Seharian beraktivitas, A makan malam bersama B,
B : apa yang sebenarya kaucari?
A : (cukup lama berpikir dan akhirnya menggelengkan kepala) aku tak tahu, entahlah… untuk apa aku beraktivitas seharian ini? apa yang kucari?
B : kau mencari uang.. (lalu menyeruput jus mangga di mejanya)
A : uang? (mengaduk-aduk es campurnya) iya sih, tapi sepertinya bukan cuma itu.. ada sesuatu yang lain yang seharusnya kucari, nonmaterial…
B : kau mencari popularitas? (menyendok nasi gorengnya)
A : ah! apa pula itu? (ada yang membenarkan di hatinya) tapi harusnya bukan itu yang kucari… itu hampa… penuh dengan pintu kekecewaan… manusia tak pernah sempurna… (menikmati capcay gorengnya)
B : mungkin kau mencari pahala?
A : pahala? (beberapa detik terdiam) bukan… mungkin seharusnya bukan itu yang kucari… aku tak peduli, Tuhan mau memberiku imbalan macam apa… (melanjutkan menyantap sesendok capcay-nya)
B : kau mencari surga? (masih asyik dengan nasi gorengnya)
A : ah! sama saja itu dengan pahala… aku cuma ingin memberi dan tak mengharap imbalan dari siapapun… (agak menggelengkan kepalanya)
B : aku tahu, kau mencari cinta… (beralih ke jus mangganya)
A : cinta? (cukup lama pandangnya menerjang apa yang ada di depannya, tak tahu kemana…, dan sendoknya menggantung…) ya, mungkin cinta yang kucari.. tapi cinta terlalu abstrak… aku tak mengharap cinta dari yang lain, aku ingin mencinta, tapi apa yang musti dicinta?
B : kau mencari ‘raga’ untuk dicinta? (beralih lagi ke nasi gorengnya)
A : raga? ia fana, akan rusak dan hancur… lalu harus kukemanakan cintaku jika sang raga itu telah rusak dan hancur?
B : kau mencari ‘jiwa dan raga’ untuk dicinta?
A : jiwa dan raga? suatu kesatuan? bagaimana jika nantinya sang raga mati, harus kukemanakan separuh cintaku?
B : jadi, kau hanya mencari ‘jiwa’ untuk dicinta?
A : (ia menarik dan menghembuskan nafas cukup panjang, dan pandangannya terus menerjang ke depan) jiwa… iya… tapi bahkan kemana jiwa itu pergi setelah tak punya raga, aku pun masih bertanya-tanya…
B : oh, aku tahu, ternyata kau masih mencari Sang Cinta untuk dicinta…
beberapa detik terdiam, saling pandang, lalu keduanya kembali asyik menyantap hidangannya masing-masing…
***
Penjelajahan, dalam diri, dalam detail, dalam suasana, dalam kata, dalam angka, dalam semesta, dalam waktu... sampai kapanpun, will always be more delicious
Tampilkan postingan dengan label motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label motivasi. Tampilkan semua postingan
31 Mei 2010
episode makan malam
Label:
inspirasi,
makan malam,
motivasi,
percakapan,
persahabatan,
pertanyaan,
refleksi,
renungan
12 April 2010
Pramoedya A. T., nice quotation
Wartawan: "Bagaimana sikap Bung terhadap penahanan yang 10 tahun ini?"
Pram : "Bukan 10 tahun, memasuki 13 tahun. Dalam Mahabharata, orang dipisahkan dari masyarakatnya selama 13 tahun. Dalam Ramayana 14 tahun. Dalam sejarah Digul 14 tahun (1928 - 1942). Dalam sejarah exorbitante rechten (hak-hak luar biasa) Gubernur Jenderal 5 tahun, kecuali bagi golongan nasionalis kiri. Tentang pribadiku? Masa yang memasuki 13 tahun ini kuanggap sebagai akibat proses nasional belaka."
Wartawan: "Perasaaan Bung sendiri? Perasaan pribadi?"
Pram : "Tidak ada apa-apa. Pribadiku tidak penting dalam proses ini."
(nyanyi sunyi seorang bisu)
***
Pram : "Bukan 10 tahun, memasuki 13 tahun. Dalam Mahabharata, orang dipisahkan dari masyarakatnya selama 13 tahun. Dalam Ramayana 14 tahun. Dalam sejarah Digul 14 tahun (1928 - 1942). Dalam sejarah exorbitante rechten (hak-hak luar biasa) Gubernur Jenderal 5 tahun, kecuali bagi golongan nasionalis kiri. Tentang pribadiku? Masa yang memasuki 13 tahun ini kuanggap sebagai akibat proses nasional belaka."
Wartawan: "Perasaaan Bung sendiri? Perasaan pribadi?"
Pram : "Tidak ada apa-apa. Pribadiku tidak penting dalam proses ini."
(nyanyi sunyi seorang bisu)
***
07 April 2010
beban
Siti terbangun dini hari itu. Ia dapati jam dindingnya menunjukkan pukul 03.00. Mahasiswi yang sebentar lagi akan wisuda itu terbius sepi. Sunyi, yang sangat jarang ia rasakan.
Bertanya ia, dalam dirinya. Sekarang, skripsinya sudah selesai, sudah yudisium pula. Bukankah harusnya ia bisa merasa merdeka, bebas, seperti yang ia harapkan sejak dulu? Bebas dari skripsi, bebas dari kuliah, bebas dari tuntutan dosennya, bebas dari pertanyaan “kapan lulus?”. Tapi rasanya, ada yang berat mengganjal di hatinya, hingga ia merasa belum bebas, belum bisa ‘terbang’ sebebas elang-elang itu.
