Tampilkan postingan dengan label refleksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label refleksi. Tampilkan semua postingan

10 September 2011

.... ?

lama tak kusebut namaMu dalam sepi,
menghampa hari tanpa rasa tanpa sadar,
seperti terseok-seok,
tertatih-tatih,
di jalan yg panjang melintang,
kelimpungan mencariMu,, dalam tiap nafas,,
bergumul dg nafsu, berandai menemukanMu, (idiot)

mematung di rel waktu yg panjang membentang,
mematung di antara jutaan miliar elektron yg terus berputar,,
di antara jutaan miliar atom yg terus merangsek ke segala arah,,
sepi pun menghardik kini,,
lalu ada yg melirih hanyut oleh sibuknya waktu..
dan masih ada tanya, apa ini yg namanya sepi?

01 Maret 2011

februari

Oia, ini awal bulan Maret 2011. Di awal bulan, biasanya aku memflashback apa yang kulakukan di bulan sebelumnya. Ya, hal terbodoh apa yang kulakukan di bulan itu, dan juga tentu saja hal terjenius apa yang kulakukan di bulan itu (meskipun kadang hal terjenius yang kulakukan adalah hal terbodoh bagi orang lain, hahaha...)

Dan, hal terbodoh yang kulakukan di bulan Februari 2011 adalah mengharap cinta dari seorang lelaki yang telah dengan jelas mencintai wanita lain. Stupid idiot, I am.
Hal terjeniusnya, tak layak untuk dipublikasikan (meskipun bisa jadi tak akan ada yang membaca tulisan ini). :D

Sekarang, di bulan Maret ini, semoga aku tak melakukan hal terbodoh yang sama.
Selamat berbulan Maret...! ^_^

Mohon dimaklumi jika pengungkapannya terlalu vulgar, hwehehehe

22 Februari 2011

apa kabar

Saat ini, tak ada yang lebih menyebalkan bagiku dari mendapatkan pertanyaan: "apa kabar?"

12 Februari 2011

untitled

"So Far Away", satu lagu yg mengesankanku hari ini, meski aku belum tahu siapa penyanyinya. Pasalnya, frase "birokrasi hati" yang ada di lirik lagu ini baru kudengar untuk pertama kalinya (Hehe, telat kalii). Dan mungkin memang benar, birokrasi hati kadang terlalu berbelit.

Yah, itulah tentang birokrasi hati, meski aku juga tak terlalu paham apa yg sebenarnya dimaksud dg birokrasi hati oleh pencipta lagu itu.
Kadang ada hal yg tiba2 menyita perhatian meski sebelumnya tak pernah diduga hal tersebut akan mnjadi hal yg diperhatikan secara khusus. Hal yg tak terduga, seperti angsa hitam/black swan, bagiku saja tentunya.

Ada ungkapan yg pernah terkenal di abad ke-16, "a good person is as rare as a black swan". Ungkapan tsb, kala itu, umum digunakan untuk menggambarkan impossibility, kemustahilan. Sebab, saat itu ada semacam anggapan bahwa semua angsa berwarna putih. Sampai akhirnya terkuaknya keberadaan benua Australia meruntuhkan anggapan itu. Pasalnya di benua itu terdapat angsa berwarna hitam (black swan).

Inilah hal yg mengantarkanku mengenal nama Nassim Nicholas Taleb, seseorang yg mengembangkan The Black Swan Theory, atau teori tentang peristiwa angsa hitam.
Taleb memberikan tiga hal yg berkaitan dg angsa hitam atau black swan ini, yaitu rarity, extreme impact, dan retrospective predictability. Atau, peristiwa2 yg tergolong ke dalam "angsa hitam" adalah peristiwa2 yg tak terduga, dampaknya masif, dan setelah kejadian baru dilakukan rasionalisasi, pembenaran dg penjelasan retrospektif.

Tapi sepertinya di dunia ini terlalu banyak angsa hitam berkeliaran. Mungkin ada hal yang selalu bisa diprediksi, tetapi itu hanya prediksi, selalu ada kemungkinan akan adanya variabel baru di luar dugaan yg tiba2 menyusup dan memorakporandakan prediksi tsb.

Tak apalah, toh prediksi memang sepantasnya hanya diperlakukan sebagai hal yg "mungkin" terjadi, setidaknya bagiku. :-)

Setelah terkesan dg "birokrasi hati"-nya So Far Away, lalu beralih ke frase "bernafas untukmu"-nya Cobalah Mengerti. Hehe, nggak nyambung.

