Tampilkan postingan dengan label lifestyle. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label lifestyle. Tampilkan semua postingan

16 Juli 2010

di trotoar


aku tersamarkan, dalam gegapnya lolongan beribu jiwa,
aku melelap,
dalam stagnansi pikir dan dinamika waktu
aku memang memilih hibernasi ini,
diam di tempat,
menyaksikan waktu terus berlarian,
detik-detik berseliweran di kanan-kiriku,
aku memilih berdiri sejenak di trotoar ini,
menyaksikan lalu lintas waktu,
dan kendaraan, dan manusia, yg selalu seperti terkejar..
di sini kubercermin
pada lalu lalang di jalan raya itu
kulihat dari dimensi ini
lagak sombong yg mungkin dulu melekat pula padaku
langkah angkuh yg dulu mungkin kujejak
irama kebanggaan semu yg
mungkin dulu pernah digetarkan oleh pita suaraku
kulihat lagi raut-raut munafik itu,
penuh,
wow,
mungkin aku seperti itu,
di trotoar ini, di tepi lalu lintas waktu
aku bercermin
dan di belakangku
sungai masih mengalir

***

12 April 2010

Pramoedya A. T., nice quotation

Wartawan: "Bagaimana sikap Bung terhadap penahanan yang 10 tahun ini?"

Pram : "Bukan 10 tahun, memasuki 13 tahun. Dalam Mahabharata, orang dipisahkan dari masyarakatnya selama 13 tahun. Dalam Ramayana 14 tahun. Dalam sejarah Digul 14 tahun (1928 - 1942). Dalam sejarah exorbitante rechten (hak-hak luar biasa) Gubernur Jenderal 5 tahun, kecuali bagi golongan nasionalis kiri. Tentang pribadiku? Masa yang memasuki 13 tahun ini kuanggap sebagai akibat proses nasional belaka."

Wartawan: "Perasaaan Bung sendiri? Perasaan pribadi?"

Pram : "Tidak ada apa-apa. Pribadiku tidak penting dalam proses ini."

(nyanyi sunyi seorang bisu)

***

10 April 2010

Tuhan kalah

Sore itu, Ari dan teman-teman kontrakannya menyaksikan video ‘perang’ tak masuk akal antara Israel dan Palestina. Tak masuk akal menurutnya, karena sama sekali tak berimbang.

Lelaki itu menahan emosi yang sesekali berdesak ingin menguasainya. Marah, tapi tak tahu harus ditujukan pada siapa. Yang membuatnya bertanya-tanya, ironisnya, yang menjadi akar masalah ‘perang’ itu adalah Yerusalem, yang secara bahasa berarti: ‘daerah keselamatan’. Apakah masih pantas kota itu disebut Yerusalem?

Malamnya, ia tak bisa menghentikan dirinya untuk bertanya, yang lagi, entah ditujukan pada siapa. Ia hanya bertanya dalam benaknya, mengingat lagi berbagai tragedi dan konflik yang mengatasnamakan agama, mengingat lagi segala tindak penghancuran yang mengatasnamakan agama. Berapa ribu nyawa saja yang telah melayang karena tindakan ‘aneh’ yang mengatasnamakan agama?

Ari terpaku. Ia sadar, tiap agama punya benteng yang teramat tinggi atas ‘keraguan’. Padahal, tanpa adanya ‘keraguan’, diskusi dan dialog tak kan pernah nyata.

Ia jadi teringat kutipan kalimat yang ia baca di sebuah artikel: ”Bila seseorang menderita waham, gejala itu akan disebut gila. Bila banyak orang menderita waham yang sama, gejala itu akan disebut agama.”
Apakah nyatanya agama hanya seperti itu? Entahlah.

Lelaki itu mengambil secarik kertas, menuliskan pertanyaan-pertanyaan tak terjawab yang terlintas di pikirannya. Tapi kali ini, ia tujukan pada Tuhan: “Apa benar, dulu Kau minta kami membuat agama? Maaf, sepertinya, saat ini Kau benar-benar telah menjadi: Yang Maha Asing bagi kami. Sejak dalam kandungan, orang tua kami telah menyiapkan kalung agama untuk kami, dan begitu kami lahir, dipakaikanlah kalung itu pada kami. Lalu kami ikuti arus kehidupan. Kami sibuk mengisi waktu. Kami juga tak lupa sembahyang. Tapi jangan-jangan, disana Kau sendiri menggeleng-gelengkan kepala sambil bersuara keras menegur kami: bukan seperti itu maksud perintah-Ku!!! Tapi kami seakan terhalang dinding yang amat tebal! Kami terbius ramai bisingnya mesin-mesin dunia! Kami terbius ramai bisingnya detik yang tak henti berganti! Dan suara-Mu…, teguran-Mu…: kalah, Tuhan!!!”
Entah kenapa, ia gunakan kata ‘kami’, seakan orang-orang lain juga sedang risau.

Malam semakin sunyi, dan hembusan angin seperti terus membisikkan pertanyaan pada Ari: “Bukankah agama, yang telah mengalahkan suara Tuhan?”

Dan Ari, cuma seorang lelaki yang sedang bertanya, tidak kurang, tidak lebih.

***

07 April 2010

beban

Siti terbangun dini hari itu. Ia dapati jam dindingnya menunjukkan pukul 03.00. Mahasiswi yang sebentar lagi akan wisuda itu terbius sepi. Sunyi, yang sangat jarang ia rasakan.
Bertanya ia, dalam dirinya. Sekarang, skripsinya sudah selesai, sudah yudisium pula. Bukankah harusnya ia bisa merasa merdeka, bebas, seperti yang ia harapkan sejak dulu? Bebas dari skripsi, bebas dari kuliah, bebas dari tuntutan dosennya, bebas dari pertanyaan “kapan lulus?”. Tapi rasanya, ada yang berat mengganjal di hatinya, hingga ia merasa belum bebas, belum bisa ‘terbang’ sebebas elang-elang itu.

Sebentar ia termenung. Dan, ah, ya! “Aku akan menghadapi pertanyaan, ‘kerja dimana?’, ‘kapan nikah?’, ‘kapan punya rumah baru?’, ‘kapan punya anak’?’”
Tuntutan, beban. Siti seakan bertanya pada Tuhannya, “Kapan aku akan hidup merdeka, bebas dari segala tuntutan yang seakan memaksaku menjawabnya??”

Terdiam ia, merenungkan perjalanan hidupnya. Lalu….
Wow! Ia lahir 22 tahun yang lalu: -tuntutan neneknya atas kedua orang tuanya-
Ia besar, lalu sekolah, TK, SD, SMP, SMA : -tuntutan zaman, tuntutan orang tuanya-
Saat sekolah, ia juga tertuntut untuk jadi pintar, dapat nilai bagus, lulus tepat waktu setiap jenjangnya.
Kemudian ia kuliah: -tuntutan dunia kerja-. Ya, karena untuk lebih mudah dapat kerja, katanya harus punya ijazah S1. Dan saat kuliah, ia dapati beban 144 sks. Belum lagi, saat menyelesaikan skripsi yang penuh dengan tuntutan, baik dari dosen, teman, maupun saudara-saudaranya di rumah. Lalu sekarang ia dah lulus.

Angin yang masuk lewat jendela kamarnya menyapa wajahnya. Seakan ia temukan benang merah dalam perjalanan hidupnya. Ya, ini dia. Ia tuliskan di secarik kertas, sebuah pertanyaan: “apakah hidup itu hanyalah menanggung beban dan menjawab tuntutan?”.

Di luar, rumput bergoyang disapa angin, seperti saling bertanya satu sama lain, “Apakah Tuhan lupa memberitahu manusia untuk apa ia diciptakan?”.