Sebentar ia termenung. Dan, ah, ya! “Aku akan menghadapi pertanyaan, ‘kerja dimana?’, ‘kapan nikah?’, ‘kapan punya rumah baru?’, ‘kapan punya anak’?’”
Tuntutan, beban. Siti seakan bertanya pada Tuhannya, “Kapan aku akan hidup merdeka, bebas dari segala tuntutan yang seakan memaksaku menjawabnya??”
Terdiam ia, merenungkan perjalanan hidupnya. Lalu….
Wow! Ia lahir 22 tahun yang lalu: -tuntutan neneknya atas kedua orang tuanya-
Ia besar, lalu sekolah, TK, SD, SMP, SMA : -tuntutan zaman, tuntutan orang tuanya-
Saat sekolah, ia juga tertuntut untuk jadi pintar, dapat nilai bagus, lulus tepat waktu setiap jenjangnya.
Kemudian ia kuliah: -tuntutan dunia kerja-. Ya, karena untuk lebih mudah dapat kerja, katanya harus punya ijazah S1. Dan saat kuliah, ia dapati beban 144 sks. Belum lagi, saat menyelesaikan skripsi yang penuh dengan tuntutan, baik dari dosen, teman, maupun saudara-saudaranya di rumah. Lalu sekarang ia dah lulus.
Angin yang masuk lewat jendela kamarnya menyapa wajahnya. Seakan ia temukan benang merah dalam perjalanan hidupnya. Ya, ini dia. Ia tuliskan di secarik kertas, sebuah pertanyaan: “apakah hidup itu hanyalah menanggung beban dan menjawab tuntutan?”.
Di luar, rumput bergoyang disapa angin, seperti saling bertanya satu sama lain, “Apakah Tuhan lupa memberitahu manusia untuk apa ia diciptakan?”.
***
Bertanya ia, dalam dirinya. Sekarang, skripsinya sudah selesai, sudah yudisium pula. Bukankah harusnya ia bisa merasa merdeka, bebas, seperti yang ia harapkan sejak dulu? Bebas dari skripsi, bebas dari kuliah, bebas dari tuntutan dosennya, bebas dari pertanyaan “kapan lulus?”. Tapi rasanya, ada yang berat mengganjal di hatinya, hingga ia merasa belum bebas, belum bisa ‘terbang’ sebebas elang-elang itu.
Sebentar ia termenung. Dan, ah, ya! “Aku akan menghadapi pertanyaan, ‘kerja dimana?’, ‘kapan nikah?’, ‘kapan punya rumah baru?’, ‘kapan punya anak’?’”
Tuntutan, beban. Siti seakan bertanya pada Tuhannya, “Kapan aku akan hidup merdeka, bebas dari segala tuntutan yang seakan memaksaku menjawabnya??”
Terdiam ia, merenungkan perjalanan hidupnya. Lalu….
Wow! Ia lahir 22 tahun yang lalu: -tuntutan neneknya atas kedua orang tuanya-
Ia besar, lalu sekolah, TK, SD, SMP, SMA : -tuntutan zaman, tuntutan orang tuanya-
Saat sekolah, ia juga tertuntut untuk jadi pintar, dapat nilai bagus, lulus tepat waktu setiap jenjangnya.
Kemudian ia kuliah: -tuntutan dunia kerja-. Ya, karena untuk lebih mudah dapat kerja, katanya harus punya ijazah S1. Dan saat kuliah, ia dapati beban 144 sks. Belum lagi, saat menyelesaikan skripsi yang penuh dengan tuntutan, baik dari dosen, teman, maupun saudara-saudaranya di rumah. Lalu sekarang ia dah lulus.
Angin yang masuk lewat jendela kamarnya menyapa wajahnya. Seakan ia temukan benang merah dalam perjalanan hidupnya. Ya, ini dia. Ia tuliskan di secarik kertas, sebuah pertanyaan: “apakah hidup itu hanyalah menanggung beban dan menjawab tuntutan?”.
Di luar, rumput bergoyang disapa angin, seperti saling bertanya satu sama lain, “Apakah Tuhan lupa memberitahu manusia untuk apa ia diciptakan?”.
***
06 April 2010
just a conversation
Each year, over than 21.000.000 people receive general anesthesia. The vast majority go to sleep peacefully. They remember nothing.
30.000 of this patients are not so fortunate. They find themselves unabe to sleep. Trapped in a phenomenon known as anesthesia awareness. These victims are completely paralyzed. They can’t scream for help. They are awake.
***
Itu prolog dalam film “Awake”. Tokoh Clay dalam film itu, menderita anesthesia awareness, dan ia baru tahu itu saat ia menjalani operasi transplantasi jantung. Ia tak bisa bergerak, tak bisa bicara untuk minta pertolongan - completely paralyzed-, tapi ia bisa merasa dan mendengar. Merasakan bagaimana sakitnya saat pisau membelah kulit dadanya, merasakan bagaimana sakitnya saat tulang rusuknya di potong, merasakan bagaimana sakitnya saat jantungnya diambil... Ia juga mendengar, mendengar apa yang sedang terjadi, mendengar ketika dokter yang adalah sahabatnya sendiri itu ternyata merencanakan akan membunuhnya saat operasinya itu dengan menyuntikkan adriamisin ke jantungnya yang baru, dan mendengar ketika istrinya yang baru saja dinikahinya semalam (yang karena itu ia harus berkonflik dengan ibunya), ternyata adalah dalang dalam perencanaan pembunuhan itu.
Dan mendengar, ketika akhirnya ibunya mendonorkan jantungnya untuknya.