01 Februari 2011

kasih

Cinta. Selalu saja jadi topik yang tak habis dibicarakan.
Kisah cinta diri sendiri saja tak bakal habis ditulis dalam sebuah novel setebal 700 halaman, mungkin, apalagi kisah cinta manusia sedunia.
Lalu kita mngenal istilah cinta, sayang, dan kasih. Mana yang tertinggi? Tiap orang mungkin punya pendapatnya masing-masing. Tapi, jujur, bagiku, "kasih" adalah yang tertinggi.
Suatu saat mungkin anda pernah berada pada suatu situasi dimana anda ternyata tak boleh mencintai seseorang yang telah terlanjur anda sayangi dengan sangat. Lalu parahnya lagi, ternyata juga tak boleh ada sayang di antara anda dengannya.
Pada situasi seperti ini, biasanya seseorang akan mengambil langkah untuk menjauh dari orang yang sebenarnya disayanginya itu. Ya, menjauh.
Ah, saat cinta dilarang, tak bolehkah ada sayang? Atau, saat ternyata tak boleh pula ada sayang, siapa yang bisa melarang "kasih"?
Tapi jujur, ini tak gampang.
Sampai detik ini, saya mengakui, kasih-lah wujud ketulusan seseorang.

munafik

Kadang aku merasa menjadi orang paling munafik sedunia. Pernahkah anda? Semoga belum pernah.

Anda tahu? Rasa seperti ini benar-benar neraka. Panas, berdesing, menghantui dan tak henti menggerogoti jiwaku. Maaf kalau bahasaku lebay, sebab memang seperti itulah yang kurasakan.

Mengetahui bahwa sesuatu itu sangat pnting untuk dilakukan, tetapi tidak melaksanakannya. Mengetahui bahwa sesuatu itu merusak jika dilakukan, tetapi tetap melaksanakannya. Mengetahui suatu ilmu tapi bersikap seolah aku tak tahu apa-apa. Yang paling para mungkin, mengetahui sikap munafik itu menyiksa, tapi tetap saja munafik.

Hehehe, rasanya ingin berkata jujur dan memohon maaf pada setiap orang yang telah jadi korban kemunafikanku. Tapi apalah artinya permohonan maaf itu, toh mereka juga tak tahu kalau aku munafik, mereka tak tahu bahwa aku berpura-pura, mereka tak tahu bahwa aku berbohong. Dan aku tahu bahwa yang terpenting untuk kulakukan saat ini adalah menjadi tidak munafik lagi. ya, menjadi pribadi yang jujur, bersikap sesuai hal-hal yang memang telah aku ketahui dan sadari. Melawan kesadaranku sendiri selalu membuatku tersiksa. Sejak awal aku tahu bahwa ini nerakaku, tapi tetap saja aku masuki.

Oia, setidaknya, hari ini aku menemukan satu hal yang paling tak kusukai saat naik kendaraan umum, yaitu menjadi perokok pasif. Ya Tuhan, andai saja tadi anda berada satu bus denganku, anda pasti akan bisa mengerti kenapa aku bilang begitu. Menjadi perokok pasif adalah hal yang paling menyebalkan bagiku. Apakah para perokok aktif itu tak mengerti bagaimana bahayanya menjadi perokok pasif? Benar-benar egois.

Tapi ya, sudahlah, meskipun menjadi perokok pasif tak ada hubungannya dengan menjadi munafik. hehe

28 Desember 2010

sepenggal episode

Ingin kusapa kabut yang putih berarak,
menghambur pada gerimis yang merintik
Ingin kutanya tanah yang mendadak beraroma
mengapa ia tetap mencipta
Ingin kutelisik sampai nyata di mataku
di jengkal mana asal muasalku
Ingin kubercerita pada udara
bahwa aku t'lah kalah darinya
kalah dari udara yang tak henti menghidupi
Ingin kutuang rasaku pada batu-batu kali
bersama gemericik air yang menimpanya, dan menyatu
Tidakkah mereka ingin berhenti mencipta
Tidakkah mereka ingin berhenti menghidupi manusia
ah! anggap saja pantas kuadukan nyata pada yang mencipta,
tidakkah mereka melihat,
mereka mencipta kesendirian, mencipta sepi yang beradu sunyi
bahwa beberapa manusia akhirnya harus bertahan
dalam sunyi, sepi, dan dinginnya kehidupan, dan sendiri
tidakkah Kau ingin berhenti mencipta?


