Seharian beraktivitas, A makan malam bersama B,
B : apa yang sebenarya kaucari?
A : (cukup lama berpikir dan akhirnya menggelengkan kepala) aku tak tahu, entahlah… untuk apa aku beraktivitas seharian ini? apa yang kucari?
B : kau mencari uang.. (lalu menyeruput jus mangga di mejanya)
A : uang? (mengaduk-aduk es campurnya) iya sih, tapi sepertinya bukan cuma itu.. ada sesuatu yang lain yang seharusnya kucari, nonmaterial…
B : kau mencari popularitas? (menyendok nasi gorengnya)
A : ah! apa pula itu? (ada yang membenarkan di hatinya) tapi harusnya bukan itu yang kucari… itu hampa… penuh dengan pintu kekecewaan… manusia tak pernah sempurna… (menikmati capcay gorengnya)
B : mungkin kau mencari pahala?
A : pahala? (beberapa detik terdiam) bukan… mungkin seharusnya bukan itu yang kucari… aku tak peduli, Tuhan mau memberiku imbalan macam apa… (melanjutkan menyantap sesendok capcay-nya)
B : kau mencari surga? (masih asyik dengan nasi gorengnya)
A : ah! sama saja itu dengan pahala… aku cuma ingin memberi dan tak mengharap imbalan dari siapapun… (agak menggelengkan kepalanya)
B : aku tahu, kau mencari cinta… (beralih ke jus mangganya)
A : cinta? (cukup lama pandangnya menerjang apa yang ada di depannya, tak tahu kemana…, dan sendoknya menggantung…) ya, mungkin cinta yang kucari.. tapi cinta terlalu abstrak… aku tak mengharap cinta dari yang lain, aku ingin mencinta, tapi apa yang musti dicinta?
B : kau mencari ‘raga’ untuk dicinta? (beralih lagi ke nasi gorengnya)
A : raga? ia fana, akan rusak dan hancur… lalu harus kukemanakan cintaku jika sang raga itu telah rusak dan hancur?
B : kau mencari ‘jiwa dan raga’ untuk dicinta?
A : jiwa dan raga? suatu kesatuan? bagaimana jika nantinya sang raga mati, harus kukemanakan separuh cintaku?
B : jadi, kau hanya mencari ‘jiwa’ untuk dicinta?
A : (ia menarik dan menghembuskan nafas cukup panjang, dan pandangannya terus menerjang ke depan) jiwa… iya… tapi bahkan kemana jiwa itu pergi setelah tak punya raga, aku pun masih bertanya-tanya…
B : oh, aku tahu, ternyata kau masih mencari Sang Cinta untuk dicinta…
beberapa detik terdiam, saling pandang, lalu keduanya kembali asyik menyantap hidangannya masing-masing…
***
Penjelajahan, dalam diri, dalam detail, dalam suasana, dalam kata, dalam angka, dalam semesta, dalam waktu... sampai kapanpun, will always be more delicious
Tampilkan postingan dengan label pertanyaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pertanyaan. Tampilkan semua postingan
31 Mei 2010
episode makan malam
Label:
inspirasi,
makan malam,
motivasi,
percakapan,
persahabatan,
pertanyaan,
refleksi,
renungan
21 Agustus 2009
Cinta bukan sekedar kata
Cintailah Allah sebelum kau mencintai yang lain…
Ungkapan itu dulu begitu abstrak bagiku. Dulu aku selalu memaksa diriku untuk bisa memahaminya. Selalu kucoba untuk mengertinya… membayangkan bahwa aku harus menghormati, tunduk, cinta, patuh, dan mengingat sosok Allah… Maaf jika kusebut sosok, karena saat itu aku memang masih memahami Allah itu sebagai sosok…, yang tak kuketahui wujud-Nya seperti apa.
Dulu, yang ada dalam bayanganku adalah bahwa Ia sangat Besar karena ia Maha Besar, Maha tinggi, maha suci, maha segala-galanya… tak ada yang menandingi kebesarannya. Ia di atas segala-galanya. Pernah aku berpikir, dimana Ia duduk? dimana Ia berdiri? dimana rumahNya? Apakah di luar jagat raya ini? Ataukah ia melingkupi seluruh jagat raya ini? Lalu, sosoknya berupa apa? Lalu, ada yang bilang, Allah itu ada dimana-mana, tangan Allah ada dimana-mana. Baru saja aku mau mensintesa suatu pemahaman baru, terburu-buru ada yang meralatnya, bahwa katanya, yang benar adalah bahwa Allah itu tempat tinggalnya hanya satu, bersemayam di atas ‘arsy-Nya yang agung. Kembali aku berpikir, arsy : kursi. Berarti Allah duduk di atas singgasana yang super besar? dimana? Seperti apakah? Lalu kubaca buku, yang menurut analisis penulisnya, Arsy Allah itu terbuat dari ‘air’. Air? Segera saja otakku berimajinasi lagi membayangkan singgasana yang terbuat dari air, dan sangat megah… lalu di atasnya ada Allah.
