Tampilkan postingan dengan label religion. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label religion. Tampilkan semua postingan

10 April 2010

Tuhan kalah

Sore itu, Ari dan teman-teman kontrakannya menyaksikan video ‘perang’ tak masuk akal antara Israel dan Palestina. Tak masuk akal menurutnya, karena sama sekali tak berimbang.

Lelaki itu menahan emosi yang sesekali berdesak ingin menguasainya. Marah, tapi tak tahu harus ditujukan pada siapa. Yang membuatnya bertanya-tanya, ironisnya, yang menjadi akar masalah ‘perang’ itu adalah Yerusalem, yang secara bahasa berarti: ‘daerah keselamatan’. Apakah masih pantas kota itu disebut Yerusalem?

Malamnya, ia tak bisa menghentikan dirinya untuk bertanya, yang lagi, entah ditujukan pada siapa. Ia hanya bertanya dalam benaknya, mengingat lagi berbagai tragedi dan konflik yang mengatasnamakan agama, mengingat lagi segala tindak penghancuran yang mengatasnamakan agama. Berapa ribu nyawa saja yang telah melayang karena tindakan ‘aneh’ yang mengatasnamakan agama?

Ari terpaku. Ia sadar, tiap agama punya benteng yang teramat tinggi atas ‘keraguan’. Padahal, tanpa adanya ‘keraguan’, diskusi dan dialog tak kan pernah nyata.

Ia jadi teringat kutipan kalimat yang ia baca di sebuah artikel: ”Bila seseorang menderita waham, gejala itu akan disebut gila. Bila banyak orang menderita waham yang sama, gejala itu akan disebut agama.”
Apakah nyatanya agama hanya seperti itu? Entahlah.

Lelaki itu mengambil secarik kertas, menuliskan pertanyaan-pertanyaan tak terjawab yang terlintas di pikirannya. Tapi kali ini, ia tujukan pada Tuhan: “Apa benar, dulu Kau minta kami membuat agama? Maaf, sepertinya, saat ini Kau benar-benar telah menjadi: Yang Maha Asing bagi kami. Sejak dalam kandungan, orang tua kami telah menyiapkan kalung agama untuk kami, dan begitu kami lahir, dipakaikanlah kalung itu pada kami. Lalu kami ikuti arus kehidupan. Kami sibuk mengisi waktu. Kami juga tak lupa sembahyang. Tapi jangan-jangan, disana Kau sendiri menggeleng-gelengkan kepala sambil bersuara keras menegur kami: bukan seperti itu maksud perintah-Ku!!! Tapi kami seakan terhalang dinding yang amat tebal! Kami terbius ramai bisingnya mesin-mesin dunia! Kami terbius ramai bisingnya detik yang tak henti berganti! Dan suara-Mu…, teguran-Mu…: kalah, Tuhan!!!”
Entah kenapa, ia gunakan kata ‘kami’, seakan orang-orang lain juga sedang risau.

Malam semakin sunyi, dan hembusan angin seperti terus membisikkan pertanyaan pada Ari: “Bukankah agama, yang telah mengalahkan suara Tuhan?”

Dan Ari, cuma seorang lelaki yang sedang bertanya, tidak kurang, tidak lebih.

***

07 April 2010

beban

Siti terbangun dini hari itu. Ia dapati jam dindingnya menunjukkan pukul 03.00. Mahasiswi yang sebentar lagi akan wisuda itu terbius sepi. Sunyi, yang sangat jarang ia rasakan.
Bertanya ia, dalam dirinya. Sekarang, skripsinya sudah selesai, sudah yudisium pula. Bukankah harusnya ia bisa merasa merdeka, bebas, seperti yang ia harapkan sejak dulu? Bebas dari skripsi, bebas dari kuliah, bebas dari tuntutan dosennya, bebas dari pertanyaan “kapan lulus?”. Tapi rasanya, ada yang berat mengganjal di hatinya, hingga ia merasa belum bebas, belum bisa ‘terbang’ sebebas elang-elang itu.

Sebentar ia termenung. Dan, ah, ya! “Aku akan menghadapi pertanyaan, ‘kerja dimana?’, ‘kapan nikah?’, ‘kapan punya rumah baru?’, ‘kapan punya anak’?’”
Tuntutan, beban. Siti seakan bertanya pada Tuhannya, “Kapan aku akan hidup merdeka, bebas dari segala tuntutan yang seakan memaksaku menjawabnya??”

Terdiam ia, merenungkan perjalanan hidupnya. Lalu….
Wow! Ia lahir 22 tahun yang lalu: -tuntutan neneknya atas kedua orang tuanya-
Ia besar, lalu sekolah, TK, SD, SMP, SMA : -tuntutan zaman, tuntutan orang tuanya-
Saat sekolah, ia juga tertuntut untuk jadi pintar, dapat nilai bagus, lulus tepat waktu setiap jenjangnya.
Kemudian ia kuliah: -tuntutan dunia kerja-. Ya, karena untuk lebih mudah dapat kerja, katanya harus punya ijazah S1. Dan saat kuliah, ia dapati beban 144 sks. Belum lagi, saat menyelesaikan skripsi yang penuh dengan tuntutan, baik dari dosen, teman, maupun saudara-saudaranya di rumah. Lalu sekarang ia dah lulus.