sunyinya sepi, 8 desember 2010

berpenghuni

merapuh tiang,
berdebu kursi
dan meja,
hilang bening kaca,
meretak dinding bata,
cermin-cermin bernoda,
sampah merajai
tiap petak lantai,
dan barangkali ada bangkai,

ah, ya, hanya bagi yang melihat,


temanggung, 28 november 2010

18 Oktober 2010

titik nyaman

Harusnya aku telah sampai pada tahap tenang, nyaman dengan apa yg kujadikan pedoman.
Nyatanya aku masih seperti ini, tak berusaha untuk tenang.
Ada hal yg sepertinya masih kucari dan aku belum bisa mengerti apa itu.
Atau mungkin, aku tahu, tapi aku enggan mengakuinya?
Ah, iya, aku tahu sekarang. Aku tahu apa yang kucari.
Tapi rasanya,aku perlu meninggalkannya sejenak.
Ada tugas yg mesti kulakukan, tak bisa kutinggalkan,

11 Oktober 2010

mulai lagi

Ada hal yang hilang memang.
Ada hal yang tak sengaja menghilang, dan memang ada hal yang kubiarkan menghilang.
Ah! Kini tak ada lagi yang aku punya, memang.
Tak ada lagi yang aku simpan. Tak ada lagi yang aku sembunyikan.
Terlalu lama berpikir memang,
terlalu lama menunggu, memang..
Kini kutahu apa yang mesti kulakukan,
Aku akan berlatih... konsekrasi..
ya, konsekrasi.. menaati jiwaku..

08 Oktober 2010

air mata

"Air mata itu asin", katanya saat itu.
"Benarkah?" tanyaku.
"Iya, seperti air garam, asin," jawabnya.
"Ah, air garam...?" gumamku.
Sejenak kami diam. Lalu..,
"Kau tahu? air mata itu mirip air garam, menyakitkan, tapi menyembuhkan luka," katanya. Sekilas ku menoleh ke arah matanya. Tatapannya menerawang seperti menembus apapun yang ada di hadapannya.
.......

"Bagaimana rasanya?" tanyanya siang tadi.
"Seperti air garam," kataku.

27 September 2010

suasana (2)

Suasana. Kemarin sore aku berkunjung ke rumah simbah-ku di klaten, bersama Setyo, sohibku. Sampai di sana, halaman rumah yg luas segera menyambut kami. Daun-daun yg gugur, berserakan di halaman rumah. Angin semilir menimbulkan irama akibat gesekan antar daun-daun pohon mangga. Sejenak dejavu.

Simbah putri sekarang tinggal sendirian di rumah yg tergolong luas itu, setelah seminggu yg lalu ditinggal simbah kakung. Sepi, dan sakit.

Setahun yg lalu mungkin aku masih bisa berharap simbah putri menyambutku di pintu masuk rumah, menunjukkanku kamar yg bisa kupakai untuk istirahat, atau meja makan tempatku bisa mengganjal perutku. Tapi kali ini tak pantas saja aku mengharapkan itu semua. Yg ada, halaman luas menghampar, daun2 gugur berserakan, pintu dan jendela rumah tertutup, dan hanya satu pintu utama yg terbuka. Aku segera masuk, n menuju kamar simbah seolah ku tahu pasti simbah ada di ruang itu. Dan, ya, memang benar. Dg suaranya yg setengah merintih, mungkin karena perih, ia masih sempat menyambutku, n memberi instruksi padaku untuk istirahat dulu. Ah!

Aku segera menjelajah ruang-ruang yang kini memang "kosong", di rumah itu. Berdebu, dan lembab. Kubuka jendela-jendela yg setahun lalu biasa terbuka, n pintu-pintu yg sepantasnya dibuka. Kuambil sapu, dan... ya, melakukan kebiasaanku seperti tahun-tahun lalu saat berkunjung ke rumah ini: menyapu.

Ya. Aku teringat, dulu pernah aku berkata pada ayahku saat aku diminta menyapu daun-daun berserakan di halaman rumah ini, "kenapa mesti disapu tiap pagi? toh nanti daun-daunnya juga akan berguguran lagi dan kotor lagi,". Jawabannya kutemukan setidaknya setahun yg lalu, ketika simbah kakung dan simbah putriku dua-duanya sedang sakit, dan saat itu aku ke rumah ini, lalu mendapati halaman rumah yg begitu aku melihatnya, aku langsung bertanya dalam hati, "berapa hari tak disapu ya?".