Dulu saat masih TK, pernah terpikir, wujud Allah itu seperti manusia raksasa. Lalu, orang-orang bilang, Allah itu beda dari makhlukNya. Lalu aku pun meralat pemikiranku. Mencoba mereka-reka seperti apakah Allah itu? Lalu ada yang bilang bahwa cahaya Allah itu tak pernah redup, cahaya di atas cahaya…. Aku pun jadi berpikir, mungkinkah Allah itu bentuknya seperti bola cahaya yang terang benderang? Tetapi sekali lagi ada yang memarahiku karena katanya, bukannya cahaya itu juga makhluk ciptaan Allah? Kan Allah beda dari makhlukNya? Hah…. bingung lagi…. bingung lagi… Soalnya susah jika berdoa tanpa membayangkan ada sosok yang sedang mendengarkan doaku… Dan susah juga untuk mencerna kalimat, “La tahzan, innallaha ma’ana” tanpa membayangkan ada sosok yang sedang menyemangati dan terus memotivasiku.
Lalu, ada yang menghentikanku membayangkan sosok Allah, yaitu suatu pernyataan dari orang-orang bahwa manusia itu dilarang berpikir tentang zat Allah, karena hanya akan mejerumuskan manusia pada kesesatan. Saat mendengar hal itu, sebenarnya aku ingin bertanya, mengapa? kok bisa? Tapi, aku sadar kalau aku hanya mencari pembenaran atas pendapatku, jadi aku urungkan. Dan aku terus menipu diriku, bahwa aku mempercayai kebenaran pernyataan “tidak dibenarkan berpikir tentang zat Allah”. Dan itulah yang kujawab ketika temanku yang suka berpikir terlalu mendalam, menanyakannya padaku.
Tetapi, sesuatu yang terus ditekan di alam bawah sadar, nggak akan hilang, malah akhirnya akan mencuat dan meledak.
Suatu kali aku ngobrol dengan seorang teman yang pemahamannya tentang hidup dan kehidupan ini lebih luas dariku, dan dari perspektif yang beda juga dariku. Tak kusangka, ia bertanya, “bagaimana caramu mengingat Allah? Padahal, kamu belum pernah melihat sosok-Nya?”
Kupikir, iya juga ya? bagaimana caraku mengingat Allah? Jawabanku saat itu nggak jelas juntrungannya alias mbulet. haha…, biasa…. Tetapi jawaban temanku saat itu, masih kuingat sampai sekarang, “Mengingat Allah: dengan membaca, mempelajari, dan mengaplikasikan firman-firman-Nya di kitab suci dalam hidup dan kehidupan kita.”
Iya, saat itu, kenapa aku nggak kepikiran kesana ya? Padahal itu adalah jawaban yang sangat logis.
Saat itu aku nyeletuk, “iya ya? manusia kan tidak bisa melihat Allah?”
Temanku mengerutkan dahinya, “Tidak bisa melihat sosok Allah, memang iya. Tetapi manusia dikaruniai indera untuk bisa melihat kerja Allah, melihat hasil karya cipta Allah, melihat sistem Allah yang bekerja di alam semesta…., sistem yang sempurna…. Contohnya, adanya gaya gravitasi di bumi, rotasi planet-planet, revolusi planet-planet mengelilingi bintang, dan bahkan di sel tubuh manusia juga terdapat sistem ciptaan Allah yang sempurna, atau di atom-atom penyusun materi: terdapat sistem yang sempurna antara electron, neutron, ataupun proton.”
Lalu, bagaimana bentuk cinta manusia kepada Allah? Sahabatku menjawab, “dengan mengabdi kepada-Nya, tidak menyimpang dari sistem-Nya…, dan bila sistemNya telah dirobohkan, cintanya adalah dengan menegakkannya lagi….”