Clay, dengan segala kesakitan yang telah diketahuinya, merasuki SMS-an Pinky and Brain.
Pinky : “Brain, I posted something in your new note! Sorry, coz hari ini dadaku berasa berat lg! tanpa sebab! bt! kayakna yang mesti test kejiwaan tu aku dech!”
Brain : “Thank u pinky.. I miss U”
Pinky : “Brain, aku punya hoby baru, nonton “Awake” pas adegan Clay mau pesta Halloween, pas dia diambil jantungna, pas dia ngrokok sendiri trus lampu2 mati sama pas dia inget kematian ayahna, ku ulang2 terus, aku masih bingung napa dia masih mau hidup!”
“Brain, i can’t find any reason to live Anestesia awareness, sekeras apapun aku membius diriku, aku masih sadar, masih bisa merasa, I need new heart, it’s my hell, tahu ini penyakit apa Brain?”
“Everything’s gonna be OK without me, Brain! I really want to sleep forever, no brain, no feeling again!”
Brain : “Ada hal yang tidak berjalan dengan OK jika kita tak lakukan apapun: diri kita sendiri. Allah menginginkan ciptaan-Nya tuk mengabdi padaNya. Di lain pihak, Ia membuat semuanya berjalan dengan OK-OK aja tanpa kita. Mungkin Ia ingin beritahu kita bahwa kitalah yang nggak akan OK kalo kita tetap berlagak terlelap. Bukan semesta ato Allah yang butuhkan pengabdian dari manusia, tapi manusia sendiri yang butuhkanya.”
“Tak lakukan apapun: menyia-nyiakan penciptaan kita. Mungkin dunia tak butuh pengabdianmu karena dunia pasti akan memenuhi kebutuhannya sendiri. Dunia menyambut mereka yang memilih tuk mengabdi. Tapi dunia tak memaksa mereka yang tak ingin mengabdi, karena pasti akan ada yang lain yang memilih tuk mengabdi. Memilih mengabdi: memilih menjadi terus berarti bagi dunia. Memilih terus melangkah. Terlalu banyak yang belum kita tahu, terlalu banyak yang belum kita mengerti, terlalu banyak yang belum kita lihat, terlalu banyak yang sesungguhnya belum kita dengar.. Tapi, dunia tak inginkan kita tuk sekedar menunggu agar semuanya menjadi jelas dengan sendirinya. Perjuangan tuk melihat, tuk mendengar, tuk tahu, tuk mengerti, tuk paham, kemudian menentukan pilihan langkah selanjutnya, bagian dari pengabdian yang memang tak mudah. Mungkin inilah falaq.”
“Apakah kita sudah pada tahap seperti saat Clay sudah mendengar semua yang sakitkannya, melihat semua yang hancurkannya? Dan pada akhirnya Clay harus memilih, untuk pergi tinggalkan semuanya, atau bangun tuk hadapi semuanya.”
“Ya, bagaimanapun juga, telah banyak yang berkorban untuk hidup kita.”
Pinky : “I’m so sorry Brain! I try to know what I feel, but it’s hard to tell to my self that I’m selfish, arrogant, and looser! Although it’s the fact. Seumur hidupku aku selalu mikir tentang hal yang kayak di film itu, sakit dan sendiri tapi berpura-pura jadi baik. Aku sadar kalo itu salah, nggak seharusnya anak kecil mikir tentang sakit. Aku jadi cari-cari tahu ke dalam diriku, apa yang terjadi, tapi aku belum tahu, jadi menerka-nerka sesukaku! Brain, I got something, maybe!”
“Jika Allah = dunia, dunia sakit, dunia butuh jantung baru, dunia lagi operasi. Orang-orang lain, sebagai bagian dari dunia mempan dengan biusnya, mereka dibius dengan mimpi dan ritual, tapi kita masih bangun, kita rasakan sakitnya proses ini. Jadi seperti Clay saat dia masih bisa mendengar tanpa orang lain tahu, dia nemuin banyak hal yang menyakitkan. Aku belum menikmati rasa ini, jadi aku masih iri sama mereka yang mempan dibius! Intinya aku cuma mereka-reka. Thank’s Brain, I know you’re always here to listen and give me inspiration!”
“No, Brain, I can’t handle anything about my feeling without you! You know my pain and how I try to be fine! But I’m too shy to tell another else about that, they’re just know that I’m Pinky! I need you, brain! And I hope you use me as you want! Miss you.”
Brain : “Hmm.. Mirip seperti itu, Pinky. Kita nggak mempan dibiusnya. Tapi Tuhan is more than this world which its heart is being changed. Tuhan juga tahu dunia ini sedang dioperasi. Tuhan tahu akan ada yang terbius. Tuhan juga tahu akan ada orang yang tetap tersadar. Tuhan tahu akan ada orang sadar yang milih tuk pura-pura tak sadar. Tuhan juga tahu akan ada orang tersadar yang milih tuk tetap sadar dan akhirnya bangun. And you Pinky, my another brain, use me as you want.”
Pinky : “Wih… sip lah! Jadi malu ma Tuhan, hehe… OK Brain, thank’s for the permission!”
Brain : “You’re always welcome.. hehe.. See U…”
Pinky : “Like this, mamen!!! See u”
(Lalu, ada yang menyela, untuk meminta ijin kepada mereka untuk mengabadikan SMS-an mereka di sebuah note…, dan ijin diberikan)
***
30.000 of this patients are not so fortunate. They find themselves unabe to sleep. Trapped in a phenomenon known as anesthesia awareness. These victims are completely paralyzed. They can’t scream for help. They are awake.