Dan baru kemarin sore aku berniat, untuk menyapu halaman "rumahku" secara rutin. Ya, ruang-ruang di qalbuku.

05 September 2010

tolong



aku mulai tak yakin arah…
mulai tak percaya di mana timur atau barat,
pun selatan atau utara,

aku sakit..
dan mulai tak percaya pada yg selalu diungkit
tentang obat-obat yg katanya turun dari langit..

aku lapar..
dan mulai tak percaya, pada kabar-kabar
tentang makanan yang katanya tersedia di pasar-pasar,

aku haus..
dan mulai tak percaya, pada pemberitaan
tentang air yg katanya jernih menyegarkan,
pun pada air hujan

aku kedinginan…
dan mulai tak percaya,
pada kain-kain yg katanya menghangatkan..
pun pada jahe, atau wedang ronde

tolong,

jogja, 5 september 2010

27 Agustus 2010

pendefinisian Tuhan


Hmm, saya belum belajar ilmu filsafat. Saya juga bukan orang yg punya pengetahuan agama yang baik. Tentang Tuhan, apalagi. Tulisan saya juga bukan tulisan yg serius. Tak banyak tokoh yg saya kutip teorinya, atau buku yg mungkin saya tarik kesimpulannya. Tak banyak memang. Hehe.. Ya, karena memang saya belum menjadi pembaca buku yg baik. Ya, belum mampu membaca buku sampai tuntas. Sering cuma setengah-setengah saja. Mungkin ini tak baik.

Meski demikian, tak apalah saya coba menulis. Memang ini sesuatu yang belum pernah saya coba urai sebelumnya. Baru diskusi-diskusi singkat dengan beberapa teman.

Tentang atheisme. Atau, lebih tepatnya tentang pendefinisian Tuhan. Hehe… agak aneh memang, Tuhan kok didefinisikan (baca: dibuat batasannya). Tuhan mungkin tak terbatas. Tapi bagi manusia, memahami sesuatu yang “tak terbatas” mungkin bukan hal yg mudah. Ya, karena segala kemampuan indra manusia terbatas, sebatas apa yg mampu ia pikirkan. Jadi, sebelumnya saya merasa perlu minta maaf bagi pembaca yg kurang berkenan atas pendefinisian Tuhan sedang saya bicarakan ini. Hehe.. Tulisan ini sebenarnya lebih saya tujukan untuk diri saya sendiri, untuk mengurai benang di otak saya yang belum pernah diurai sebelumnya.

Atheisme bisa diartikan sebagai tak bertuhan. Dua tahun yang lalu saya pernah menulis tentang atheisme ini. Setelah saya baca lagi, saya malah tertawa sendiri.. #menertawakandirisendiri, ternyata pemahaman saya saat itu masih sangat lugu, lucu, terlalu polos, masih terlalu sempit, hehe... silakan pilih sendiri kata yg tepat untuk menggambarkannya. :))

Semakin banyak bertemu orang (meski cuma di dunia maya), saya menemukan banyak yang mengaku tak bertuhan atau atheis. Ternyata tak sedikit, dan sepertinya kian hari kian bertambah saja. Sayangnya memang di Indonesia ini atheis tak diakui. Ada kolom “agama” di KTP yang mesti diisi, hehehe..

Saya sering menjumpai ungkapan yang senada dengan: “Saya melakukan pencarian terhadap Tuhan. Tapi ternyata Tuhan yang dulu saat balita diperkenalkan orang tuaku padaku, masih belum bisa dibuktikan keberadaannya”. hmm,… saya sering merenungi pernyataan2 semacam ini..

Hmm, OK, sebenarnya dalam benak kita, siapakah Tuhan itu? Seperti apakah Dia? Di manakah Dia berada?

Dalam pandangan saya –saat ini-, atheisme adalah tentang pendefinisian Tuhan. Bagaimana kita mendefinisikan Tuhan, ini yang sangat menentukan bagi kita untuk mengaku atheis, atau theis. Mengaku tak berTuhan, atau berTuhan.

Seiring pertumbuhan manusia, seringkali pemahamannya tentang Tuhan mengalami perkembangan pula. Saat masih berusia 6 tahun, mungkin manusia masih mempunyai pengertian yang sangat sederhana tentang Tuhan. Saat 20 tahun, pengertiannya tentang Tuhan mungkin telah jauh berbeda, biasanya meluas. Jika tidak, biasanya terjadi penihilan, peniadaan, atau mungkin ketakpedulian, atau justru pembohongan diri.