Dia melanjutkan, “Sistem Allah yang sempurna itu harusnya juga berlaku dalam kehidupan manusia. Tetapi, saat ini belum berlaku. Saat ini banyak manusia yang mengaku mencintai Allah melebihi apapun, tapi ia tak berbuat apapun untuk menegakkan kembali sistem Allah itu… Mungkin itu yang dimaksud dengan pernyataan alkitab bahwa : Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia (Mat,15: 8-9). Juga kata Al-Quran bahwa: Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelummu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut padahal mereka telah diperintahkan mengingkari thaghut itu, dan setan bermaksud menyesatkan mereka dengan kesesatan yang sejauh-jauhnya (QS 4:60)”
Lanjutnya, “Cinta itu tak cukup hanya diikrarkan di bibir saja, hanya sekedar kata, tetapi harus dibuktikan dengan tindakan, pengabdian kepada apa Yang dicintai, sesuai keinginanNya…”
***
Ungkapan itu dulu begitu abstrak bagiku. Dulu aku selalu memaksa diriku untuk bisa memahaminya. Selalu kucoba untuk mengertinya… membayangkan bahwa aku harus menghormati, tunduk, cinta, patuh, dan mengingat sosok Allah… Maaf jika kusebut sosok, karena saat itu aku memang masih memahami Allah itu sebagai sosok…, yang tak kuketahui wujud-Nya seperti apa.
Dulu, yang ada dalam bayanganku adalah bahwa Ia sangat Besar karena ia Maha Besar, Maha tinggi, maha suci, maha segala-galanya… tak ada yang menandingi kebesarannya. Ia di atas segala-galanya. Pernah aku berpikir, dimana Ia duduk? dimana Ia berdiri? dimana rumahNya? Apakah di luar jagat raya ini? Ataukah ia melingkupi seluruh jagat raya ini? Lalu, sosoknya berupa apa? Lalu, ada yang bilang, Allah itu ada dimana-mana, tangan Allah ada dimana-mana. Baru saja aku mau mensintesa suatu pemahaman baru, terburu-buru ada yang meralatnya, bahwa katanya, yang benar adalah bahwa Allah itu tempat tinggalnya hanya satu, bersemayam di atas ‘arsy-Nya yang agung. Kembali aku berpikir, arsy : kursi. Berarti Allah duduk di atas singgasana yang super besar? dimana? Seperti apakah? Lalu kubaca buku, yang menurut analisis penulisnya, Arsy Allah itu terbuat dari ‘air’. Air? Segera saja otakku berimajinasi lagi membayangkan singgasana yang terbuat dari air, dan sangat megah… lalu di atasnya ada Allah.
Dulu saat masih TK, pernah terpikir, wujud Allah itu seperti manusia raksasa. Lalu, orang-orang bilang, Allah itu beda dari makhlukNya. Lalu aku pun meralat pemikiranku. Mencoba mereka-reka seperti apakah Allah itu? Lalu ada yang bilang bahwa cahaya Allah itu tak pernah redup, cahaya di atas cahaya…. Aku pun jadi berpikir, mungkinkah Allah itu bentuknya seperti bola cahaya yang terang benderang? Tetapi sekali lagi ada yang memarahiku karena katanya, bukannya cahaya itu juga makhluk ciptaan Allah? Kan Allah beda dari makhlukNya? Hah…. bingung lagi…. bingung lagi… Soalnya susah jika berdoa tanpa membayangkan ada sosok yang sedang mendengarkan doaku… Dan susah juga untuk mencerna kalimat, “La tahzan, innallaha ma’ana” tanpa membayangkan ada sosok yang sedang menyemangati dan terus memotivasiku.
Lalu, ada yang menghentikanku membayangkan sosok Allah, yaitu suatu pernyataan dari orang-orang bahwa manusia itu dilarang berpikir tentang zat Allah, karena hanya akan mejerumuskan manusia pada kesesatan. Saat mendengar hal itu, sebenarnya aku ingin bertanya, mengapa? kok bisa? Tapi, aku sadar kalau aku hanya mencari pembenaran atas pendapatku, jadi aku urungkan. Dan aku terus menipu diriku, bahwa aku mempercayai kebenaran pernyataan “tidak dibenarkan berpikir tentang zat Allah”. Dan itulah yang kujawab ketika temanku yang suka berpikir terlalu mendalam, menanyakannya padaku.
Tetapi, sesuatu yang terus ditekan di alam bawah sadar, nggak akan hilang, malah akhirnya akan mencuat dan meledak.
Suatu kali aku ngobrol dengan seorang teman yang pemahamannya tentang hidup dan kehidupan ini lebih luas dariku, dan dari perspektif yang beda juga dariku. Tak kusangka, ia bertanya, “bagaimana caramu mengingat Allah? Padahal, kamu belum pernah melihat sosok-Nya?”
Kupikir, iya juga ya? bagaimana caraku mengingat Allah? Jawabanku saat itu nggak jelas juntrungannya alias mbulet. haha…, biasa…. Tetapi jawaban temanku saat itu, masih kuingat sampai sekarang, “Mengingat Allah: dengan membaca, mempelajari, dan mengaplikasikan firman-firman-Nya di kitab suci dalam hidup dan kehidupan kita.”
Iya, saat itu, kenapa aku nggak kepikiran kesana ya? Padahal itu adalah jawaban yang sangat logis.