***
Itu prolog dalam film “Awake”. Tokoh Clay dalam film itu, menderita anesthesia awareness, dan ia baru tahu itu saat ia menjalani operasi transplantasi jantung. Ia tak bisa bergerak, tak bisa bicara untuk minta pertolongan - completely paralyzed-, tapi ia bisa merasa dan mendengar. Merasakan bagaimana sakitnya saat pisau membelah kulit dadanya, merasakan bagaimana sakitnya saat tulang rusuknya di potong, merasakan bagaimana sakitnya saat jantungnya diambil... Ia juga mendengar, mendengar apa yang sedang terjadi, mendengar ketika dokter yang adalah sahabatnya sendiri itu ternyata merencanakan akan membunuhnya saat operasinya itu dengan menyuntikkan adriamisin ke jantungnya yang baru, dan mendengar ketika istrinya yang baru saja dinikahinya semalam (yang karena itu ia harus berkonflik dengan ibunya), ternyata adalah dalang dalam perencanaan pembunuhan itu.
Dan mendengar, ketika akhirnya ibunya mendonorkan jantungnya untuknya.
Clay, dengan segala kesakitan yang telah diketahuinya, merasuki SMS-an Pinky and Brain.
Pinky : “Brain, I posted something in your new note! Sorry, coz hari ini dadaku berasa berat lg! tanpa sebab! bt! kayakna yang mesti test kejiwaan tu aku dech!”
Brain : “Thank u pinky.. I miss U”
Pinky : “Brain, aku punya hoby baru, nonton “Awake” pas adegan Clay mau pesta Halloween, pas dia diambil jantungna, pas dia ngrokok sendiri trus lampu2 mati sama pas dia inget kematian ayahna, ku ulang2 terus, aku masih bingung napa dia masih mau hidup!”
“Brain, i can’t find any reason to live Anestesia awareness, sekeras apapun aku membius diriku, aku masih sadar, masih bisa merasa, I need new heart, it’s my hell, tahu ini penyakit apa Brain?”
“Everything’s gonna be OK without me, Brain! I really want to sleep forever, no brain, no feeling again!”
Brain : “Ada hal yang tidak berjalan dengan OK jika kita tak lakukan apapun: diri kita sendiri. Allah menginginkan ciptaan-Nya tuk mengabdi padaNya. Di lain pihak, Ia membuat semuanya berjalan dengan OK-OK aja tanpa kita. Mungkin Ia ingin beritahu kita bahwa kitalah yang nggak akan OK kalo kita tetap berlagak terlelap. Bukan semesta ato Allah yang butuhkan pengabdian dari manusia, tapi manusia sendiri yang butuhkanya.”
“Tak lakukan apapun: menyia-nyiakan penciptaan kita. Mungkin dunia tak butuh pengabdianmu karena dunia pasti akan memenuhi kebutuhannya sendiri. Dunia menyambut mereka yang memilih tuk mengabdi. Tapi dunia tak memaksa mereka yang tak ingin mengabdi, karena pasti akan ada yang lain yang memilih tuk mengabdi. Memilih mengabdi: memilih menjadi terus berarti bagi dunia. Memilih terus melangkah. Terlalu banyak yang belum kita tahu, terlalu banyak yang belum kita mengerti, terlalu banyak yang belum kita lihat, terlalu banyak yang sesungguhnya belum kita dengar.. Tapi, dunia tak inginkan kita tuk sekedar menunggu agar semuanya menjadi jelas dengan sendirinya. Perjuangan tuk melihat, tuk mendengar, tuk tahu, tuk mengerti, tuk paham, kemudian menentukan pilihan langkah selanjutnya, bagian dari pengabdian yang memang tak mudah. Mungkin inilah falaq.”
“Apakah kita sudah pada tahap seperti saat Clay sudah mendengar semua yang sakitkannya, melihat semua yang hancurkannya? Dan pada akhirnya Clay harus memilih, untuk pergi tinggalkan semuanya, atau bangun tuk hadapi semuanya.”
“Ya, bagaimanapun juga, telah banyak yang berkorban untuk hidup kita.”
Pinky : “I’m so sorry Brain! I try to know what I feel, but it’s hard to tell to my self that I’m selfish, arrogant, and looser! Although it’s the fact. Seumur hidupku aku selalu mikir tentang hal yang kayak di film itu, sakit dan sendiri tapi berpura-pura jadi baik. Aku sadar kalo itu salah, nggak seharusnya anak kecil mikir tentang sakit. Aku jadi cari-cari tahu ke dalam diriku, apa yang terjadi, tapi aku belum tahu, jadi menerka-nerka sesukaku! Brain, I got something, maybe!”
“Jika Allah = dunia, dunia sakit, dunia butuh jantung baru, dunia lagi operasi. Orang-orang lain, sebagai bagian dari dunia mempan dengan biusnya, mereka dibius dengan mimpi dan ritual, tapi kita masih bangun, kita rasakan sakitnya proses ini. Jadi seperti Clay saat dia masih bisa mendengar tanpa orang lain tahu, dia nemuin banyak hal yang menyakitkan. Aku belum menikmati rasa ini, jadi aku masih iri sama mereka yang mempan dibius! Intinya aku cuma mereka-reka. Thank’s Brain, I know you’re always here to listen and give me inspiration!”
“No, Brain, I can’t handle anything about my feeling without you! You know my pain and how I try to be fine! But I’m too shy to tell another else about that, they’re just know that I’m Pinky! I need you, brain! And I hope you use me as you want! Miss you.”