Jujur, jika saat ini saya masih memahami Tuhan sebagaimana saya memahamiNya 16 tahun silam, barangkali saya lebih baik mengaku atheis saja. Hehehe… Saya tak akan bisa menerima kehadiran Tuhan yang seperti itu, untuk saat ini. Tetapi saya telah mendefinisikan Tuhan dengan definisi yang telah sangat berbeda dengan definisi yang dihadiahkan oleh lingkungan saya 16 tahun silam. Hmm, memang tak dapat dipungkiri, saya perlu berterima kasih pada banyak orang mengenai hal ini..., para sahabatku di dunia nyata, maya, atau dunia kertas (buku), hehehe... tapi Nietzche sebenarnya yang sangat berhasil membuat saya mau bersenda gurau dengan keraguan-keraguan saya.

Lalu seperti apakah definisi Tuhan-ku sekarang?

Awalnya saya berniat menguraikannya di sini, karena ini memang hal yang belum pernah saya urai secara tertulis sebelumnya. Tapi barusan saya merasa…, ah! Saya tak ingin berlaku seperti lingkungan saya 16 tahun silam, menghadiahkan definisi Tuhan pada orang lain. Mungkin biarlah definisi Tuhan itu didapat melalui pengalaman masing2 individu.. hmm (?)

Tapi saya ingin sekali mengungkapkan hal berikut ini: apalah artinya kita mengaku berTuhan atau tak berTuhan.. apalah artinya pengakuan itu, jika laku kita di kehidupan ini masih seperti tak berakal budi..

Akhirnya, seperti biasa, ini memang catatan yang tak penting untuk dibaca sebenarnya, hehehe…

21 Agustus 2010

senyum


Aku ingin tersenyum… seperti anak-anak kecil di sana.. tanpa beban..
Aku ingin tersenyum lepas, seperti anak-anak itu …
tanpa ada beribu pengetahuan yg membuat kaku pipiku tuk mengembang..
Aku ingin tersenyum lepas…, seperti anak-anak itu…
bermain ke sana kemari …
tanpa ada deretan tanggung jawab yang setiap saat mengikatku di kursi ini..

Aku ingin tersenyum lepas …, seperti anak-anak itu…
tanpa hiraukan tuntutan dari orang-orang itu.. yg setiap saat seperti membuatku lupa bagaimana cara tersenyum…

Ah….! Anak-anak itu ….
Tapi kutahu ku tak bisa tersenyum seperti mereka...
ada jurang pengetahuan dan emosi di antara kami ...

Lalu ku bertemu sesosok ayah..
Seorang ayah yang telah merasai manis asam asin getir n pahitnya kehidupan …
seorang ayah yg mesti menghidupi anak-anak dan istrinya…
seorang ayah yg tiap detiknya terikat oleh tanggung jawab… seorang ayah yg tiap menitnya kadang terganggu oleh omongan tetangga…
seorang ayah yg di balik keringatnya ada antrian panjang tuntutan kehidupan…
Tapi tiap kali aku bertemu dgnya…

senyumnya tak pernah lupa ia berikan..
senyum yg jauh lebih menyejukkan ...
senyum yg membuat sadar bahwa aku juga bisa tersenyum seperti anak-anak itu..
Ah..! aku ingin belajar tentang senyum dari seorang ayah ini…




***

17 Agustus 2010

menginginkan kemerdekaan

Wow, hari ini telah bertambah usia negeriku…, yang tentu saja, pada tiap tahun peringatan proklamasi ini, semua orang berlomba untuk bertanya, “sudah benar-benar merdeka-kah kita?”..

Teringat dulu waktu masih duduk di bangku sekolah, hampir setiap mendekati tanggal 17 agustus, ada tugas dari guru untuk menulis artikel tentang kemerdekaan, hehe.. Dan dalam setiap artikel yang kutulis, pasti selalu ada kalimat tanya yang senada dengan: “sudah benar-benar merdeka-kah kita?”