***

06 April 2010

just a conversation

Each year, over than 21.000.000 people receive general anesthesia. The vast majority go to sleep peacefully. They remember nothing.
30.000 of this patients are not so fortunate. They find themselves unabe to sleep. Trapped in a phenomenon known as anesthesia awareness. These victims are completely paralyzed. They can’t scream for help. They are awake.
***
Itu prolog dalam film “Awake”. Tokoh Clay dalam film itu, menderita anesthesia awareness, dan ia baru tahu itu saat ia menjalani operasi transplantasi jantung. Ia tak bisa bergerak, tak bisa bicara untuk minta pertolongan - completely paralyzed-, tapi ia bisa merasa dan mendengar. Merasakan bagaimana sakitnya saat pisau membelah kulit dadanya, merasakan bagaimana sakitnya saat tulang rusuknya di potong, merasakan bagaimana sakitnya saat jantungnya diambil... Ia juga mendengar, mendengar apa yang sedang terjadi, mendengar ketika dokter yang adalah sahabatnya sendiri itu ternyata merencanakan akan membunuhnya saat operasinya itu dengan menyuntikkan adriamisin ke jantungnya yang baru, dan mendengar ketika istrinya yang baru saja dinikahinya semalam (yang karena itu ia harus berkonflik dengan ibunya), ternyata adalah dalang dalam perencanaan pembunuhan itu.
Dan mendengar, ketika akhirnya ibunya mendonorkan jantungnya untuknya.

Clay, dengan segala kesakitan yang telah diketahuinya, merasuki SMS-an Pinky and Brain.

Pinky : “Brain, I posted something in your new note! Sorry, coz hari ini dadaku berasa berat lg! tanpa sebab! bt! kayakna yang mesti test kejiwaan tu aku dech!”

Brain : “Thank u pinky.. I miss U”

Pinky : “Brain, aku punya hoby baru, nonton “Awake” pas adegan Clay mau pesta Halloween, pas dia diambil jantungna, pas dia ngrokok sendiri trus lampu2 mati sama pas dia inget kematian ayahna, ku ulang2 terus, aku masih bingung napa dia masih mau hidup!”
“Brain, i can’t find any reason to live Anestesia awareness, sekeras apapun aku membius diriku, aku masih sadar, masih bisa merasa, I need new heart, it’s my hell, tahu ini penyakit apa Brain?”
“Everything’s gonna be OK without me, Brain! I really want to sleep forever, no brain, no feeling again!”

Brain : “Ada hal yang tidak berjalan dengan OK jika kita tak lakukan apapun: diri kita sendiri. Allah menginginkan ciptaan-Nya tuk mengabdi padaNya. Di lain pihak, Ia membuat semuanya berjalan dengan OK-OK aja tanpa kita. Mungkin Ia ingin beritahu kita bahwa kitalah yang nggak akan OK kalo kita tetap berlagak terlelap. Bukan semesta ato Allah yang butuhkan pengabdian dari manusia, tapi manusia sendiri yang butuhkanya.”
“Tak lakukan apapun: menyia-nyiakan penciptaan kita. Mungkin dunia tak butuh pengabdianmu karena dunia pasti akan memenuhi kebutuhannya sendiri. Dunia menyambut mereka yang memilih tuk mengabdi. Tapi dunia tak memaksa mereka yang tak ingin mengabdi, karena pasti akan ada yang lain yang memilih tuk mengabdi. Memilih mengabdi: memilih menjadi terus berarti bagi dunia. Memilih terus melangkah. Terlalu banyak yang belum kita tahu, terlalu banyak yang belum kita mengerti, terlalu banyak yang belum kita lihat, terlalu banyak yang sesungguhnya belum kita dengar.. Tapi, dunia tak inginkan kita tuk sekedar menunggu agar semuanya menjadi jelas dengan sendirinya. Perjuangan tuk melihat, tuk mendengar, tuk tahu, tuk mengerti, tuk paham, kemudian menentukan pilihan langkah selanjutnya, bagian dari pengabdian yang memang tak mudah. Mungkin inilah falaq.”
“Apakah kita sudah pada tahap seperti saat Clay sudah mendengar semua yang sakitkannya, melihat semua yang hancurkannya? Dan pada akhirnya Clay harus memilih, untuk pergi tinggalkan semuanya, atau bangun tuk hadapi semuanya.”
“Ya, bagaimanapun juga, telah banyak yang berkorban untuk hidup kita.”

Pinky : “I’m so sorry Brain! I try to know what I feel, but it’s hard to tell to my self that I’m selfish, arrogant, and looser! Although it’s the fact. Seumur hidupku aku selalu mikir tentang hal yang kayak di film itu, sakit dan sendiri tapi berpura-pura jadi baik. Aku sadar kalo itu salah, nggak seharusnya anak kecil mikir tentang sakit. Aku jadi cari-cari tahu ke dalam diriku, apa yang terjadi, tapi aku belum tahu, jadi menerka-nerka sesukaku! Brain, I got something, maybe!”
“Jika Allah = dunia, dunia sakit, dunia butuh jantung baru, dunia lagi operasi. Orang-orang lain, sebagai bagian dari dunia mempan dengan biusnya, mereka dibius dengan mimpi dan ritual, tapi kita masih bangun, kita rasakan sakitnya proses ini. Jadi seperti Clay saat dia masih bisa mendengar tanpa orang lain tahu, dia nemuin banyak hal yang menyakitkan. Aku belum menikmati rasa ini, jadi aku masih iri sama mereka yang mempan dibius! Intinya aku cuma mereka-reka. Thank’s Brain, I know you’re always here to listen and give me inspiration!”
“No, Brain, I can’t handle anything about my feeling without you! You know my pain and how I try to be fine! But I’m too shy to tell another else about that, they’re just know that I’m Pinky! I need you, brain! And I hope you use me as you want! Miss you.”

Brain : “Hmm.. Mirip seperti itu, Pinky. Kita nggak mempan dibiusnya. Tapi Tuhan is more than this world which its heart is being changed. Tuhan juga tahu dunia ini sedang dioperasi. Tuhan tahu akan ada yang terbius. Tuhan juga tahu akan ada orang yang tetap tersadar. Tuhan tahu akan ada orang sadar yang milih tuk pura-pura tak sadar. Tuhan juga tahu akan ada orang tersadar yang milih tuk tetap sadar dan akhirnya bangun. And you Pinky, my another brain, use me as you want.”

Pinky : “Wih… sip lah! Jadi malu ma Tuhan, hehe… OK Brain, thank’s for the permission!”

Brain : “You’re always welcome.. hehe.. See U…”

Pinky : “Like this, mamen!!! See u”

(Lalu, ada yang menyela, untuk meminta ijin kepada mereka untuk mengabadikan SMS-an mereka di sebuah note…, dan ijin diberikan)


***

05 April 2010

pindah kapal

kutipan sebuah cerita:

Sakit menghunjam hati Talo, yang baru saja memutuskan untuk berhenti berlayar bersama kapal Greens yang hampir 4 tahun dijadikannya sumber penghidupannya.