Angin yang masuk lewat jendela kamarnya menyapa wajahnya. Seakan ia temukan benang merah dalam perjalanan hidupnya. Ya, ini dia. Ia tuliskan di secarik kertas, sebuah pertanyaan: “apakah hidup itu hanyalah menanggung beban dan menjawab tuntutan?”.

Di luar, rumput bergoyang disapa angin, seperti saling bertanya satu sama lain, “Apakah Tuhan lupa memberitahu manusia untuk apa ia diciptakan?”.


***

21 Agustus 2009

Cinta bukan sekedar kata

Cintailah Allah sebelum kau mencintai yang lain…
Ungkapan itu dulu begitu abstrak bagiku. Dulu aku selalu memaksa diriku untuk bisa memahaminya. Selalu kucoba untuk mengertinya… membayangkan bahwa aku harus menghormati, tunduk, cinta, patuh, dan mengingat sosok Allah… Maaf jika kusebut sosok, karena saat itu aku memang masih memahami Allah itu sebagai sosok…, yang tak kuketahui wujud-Nya seperti apa.
Dulu, yang ada dalam bayanganku adalah bahwa Ia sangat Besar karena ia Maha Besar, Maha tinggi, maha suci, maha segala-galanya… tak ada yang menandingi kebesarannya. Ia di atas segala-galanya. Pernah aku berpikir, dimana Ia duduk? dimana Ia berdiri? dimana rumahNya? Apakah di luar jagat raya ini? Ataukah ia melingkupi seluruh jagat raya ini? Lalu, sosoknya berupa apa? Lalu, ada yang bilang, Allah itu ada dimana-mana, tangan Allah ada dimana-mana. Baru saja aku mau mensintesa suatu pemahaman baru, terburu-buru ada yang meralatnya, bahwa katanya, yang benar adalah bahwa Allah itu tempat tinggalnya hanya satu, bersemayam di atas ‘arsy-Nya yang agung. Kembali aku berpikir, arsy : kursi. Berarti Allah duduk di atas singgasana yang super besar? dimana? Seperti apakah? Lalu kubaca buku, yang menurut analisis penulisnya, Arsy Allah itu terbuat dari ‘air’. Air? Segera saja otakku berimajinasi lagi membayangkan singgasana yang terbuat dari air, dan sangat megah… lalu di atasnya ada Allah.
Dulu saat masih TK, pernah terpikir, wujud Allah itu seperti manusia raksasa. Lalu, orang-orang bilang, Allah itu beda dari makhlukNya. Lalu aku pun meralat pemikiranku. Mencoba mereka-reka seperti apakah Allah itu? Lalu ada yang bilang bahwa cahaya Allah itu tak pernah redup, cahaya di atas cahaya…. Aku pun jadi berpikir, mungkinkah Allah itu bentuknya seperti bola cahaya yang terang benderang? Tetapi sekali lagi ada yang memarahiku karena katanya, bukannya cahaya itu juga makhluk ciptaan Allah? Kan Allah beda dari makhlukNya? Hah…. bingung lagi…. bingung lagi… Soalnya susah jika berdoa tanpa membayangkan ada sosok yang sedang mendengarkan doaku… Dan susah juga untuk mencerna kalimat, “La tahzan, innallaha ma’ana” tanpa membayangkan ada sosok yang sedang menyemangati dan terus memotivasiku.
Lalu, ada yang menghentikanku membayangkan sosok Allah, yaitu suatu pernyataan dari orang-orang bahwa manusia itu dilarang berpikir tentang zat Allah, karena hanya akan mejerumuskan manusia pada kesesatan. Saat mendengar hal itu, sebenarnya aku ingin bertanya, mengapa? kok bisa? Tapi, aku sadar kalau aku hanya mencari pembenaran atas pendapatku, jadi aku urungkan. Dan aku terus menipu diriku, bahwa aku mempercayai kebenaran pernyataan “tidak dibenarkan berpikir tentang zat Allah”. Dan itulah yang kujawab ketika temanku yang suka berpikir terlalu mendalam, menanyakannya padaku.
Tetapi, sesuatu yang terus ditekan di alam bawah sadar, nggak akan hilang, malah akhirnya akan mencuat dan meledak.
Suatu kali aku ngobrol dengan seorang teman yang pemahamannya tentang hidup dan kehidupan ini lebih luas dariku, dan dari perspektif yang beda juga dariku. Tak kusangka, ia bertanya, “bagaimana caramu mengingat Allah? Padahal, kamu belum pernah melihat sosok-Nya?”
Kupikir, iya juga ya? bagaimana caraku mengingat Allah? Jawabanku saat itu nggak jelas juntrungannya alias mbulet. haha…, biasa…. Tetapi jawaban temanku saat itu, masih kuingat sampai sekarang, “Mengingat Allah: dengan membaca, mempelajari, dan mengaplikasikan firman-firman-Nya di kitab suci dalam hidup dan kehidupan kita.”
Iya, saat itu, kenapa aku nggak kepikiran kesana ya? Padahal itu adalah jawaban yang sangat logis.
Saat itu aku nyeletuk, “iya ya? manusia kan tidak bisa melihat Allah?”
Temanku mengerutkan dahinya, “Tidak bisa melihat sosok Allah, memang iya. Tetapi manusia dikaruniai indera untuk bisa melihat kerja Allah, melihat hasil karya cipta Allah, melihat sistem Allah yang bekerja di alam semesta…., sistem yang sempurna…. Contohnya, adanya gaya gravitasi di bumi, rotasi planet-planet, revolusi planet-planet mengelilingi bintang, dan bahkan di sel tubuh manusia juga terdapat sistem ciptaan Allah yang sempurna, atau di atom-atom penyusun materi: terdapat sistem yang sempurna antara electron, neutron, ataupun proton.”
Lalu, bagaimana bentuk cinta manusia kepada Allah? Sahabatku menjawab, “dengan mengabdi kepada-Nya, tidak menyimpang dari sistem-Nya…, dan bila sistemNya telah dirobohkan, cintanya adalah dengan menegakkannya lagi….”
Dia melanjutkan, “Sistem Allah yang sempurna itu harusnya juga berlaku dalam kehidupan manusia. Tetapi, saat ini belum berlaku. Saat ini banyak manusia yang mengaku mencintai Allah melebihi apapun, tapi ia tak berbuat apapun untuk menegakkan kembali sistem Allah itu… Mungkin itu yang dimaksud dengan pernyataan alkitab bahwa : Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia (Mat,15: 8-9). Juga kata Al-Quran bahwa: Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelummu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut padahal mereka telah diperintahkan mengingkari thaghut itu, dan setan bermaksud menyesatkan mereka dengan kesesatan yang sejauh-jauhnya (QS 4:60)”