Bosan rasanya bercerita tentang berbagai alasan yang membuat kita selalu melontarkan pertanyaan senada di setiap hari proklamasi kemerdekaan. Bosan pula rasanya mendengar berbagai tuntutan akar rumput pada pohon-pohon nan menjulang.
“Hey, harga sembako kok mahal?”,
“lumpur lapindo ora rampung-rampung woi..!”
“hey, kau kirim bom 3 kg ke rumah kami? Apa maksudnya ini??”,
“kenapa kau diamkan saja segala perusakan n tindak anarkis ini?”,
“tak adil pula kau urusi masalah pertikaian agama?”,
“kau korupsi lg uang pajak kami, uang hasil jerih payah kami bekerja?”
“mana realisasi janji kalian?”
“berhentilah curhat, pak pemimpin, kami lelah mendengarnya,”
“kami dengan 300 ribu sebulan saja masih bisa hidup. Kau, dengan puluhan jutamu, masih minta fasilitas tambahan yg lebih???”
“puluhan juta kami berikan untukmu agar kau perjuangkan kesejahteraan kami, tapi kau masih sempat tidur pula di meja rapat?”
“mana becus kau urus kenakalan negara tetangga itu? Masalah dalam negeri sj kacau balau,”
Maaf kalo agak kasar…, saya cuma menirukan tuntutan para tetangga, hehehe… memang bosan rasanya membaca, mendengar, n melihat orang berlomba2 menuntut, berlomba-lomba protes, berlomba-lomba memaki, berlomba-lomba mengeluh.. (memangnya kamu ga ikut mengeluh, cit?) wkwkwkw.. karena telah terlalu banyak yg mengeluhkannya dan telah terlalu banyak alternative solusi yg tak diindahkan, maka saya pikir lebih baik saya simpan saja keluhan saya dalam pikiran, hehehe… menghemat energi, dan fokus pd pemikiran: sebenarnya apa yang rusak n apa yang kita butuhkan?

Hm, OK, mungkin tak ada salahnya kita coba flashback segala permasalahan yg melanda negeri kita. Mari kita munculkan kembali gambar2 peristiwa2 di negeri kita, yg sering kita lihat di TV, di Koran, di dunia maya, di sekitar kita.. Dan coba ingat-ingat lagi berbagai perdebatan pelik tentang berbagai alternative solusi atas permasalahan itu. Lalu, adakah yg telah berdampak langsung terhadap kesejahteraan para akar rumput seperti saya ini? Wkwkwkw… (oalah cit, ngeluh to kowe?) Bukan, ini bukan keluhan, ini cuma pertanyaan, hahaha.. padahal apa bedanya ya?

Segala ketidakbaikan ini telah men-sistem.. Dan juga membuat sistem otak kita menghasilkan respon rasa berupa: pesimisme. Hanya pesimisme yg kadang muncul jika kita terlalu mengharapkan perubahan pada orang lain. (masa’ sich??!)

Namun terlepas dari itu, tetap ada suatu optimisme. Ya, ketika segala di luar diri kita mulai tak bisa kita masukkan dalam daftar optimism kita, ketika kita merasa membohongi diri saat mengucapkan dan menuliskan harapan-harapan kita atas perbaikan di negeri kita, … selalu ada yg masih bisa kita andalkan: diri kita sendiri. Menginginkan perubahan? Jadilah perubahan itu. Menginginkan keindahan? Jadilah keindahan itu. Menginginkan system yg baik? jadilah system yg baik itu, ciptakan hidup yg tersistem dengan baik dalam diri kita masing-masing, dan kehidupan akan mensistem dg baik pula dg sendirinya..

Kalau ada yang bilang, indonesia butuh pemimpin yang bla.. bla.. bla.. begini.. dan begitu…. Anda tahu ujung-ujungnya anda kesulitan mencari sosok seperti itu. Jadi dibalik saja, Indonesia cuma butuh rakyat yang menyadari hakikat kasih sayang, yang merdeka jiwanya. Indonesia butuh kita.
Menginginkan kemerdekaan? Jadilah kemerdekaan itu.

Bagaimanapun, habis malam pasti datang pagi, karena bumi masih berotasi, dan matahari masih memancarkan sinarnya di balik sana.. Optimislah.. (loh?!)

^_~

Kutujukan tulisan ini terutama untuk diriku sendiri, yg masih bodoh tentang kemerdekaan.
Pagi ini, kudengar suara lirih yg menderu dalam dada.., kubenamkan segala ego yang berdesak ingin menyeruak, lalu kupekikkan bisik lirih ke dalam jiwaku: "merdeka ... "

Selamat Memperingati Hari Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang ke-65..