Brain : “Hmm.. Mirip seperti itu, Pinky. Kita nggak mempan dibiusnya. Tapi Tuhan is more than this world which its heart is being changed. Tuhan juga tahu dunia ini sedang dioperasi. Tuhan tahu akan ada yang terbius. Tuhan juga tahu akan ada orang yang tetap tersadar. Tuhan tahu akan ada orang sadar yang milih tuk pura-pura tak sadar. Tuhan juga tahu akan ada orang tersadar yang milih tuk tetap sadar dan akhirnya bangun. And you Pinky, my another brain, use me as you want.”
Pinky : “Wih… sip lah! Jadi malu ma Tuhan, hehe… OK Brain, thank’s for the permission!”
Brain : “You’re always welcome.. hehe.. See U…”
Pinky : “Like this, mamen!!! See u”
(Lalu, ada yang menyela, untuk meminta ijin kepada mereka untuk mengabadikan SMS-an mereka di sebuah note…, dan ijin diberikan)
***
05 April 2010
pindah kapal
kutipan sebuah cerita:
Sakit menghunjam hati Talo, yang baru saja memutuskan untuk berhenti berlayar bersama kapal Greens yang hampir 4 tahun dijadikannya sumber penghidupannya.
Ya, sakit, atau tepatnya, ia tak bisa menerjemahkan rasa yang kadang berdesir di hatinya, atau berkelebat di otaknya setelah ia pamitan sama awak kapal yang lain dalam perpisahan itu. Pamitan yang sampai sekarang kadang masih mengusiknya. Ya, karena Talo bilang, ia menemukan kapal lain, ‘kapal belum bernama’, yang tempat tujuannya sesuai dengan tempat yang diinginkannya selama ini, sebuah pulau yang penuh dengan keberkahan, pulau Nirwana. Memang kapal Greens selalu bilang kalau tempat tujuannya juga pulau Nirwana. Tetapi, setelah ia analisa lebih jauh, Talo merasa bahwa pulau Nirwana yang dituju kapal Greens bukanlah pulau Nirwana yang ada dalam benak Talo, rute pelayaran kapal Greens juga masih agak kabur bagi Talo. Sedangkan ‘kapal belum bernama’ yang ditemukannya itu, menurutnya menuju pulau Nirwana yang sesungguhnya diinginkannya, dan rute pelayarannya pun jelas. Ya, karena selama dua tahun terakhir ini, diam-diam ia saling berkirim surat dengan salah satu awak ‘kapal belum bernama’ itu.
Talo pernah menyesal berpamitan dengan cara seperti itu, karena apa? Ia tahu ia akan dianggap pembelot dan harus menghadapi perlakuan awak kapal Greens yang tidak akan seperti dulu lagi. Tidak seperti dulu yang walaupun Talo bukan awak yang setia di kapal Greens, tetapi ia berusaha memberikan yang terbaik yang Talo bisa dalam pelayaran kapal Greens itu. Ya, Talo tahu, awak kapal Greens tidak akan sampai hati menyakiti Talo karena mereka adalah orang-orang yang lemah lembut kepada siapapun. Bahkan Talo sempat dikirimi puisi oleh salah seorang sahabatnya dari Kapal Greens, yang isinya, ia tetap setia menunggu Talo kembali, menginginkan Talo kembali lagi bekerja di kapal Greens. Talo sebenarnya meneteskan air mata saat membaca puisi itu, karena Talo juga masih sangat mencintai sahabat-sahabatnya. Talo hanya bisa bilang, jika memang tempat tujuan kita sama, yakinlah sahabat, bahwa suatu saat nanti, kita pasti kan bertemu di pulau itu, pulau Nirwana.
Kadang ia berpikir, kenapa dulu ia tidak langsung pergi saja dari kapal Greens, tanpa pamit, supaya tak ada asumsi pembelotan, pengkhianatan. Atau pamit menggunakan alasan lain. Tapi bagaimanapun juga, ia merasa tak pantas menyesalinya. ia telah memilih, dan ia kan terus melangkah dengan pilihannya itu.
Talo memang membawa sebungkus rasa sakit di hatinya, karena tetap saja, sementara ini ia kehilangan sahabat-sahabat terbaiknya. Sahabat-sahabat terbaik yang bersama mereka, dulu Talo belajar banyak hal, melakukan perbaikan-perbaikan dalam hidupnya, dan bersama menjaga pelayaran kapal Greens.
Memang sakit, tapi Talo telah memilih kapal ini, dan selalu ia bisikkan pada dirinya, bahwa ia sudah siap menanggung segala resiko yang akan dihadapinya atas pilihannya itu. Tak peduli sesakit apapun, ia yakin bahwa kapalnya yang baru ini, akan benar-benar membawa penumpangnya ke pulau Nirwana itu, pulau yang akan memberikan keberkahan bagi manusia di dalamnya. Dan jika pun ia dapati kapal ini membohonginya, ia siap untuk mencari kapal lain lagi. Suatu ketika, di buku hariannya tertulis, “biar peluru menembus kulitku, biar 1000 pisau menusuk jantungku, aku tetap meradang menerjang”. Sepertinya ia baru saja membaca puisinya Chairil Anwar.
(mengandaikan diriku bisa setegar Talo)
***
Sakit menghunjam hati Talo, yang baru saja memutuskan untuk berhenti berlayar bersama kapal Greens yang hampir 4 tahun dijadikannya sumber penghidupannya.