Ya, sakit, atau tepatnya, ia tak bisa menerjemahkan rasa yang kadang berdesir di hatinya, atau berkelebat di otaknya setelah ia pamitan sama awak kapal yang lain dalam perpisahan itu. Pamitan yang sampai sekarang kadang masih mengusiknya. Ya, karena Talo bilang, ia menemukan kapal lain, ‘kapal belum bernama’, yang tempat tujuannya sesuai dengan tempat yang diinginkannya selama ini, sebuah pulau yang penuh dengan keberkahan, pulau Nirwana. Memang kapal Greens selalu bilang kalau tempat tujuannya juga pulau Nirwana. Tetapi, setelah ia analisa lebih jauh, Talo merasa bahwa pulau Nirwana yang dituju kapal Greens bukanlah pulau Nirwana yang ada dalam benak Talo, rute pelayaran kapal Greens juga masih agak kabur bagi Talo. Sedangkan ‘kapal belum bernama’ yang ditemukannya itu, menurutnya menuju pulau Nirwana yang sesungguhnya diinginkannya, dan rute pelayarannya pun jelas. Ya, karena selama dua tahun terakhir ini, diam-diam ia saling berkirim surat dengan salah satu awak ‘kapal belum bernama’ itu.

Talo pernah menyesal berpamitan dengan cara seperti itu, karena apa? Ia tahu ia akan dianggap pembelot dan harus menghadapi perlakuan awak kapal Greens yang tidak akan seperti dulu lagi. Tidak seperti dulu yang walaupun Talo bukan awak yang setia di kapal Greens, tetapi ia berusaha memberikan yang terbaik yang Talo bisa dalam pelayaran kapal Greens itu. Ya, Talo tahu, awak kapal Greens tidak akan sampai hati menyakiti Talo karena mereka adalah orang-orang yang lemah lembut kepada siapapun. Bahkan Talo sempat dikirimi puisi oleh salah seorang sahabatnya dari Kapal Greens, yang isinya, ia tetap setia menunggu Talo kembali, menginginkan Talo kembali lagi bekerja di kapal Greens. Talo sebenarnya meneteskan air mata saat membaca puisi itu, karena Talo juga masih sangat mencintai sahabat-sahabatnya. Talo hanya bisa bilang, jika memang tempat tujuan kita sama, yakinlah sahabat, bahwa suatu saat nanti, kita pasti kan bertemu di pulau itu, pulau Nirwana.

Kadang ia berpikir, kenapa dulu ia tidak langsung pergi saja dari kapal Greens, tanpa pamit, supaya tak ada asumsi pembelotan, pengkhianatan. Atau pamit menggunakan alasan lain. Tapi bagaimanapun juga, ia merasa tak pantas menyesalinya. ia telah memilih, dan ia kan terus melangkah dengan pilihannya itu.

Talo memang membawa sebungkus rasa sakit di hatinya, karena tetap saja, sementara ini ia kehilangan sahabat-sahabat terbaiknya. Sahabat-sahabat terbaik yang bersama mereka, dulu Talo belajar banyak hal, melakukan perbaikan-perbaikan dalam hidupnya, dan bersama menjaga pelayaran kapal Greens.
Memang sakit, tapi Talo telah memilih kapal ini, dan selalu ia bisikkan pada dirinya, bahwa ia sudah siap menanggung segala resiko yang akan dihadapinya atas pilihannya itu. Tak peduli sesakit apapun, ia yakin bahwa kapalnya yang baru ini, akan benar-benar membawa penumpangnya ke pulau Nirwana itu, pulau yang akan memberikan keberkahan bagi manusia di dalamnya. Dan jika pun ia dapati kapal ini membohonginya, ia siap untuk mencari kapal lain lagi. Suatu ketika, di buku hariannya tertulis, “biar peluru menembus kulitku, biar 1000 pisau menusuk jantungku, aku tetap meradang menerjang”. Sepertinya ia baru saja membaca puisinya Chairil Anwar.

(mengandaikan diriku bisa setegar Talo)


***

14 Januari 2010

ini saatnya

ini saat pinta maaf tak ada arti,
saat segala jawab tak ada guna,
kecuali, "Laksanakan!"
ini saat "aksi" yang bertahta,

***

Ruang Buntu

rantai ide putus
jalan buntu
kaki berat melangkah
segala pintu rasa kunci
waktu berlarian rayakan kalahku
suara polusi jerit tuntut tanpa titik,
oksigen terus berganti CO2
solusi tak terdefinisi,
kalau tambah
malas pikir,
mati sudah!
sayangnya,
bukan di ruang ini kupilih akhirku

***

07 November 2009

SEMANGAT, jangan tinggalkan aku lagi!!!

Akhir-akhir ini, aku merasa ada yang kosong di salah satu ruang hidupku, suatu ruang yang dulu selalu terisi oleh suatu hal. Kutelisiklah, siapa yang melarikan diri dari ruang hidupku itu. Setelah melalui penyelidikan yang cukup lama dan mendalam, dan berdasarkan jejak-jejak serta sidik yang ada, serta wawancara dengan berbagai penghuni lain dalam ruang hidupku, dan juga dengan pihak luar, dapat kuidentifikasi bahwa yang menghilang itu adalah si “semangat”!

Si “semangat” telah memutuskan untuk pergi dari ruang-ruang hidupku. Aku pun mencoba menyelidiki apa yang menyebabkannya tampak pergi begitu saja tanpa pamit, seperti tak pernah tahu adab perijinan.

Awalnya aku menyalahkan keadaan. Tapi, itu menyalahi teori bahwa keadaan itu tak pernah salah. Jadi, pasti sumbernya ada dalam diriku. Suara-suara tudingan dari para penghuni lain di ruang-ruang hidupku mulai mengganggu keselarasan pendengaranku. Semuanya berebut mengemukakan kritikan terhadapku.

Si ‘bingung’ mengatakan, “Sepertinya kamu terlalu pilih kasih akhir-akhir ini. Maaf sebelumnya, tetapi aku merasa aku terlalu kau sayang. Sayangmu kepadaku sangat jauh melebihi sayangmu pada si ‘semangat’. Tidakkah kamu merasakannya?”

Lalu si ‘ragu’ menimpali, “Iya, aku juga merasa, kamu terlalu sering ngobrol denganku. Kadang aku sampai heran melihatmu betah berjam-jam melayani pertanyaan-pertanyaanku, sementara si ‘semangat’ hanya menjadi orang ketiga di antara kita yang tak pernah kita ajak ngobrol. Bukankah si semangat itu pastinya sangat berharap untuk kau tanyai kabarnya juga? Kau harusnya tahu-lah, si ‘semangat’ itu kan pendiam, jadi harus kausapa lebih dulu.”

Si ‘sedih’ berkata, ”Akhir-akhir ini kamu sangat sering mengundangku hadir setelah kamu berbincang dengan si ‘ragu’ dan si ‘bingung’. Dan kadang aku merasa, pujianmu kepadaku terlalu berlebihan. Kamu nggak pernah tahu ya, kalau si ‘semangat’ kadang juga sering memujiku akhir-akhir ini?”

Si ‘malas’ angkat bicara, “Sebenarnya aku nggak mau membela siapapun, karena justru aku bahagia dengan kepergian si ‘semangat’. Aku hanya ingin kau tahu, bahwa antara aku dan ‘semangat’ ada perseteruan sengit, yang sudah berlangsung sejak kelahiranmu. Menurutku pantas saja si ‘semangat’ pergi tanpa pamit padamu. Jelas-lah dia cemburu dan marah karena melihatmu memanjakanku.”