***

15 Agustus 2010

kau ini bagaimana atau aku harus bagaimana

Kau ini bagaimana?
kau bilang aku merdeka, kau memilihkan untukku segalanya
kau suruh aku berpikir, aku berpikir kau tuduh aku kafir

aku harus bagaimana?
kau bilang bergeraklah, aku bergerak kau curigai
kau bilang jangan banyak tingkah, aku diam saja kau waspadai

kau ini bagaimana?
kau suruh aku memegang prinsip, aku memegang prinsip kau tuduh aku kaku
kau suruh aku toleran, aku toleran kau bilang aku plin plan

aku harus bagaimana?
aku kau suruh maju, aku mau maju kau selimbung kakiku
kau suruh aku bekerja, aku bekerja kau ganggu aku

kau ini bagaimana?
kau suruh aku takwa, khotbah keagamaanmu membuatku sakit jiwa
kau suruh aku mengikutimu, langkahmu tak jelas arahnya

aku harus bagaimana?
aku kau suruh menghormati hukum, kebijaksanaanmu menyepelekannya
aku kau suruh berdisiplin, kau mencontohkan yang lain

kau ini bagaimana?
kau bilang Tuhan sangat dekat, kau sendiri memanggil-manggilnya dengan pengeras suara tiap saat
kau bilang kau suka damai, kau ajak aku setiap hari bertikai

aku harus bagaimana?
aku kau suruh membangun, aku membangun kau merusakkannya
aku kau suruh menabung, aku menabung kau menghabiskannya

kau ini bagaimana?
kau suruh aku menggarap sawah, sawahku kau tanami rumah-rumah
kau bilang aku harus punya rumah, aku punya rumah kau meratakannya dengan tanah

aku harus bagaimana?
aku kau larang berjudi, permainan spekulasimu menjadi-jadi
aku kau suruh bertanggungjawab, kau sendiri terus berucap wallahu a’lam bissawab

kau ini bagaimana?
kau suruh aku jujur, aku jujur kau tipu aku
kau suruh aku sabar, aku sabar kau injak tengkukku

aku harus bagaimana?
aku kau suruh memilihmu sebagai wakilku, sudah kupilih kau bertindak sendiri semaumu
kau bilang kau selalu memikirkanku, aku sapa saja kau merasa terganggu

kau ini bagaimana?
kau bilang bicaralah, aku bicara kau bilang aku ceriwis
kau bilang jangan banyak bicara, aku bungkam kau tuduh aku apatis

aku harus bagaimana?
kau bilang kritiklah, aku kritik kau marah
kau bilang carikan alternatifnya, aku kasih alternatif kau bilang jangan mendikte saja

kau ini bagaimana?
aku bilang terserah kau, kau tidak mau
aku bilang terserah kita, kau tak suka
aku bilang terserah aku, kau memakiku

kau ini bagaimana?
atau aku harus bagaimana?

1987
Mustofa Bisri (Gus Mus)

***

14 Agustus 2010

selamat tahun baru, kawan

oleh Mustofa Bisri

Selamat tahun baru, kawan
Kawan, sudah tahun baru lagi
Belum juga tibakah saatnya kita menunduk
Memandang diri sendiri
Bercermin firman Tuhan sebelum kita dihisabnya

Kawan, siapakah kita ini sebenarnya
Musliminkah..? mukminin..? muttaqin?
Khalifah Allah..? umat Muhammad-kah kita?
Khoiro Ummatinkah kita?
Atau kita sama saja dengan makhluk lain
Atau bahkan lebih rendah lagi
Hanya budak budak perut dan kelamin
Iman kita kepada Allah dan yang Ghaib
Rasanya lebih tipis dari uang kertas ribuan
Lebih pipih dari kain rok perempuan
Betapapun tersiksanya kita khusuk didepan massa
Dan tiba tiba buas dan binal justru saat disaat sendiri bersama-Nya

Syahadat kita rasanya seperti perut bedhug
Atau pernyataan setia pegawai rendahan aja
Kosong....Tak Berdaya
Shalat kita rasanya lebih buruk dari senam ibu ibu
Lebih cepat daripada menghirup kopi panas
Dan lebih ramai daripada lamunan seribu anak muda

Doa kita sesudahnya justru lebih serius
Kita memohon hidup enak didunia dan bahagia di surga
Puasa kita rasanya sekedar mengubah jadwal makan minum dan saat istirahat
Tanpa menggeser acara buat syahwat
Ketika datang lapar atau haus kita pun manggut manggut
Oh beginikah rasanya dan kita sudah merasa memikirkan saudara saudara kita yang melarat
Zakat kita jauh lebih dari berat terasa
Dibanding tukang becak melepas penghasilannya
Untuk kupon undian yang sia sia
Kalaupun terkeluarkan harapan pun tanpa ukuran
Upaya upaya Tuhan menggantinya berlipat ganda

Haji kita tak ubahnya tamasya menghibur diri
Mencari pengalaman spiritual dan material
Membuang uang kecil dan dosa besar
Lalu pulang membawa label suci asli made in Saudi
Haji...