Ya, sakit, atau tepatnya, ia tak bisa menerjemahkan rasa yang kadang berdesir di hatinya, atau berkelebat di otaknya setelah ia pamitan sama awak kapal yang lain dalam perpisahan itu. Pamitan yang sampai sekarang kadang masih mengusiknya. Ya, karena Talo bilang, ia menemukan kapal lain, ‘kapal belum bernama’, yang tempat tujuannya sesuai dengan tempat yang diinginkannya selama ini, sebuah pulau yang penuh dengan keberkahan, pulau Nirwana. Memang kapal Greens selalu bilang kalau tempat tujuannya juga pulau Nirwana. Tetapi, setelah ia analisa lebih jauh, Talo merasa bahwa pulau Nirwana yang dituju kapal Greens bukanlah pulau Nirwana yang ada dalam benak Talo, rute pelayaran kapal Greens juga masih agak kabur bagi Talo. Sedangkan ‘kapal belum bernama’ yang ditemukannya itu, menurutnya menuju pulau Nirwana yang sesungguhnya diinginkannya, dan rute pelayarannya pun jelas. Ya, karena selama dua tahun terakhir ini, diam-diam ia saling berkirim surat dengan salah satu awak ‘kapal belum bernama’ itu.
Talo pernah menyesal berpamitan dengan cara seperti itu, karena apa? Ia tahu ia akan dianggap pembelot dan harus menghadapi perlakuan awak kapal Greens yang tidak akan seperti dulu lagi. Tidak seperti dulu yang walaupun Talo bukan awak yang setia di kapal Greens, tetapi ia berusaha memberikan yang terbaik yang Talo bisa dalam pelayaran kapal Greens itu. Ya, Talo tahu, awak kapal Greens tidak akan sampai hati menyakiti Talo karena mereka adalah orang-orang yang lemah lembut kepada siapapun. Bahkan Talo sempat dikirimi puisi oleh salah seorang sahabatnya dari Kapal Greens, yang isinya, ia tetap setia menunggu Talo kembali, menginginkan Talo kembali lagi bekerja di kapal Greens. Talo sebenarnya meneteskan air mata saat membaca puisi itu, karena Talo juga masih sangat mencintai sahabat-sahabatnya. Talo hanya bisa bilang, jika memang tempat tujuan kita sama, yakinlah sahabat, bahwa suatu saat nanti, kita pasti kan bertemu di pulau itu, pulau Nirwana.
Kadang ia berpikir, kenapa dulu ia tidak langsung pergi saja dari kapal Greens, tanpa pamit, supaya tak ada asumsi pembelotan, pengkhianatan. Atau pamit menggunakan alasan lain. Tapi bagaimanapun juga, ia merasa tak pantas menyesalinya. ia telah memilih, dan ia kan terus melangkah dengan pilihannya itu.
Talo memang membawa sebungkus rasa sakit di hatinya, karena tetap saja, sementara ini ia kehilangan sahabat-sahabat terbaiknya. Sahabat-sahabat terbaik yang bersama mereka, dulu Talo belajar banyak hal, melakukan perbaikan-perbaikan dalam hidupnya, dan bersama menjaga pelayaran kapal Greens.
Memang sakit, tapi Talo telah memilih kapal ini, dan selalu ia bisikkan pada dirinya, bahwa ia sudah siap menanggung segala resiko yang akan dihadapinya atas pilihannya itu. Tak peduli sesakit apapun, ia yakin bahwa kapalnya yang baru ini, akan benar-benar membawa penumpangnya ke pulau Nirwana itu, pulau yang akan memberikan keberkahan bagi manusia di dalamnya. Dan jika pun ia dapati kapal ini membohonginya, ia siap untuk mencari kapal lain lagi. Suatu ketika, di buku hariannya tertulis, “biar peluru menembus kulitku, biar 1000 pisau menusuk jantungku, aku tetap meradang menerjang”. Sepertinya ia baru saja membaca puisinya Chairil Anwar.
(mengandaikan diriku bisa setegar Talo)
***
14 Januari 2010
ini saatnya
ini saat pinta maaf tak ada arti,
saat segala jawab tak ada guna,
kecuali, "Laksanakan!"
ini saat "aksi" yang bertahta,
***
saat segala jawab tak ada guna,
kecuali, "Laksanakan!"
ini saat "aksi" yang bertahta,
***
Label:
lifestyle,
motivasi,
puisi,
semangat hidup
07 November 2009
SEMANGAT, jangan tinggalkan aku lagi!!!
Akhir-akhir ini, aku merasa ada yang kosong di salah satu ruang hidupku, suatu ruang yang dulu selalu terisi oleh suatu hal. Kutelisiklah, siapa yang melarikan diri dari ruang hidupku itu. Setelah melalui penyelidikan yang cukup lama dan mendalam, dan berdasarkan jejak-jejak serta sidik yang ada, serta wawancara dengan berbagai penghuni lain dalam ruang hidupku, dan juga dengan pihak luar, dapat kuidentifikasi bahwa yang menghilang itu adalah si “semangat”!
Si “semangat” telah memutuskan untuk pergi dari ruang-ruang hidupku. Aku pun mencoba menyelidiki apa yang menyebabkannya tampak pergi begitu saja tanpa pamit, seperti tak pernah tahu adab perijinan.
Awalnya aku menyalahkan keadaan. Tapi, itu menyalahi teori bahwa keadaan itu tak pernah salah. Jadi, pasti sumbernya ada dalam diriku. Suara-suara tudingan dari para penghuni lain di ruang-ruang hidupku mulai mengganggu keselarasan pendengaranku. Semuanya berebut mengemukakan kritikan terhadapku.
Si ‘bingung’ mengatakan, “Sepertinya kamu terlalu pilih kasih akhir-akhir ini. Maaf sebelumnya, tetapi aku merasa aku terlalu kau sayang. Sayangmu kepadaku sangat jauh melebihi sayangmu pada si ‘semangat’. Tidakkah kamu merasakannya?”