Lanjutnya, “Cinta itu tak cukup hanya diikrarkan di bibir saja, hanya sekedar kata, tetapi harus dibuktikan dengan tindakan, pengabdian kepada apa Yang dicintai, sesuai keinginanNya…”


***

15 Juli 2009

Kecuali manusia

Langit malam bertabur bintang memberikan kedamaian tersendiri bagiku…. Di langit yang bertabur bintang itu…, aku melukiskan harapku…. Di langit bertabur bintang itu pula, gambaran tentang hidup dan kehidupan yang lebih baik… kutemukan… dan tiap kali kutatap langit yang bertabur bintang itu…, tumbuhlah lagi rasa optimis yang sebelumnya hampir meredup tertelan detik yang terus berjalan.

Ingin rasanya melakukan perjalanan ke langit…, mengelilingi Bumi, melesat mengitari Matahari…, menelusuri lintasan planet Merkuri, Venus, melompati lintasan Bumi, menatap dari dekat permukaan Mars, melihat dengan jelas Jupiter dengan semua satelitnya, mengitari cincin saturnus, melesat menuju Uranus, Neptunus, Pluto… meninggalkan tatasurya menuju bintang terdekat dengan Matahari, dan terus melaju menuju bintang-bintang yang lain di galaksi bimasakti. Dan ingin juga keluar menuju galaksi lain… Andromeda… menelisik apakah ada planet seperti planet Bumi di sana… dan terus melaju mengunjungi galaksi-galaksi yang lain… Tanpa henti… melihat dengan jelas gerakan memutar galaksi-galaksi itu… yang dengan anggunnya mereka bergerak serentak mengitari satu titik di alam semesta ini… dan ingin terbang lebih jauh lagi… keluar dari sistem-sistem galaksi ini… kalau ada… dan melihat sistem-sistem galaksi yang lain…. (kalau ada)…

Selalu kukagumi tatanan alam yang maha sempurna… Planet-planet berotasi pada porosnya… ia dilindungi oleh lapisan atmosfer yang melindunginya dari meteor-meteor atau benda-benda langit lain yang membahayakannya. Planet-planet juga bergerak mengelilingi satu bintang dan membentuk sistem. Planet-planet itu mendapat cahaya dari bintang yang dikelilinginya itu. Dan ada juga planet yang dikitari oleh satelit… yang memberikan cahaya kepada planet pada sisi yang membelakangi bintang. Bintang-bintang juga bergerak mengelilingi satu titik di galaksi, yang menjadi sistem yang indah bercahaya, yang tak terpisah dari sistem yang lebih besar lagi, yaitu: galaksi-galaksi yang mengitari satu titik di alam yang luas ini… yang juga membentuk sebuah sistem yang lebih besar lagi…, yang semua itu berjalan dengan teratur…, sesuai sistem yang telah dibuat oleh Tuhan… Semua teratur dan sangat disiplin… karena tak ada pengkhianat di dalamnya…

Tak ada bintang yang melampaui batas lintasannya… begitupun planet-planet… satelit…. komet… tak ada satupun benda angkasa yang berkhianat kepada sistem yang dibuat Tuhan… Tak ada satupun planet yang berpikir untuk mengambil jalan pintas dalam mengelilingi bintangnya… Bumi tak pernah berpikir untuk membelok arah rotasinya… Bumi juga tak pernah berpikir untuk mengambil lintasan Venus yang lebih pendek dari lintasan Bumi… Mars juga tak pernah berpikir untuk merebut lintasan Bumi… Alfa Centaury tak pernah berpikir untuk menendang dan menggantikan posisi Matahari… Andromeda tak pernah berpikir untuk menabrak Bimasakti… Mereka tak pernah berpikir untuk melakukan itu semua… karena mereka tak bisa berpikir… Tak ada yang bisa berkhianat di angkasa itu…. sehingga terciptalah susunan… sistem… yang maha teratur… Sama sekali tak ada yang bisa berkhianat terhadap aturan Tuhan di alam ini semesta ini… kecuali satu spesies Bumi yang sedang memikirkan mereka… spesiesku: manusia…

***

tinggal di sebuah panet milik Allah yang bernama Bumi

Suatu kali, aku ingin menginap di kos teman selama beberapa hari untuk suatu keperluan. Tak ingin diblacklist oleh pemillik kos, maka saat aku tiba di kos itu, aku langsung membaca dan kemudian mematuhi peraturan kos yang tertempel di dinding dekat pintu masuk kos itu… Peraturan itu tertulis pada selembar kertas yang dilaminating. Ada 14 poin peraturan yang harus dipatuhi penghuni kos. Peraturannya cukup rigid, jam malam, tatacara pembayaran, penggunaan fasilitas-fasilitas kos, tatakrama membawa teman ke kos… semua tertulis di selembar kertas itu…, dan disertai pula tanda tangan pemilik kos.