Kawan...,
Lalu bagaimana, bilamana dan berapa lama kita bersamanya
Atau kita justru sibuk menjalankan tugas mengatur bumi seisinya
Mensiasati dunia sebagai khalifahnya

Kawan...,
Tak terasa kita memang semakin pintar
Mungkin kedudukan kita sebagai khalifah mempercepat proses kematangan kita
Paling tidak kita semakin pintar berdalih
Kita perkosa alam dan lingkungan demi ilmu pengetahuan
Kita berkelahi demi menegakkan kebenaran
Melacur dan menipu demi keselamatan
Memamerkan kekayaan demi mensyukuri kenikmatan
Memukul dan mencaci demi pendidikan
Berbuat semaunya demi kemerdekaan
Tidak berbuat apa apa demi ketentraman
Membiarkan kemungkaran demi kedamaian
Pendek kata demi semua yang baik halallah semua sampaipun yang paling tidak baik

Lalu bagaimana para cendekiawan dan seniman
Para mubaligh dan Kiai
Penyambung lidah nabi
Jangan ganggu mereka...
Para cendekiawan sedang memikirkan segalanya
Para seniman sedang merenungkan apa saja
Para mubaligh sedang sibuk berteriak kemana mana
Para Kiai sedang sibuk berfatwa dan berdoa
Para pemimpin sedang mengatur semuanya
Biarkan mereka diatas sana
Menikmati dan meratapi nasib dan persoalan mereka sendiri

Kawan, Selamat Tahun Baru
Belum juga tibakah saatnya kita menunduk
Memandang diri sendiri..

***

Hehehe... Mungkin tak tepat waktu aku mempostkannya, tapi semoga tetap bisa diambil hikmahnya bg yang membacanya, ^_^

---

bila kutitipkan -oleh Mustofa Bisri-

bila kutitipkan dukaku pada langit, pastilah langit memanggil mendung
bila kutitipkan resahku pada angin, pastilah angin menyeru badai
bila kutitipkan geramku pada laut, pastilah laut meggiring gelombang
bila kutitipkan dendamku pada gunung, pastilah gunung meluapkan api

tapi…

akan kusimpan sendiri mendung dukaku dalam langit dadaku
kusimpan sendiri badai resahku dalam angin desahku
kusimpan sendiri gelombang geramku dalam laut pahamku
kusimpan sendiri api dendamku dalam gunung resamku
kusimpan…sendiri…

1415 H

***

13 Agustus 2010

sangat tak penting

Aku tak sebaik yang kau pikirkan.., aku juga mungkin lebih buruk dari yg terburuk yang pernah kau pikirkan.
Tak penting memang membahas hal ini. Toh, apa untungnya buatmu? Memang tak ada. Buatku, juga tak ada untungnya sama sekali, karena memang ku tak cari untung. Aku cuma ingin menulis, itu saja. Dan karena aku sedang tak tahu apa yang ingin kutulis, maka kutulis ini.
Hey, apa ini?! Ngomong apa kamu cit?
Hmh, entahlah, aku tlah tiba di saat di mana semua hal yg berbulan-bulan kulakukan ini tampaknya bullshit bgt. Dan apa yang dia sampaikan, dan apa yg dia bicarakan, dan apa yang dia lakukan, dan apa yg dia ejawantahkan, dan apa yg dia inginkan, tak ada artinya sama sekali. Ah, entahlah, kosong, dan apa yg sebenernya mereka inginkan dengan segala ucapan mereka?
Oh, cuma untuk dikenal... oh, cuma untuk eksis.. oh, cuma untuk mendapatkan perhatiannya.. oh, cuma untuk ini toh... oh, cuma untuk berpengaruh,.. oh, cuma untuk segala bayang semu itu..
Sejak kpn aku begitu peduli ttg kepentinganmu? Aaargh...!!! Aku hanya bosan n muak dg segala ego negatifmu..

Apa hakku memaki? Aku tak berhak, aku tlah membuat batasan bagi diriku untuk tak memaki, memang. Tapi apa bedanya tulisan ini dg makian? Apa bedanya pikiran ini dengan makian? Ah! Ya itu tadi, seperti kubilang di awal tulisan ini, memang aku tak sebaik yg kau pikirkan, aku juga mungkin lebih buruk dari yg terburuk yang pernah kau pikirkan.

***