Si ‘kecewa’ mendesakku, “Saat ini kau nggak pantas memujiku karena kepergian si ‘semangat’ yang tampak tanpa pamit. Tapi harusnya kau memujiku karena kesalahan dirimu sendiri. Menurutku si ‘semangat’ itu pastinya sudah pamit padamu, tapi kau tak menghiraukannya. Akhir-akhir ini kau tak pernah menghiraukan sapaan si ‘semangat’. Kau tak mendengar saat ia tersenyum dan bertanya ‘apa kabarmu hari ini?’. Kau melewati begitu saja ruangannya tanpa menoleh sedikitpun padanya. Kau tak tahu saat ia ngobrol dengan si ‘sedih’ dan mengeluarkan air mata karena merasa tak kau pedulikan. Ia pernah ngobrol denganku untuk menerjemahkan perasaannya. Kukatakan padanya bahwa mungkin ia terlalu pendiam sehingga kehadirannya tak kausadari. Memang, akhir-akhir ini sepertinya kau terlalu sibuk memintaku menerjemahkan perasaanmu. ”

Aku menyela mereka, “OK, aku telah mendengar tanggapan kalian. Lalu, apa yang harus kulakukan agar si ‘semangat’ mau menjaga ruang hidupku lagi? Sementara, aku tak tahu entah kemana perginya.”
Si ‘bingung’ berkata, “Kau memanggilku?”
“Tidak ‘bingung’, jangan ajak ngobrol aku dulu saat ini,” pintaku.
“OK, aku akan tetap terjaga sampai kau temukan jawabannya,” jawab si ‘bingung’.
“Oh, tidak…”, pikirku.

Lalu datang si ‘empati’, “Sepertinya, kau bisa minta tolong si ‘syukur’ untuk menghubungi si ‘semangat’. Si ‘semangat’ sangat akrab dengan si ‘syukur’. Kulihat, dulu mereka sangat sering bersama kemanapun pergi. Tampaknya kau perlu segera minta tolong pada si ‘syukur’ sebelum ia juga memutuskan untuk pergi seperti si ‘semangat’. Soalnya, akhir-akhir ini, ia juga sering ngobrol sama si ‘sedih’ dan si ‘kecewa’. Bisa jadi, itu karena kau tak pernah mendengarkan pendapat si ‘syukur’.”
Ya, aku terlalu sibuk dengan si ‘bingung’, ‘ragu’, ‘sedih’, ‘kecewa’, dan jarang menyapa si ‘syukur’ dan ‘semangat’. Harusnya aku mendengarkan pendapat si ‘syukur’, dan juga menanyakan kabar si ‘semangat’ setelah aku ngobrol dengan si ‘bingung’, ‘ragu’, ‘sedih’, maupun ‘kecewa’. Karena nyatanya, semua keraguan dan peristiwa yang kualami ini membawaku menuju ke sesuatu yang sebenarnya aku butuhkan.

“Akhirnya kau memanggilku! Terima kasih! Aku akan dengan senang membantumu!”
Si ‘syukur’?!
Si ‘syukur’ memojokkanku dengan pertanyaan-pertanyaan retorisnya, “Kurasa akhirnya kau mengerti. Kau sedih karena si ‘semangat’ telah pergi? Apakah hidupmu mulai membosankan tanpa si ‘semangat’? Apakah pekerjaanmu mulai tampak biasa saja tanpa si ‘semangat’? Apakah kau mulai merasa hidupmu tak luar biasa tanpa si ‘semangat’? Apakah kau mulai merasa tak ada bedanya antara bangun tidur dan berangkat tidur? Apakah kau mulai merasa tak ada bedanya antara sakit dan sehat? Apakah kau mulai merasa waktu begitu cepat berlalu sedang kau masih terpaku di tempat dudukmu? Apakah kau mulai merasa kuliah, kerja, dan hidupmu ini suatu ‘tuntutan’? Apakah kau mulai merasa bahwa sepertinya hidupmu sampai kematianmu akan biasa saja? Apakah kau mulai tersiksa dan merasa tertuntut dengan semua rutinitasmu? Apakah kau mulai merasa bahwa kau akan terlindas oleh sejarah? Apakah kau merasa suntuk tanpa si ‘semangat’? Apakah kau mulai merasa tak ada bedanya antara ‘melihat’ dan ‘melakukan’? Apakah kau mulai merasa segalanya hancur dan reruntuhannya menimpamu? Apakah kau mulai mengandaikan bisa sembunyi dari Tuhan? Apakah kau mulai merasa semua ilmu tampak biasa saja? Apakah kau mulai merasa kau tak pantas memperoleh semua priviledge sebagai manusia, tanpa si ‘semangat’?” si ‘syukur’ menatapku beberapa detik.
Kukatakan, “Aku ingin si ‘semangat’ kembali menjaga ruang hidupku. Aku membutuhkannya.”

Si ‘syukur’ menjawab, “kau tak menyadari siapa yang ada di belakangku ini? kuhadirkan si ‘semangat’ untukmu.”

Pengalaman memahami perbedaan antara kesadaran dan kebiasaan ini mungkin bukan hal baru bagi sebagian besar orang, tetapi ini hal baru bagiku. Dan mungkin, yang bisa memahami ini hanya orang-orang yang juga sudah mengalami hal seperti yang sudah kualami. Dan sangat mungkin, ini adalah hal klise bagi yang belum pernah mengalaminya.
Aku menyadari, ternyata dulu aku belum menyadari makna dan manfaat “semangat”. Dulu ‘semangat’ adalah hal klise bagiku. Bahkan aku tak menyadari bahwa aku dulu begitu bersemangat. Mungkin, dulu SEMANGAT hanya menjadi kebiasaan dalam hidupku, yang tak kutahu maknanya. Hingga setelah ia pergi, lama baru kusadari manfaatnya.
Semoga SEMANGAT betah tinggal di ruang hidupku mulai detik ini, dan untuk selamanya.

saat sepi menari untukku ( setelah kuajak pulang karena kasihan melihatnya “menari di tepi jalan”),
31 Oktober 2009
20:48 (jam kelebihan 35 menit)


***

29 Oktober 2009

mendengar "Mendengar"

Adalah hal esensial yang sering terlupakan. “Mendengar” sering tak sengaja didengar tapi sangat jarang diri benar-benar mau mendengar tentang “Mendengar”. “Mendengar” adalah hal klise bagi sebagian diri. “Mendengar” kadang dianggap sebagai hal yang sudah sangat dikenal, sebagai hal yang sudah melekat dalam diri, yang tak perlu diterjemahkan lagi, sampai-sampai kadang “Mendengar” terlupakan, tak pernah disapa, tak pernah diajak ngobrol, diabaikan sebagai hal yang sangat biasa dan tak penting, just an ordinary thing. “Mendengar” sudah sering tak didengar ucapannya. Segala usulan “Mendengar” dianggap usulan tak penting, tak kreatif, tak inovatif, tak perlu dipedulikan.

“Mendengar” terkalahkan oleh pikiran dan mulut yang sok manis, yang merasa ungkapan-ungkapan yang keluar darinya adalah hal terindah dan tersejuk yang paling perlu didengar.

“Mendengar” terkalahkan oleh pikiran dan mulut yang sok intelek, yang merasa bahwa ungkapan-ungkapan yang keluar darinya adalah ide cemerlang luar biasa kreatif dan inovatif yang paling perlu didengar dan direnungkan.

“Mendengar” terkalahkan oleh pikiran dan mulut yang sok tertindas, yang merasa bahwa ungkapan-ungkapan yang keluar darinya adalah keluhan dan kritik luar biasa membangun yang paling perlu didengar, dipedulikan, dan direnungkan.

“Mendengar” terkalahkan oleh pikiran dan mulut yang sok tahu, yang merasa bahwa ungkapan-ungkapan yang keluar darinya adalah pengetahuan luar biasa penting yang paling perlu didengar dan diketahui.

“Mendengar” terkalahkan oleh pikiran dan mulut yang sok paham, yang merasa bahwa ungkapan-ungkapan yang keluar darinya adalah ungkapan empati paling luar biasa empati yang paling perlu didengar dan didahulukan.

“Mendengar” terkalahkan oleh pikiran dan mulut yang sok penting, yang merasa bahwa ungkapan-ungkapan yang keluar darinya adalah yang butuh porsi ruang dan waktu yang paling besar.

