati. (HR Bukhari)
  5. Sungguh Allah akan meridhai seorang hamba yang memakan suatu makanan atau meminum suatu minuman, lalu memuji-Nya. (HR Muslim)

Beberapa Manfaat Dzikir
  • Memperoleh ridha dari Yang Maha Pemurah, dan setan terusir
  • Dapat mengembangkan kebaikan dan meninggikan derajat
  • Melapangkan dada dan meluaskan kuburan
  • Memelihara waktu dan mengimpunkan yang tercerai berai
  • Mendatangkan faidah paling besar dan membantu pelakunya untuk menghadapi berbagai kesulitan
  • Amal yang mudah dan pekerti yang mulia
  • Membentengi diri dari berbagai macam gangguan dan godaan
  • Menghiasi wajah pelakunya dengan keagungan, kewibawaan, dan kemanisan
Dzikir-dzikir yang dianjurkan oleh syariat: telah terhimpun di dalam al-ma’tsurat

Contoh dzikir praktis:
  • Apabila sedang melakukan perjalanan yang sulit: Laa haula walaa quwwata illa billah
  • Bila ada bencana pekat datang menimpa : Hasbunallooh wa ni’mal wakiil
  • Bila melihat hal menakjubkan : Subhanallooh
  • Bila mendapat nikmat dalam diri: Alhamdulillaah
  • Bila ingat dosa yang dilakukan : Astaghfirullooh
  • Bila musibah menimpa diri : inna lillaahi wa innaa ilaihi rooji’un

Dengan memahami makna lafadz dzikir yang kita ucapkan, akan kita temukan bahwa tidak ada kata pesimis dalam berislam. Segala hal, baik itu nikmat, musibah berat atupun ringan, adalah semata-mata untuk menguji kita, dan lewat segala ujian itulah Allah mendidik kita...

wallohu a'lamu bishshawab...