Yah… Memang, jika tidak ingin diblacklist oleh si pemilik tempat tinggal atau masyarakat di sekitar kita, caranya adalah dengan mematuhi peraturan yang berlaku di tempat itu.

Suatu tempat megah dan mewah yang sering dilupakan manusia adalah planet bumi. Jarang aku ingat bahwa aku sedang menapakkan kaki di sebuah planet milik Allah yang bernama Bumi. Jarang aku ingat bahwa rumahku dibangun di atas tanah di permukaan sebuah planet milik Allah yang bernama Bumi. Aku juga sering lupa kalau desaku terletak di salah satu bagian planet milik Allah yang bernama Bumi. Udara yang kuhirup juga adalah bagian dari atmosfer sebuah planet millik Allah yang bernama Bumi. Jarang aku ingat bahwa aku sedang tinggal di sebuah planet milik Allah yang bernama Bumi.

Karena aku tinggal di sebuah planet milik Allah yang bernama Bumi, harusnya aku juga membaca, mempelajari dan mematuhi aturan yang dibuat Pemilik planet yang bernama Bumi ini, yaitu Allah.
Bagaimana aku bisa memutuskan untuk lebih mematuhi aturan manusia lain yang menkhianati aturan Allah sementara aku dan manusia si pembuat aturan itu juga sama-sama tinggal di sebuah planet milik Allah yang bernama Bumi? Bagaimana aku bisa lebih takut di-blacklist oleh manusia pengkhianat aturan Allah daripada di-blacklist oleh Allah, sementara aku dan manusia itu sama-sama tinggal di sebuah planet milik Allah yang bernama Bumi?

Lalu, bagaimana orang-orang sekuler mau memisahkan system kehidupannya dari system Allah sementara ia tinggal di sebuah planet yang hak miliknya berada pada Allah?

***

19 Juni 2009

kampus hijau pun menguning

Tahun ini, kampus hijau sibuk. Orang-orang hijau yang baru turun dari kapal hijau diterjunkan untuk memberi warna hijau di kapal-kapal yang baru berlabuh yang berwarna merah, putih, hitam, kuning, ataupun biru.

Orang-orang hijau diberi modal cat hijau. Kapal-kapal pendatang pun segera setelahnya tampak hijau dan dipenuhi orang-orang hijau. Karena cat hanya mampu memoles warna permukaan, akhirnya muncullah orang-orang berpakaian hijau tetapi berjiwa pink, kuning, hitam, biru, dan sebagainya.

Salam hijau tersebar dimana-mana. Seseorang akan disebut hijau asalkan berpakaian hijau dan suka berbahasa hijau. Saat ini mulai dari yang berjiwa pink, merah, kuning, ungu ,sampai hitam pun berpakaian hijau. Semua kegiatan diberi embel-embel hijau. Atau, kalau nggak hijau, yang penting pelaksana kegiatannya orang-orang hijau. Mulai dari diskusi kecil-kecilan tingkat prodi sampai seminar tingkat nasional, dari penyambutan pendatang baru sampai pelepasan wisuda, orang-orang hijau ada di sana. Tak lupa selalu membawa cat hijau kemanapun perginya.

Hijau sekarang dijadikan warna penghias di setiap sudut kampus karena diyakini hijau adalah warna yang akan mengantarkan kepada kebahagiaan dan ampuh membentengi diri dari siksa.

Buku hijau ada di dalam tas orang-orang hijau. Atau karena dianggap saking sucinya, makanya buku hijaunya cuma ditaruh di rak paling atas atau bahkan di atas almarinya yang berdebu biar nggak ada yang menandingi ketinggian dan kemuliaannya.

Selalu digembar-gemborkan bahwa buku hijau itu isinya bukan syair, bukan pula sihir ataupun mantra. Tetapi tetap saja di rumah-rumah hijau, atau di pondok-pondok hijau orang-orang hijau belajar mensyairkan isi buku hijau. Komplit bin njlimet. Mulai dari panjang pendek pengucapan, hukum-hukum bacaan, bacaan-bacaan dengan ketentuan-ketentuan khusus, sampai lagu-lagu bacaan yang aduhai. Semuanya tampak indah karena dilakukan orang-orang hijau. Lomba hijau melagukan isi buku hijau pun jadi event besar di negeri dengan penduduk hijau paling banyak ini.