Lalu si ‘ragu’ menimpali, “Iya, aku juga merasa, kamu terlalu sering ngobrol denganku. Kadang aku sampai heran melihatmu betah berjam-jam melayani pertanyaan-pertanyaanku, sementara si ‘semangat’ hanya menjadi orang ketiga di antara kita yang tak pernah kita ajak ngobrol. Bukankah si semangat itu pastinya sangat berharap untuk kau tanyai kabarnya juga? Kau harusnya tahu-lah, si ‘semangat’ itu kan pendiam, jadi harus kausapa lebih dulu.”
Si ‘sedih’ berkata, ”Akhir-akhir ini kamu sangat sering mengundangku hadir setelah kamu berbincang dengan si ‘ragu’ dan si ‘bingung’. Dan kadang aku merasa, pujianmu kepadaku terlalu berlebihan. Kamu nggak pernah tahu ya, kalau si ‘semangat’ kadang juga sering memujiku akhir-akhir ini?”
Si ‘malas’ angkat bicara, “Sebenarnya aku nggak mau membela siapapun, karena justru aku bahagia dengan kepergian si ‘semangat’. Aku hanya ingin kau tahu, bahwa antara aku dan ‘semangat’ ada perseteruan sengit, yang sudah berlangsung sejak kelahiranmu. Menurutku pantas saja si ‘semangat’ pergi tanpa pamit padamu. Jelas-lah dia cemburu dan marah karena melihatmu memanjakanku.”
Si ‘kecewa’ mendesakku, “Saat ini kau nggak pantas memujiku karena kepergian si ‘semangat’ yang tampak tanpa pamit. Tapi harusnya kau memujiku karena kesalahan dirimu sendiri. Menurutku si ‘semangat’ itu pastinya sudah pamit padamu, tapi kau tak menghiraukannya. Akhir-akhir ini kau tak pernah menghiraukan sapaan si ‘semangat’. Kau tak mendengar saat ia tersenyum dan bertanya ‘apa kabarmu hari ini?’. Kau melewati begitu saja ruangannya tanpa menoleh sedikitpun padanya. Kau tak tahu saat ia ngobrol dengan si ‘sedih’ dan mengeluarkan air mata karena merasa tak kau pedulikan. Ia pernah ngobrol denganku untuk menerjemahkan perasaannya. Kukatakan padanya bahwa mungkin ia terlalu pendiam sehingga kehadirannya tak kausadari. Memang, akhir-akhir ini sepertinya kau terlalu sibuk memintaku menerjemahkan perasaanmu. ”
Aku menyela mereka, “OK, aku telah mendengar tanggapan kalian. Lalu, apa yang harus kulakukan agar si ‘semangat’ mau menjaga ruang hidupku lagi? Sementara, aku tak tahu entah kemana perginya.”
Si ‘bingung’ berkata, “Kau memanggilku?”
“Tidak ‘bingung’, jangan ajak ngobrol aku dulu saat ini,” pintaku.
“OK, aku akan tetap terjaga sampai kau temukan jawabannya,” jawab si ‘bingung’.
“Oh, tidak…”, pikirku.
Lalu datang si ‘empati’, “Sepertinya, kau bisa minta tolong si ‘syukur’ untuk menghubungi si ‘semangat’. Si ‘semangat’ sangat akrab dengan si ‘syukur’. Kulihat, dulu mereka sangat sering bersama kemanapun pergi. Tampaknya kau perlu segera minta tolong pada si ‘syukur’ sebelum ia juga memutuskan untuk pergi seperti si ‘semangat’. Soalnya, akhir-akhir ini, ia juga sering ngobrol sama si ‘sedih’ dan si ‘kecewa’. Bisa jadi, itu karena kau tak pernah mendengarkan pendapat si ‘syukur’.”
Ya, aku terlalu sibuk dengan si ‘bingung’, ‘ragu’, ‘sedih’, ‘kecewa’, dan jarang menyapa si ‘syukur’ dan ‘semangat’. Harusnya aku mendengarkan pendapat si ‘syukur’, dan juga menanyakan kabar si ‘semangat’ setelah aku ngobrol dengan si ‘bingung’, ‘ragu’, ‘sedih’, maupun ‘kecewa’. Karena nyatanya, semua keraguan dan peristiwa yang kualami ini membawaku menuju ke sesuatu yang sebenarnya aku butuhkan.
“Akhirnya kau memanggilku! Terima kasih! Aku akan dengan senang membantumu!”
Si ‘syukur’?!
Si ‘syukur’ memojokkanku dengan pertanyaan-pertanyaan retorisnya, “Kurasa akhirnya kau mengerti. Kau sedih karena si ‘semangat’ telah pergi? Apakah hidupmu mulai membosankan tanpa si ‘semangat’? Apakah pekerjaanmu mulai tampak biasa saja tanpa si ‘semangat’? Apakah kau mulai merasa hidupmu tak luar biasa tanpa si ‘semangat’? Apakah kau mulai merasa tak ada bedanya antara bangun tidur dan berangkat tidur? Apakah kau mulai merasa tak ada bedanya antara sakit dan sehat? Apakah kau mulai merasa waktu begitu cepat berlalu sedang kau masih terpaku di tempat dudukmu? Apakah kau mulai merasa kuliah, kerja, dan hidupmu ini suatu ‘tuntutan’? Apakah kau mulai merasa bahwa sepertinya hidupmu sampai kematianmu akan biasa saja? Apakah kau mulai tersiksa dan merasa tertuntut dengan semua rutinitasmu? Apakah kau mulai merasa bahwa kau akan terlindas oleh sejarah? Apakah kau merasa suntuk tanpa si ‘semangat’? Apakah kau mulai merasa tak ada bedanya antara ‘melihat’ dan ‘melakukan’? Apakah kau mulai merasa segalanya hancur dan reruntuhannya menimpamu? Apakah kau mulai mengandaikan bisa sembunyi dari Tuhan? Apakah kau mulai merasa semua ilmu tampak biasa saja? Apakah kau mulai merasa kau tak pantas memperoleh semua priviledge sebagai manusia, tanpa si ‘semangat’?” si ‘syukur’ menatapku beberapa detik.