“Mendengar” terkalahkan oleh pikiran dan mulut yang sok ahli debat, yang merasa bahwa ungkapan-ungkapan yang keluar darinya adalah alasan-alasan yang paling penting atas pentingnya suatu hal, yang paling perlu didengar dan dimenangkan.

“Mendengar” terkalahkan oleh pikiran dan mulut yang sok dewasa, yang merasa bahwa ungkapan-ungkapan yang keluar darinya adalah untaian mutiara-mutiara hikmah yang paling menyadarkan yang paling perlu didengar dan direnungkan.

“Mendengar” terkalahkan oleh pikiran dan mulut yang sok tajam, yang merasa bahwa ungkapan-ungkapan yang keluar darinya adalah analisis luar biasa logis sistematis yang paling jelas dan paling perlu didengar dan paling butuh pembenaran.

“Mendengar” terkalahkan oleh pikir dan mulut yang sok merdu, yang merasa bahwa ungkapan-ungkapan yang keluar darinya adalah irama-irama paling sejuk dengan intonasi paling pas dan paling perlu didengar.

“Mendengar” terkalahkan oleh pikir dan mulut yang sok sibuk, yang merasa bahwa mendengar “Mendengar” hanya menyiakan waktunya.

“Mendengar” terkalahkan oleh pikir dan mulut yang sok-sok-an.

Manamungkin bisa terdengar, jeritan lirih “Mendengar” yang kekurangan energi karena direbut oleh pikiran dan mulut yang sok, di tengah ramai bisingnya suara pikir dan mulut yang sok.

(mencoba mendengar jeritan lirih “Mendengar” dalam diri)


***

15 Juli 2009

Kecuali manusia

Langit malam bertabur bintang memberikan kedamaian tersendiri bagiku…. Di langit yang bertabur bintang itu…, aku melukiskan harapku…. Di langit bertabur bintang itu pula, gambaran tentang hidup dan kehidupan yang lebih baik… kutemukan… dan tiap kali kutatap langit yang bertabur bintang itu…, tumbuhlah lagi rasa optimis yang sebelumnya hampir meredup tertelan detik yang terus berjalan.

Ingin rasanya melakukan perjalanan ke langit…, mengelilingi Bumi, melesat mengitari Matahari…, menelusuri lintasan planet Merkuri, Venus, melompati lintasan Bumi, menatap dari dekat permukaan Mars, melihat dengan jelas Jupiter dengan semua satelitnya, mengitari cincin saturnus, melesat menuju Uranus, Neptunus, Pluto… meninggalkan tatasurya menuju bintang terdekat dengan Matahari, dan terus melaju menuju bintang-bintang yang lain di galaksi bimasakti. Dan ingin juga keluar menuju galaksi lain… Andromeda… menelisik apakah ada planet seperti planet Bumi di sana… dan terus melaju mengunjungi galaksi-galaksi yang lain… Tanpa henti… melihat dengan jelas gerakan memutar galaksi-galaksi itu… yang dengan anggunnya mereka bergerak serentak mengitari satu titik di alam semesta ini… dan ingin terbang lebih jauh lagi… keluar dari sistem-sistem galaksi ini… kalau ada… dan melihat sistem-sistem galaksi yang lain…. (kalau ada)…

Selalu kukagumi tatanan alam yang maha sempurna… Planet-planet berotasi pada porosnya… ia dilindungi oleh lapisan atmosfer yang melindunginya dari meteor-meteor atau benda-benda langit lain yang membahayakannya. Planet-planet juga bergerak mengelilingi satu bintang dan membentuk sistem. Planet-planet itu mendapat cahaya dari bintang yang dikelilinginya itu. Dan ada juga planet yang dikitari oleh satelit… yang memberikan cahaya kepada planet pada sisi yang membelakangi bintang. Bintang-bintang juga bergerak mengelilingi satu titik di galaksi, yang menjadi sistem yang indah bercahaya, yang tak terpisah dari sistem yang lebih besar lagi, yaitu: galaksi-galaksi yang mengitari satu titik di alam yang luas ini… yang juga membentuk sebuah sistem yang lebih besar lagi…, yang semua itu berjalan dengan teratur…, sesuai sistem yang telah dibuat oleh Tuhan… Semua teratur dan sangat disiplin… karena tak ada pengkhianat di dalamnya…

Tak ada bintang yang melampaui batas lintasannya… begitupun planet-planet… satelit…. komet… tak ada satupun benda angkasa yang berkhianat kepada sistem yang dibuat Tuhan… Tak ada satupun planet yang berpikir untuk mengambil jalan pintas dalam mengelilingi bintangnya… Bumi tak pernah berpikir untuk membelok arah rotasinya… Bumi juga tak pernah berpikir untuk mengambil lintasan Venus yang lebih pendek dari lintasan Bumi… Mars juga tak pernah berpikir untuk merebut lintasan Bumi… Alfa Centaury tak pernah berpikir untuk menendang dan menggantikan posisi Matahari… Andromeda tak pernah berpikir untuk menabrak Bimasakti… Mereka tak pernah berpikir untuk melakukan itu semua… karena mereka tak bisa berpikir… Tak ada yang bisa berkhianat di angkasa itu…. sehingga terciptalah susunan… sistem… yang maha teratur… Sama sekali tak ada yang bisa berkhianat terhadap aturan Tuhan di alam ini semesta ini… kecuali satu spesies Bumi yang sedang memikirkan mereka… spesiesku: manusia…

***

tinggal di sebuah panet milik Allah yang bernama Bumi

Suatu kali, aku ingin menginap di kos teman selama beberapa hari untuk suatu keperluan. Tak ingin diblacklist oleh pemillik kos, maka saat aku tiba di kos itu, aku langsung membaca dan kemudian mematuhi peraturan kos yang tertempel di dinding dekat pintu masuk kos itu… Peraturan itu tertulis pada selembar kertas yang dilaminating. Ada 14 poin peraturan yang harus dipatuhi penghuni kos. Peraturannya cukup rigid, jam malam, tatacara pembayaran, penggunaan fasilitas-fasilitas kos, tatakrama membawa teman ke kos… semua tertulis di selembar kertas itu…, dan disertai pula tanda tangan pemilik kos.

Yah… Memang, jika tidak ingin diblacklist oleh si pemilik tempat tinggal atau masyarakat di sekitar kita, caranya adalah dengan mematuhi peraturan yang berlaku di tempat itu.

Suatu tempat megah dan mewah yang sering dilupakan manusia adalah planet bumi. Jarang aku ingat bahwa aku sedang menapakkan kaki di sebuah planet milik Allah yang bernama Bumi. Jarang aku ingat bahwa rumahku dibangun di atas tanah di permukaan sebuah planet milik Allah yang bernama Bumi. Aku juga sering lupa kalau desaku terletak di salah satu bagian planet milik Allah yang bernama Bumi. Udara yang kuhirup juga adalah bagian dari atmosfer sebuah planet millik Allah yang bernama Bumi. Jarang aku ingat bahwa aku sedang tinggal di sebuah planet milik Allah yang bernama Bumi.

Karena aku tinggal di sebuah planet milik Allah yang bernama Bumi, harusnya aku juga membaca, mempelajari dan mematuhi aturan yang dibuat Pemilik planet yang bernama Bumi ini, yaitu Allah.
Bagaimana aku bisa memutuskan untuk lebih mematuhi aturan manusia lain yang menkhianati aturan Allah sementara aku dan manusia si pembuat aturan itu juga sama-sama tinggal di sebuah planet milik Allah yang bernama Bumi? Bagaimana aku bisa lebih takut di-blacklist oleh manusia pengkhianat aturan Allah daripada di-blacklist oleh Allah, sementara aku dan manusia itu sama-sama tinggal di sebuah planet milik Allah yang bernama Bumi?