Padahal, katanya buku hijau itu berisi hukum-hukum tentang hidup dan kehidupan semesta. Tetapi dari pengeras suara di rumah-rumah hijau tiap hari Jumat siang yang terdengar adalah suara orang hijau mendendangkan isi buku hijau itu. Lucu. Hukum kok didendangkan. Bayangkan saja seandainya teks UUD ’45 dijadikan lagu lalu tiap hari Senin dinyanyikan dan nggak pernah dijalankan hukumnya. (^_^)

Karena katanya buku hijau itu susah dipahami, terlalu suci untuk ditafsirkan, maka yang terjadi di pondok-pondok hijau, pelajaran tentang hukum hijau malah bersumber dari buku-buku kuning tulisan tangan manusia. Kalau mau memahami buku hijau, ya pelajari dari tafsir kuning.

Maka yang lahir ya orang-orang hijau tadi..., berpakaian hijau, bermulut hijau, tapi berpemikiran kuning. Bahkan kalau diamat-amati, pakaian mereka semakin kuning saja, ada yang makin lebar, dan ada yang makin congklang.

Ya. Kampus hijau sibuk. Orang-orang hijau sibuk berdiskusi tentang hukum kuning. Judulnya sih mau menegakkan hukum hijau, tapi isi dan oututnya tetap saja hukum kuning. Judulnya sih mau menegakkan khilafah hijau, tetapi isi dan outputnya tetap saja khilafah kuning. Orang-orang hijau tak mau membedakan warna kuning dengan hijau. Bagi mereka, kuning itu ya hijau, hijau itu ya kuning. Mungkin orang-orang hijau telah buta warna.

Buku kuning itu sudah dianggap wakil dari buku hijau. Orang hijau yang hafal dan menjalankan seluruh isi buku kuning dianggap sebagai orang hijau kelas beringin yang berilmu tinggi. Orang sedikit skeptis yang menanyakan konten buku kuning yang tak masuk akal, yang tak tercantum di dalam buku hijau, selalu disodori pernyataan turun-temurun bahwa penulisan buku kuning itu butuh perjuangan keras, pencarian dan penelusuran kebenaran dari orang-orang hijau kelas beringin yang diakui kehijauannya, dan tak ada keraguan padanya. Padahal apa yang bisa menghalangi mulut manusia hijau sekalipun dari kesalahan periwayatan dan dari kebohongan? Bukankah tak ada manusia yang sempurna?

Orang sedikit skeptis pun akhirnya menipu akalnya sendiri untuk menerima konten buku kuning itu meski akalnya pengen muntah. Orang yang mempelajari buku hijau murni tanpa pendampingan buku kuning justru dicap sesat, ditangkap sampai dihukum mati.
Orang hijau kelas beringin berpemikiran kuning sudah seperti tuhan baru bagi orang-orang hijau kelas akar rumput. Ke arah mana angin meniup daun-daun beringin…, ke arah itu pula rerumputan mencondongkan daunnya. Padahal, bukan angin hijau yang bertiup, melainkan angin kuning karena membawa uap air kuning.

Kalau mau dicermati lebih detil lagi, ternyata orang-orang hijau di kampus hijau yang membawa cat hijau kemanapun pergi, juga membawa berbotol-botol air kuning untuk menumbuhkan pemikiran-pemikiran kuning pada diri orang-orang hijau yang baru.
Dimana-mana orang hijau tetap saja seperti itu, membawa air kuning kemanapun pergi. Karena air kuning itu tak bisa mengobati rasa haus, orang-orang hijau selalu saja haus. Mereka mencari-cari air di tempat-tempat yang biasanya ada air. Air yang dicari ya air kuning, yang dibungkus dengan wadah hijau. Bahkan film pink atau biru sekalipun, asalkan judulnya diberi embel-embel hijau, segera laris di pasaran hijau. Contohnya ya film tentang cinta yang kehijau-hijauan itu. Tak peduli air yang direguk dari sana warnanya kuning bahkan hitam pekat. Dalam pikiran kuning orang hijau, whatever-lah, yang penting niatnya, dan asiknya, rame-rame….


***

14 Juni 2009

Logos Membela Sang Utusan...

Tak disangka, ternyata bisa juga belajar dari humor terbongkarnya kebohongan seseorang yang mengaku buta....
"Nak..., kemarilah. Aku ingin meminta bantuanmu...," pinta si Buta.
"Apa yang bisa kubantu Pak?" tanya si anak.
"Aku minta tolong, tolong tuliskan di secarik kertas: 'Namaku si Buta dari Goa'..." kata si Buta.
"Baiklah...." kata anak itu yang kemudian langsung mengambil secarik kertas dan menuliskan di kertas itu: 'Namaku si Buta dari Goa Hantu'...
"Sudah selesai? Berikan padaku...," pinta si Buta.
Anak itu pun sambil nyengir memberikan kertas itu pada si Buta.
Si Buta kaget menerima tulisan itu....
"Lho..., kok?! Harusnya nggak ada kata 'hantu'-nya...," si Buta pun menghapus tulisan 'hantu' itu sendiri... (^_^)
Dan sejak itu terbongkarlah kebohongan si Buta...

Seorang utusan .... menerima mitos bahwa dia adalah seorang yang buta huruf... (yang diterjemahkan dari kata 'ummi'...) dengan alasan : kisah penulisan Perjanjian Hudaibiyah...

