Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan

17 Juni 2009

Sajak Palsu

Karya: Agus R. Sarjono

Selamat pagi pak, selamat pagi bu, ucap anak sekolah
dengan sapaan palsu. Lalu merekapun belajar
sejarah palsu dari buku-buku palsu. Di akhir sekolah
mereka terperangah melihat hamparan nilai mereka
yang palsu. Karena tak cukup nilai, maka berdatanganlah
mereka ke rumah-rumah bapak dan ibu guru
untuk menyerahkan amplop berisi perhatian
dan rasa hormat palsu. Sambil tersipu palsu
dan membuat tolakan-tolakan palsu, akhirnya pak guru
dan bu guru terima juga amplop itu sambil berjanji palsu
untuk mengubah nilai-nilai palsu dengan
nilai-nilai palsu yang baru. Masa sekolah
demi masa sekolah berlalu, merekapun lahir
sebagai ekonom-ekonom palsu, ahli hukum palsu,
ahli pertanian palsu, insinyur palsu.
Sebagian menjadi guru, ilmuwan
atau seniman palsu. Dengan gairah tinggi
mereka menghambur ke tengah pembangunan palsu
dengan ekonomi palsu sebagai panglima
palsu. Mereka saksikan
ramainya perniagaan palsu dengan ekspor
dan impor palsu yang mengirim dan mendatangkan
berbagai barang kelontong kualitas palsu.
Dan bank-bank palsu dengan giat menawarkan bonus
dan hadiah-hadiah palsu tapi diam-diam meminjam juga
pinjaman dengan ijin dan surat palsu kepada bank negeri
yang dijaga pejabat-pejabat palsu. Masyarakatpun berniaga
dengan uang palsu yang dijamin devisa palsu. Maka
uang-uang asing menggertak dengan kurs palsu
sehingga semua blingsatan dan terperosok krisis
yang meruntuhkan pemerintahan palsu ke dalam
nasib buruk palsu. Lalu orang-orang palsu
meneriakkan kegembiraan palsu dan mendebatkan
gagasan-gagasan palsu di tengah seminar
dan dialog-dialog palsu menyambut tibanya
demokrasi palsu yang berkibar-kibar begitu nyaring
dan palsu.

1998


***

15 Mei 2009

jas merah-nya Bung Karno...

Siapa sangka Indonesia adalah eks peradaban luar biasa gemilang? Siapa sangka JAS MERAH-nya Bung Karno menyimpan pesan moral sangat dalam untuk kebangkitan bangsa?
Berikut saya nukilkan sebuah analisis tentang keberadaan Atlantis dan Lemuria, peradaban hilang yang mulai terkuak...:

ahmad chodjim:
Ini analisis dari saya saja setelah banyak membaca literatur tentang Daratan Lemurian dan Atlantis dari literatur Barat. Kesimpulannya, Daratan Lemurian adalah "lembah" yang sekarang menjadi laut antara Sumatra dan Kalimantan dan laut Jawa, yang dikenal sebagai Dataran Sunda. Delapan ribu tahun sebelum Masehi, terjadi pencairan besar terakhir Gunung es utara setinggi 300m sehingga menenggelamkan Dataran Sunda tersebut.

Sebelum lembah tersebut tenggelam posisi Sumatra, Kalimantan dan Jawa adalah bukit. Dan, di antara bukit itu yang paling subur adalah Bukit Jawa yang akhirnya menjadi Pulau Jawa. Jadi, dulu Bengawan Solo itu muaranya ya di Laut Sulawesi yang memang benar-benar laut yang amat dalam. Laut antara Kalimantan dan Sulewesi itu paling dangkal 1000 m dan terus ke tengah hingga 8000 m. Sedangkan Laut Jawa hanya berkisar 100 -300 m. Sebelum lembah itu hilang, memang peradaban dunia itu ada di Lembah Jawa (Dataran Sunda atau Lemurian).

Atlantis ada di mana? Menurut berbagai riset, Atlantis yang hilang itu ya berada di sekitar laut yang diapit oleh Afrika dan Eropa. Jadi, kalau di Alquran ada istilah "Kaum Ad", menurut orang Barat yang dimaksud ya penduduk Atlantis, dan bukti-bukti tenggelamnya kaum Ad itu semakin nyata.

Kalau sekarang ada kekuatan Eropa dan Asia dan dimenangkan oleh Eropa, maka menurut berbagai tulisan orang Barat, yang akan tampil adalah masyarakat ex Lemurian yang sekarang ini amburadul, tapi kemampuan spiritualnya semakin ditakuti Barat. Oleh karena itu, Barat secara umum berusaha menutupi akan bangkitnya masyarakat Kepulauan Nusantara. Dan, upaya itu telah dilakukan oleh Barat sejak zaman Negara Kahuripan.

Jadi, memasuki Milenium II alias seribu tahun yang lalu, kekuasaan Mataram yang semula di Jateng terus digempur meski telah pindah ke Jatim. Dan, penggempuran ini berhasil ketika Raja Airlangga membelah Mataram Kahuripan menjadi dua, yaitu Jenggala (Singosari) dan Panjalu (Kediri). Meskipun semasa Majapahit sempat dipulihkan kebesaran Mataram itu, namun rontok juga setelah 100 tahun. Lha, memang mangsa jayanya kan di Milenium III ini?

Kata Bung Karno: "Jas Merah" (jangan sekali-kali meninggalkan sejarah).

Suwun,

ahmad chodjim


sumber: Nabble-Spiritual Indonesia


***