Lalu, bagaimana orang-orang sekuler mau memisahkan system kehidupannya dari system Allah sementara ia tinggal di sebuah planet yang hak miliknya berada pada Allah?

***

11 Juni 2009

bahagia itu...

Ada yang bilang,
bahagia itu... uang
bahagia itu... kursi
bahagia itu... wanita
bahagia itu... pria
bahagia itu... IPK
bahagia itu... lulus
bahagia itu... sekolah
bahagia itu... kuliah
bahagia itu... bekerja
bahagia itu... anak
bahagia itu... ibu
bahagia itu... bapak
bahagia itu... rumah
bahagia itu... alam
bahagia itu... senyum
bahagia itu... air mata
bahagia itu... pikiran
bahagia itu... hati
bahagia itu... sehat
bahagia itu... juwita
bahagia itu... harapan
bahagia itu... setyo
bahagia itu... persahabatan
bahagia itu... cita
bahagia itu... mereka
berjuta kata mewakili bahagia...
dan tentu saja, bahagia itu... kamu

***

10 Juni 2009

Muhammad buta huruf....? Mungkinkah...?

Seorang Muhammad lahir ketika pendidikan di Arab adalah hal yang sangat diperhatikan...
Seorang Muhammad lahir saat sya'ir menjadi nafas bangsa Arab...
Seorang Muhammad adalah cucu seorang Abdul Muthalib...,
adalah seorang keponakan dari Abu Thalib...
dua orang "guru" yang tentunya mahir baca tulis...
(thalib-thalaba-thulaby)
Mungkinkah seorang Abdul muthalib membiarkan cucu yang diasuhnya tak mengenyam pendidikan sama sekali....
Mungkinkah seorang Abu Thalib membiarkan keponakan yang diasuhnya tak mengerti baca tulis...?
Seorang Muhammad juga adalah tangan kanan bisnisnya Khadijah...
Muhammad adalah seorang entrepreneur muda yang profesional...
Sudah menjadi syarat bahwa seorang rasul pastilah cerdas dan berpemikiran lebih maju dari umatnya...
Mari mencari celah..., apakah mungkin seorang Muhammad buta huruf...?
Allah menjelaskan yang dimaksud dengan kata "ummi" di QS 2:78....

***

26 Mei 2009

Salesman di Toko Roti

Dulu, sepertinya kami tak merasa lapar. Tetapi entah mengapa, orang tua kami mengantarkan kami ke Toko Roti. Di sana kami harus makan roti yang dijual oleh Toko Roti itu. Di toko itu ada banyak pelayan, penjual roti yang menawarkan rotinya kepada kami. Sebutlah para penjual roti itu para ’salesman’.

Orang tua kami sangat percaya kepada para salesman itu. Urusan makan kami pun dipercayakan kepada para salesman itu. Aneh memang. Setiap hari kami meluangkan waktu kami, dari jam 07.00 – 13.30, dan itu berlangsung lebih kurang selama 12 tahun, kecuali hari Minggu dan hari-hari libur. Kami benar-benar meluangkan waktu kami itu, hanya untuk pergi ke toko roti. Orang tua kami tidak lupa memberi kami uang saku untuk biaya transport kami ke toko roti. Bahkan, orang tua kami juga sudah membayar di muka, dan ada yang tiap bulan rutin membayar ke toko roti itu. Semua itu dilakukan agar gizi kami terjaga, agar kami bisa mendapatkan paket roti untuk bekal hidup kami nanti.

Kadang kami tidak merasa lapar, dan malas. Tapi bagaimanapun, kami harus selalu pergi ke toko roti itu. Seolah-olah toko roti itulah hidup kami. Kadang kami merasa, orang tua kami berharap terlalu besar dari toko roti itu. Ada benarnya juga sih, karena dengan gizi yang baik, kami akan sehat, dan aktivitas kami pun bisa berjalan dengan baik.

Sebenarnya, mungkin kami lapar, tetapi kami belum bisa menyadarinya. Para salesman, dan bapak ibu kami selalu berpesan, ”Pergi ke toko roti itu penting karena di sana kamu akan mendapatkan roti untuk bekal hidup kamu.”

Kadang kami bertanya-tanya, ”Mengapa harus pergi ke toko roti kalau hanya untuk makan roti? Bukankah di rumah, ibu juga bisa membuat roti dan kemudian memberikannya untuk kami? Bahkan di rumah kita bisa makan roti bersama keluarga?”

Namun, selalu saja dijawab, ”Kami sibuk, tidak bisa membuatkan roti untukmu, apalagi menemanimu makan roti. Pergilah ke toko roti itu. Carilah roti di sana sebanyak-banyaknya”.Hmmmph...., akhirnya, kami mencoba untuk nurut. Kami rajin pergi ke toko roti, untuk mendapatkan roti di sana. Ada roti yang harus kami makan di sana, dan ada juga roti yang harus kami bawa pulang, untuk kami makan di rumah.

Orang tua kami sangat percaya kepada para salesman di toko roti itu, begitu juga kami. Mungkin bahasa salesman itu sangat meyakinkan bagi kami, mungkin juga bimbingan dan arahan para salesman itu terlalu jelas bagi kami, atau mungkin tak terlalu jelas tetapi kami jalani begitu saja sarannya.

Kami tak bisa menolak paket roti yang diberikan oleh para salesman itu. Nggak sopan.... Dan lagipula, kami sangat percaya kepada para salesman itu. Kami yakin roti yang diberikannya itu adalah roti-roti bergizi, yang menyehatkan badan kami. Kami tak pernah berprasangka macam-macam. Rasanya di lidah kami juga enak-enak saja. Kadang, ada juga sih, roti yang agak susah kami telan, bahkan sampai ingin muntah. Namun karena percaya bahwa roti-roti itu bergizi, maka kami selalu berusaha menghabiskannya.

Setelah 12 tahun berlalu, toko roti itu menyatakan sudah tidak ada lagi roti yang pantas diberikan kepada kami.
Akhirnya, aku memutuskan untuk mencari tempat lain. Aku mencari roti yang bisa menjadikanku salesman roti. Aku ingin bekerja di toko roti. Orang tuaku pun memberiku uang saku, untuk pergi ke ’grosir roti’. Toko roti yang sangat besar. Salesman di sana, sebagian besar adalah orang yang sudah mengeerti bagaimana cara membuat roti, bermacam-macam roti.

Di grosir roti itu, aku dikenalkan dengan bermacam-macam roti, juga bahan-bahan yang digunakan untuk membuatnya, serta alasan mengapa roti-roti itu penting untuk hidupku.
Perlahan tapi pasti, aku mulai mengenal bahan-bahan penyusun roti. Aku benar-benar kaget mendapatkan kenyataan bahwa roti-roti yang dulu kumakan selama lebih kurang 12 tahun itu tak semuanya roti yang sehat dan bergizi. Ternyata ada beberapa roti yang mengandung pengawet, racun yang bisa membunuhku secara perlahan. Ada juga roti yang beragi, tampaknya besar, tetapi kandungan energinya sebenarnya cuma sedikit. Ternyata ada juga roti yang mengandung pemanis buatan, tak baik juga untuk kesehatanku. Mau bagaimana lagi? Roti-roti itu sudah terlanjur kutelan.