Ada suatu relasi antara kisah penulisan perjanjian Hudaibiyah itu dengan humor di atas...
Andaikan saja 'utusan' itu memang buta huruf...., kisah ini akan tampak lucu....
(kisah di bawah ini dikutip dari Sirah Nabawiah karya Shafiyurrahman Al-Mubarakfury halaman 445)

Beliau memanggil Ali bin Abu Thalib untuk menulis isi perjanjian ini. Beliau mendiktekan kepada Ali: Bismillahir-rahmanir-rahim...
Suhail menyela, "Tentang Ar-Rahman, demi Allah aku tidak tahu siapa dia. Tetapi tulislah: Bismika Allahumma."
Maka Nabi memerintahkan Ali untuk menulis seperti itu. Kemudian beliau mendiktekan lagi, "Ini adalah perjanjian yang ditetapkan Muhammad, Rasul Allah."
Suhail menyela, "Andaikan saja kami tahu bahwa engkau adalah rasul Allah, tentunya kami tidak akan menghalangimu untuk memasuki Masjidil Haram, tidak pula memerangimu. Tetapi tulislah: Muhammad bin Abdullah."
Beliau bersabda, "Bagaimana pun juga aku adalah Rasul Allah sekalipun kalian mendustakan aku."
Lalu beliau meminta Ali untuk menulis seperti usulan Suhail dan menghapus kata-kata Rasul Allah yang terlanjur ditulis. Namun Ali menolak untuk menghapusnya. Akhirnya beliau yang menghapus tulisan itu dengan tangan beliau sendiri..." (^_^)

...utusan itu menghapus tulisan yang dianggapnya perlu dihapus... dengan tangannya sendiri...

....
"Dan di antara mereka ada yang ummi..., tidak mengetahui al-Kitab kecuali sebagai dongengan bohong belaka, dan mereka hanya menduga-duga" (QS. Al-Baqarah:78)


***

10 Juni 2009

Muhammad buta huruf....? Mungkinkah...?

Seorang Muhammad lahir ketika pendidikan di Arab adalah hal yang sangat diperhatikan...
Seorang Muhammad lahir saat sya'ir menjadi nafas bangsa Arab...
Seorang Muhammad adalah cucu seorang Abdul Muthalib...,
adalah seorang keponakan dari Abu Thalib...
dua orang "guru" yang tentunya mahir baca tulis...
(thalib-thalaba-thulaby)
Mungkinkah seorang Abdul muthalib membiarkan cucu yang diasuhnya tak mengenyam pendidikan sama sekali....
Mungkinkah seorang Abu Thalib membiarkan keponakan yang diasuhnya tak mengerti baca tulis...?
Seorang Muhammad juga adalah tangan kanan bisnisnya Khadijah...
Muhammad adalah seorang entrepreneur muda yang profesional...
Sudah menjadi syarat bahwa seorang rasul pastilah cerdas dan berpemikiran lebih maju dari umatnya...
Mari mencari celah..., apakah mungkin seorang Muhammad buta huruf...?
Allah menjelaskan yang dimaksud dengan kata "ummi" di QS 2:78....

***

07 Juni 2009

mencari....

mencari itu adalah perjalanan...

mencari itu butuh waktu...
mencari itu butuh mencoba...
mencari itu butuh kesalahan...
mencari itu butuh keraguan...
mencari itu butuh pemikiran...
mencari itu butuh kemauan keras...
mencari itu butuh keberanian mengakui kesalahan...
mencari itu butuh fleksibilitas...
mencari itu butuh toleransi...
mencari itu butuh kesediaan untuk berpindah...

mencari itu tak butuh kesombongan...
mencari itu tak butuh kemarahan...
mencari itu tak butuh fanatisme...
mencari itu tak butuh ekstrimisme...
mencari itu tak butuh kalimat "milikku paling sempurna"...
mencari itu tak butuh kalimat "melihat saja sudah cukup"...
(Meski sombong, marah, fanatik, ekstrim, selalu menghambat pencarian...)

karena mencari itu adalah meninggalkan, mencoba, meninggalkan, mencoba, barangkali sampai n kali, baru bisa memilih...


***

08 Februari 2009

Religiusitas Matematika

Saat belajar Biologi, aku bisa tahu tentang kerumitan susunan sel atau DNA makhluk hidup, yang mengantarkanku pada lantunan tasbih memuji Rabb-ku.

Saat belajar Fisika dan Astronomi, aku menyaksikan jalan-jalan yang dimiliki oleh bermilyar bintang, planet, serta galaksi di angkasa yang tidak saling memotong. Aku pun terbawa dalam decak takdzim, meng-akbarkan Rabb-ku.

Saat belajar Kimia, aku disuguhi kenyataan bahwa inti atom yang sebegitu mininya, ternyata menyimpan energi yang bisa menghancurluluhkan sebuah peradaban. Aku diajak menjelajahi bermacam-macam unsur di alam yang memiliki keteraturan sifat yang luar biasa. Bagaimana aku bisa percaya bahwa semua unsur itu muncul secara spontan tanpa ada yang mendesainnya? Dan aku pun mengakui kejeniusan Rabb-ku.

Saat belajar Sejarah, aku belajar tentang kegigihan, perjuangan, dan kebenaran yang suatu saat pasti menang.

Saat belajar Geologi, aku diajak menjelajah terjadinya gunung dan berbagai fenomena alam, yang ternyata sudah dijelaskan di Al-Quran 1400 tahun yang lalu. Bagaimana aku tidak semakin yakin akan kebenaran ajaran Rabb-ku?

Lalu, saat belajar Sosiologi, aku diajak berbagi dengan sesama, diajak mencintai dan mengasihi sesama. Dan itu adalah ajaran dari Rabb-ku.