Saat itu aku nyeletuk, “iya ya? manusia kan tidak bisa melihat Allah?”
Temanku mengerutkan dahinya, “Tidak bisa melihat sosok Allah, memang iya. Tetapi manusia dikaruniai indera untuk bisa melihat kerja Allah, melihat hasil karya cipta Allah, melihat sistem Allah yang bekerja di alam semesta…., sistem yang sempurna…. Contohnya, adanya gaya gravitasi di bumi, rotasi planet-planet, revolusi planet-planet mengelilingi bintang, dan bahkan di sel tubuh manusia juga terdapat sistem ciptaan Allah yang sempurna, atau di atom-atom penyusun materi: terdapat sistem yang sempurna antara electron, neutron, ataupun proton.”
Lalu, bagaimana bentuk cinta manusia kepada Allah? Sahabatku menjawab, “dengan mengabdi kepada-Nya, tidak menyimpang dari sistem-Nya…, dan bila sistemNya telah dirobohkan, cintanya adalah dengan menegakkannya lagi….”
Dia melanjutkan, “Sistem Allah yang sempurna itu harusnya juga berlaku dalam kehidupan manusia. Tetapi, saat ini belum berlaku. Saat ini banyak manusia yang mengaku mencintai Allah melebihi apapun, tapi ia tak berbuat apapun untuk menegakkan kembali sistem Allah itu… Mungkin itu yang dimaksud dengan pernyataan alkitab bahwa : Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia (Mat,15: 8-9). Juga kata Al-Quran bahwa: Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelummu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut padahal mereka telah diperintahkan mengingkari thaghut itu, dan setan bermaksud menyesatkan mereka dengan kesesatan yang sejauh-jauhnya (QS 4:60)”
Lanjutnya, “Cinta itu tak cukup hanya diikrarkan di bibir saja, hanya sekedar kata, tetapi harus dibuktikan dengan tindakan, pengabdian kepada apa Yang dicintai, sesuai keinginanNya…”
***
31 Mei 2009
kenapa sih?
Kenapa sih, manusia terlalu sombong untuk mengakui kesalahan diri?
Manusia selalu saja gengsi untuk mengakui kebenaran orang lain...,
Apakah memang keyakinan itu sesuatu yang sudah tidak bisa lagi diganggu gugat?
MENGAPA "ragu" tak boleh mengunjungi keyakinan itu?
MENGAPA mempertanyakan keyakinan dianggap salah?
MENGAPA sekadar untuk nge-cek apakah keyakinan ini benar atau salah saja dipersalahkan?
Kenapa sih? kalau memang jelas benar, mengapa banyak yang mempertanyakannya?
Selalu saja manusia menggembar-gemborkan tentang bahwa keyakinannya-lah yang paling benar, bukan sekedar doktrin, bukan taklid. Kalau nyatanya manusia hanya menerima saja tanpa memikirkannya lagi, sekedar percaya kepada yang memberikan tanpa menge-cek ke "sumber" kebenaran mutlak, ya apa bedanya dengan doktrin? apa bedanya dengan taklid?
bukankah saat ragu itu artinya sedang ada proses berpikir? melarang manusia untuk ragu, bukannya sama saja melarang manusia untuk berpikir? apa bedanya dengan pembodohan? penumpulan otak? katanya "pendidikan"? katanya "pembinaan"?
kenapa sih?
Manusia selalu saja gengsi untuk mengakui kebenaran orang lain...,
Apakah memang keyakinan itu sesuatu yang sudah tidak bisa lagi diganggu gugat?
MENGAPA "ragu" tak boleh mengunjungi keyakinan itu?
MENGAPA mempertanyakan keyakinan dianggap salah?
MENGAPA sekadar untuk nge-cek apakah keyakinan ini benar atau salah saja dipersalahkan?
Kenapa sih? kalau memang jelas benar, mengapa banyak yang mempertanyakannya?
Selalu saja manusia menggembar-gemborkan tentang bahwa keyakinannya-lah yang paling benar, bukan sekedar doktrin, bukan taklid. Kalau nyatanya manusia hanya menerima saja tanpa memikirkannya lagi, sekedar percaya kepada yang memberikan tanpa menge-cek ke "sumber" kebenaran mutlak, ya apa bedanya dengan doktrin? apa bedanya dengan taklid?
bukankah saat ragu itu artinya sedang ada proses berpikir? melarang manusia untuk ragu, bukannya sama saja melarang manusia untuk berpikir? apa bedanya dengan pembodohan? penumpulan otak? katanya "pendidikan"? katanya "pembinaan"?
kenapa sih?
Label:
inspirasi,
pendidikan,
pertanyaan
Langganan:
Postingan (Atom)