Kemudian aku mendapatkan sepaket roti yang merknya ”Filsafat Pendidikan Matematika”. Dengan makan roti itu, aku sadar, bahwa ternyata para salesman yang dulu melayaniku di toko roti itu tak sesempurna yang aku bayangkan. Aku juga jadi sadar, bahwa tugasku nanti, saat menjadi salesman di toko roti, tidaklah mudah. Hmmmph..., berat juga ternyata. Kesehatan ribuan pelanggan tergantung roti yang akan kuberikan pada mereka. Jadi, aku harus mengenal betul, mana roti yang bergizi, mana roti yang beragi, mana roti yang beracun. Kemudian, aku juga harus tahu roti seperti apa yang dibutuhkan pelangganku nantinya. Sebagai salesman, tugasku adalah melayani pelanggan dengan baik. Roti yang kuberikan nanti harus bisa menyeimbangkan perkembangan intelektual, emosional, dan spiritual mereka.

Tetapi, aku juga musti berhati-hati saat makan paket roti itu, harus memilah-milah, tapi juga nggak boleh setengah-setengah.

Sungguh, menjadi salesman roti itu bukan pekerjaan gampang. Apalagi dalam hal ini, roti adalah ilmu, dan toko roti adalah sekolah. Dan salesman, tentu saja gurunya.

28 Januari 2009

Ngapain Belajar Matematika?!

Pernahkah anda, saat sedang suntuk belajar matematika, tiba-tiba bertanya-tanya:

“Ngapain sih, belajar matematika?!”
”Mengapa harus belajar matematika segala?”
”Apa gunanya aku mempelajari ini?”

Kalau yang terjadi adalah demikian, berarti ada sesuatu yang salah dalam diri anda. Anda belum memahami esensi belajar matematika, tetapi sudah terlanjur masuk terlalu dalam dalam proses teknis matematis. Dijamin, anda tidak akan bisa menikmati proses belajar anda.

So, mungkin anda bertanya-tanya: apa yang harus kulakukan? what must I do?
OK. Simple sebenarnya. Jadi, masalahnya adalah anda perlu memahami esensi belajar matematika. So, how?

Ini bisa dimulai dari mempelajari hakikat matematika, sejarah matematika. Apaan tuh? Kok susah amat?

Tenang, tenang. Ini tidak sesulit yang anda bayangkan. But very simple. Anda cukup menyimak artikel ini sampai habis. Bersedia? Saya yakin anda bersedia.
Dari mana memulainya, ya?

Sebenarnya sangat gampang. Anda cukup menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut, dan anda sudah memperoleh setengah dari proses memahami hakikat matematika. Menurut anda, bagaimana bisa ada matematika (bagaimana proses kemunculan matematika)? Matematika itu apa? Apakah matematika itu suatu ilmu? Kalau begitu, apa tujuan matematika dijadikan ilmu?

Anda sudah mempunyai jawabannya? Kalau belum, baiklah, akan coba saya jawab dengan pemikiran yang paling sederhana. Dalam uraian singkat di bawah ini anda akan bisa menemukan jawaban dari keempat pertanyaan itu.

Bagaimana bisa ada matematika (proses kemunculan matematika)? Tidak terlalu rumit ceritanya. Dulu, matematika itu tidak ada. Yang ada adalah ilmu tentang hal-hal yang lain, seperti ilmu tentang perbintangan (astronomi), ilmu tentang makhluk hidup (biologi), ilmu tentang benda-benda mati (fisika), dll. Dalam berbagai ilmu tersebut ada yang namanya hitung-menghitung. Awalnya mungkin hanya ada perhitungan sederhana, tetapi semakin lama semakin kompleks saja perhitungan yang dibutuhkan. Maka, dirasa perlu untuk mempelajari tata cara berhitung tersebut agar bisa lebih cepat dan tepat.

Adanya perdagangan dan berbagai kegiatan masyarakat yang membutuhkan teknik perhitungan tersebut membuat diperlukannya suatu ilmu khusus yang mempelajari tata cara berhitung.

So, muncullah suatu ilmu yang disebut matematika.
Sampai disini, saya yakin anda sudah bisa memahami gambaran umum tentang kemunculan matematika dan untuk apa sebenarnya matematika itu.

Dengan adanya suatu ilmu khusus yang mempelajari tentang tata cara berhitung, menjadi lebih mudah-lah dalam mempelajari ilmu-ilmu yang lain.

Matematika semakin berkembang dari waktu ke waktu. Perkembangannya pun tak bisa lepas dari perkembangan ilmu-ilmu lainnya. Muncul pula beberapa matematikawan hebat yang semakin mengembangkan matematika, baik dalam perhitungan sederhana maupun dalam perhitungan tingkat tinggi seperti integral, dsb.

Matematika terbang terlalu tinggi sehingga lupa daratan. (Hehehe....) Orang-orang yang mempelajari matematika kadang melupakan tujuan belajar matematika yang sebenarnya.

Sehingga, muncullah rasa hampa, rasa suntuk, rasa kering, dalam mempelajari matematika.

Bukankah demikian?

Ya. Memang sangat penting untuk memahami esensi belajar matematika sebelum kita terjun lebih dalam dalam proses teknis matematis yang super rumit.


***

21 Januari 2009

Panduan Bisnis Online Paling Panas?

Anda pemula dalam bisnis online? Saya ucapkan SELAMAT karena pilihan anda untuk berbisnis online itu sangat tepat.

Apakah anda bingung apa yang harus anda lakukan pertama kali berbisnis online? Atau justru anda bingung bagaimana para pebisnis online atau internet marketer bisa sesukses itu? Sangat wajar jika anda bingung.

Anda perlu melakukan hal-hal di bawah ini untuk memulai dan kemudian memantapkan bisnis anda:

  1. memiliki panduan bisnis yang tepat
  2. memiliki konsultan atau guru dalam bisnis online
  3. membangun karakter pebisnis online
  4. membuka akun paypal atau alertpay, atau egold
Langkah kelima, keenam, ketujuh, dan seterusnya bisa anda ketahui setelah anda memiliki panduan atau konsultan bisnis online.

Panduan bisnis? Ya, benar. Anda butuh panduan bisnis. Tentunya tidak sekedar panduan bisnis biasa. Anda butuh panduan bisnis yang mudah dipahami, kata-katanya mudah dicerna, dan mudah dipraktekkan. Saya yakin anda membutuhkan panduan bisnis online paling panas, paling mudah dikunyah dan dicerna..... Tak salah lagi. Ini yang anda butuhkan. Klik disini untuk mendapatkan info tentang panduan bisnis dan konsultan bisnis online paling panas, paling mudah dikunyah dan paling mudah dicerna.
Perlu bukti? Saya menunggu anda untuk membuktikannya sendiri. Dijamin halal....

Salam sukses untuk anda.

Mengapa Nge-Blog itu penting?

Pernahkah anda berpikiran bahwa nge-blog itu menghabiskan waktu, tenaga, biaya, dan tidak ada gunanya? OK, anda perlu membaca artikel ini.