Lalu...., tiba saat belajar matematika. Aku dihadapkan pada angka-angka yang bisa aku tulis sampai tak terbatas. Aku disuguhi persoalan-persoalan lucu: beli 2 apel dan 1 jeruk harganya segini, beli 3 apel dan 4 jeruk harganya segitu, berapa harga 1 apel? Sederhana, bukan? Aku diajak mengubah bahasa verbal menjadi kalimat-kalimat dengan simbol-simbol seperti x, y, dan angka-angka. Menghitung, menghitung, dan menghitung. Entah apapun yang dihitung, yang penting menghitung. Bukuku mulai dipenuhi angka-angka dan simbol-simbol aneh. Waktuku tersita oleh soal-soal latihan matematika yang sepertinya sangat bahagia jika aku pecahkan. Lalu, dimana decak takdzim, lantunan tasbih, serta gaung takbir dalam hati saat belajar matematika?

Bahkan ketika aku berjalan-jalan di dunia maya aku menemukan suatu pernyataan bahwa matematika telah membuktikan bahwa God = 0, dan sebuah gambar seperti di bawah ini:



Seorang guru pernah berkata: Matematika itu alat, kawan. Ia adalah sarana. Keindahannya tak kan nampak ketika ia hanya berdiri sendiri. Ia harus digunakan, baru akan jelas kehebatan dan keindahannya. Ia tidak membuat orang kagum kepadanya. Tetapi orang yang memahaminya, akan dibawanya mengerti kehebatan Sang Pencipta.

Guru itu lalu melanjutkan: Coba ingat saat kamu belajar Biologi, kamu dibuat terpesona oleh keunikan bilangan pada molekul DNA. Itu karena kamu paham matematika, kawan. Saat belajar Fisika maupun astronomi, kamu pasti bertasbih melihat planet-planet berotasi dan berevolusi tanpa saling bertumbukan, dan kamu berdecak takdzim saat melihat bilangan bintang dan galaksi yang besarnya masyaAllah. Itu karena kamu memahami matematika, kamu tahu bahwa bintang dengan ukuran sebesar itu dan jumlah yang seabreg itu, ternyata tidak pernah saling bertumbukan dalam geraknya. Kamu pun jadi bisa membayangkan, betapa dahsyat ukuran alam semesta itu. Apalagi ditambah kenyataan bahwa ia selalu mengembang. Ditambah, saat belajar Kimia kamu terkagum-kagum dengan bilangan-bilangan massa atom yang membentuk barisan bilangan yang unik. Sehingga, kamu jadi bisa membayangkan betapa jenius, hebat, dan Maha Besarnya Rabb-mu yang menciptakan itu semua.

Guru itu berkata lagi: Matematika itu sangat arif. Ia tidak berharap manusia mengaguminya. Ia hanya ingin dipahami. Karena dengan itu, ia bisa mengantarkan manusia kepada rasa syukur dan ketundukan kepada Rabb yang telah menciptakan alam semesta.

20 Januari 2009

Dzikrullah

Apa itu dzikrullah? Dzikrullah secara bahasa berarti “mengingat Allah”.

Para ulama telah sepakat bahwa obat yang paling mujarab dan penawar yang paling baik adalah dzikrullah.

Beberapa penjelasan Allah:
  1. “Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah qalbu menjadi tenteram” (Q.S Ar-Ra’du (13) : 28)
  2. “Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Quran yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan qalbu mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tak ada baginya seorang pemimpinpun.” (QS Az-Zumar:23)
  3. Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik. (QS Al-Hadiid : 16)
  4. Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat kebesaran Allah (QS Adz Dzariyat :49)
  5. Hai orang-orang yang beriman, ingatlah Allah, ingatlah selalu, dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang. (QS Al-Ahzab : 41-42)
  6. Maka bersabarlah kamu atas apa yang mereka katakan dan bertasbihlah dengan memuji Rabb-mu sebelum terbit matahari dan terbenamnya. (QS Thaha (20) : 130)
  7. Dan ingatlah Rabb-mu jika kamu lupa (salah). (QS Al-Kahfi (18) :24)

Sedangkan Penjelasan dari Nabi Muhammad:
  1. Hendaklah lisanmu tetap basah karena mengingat Allah (HR Tirmidzi)
  2. Rasulullah bersabda : “Al Mufaridun akan mendahului kita”. Para sahabat bertanya: “Ya Rasulullah, siapakah al Mufaridun itu?” Beliau menjawab: “Lelaki dan wanita yang banyak mengingat Allah” (HR Muslim)
  3. Muslim meriwayatkan dari ‘Aisyah, ia berkata: “Adalah Rasulullah senantiasa mengingat Allah dalam setiap waktunya.”
  4. Perumpamaan orang yang mau mengingat Allah dan orang yang tidak mau mengingat Allah bagaikan orang hidup dan orang mati. (HR Bukhari)
  5. Sungguh Allah akan meridhai seorang hamba yang memakan suatu makanan atau meminum suatu minuman, lalu memuji-Nya. (HR Muslim)