Mengapa nge-blog itu penting? Why? Here’s the reasons:

  1. Bagi anda para pemula bisnis online, nge-blog is very important. Why? Blog bisa dijadikan sarana untuk mencitrakan diri anda. Blog adalah sarana penting bagi pemula bisnis online. Misal, anda sedang mengikuti program affiliate dari sebuah bisnis online. Blog bisa dijadikan tempat untuk mempromosikan URL affiliate anda. Misal, jika anda adalah member di beberapa situs PTC, pasti anda punya URL untuk merefer orang lain. URL itu bisa anda pampang di blog anda dengan sedikit preselling untuk menarik pengunjung untuk mengklik URL itu. Semakin banyak pengunjung blog anda, semakin besar peluang URL affiliasi anda di-klik orang. So, sangat penting untuk senantiasa meng-update blog anda. Tidakkah nge-blog itu bermanfaat?
  2. Sekali lagi bagi anda yang ingin serius di dunia bisnis online, nge-blog bisa menjadi media pembelajaran untuk mengelola situs sebelum anda membeli domain dengan harga mahal. Awalnya mungkin anda belum punya modal yang cukup untuk membeli domain dengan harga jutaan. Cukup manfaatkan fasilitas yang telah diberikan oleh penyedia blog gratis, dan buatlah blog seperti contohnya blog More Delicious ini, dan manfaatkan seoptimal mungkin untuk mengembangkan bisnis online anda. Banyak hal akan anda dapatkan ketika nge-blog. Sebagai pengembang blog, pasti anda menginginkan agar pengunjung blog anda semakin banyak (traffiknya tinggi). Mau tidak mau, anda akan mencari cara untuk mewujudkannya. Dari sana, anda akan mulai belajar dan menerapkan berbagai cara yang ada, misalnya berbagai teknik SEO (search engine optimation). Kalau anda tidak nge-blog, gimana anda mau mencoba teknik-teknik itu? Sekali lagi ini sangat bermanfaat sebagai bahan pembelajaran sebelum mengelola situs anda nanti.
  3. Agaknya, bagi anda yang tidak suka berbisnis online, nge-blog sedikit mubadzir. Tapi, eittt...., tunggu dulu. Jangan terburu-buru mengambil kesimpulan. Dengan nge-blog, anda bisa memberikan manfaat kepada banyak orang. Blog berisi artikel-artikel yang mencerminkan pemikiran-pemikiran/cara pandang penulisnya tentang berbagai hal. Tidakkah anda pernah berpikir bahwa mungkin saja banyak orang yang terinspirasi oleh artikel-artikel anda dan akhirnya memperbaiki diri menjadi lebih baik? Blog adalah wujud nyata kontribusi anda dalam menghiasi dunia maya ini. Hiasilah dengan pemikiran-pemikiran positif anda. Ubahlah dunia dengan artikel-artikel anda. Ubahlah dunia dengan blog anda. Sekali lagi, blog adalah ladang amal bagi anda..... Artinya, nge-blog itu beramal....
  4. Setidaknya, nge-blog jauh lebih baik daripada nge-buka situs-situs asusila
Alasan kelima, keenam, ketujuh, dan seterusnya...., silakan anda sendiri yang lebih tahu...

Membuat Puisi Spontan: Cara Jitu Membangkitkan Jiwa Kepenulisan Anda

Puisi spontan? What’s this?

OK, saya jelaskan. Puisi spontan adalah puisi yang ditulis secara spontan. Misalnya, anda diberi sebuah kata atau tema, kemudian selama maksimal 10 menit anda diminta membuat puisi tentang tema itu.

Natalie Goldman, dalam bukunya yang berjudul Alirkan Jati Dirimu (Dengan Menulis), menjelaskan bagaimana efek membuat puisi spontan ini terhadap kemampuan menulis kita. Sangat positif.

Anda ingin mencobanya? Mudah saja. Anda juga bisa mendapatkan penghasilan dari menulis puisi spontan ini. Bagaimana bisa? Kalau biasanya berbicara tentang bisnis online, kali ini adalah tentang bisnis offline.

Begini teknisnya:

Jika ada bazar di kampus, sekolah, atau di daerah di sekitar anda, berpartisipasilah. Bukalah stan. Stan? Ya. Stan Puisi Spontan.
Tidak butuh modal besar. Anda bisa mengajak 2 orang teman anda.
Cukup sediakan tikar, meja, setumpuk kertas dan pulpen.
Jangan lupa pasang banner atau spanduk atau tulisan sebagai nama stan anda: PUISI SPONTAN, dan sedikit kalimat iklan.
Pengunjung akan datang, meminta anda membuatkan puisi dengan tema yang mereka minta. Pasanglah tarif murah, misal Rp3.000,- per puisi.

Mudah bukan? Selain anda bisa meningkatkan kemampuan menulis anda, anda pun bisa meningkatkan penghasilan anda. Buktikan sendiri.

***

20 Januari 2009

Dzikrullah

Apa itu dzikrullah? Dzikrullah secara bahasa berarti “mengingat Allah”.

Para ulama telah sepakat bahwa obat yang paling mujarab dan penawar yang paling baik adalah dzikrullah.

Beberapa penjelasan Allah:
  1. “Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah qalbu menjadi tenteram” (Q.S Ar-Ra’du (13) : 28)
  2. “Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Quran yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan qalbu mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tak ada baginya seorang pemimpinpun.” (QS Az-Zumar:23)
  3. Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik. (QS Al-Hadiid : 16)
  4. Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat kebesaran Allah (QS Adz Dzariyat :49)
  5. Hai orang-orang yang beriman, ingatlah Allah, ingatlah selalu, dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang. (QS Al-Ahzab : 41-42)
  6. Maka bersabarlah kamu atas apa yang mereka katakan dan bertasbihlah dengan memuji Rabb-mu sebelum terbit matahari dan terbenamnya. (QS Thaha (20) : 130)
  7. Dan ingatlah Rabb-mu jika kamu lupa (salah). (QS Al-Kahfi (18) :24)

Sedangkan Penjelasan dari Nabi Muhammad:
  1. Hendaklah lisanmu tetap basah karena mengingat Allah (HR Tirmidzi)
  2. Rasulullah bersabda : “Al Mufaridun akan mendahului kita”. Para sahabat bertanya: “Ya Rasulullah, siapakah al Mufaridun itu?” Beliau menjawab: “Lelaki dan wanita yang banyak mengingat Allah” (HR Muslim)
  3. Muslim meriwayatkan dari ‘Aisyah, ia berkata: “Adalah Rasulullah senantiasa mengingat Allah dalam setiap waktunya.”
  4. Perumpamaan orang yang mau mengingat Allah dan orang yang tidak mau mengingat Allah bagaikan orang hidup dan orang mati. (HR Bukhari)
  5. Sungguh Allah akan meridhai seorang hamba yang memakan suatu makanan atau meminum suatu minuman, lalu memuji-Nya. (HR Muslim)

Beberapa Manfaat Dzikir
  • Memperoleh ridha dari Yang Maha Pemurah, dan setan terusir
  • Dapat mengembangkan kebaikan dan meninggikan derajat
  • Melapangkan dada dan meluaskan kuburan
  • Memelihara waktu dan mengimpunkan yang tercerai berai
  • Mendatangkan faidah paling besar dan membantu pelakunya untuk menghadapi berbagai kesulitan
  • Amal yang mudah dan pekerti yang mulia
  • Membentengi diri dari berbagai macam gangguan dan godaan
  • Menghiasi wajah pelakunya dengan keagungan, kewibawaan, dan kemanisan
Dzikir-dzikir yang dianjurkan oleh syariat: telah terhimpun di dalam al-ma’tsurat

Contoh dzikir praktis:
  • Apabila sedang melakukan perjalanan yang sulit: Laa haula walaa quwwata illa billah
  • Bila ada bencana pekat datang menimpa : Hasbunallooh wa ni’mal wakiil
  • Bila melihat hal menakjubkan : Subhanallooh
  • Bila mendapat nikmat dalam diri: Alhamdulillaah
  • Bila ingat dosa yang dilakukan : Astaghfirullooh
  • Bila musibah menimpa diri : inna lillaahi wa innaa ilaihi rooji’un

Dengan memahami makna lafadz dzikir yang kita ucapkan, akan kita temukan bahwa tidak ada kata pesimis dalam berislam. Segala hal, baik itu nikmat, musibah berat atupun ringan, adalah semata-mata untuk menguji kita, dan lewat segala ujian itulah Allah mendidik kita...

wallohu a'lamu bishshawab...