Beberapa Manfaat Dzikir
  • Memperoleh ridha dari Yang Maha Pemurah, dan setan terusir
  • Dapat mengembangkan kebaikan dan meninggikan derajat
  • Melapangkan dada dan meluaskan kuburan
  • Memelihara waktu dan mengimpunkan yang tercerai berai
  • Mendatangkan faidah paling besar dan membantu pelakunya untuk menghadapi berbagai kesulitan
  • Amal yang mudah dan pekerti yang mulia
  • Membentengi diri dari berbagai macam gangguan dan godaan
  • Menghiasi wajah pelakunya dengan keagungan, kewibawaan, dan kemanisan
Dzikir-dzikir yang dianjurkan oleh syariat: telah terhimpun di dalam al-ma’tsurat

Contoh dzikir praktis:
  • Apabila sedang melakukan perjalanan yang sulit: Laa haula walaa quwwata illa billah
  • Bila ada bencana pekat datang menimpa : Hasbunallooh wa ni’mal wakiil
  • Bila melihat hal menakjubkan : Subhanallooh
  • Bila mendapat nikmat dalam diri: Alhamdulillaah
  • Bila ingat dosa yang dilakukan : Astaghfirullooh
  • Bila musibah menimpa diri : inna lillaahi wa innaa ilaihi rooji’un

Dengan memahami makna lafadz dzikir yang kita ucapkan, akan kita temukan bahwa tidak ada kata pesimis dalam berislam. Segala hal, baik itu nikmat, musibah berat atupun ringan, adalah semata-mata untuk menguji kita, dan lewat segala ujian itulah Allah mendidik kita...

wallohu a'lamu bishshawab...

19 Januari 2009

Atheis : Adakah?

Atheisme berasal dari kata a yang artinya tidak dan theisme yang berarti paham ketuhanan. Atheisme secara bahasa berarti paham tidak bertuhan. Penganut paham atheisme disebut ’atheis’, yaitu orang yang tidak bertuhan.

Yang akan dibahas disini adalah: apakah paham atheisme itu memang benar-benar ada?
Apakah orang yang tidak bertuhan itu ada?

Tuhan, secara bahasa berarti : sesuatu yang disembah, sesuatu yang ditinggikan, sesuatu yang ditakuti, sesuatu yang diprioritaskan melebihi apapun, sesuatu yang mendominasi pikiran manusia, sesuatu yang padanya manusia mempersembahkan pengabdiannya.

Lalu, tidak bertuhan berarti: tidak mempunyai tuhan, berarti ia tidak mempunyai sesuatu yang ditinggikan, tidak mempunyai sesuatu yang ditakuti, tidak mempunyai sesuatu yang diprioritaskan melebihi apapun, tidak memiliki sesuatu yang mendominasi pikirannya, tidak mempunyai sesuatu yang padanya ia persembahkan pengabdiannya.

Jadi, apapun bisa dipertuhankan, dianggap sebagai tuhan oleh seseorang, baik ia sadar maupun tidak.

Sebagai contoh:
Orang islam yang setiap hari menjalankan perintah dan menjauhi larangan dari Allah, berarti ia bertuhan kepada Allah.

Orang yang takut kepada atasannya, bisa jadi secara tidak sadar ia telah bertuhan kepada atasannya.

Orang yang merasa tidak bisa hidup tanpa uang, bisa jadi ia telah mempertuhankan uang.

Orang yang mau melakukan apa saja demi pacarnya, bisa jadi ia telah menuhankan pacarnya itu.

Orang yang mempersembahkan segala yang ia lakukan demi anaknya, bisa jadi, secara tidak sadar ia telah menjadikan anaknya itu sebagai tuhan baginya.

Seorang siswa yang menghadapi akan ujian akhir, mau melakukan apa saja agar bisa lulus. Berarti secara tidak sadar ia sedang menuhankan kelulusan. Jika ia merasa harus lulus karena takut dimarahi orang tuanya, berarti ia menuhankan orang tuanya. Jika ia merasa harus lulus agar dipuji temannya, berarti ia menuhankan temannya.

Di atas adalah beberapa contoh orang-orang theis, baik sadar maupun tidak.
Lalu, bagaimana dengan atheis. Adakah yang bisa memberikan contoh?

Ada contoh menarik:

Suatu hari, ada seorang anak berkenalan dengan seorang turis dari Inggris. Anggaplah nama anak itu Cecep, dan nama turis itu Billy. Mereka asyik bercakap-cakap. Sampai kemudian, percakapan mengarah ke masalah keyakinan/agama. Cecep bertanya,”I’m sorry, but may I know your religion?”
Tanpa diduga sebelumnya, Billy menjawab, ”I have no religion, I’m atheis.”
Cecep jadi merasa kikkuk, dan bilang, ”I’m sorry” karena merasa telah salah tanya.
Billy menjawab, ”never mind.”
Cecep bertanya,”Have you married?”
Billy bilang, ”yes, I have. Do you know? I really love my wife.”
Cecep menimpali, “that’s good.”
Billy melanjutkan, “I’ll do everything to make her happy.”
........

Percakapan masih berlanjut dengan ringan dan menyenangkan. Sampai disana, apakah Billy memang benar-benar atheis? Saya rasa tidak. Meski ia tidak punya agama, tetapi ia bukan atheis karena ia secara tidak sadar, mungkin, telah menjadikan istrinya sebagai tuhan baginya.

He’ll do everything to make her happy.

So, adakah orang atheis? Akhirnya, atheis cuma jadi istilah yang dalam dunia nyata tidak ada wujudnya.

Sekian, terima kasih.

***

artikel terkait:

Pendefinisian Tuhan

____________________