Kukatakan, “Aku ingin si ‘semangat’ kembali menjaga ruang hidupku. Aku membutuhkannya.”
Si ‘syukur’ menjawab, “kau tak menyadari siapa yang ada di belakangku ini? kuhadirkan si ‘semangat’ untukmu.”
Pengalaman memahami perbedaan antara kesadaran dan kebiasaan ini mungkin bukan hal baru bagi sebagian besar orang, tetapi ini hal baru bagiku. Dan mungkin, yang bisa memahami ini hanya orang-orang yang juga sudah mengalami hal seperti yang sudah kualami. Dan sangat mungkin, ini adalah hal klise bagi yang belum pernah mengalaminya.
Aku menyadari, ternyata dulu aku belum menyadari makna dan manfaat “semangat”. Dulu ‘semangat’ adalah hal klise bagiku. Bahkan aku tak menyadari bahwa aku dulu begitu bersemangat. Mungkin, dulu SEMANGAT hanya menjadi kebiasaan dalam hidupku, yang tak kutahu maknanya. Hingga setelah ia pergi, lama baru kusadari manfaatnya.
Semoga SEMANGAT betah tinggal di ruang hidupku mulai detik ini, dan untuk selamanya.
saat sepi menari untukku ( setelah kuajak pulang karena kasihan melihatnya “menari di tepi jalan”),
31 Oktober 2009
20:48 (jam kelebihan 35 menit)
***
Si “semangat” telah memutuskan untuk pergi dari ruang-ruang hidupku. Aku pun mencoba menyelidiki apa yang menyebabkannya tampak pergi begitu saja tanpa pamit, seperti tak pernah tahu adab perijinan.
Awalnya aku menyalahkan keadaan. Tapi, itu menyalahi teori bahwa keadaan itu tak pernah salah. Jadi, pasti sumbernya ada dalam diriku. Suara-suara tudingan dari para penghuni lain di ruang-ruang hidupku mulai mengganggu keselarasan pendengaranku. Semuanya berebut mengemukakan kritikan terhadapku.
Si ‘bingung’ mengatakan, “Sepertinya kamu terlalu pilih kasih akhir-akhir ini. Maaf sebelumnya, tetapi aku merasa aku terlalu kau sayang. Sayangmu kepadaku sangat jauh melebihi sayangmu pada si ‘semangat’. Tidakkah kamu merasakannya?”
Lalu si ‘ragu’ menimpali, “Iya, aku juga merasa, kamu terlalu sering ngobrol denganku. Kadang aku sampai heran melihatmu betah berjam-jam melayani pertanyaan-pertanyaanku, sementara si ‘semangat’ hanya menjadi orang ketiga di antara kita yang tak pernah kita ajak ngobrol. Bukankah si semangat itu pastinya sangat berharap untuk kau tanyai kabarnya juga? Kau harusnya tahu-lah, si ‘semangat’ itu kan pendiam, jadi harus kausapa lebih dulu.”
Si ‘sedih’ berkata, ”Akhir-akhir ini kamu sangat sering mengundangku hadir setelah kamu berbincang dengan si ‘ragu’ dan si ‘bingung’. Dan kadang aku merasa, pujianmu kepadaku terlalu berlebihan. Kamu nggak pernah tahu ya, kalau si ‘semangat’ kadang juga sering memujiku akhir-akhir ini?”
Si ‘malas’ angkat bicara, “Sebenarnya aku nggak mau membela siapapun, karena justru aku bahagia dengan kepergian si ‘semangat’. Aku hanya ingin kau tahu, bahwa antara aku dan ‘semangat’ ada perseteruan sengit, yang sudah berlangsung sejak kelahiranmu. Menurutku pantas saja si ‘semangat’ pergi tanpa pamit padamu. Jelas-lah dia cemburu dan marah karena melihatmu memanjakanku.”
Si ‘kecewa’ mendesakku, “Saat ini kau nggak pantas memujiku karena kepergian si ‘semangat’ yang tampak tanpa pamit. Tapi harusnya kau memujiku karena kesalahan dirimu sendiri. Menurutku si ‘semangat’ itu pastinya sudah pamit padamu, tapi kau tak menghiraukannya. Akhir-akhir ini kau tak pernah menghiraukan sapaan si ‘semangat’. Kau tak mendengar saat ia tersenyum dan bertanya ‘apa kabarmu hari ini?’. Kau melewati begitu saja ruangannya tanpa menoleh sedikitpun padanya. Kau tak tahu saat ia ngobrol dengan si ‘sedih’ dan mengeluarkan air mata karena merasa tak kau pedulikan. Ia pernah ngobrol denganku untuk menerjemahkan perasaannya. Kukatakan padanya bahwa mungkin ia terlalu pendiam sehingga kehadirannya tak kausadari. Memang, akhir-akhir ini sepertinya kau terlalu sibuk memintaku menerjemahkan perasaanmu. ”
Aku menyela mereka, “OK, aku telah mendengar tanggapan kalian. Lalu, apa yang harus kulakukan agar si ‘semangat’ mau menjaga ruang hidupku lagi? Sementara, aku tak tahu entah kemana perginya.”
Si ‘bingung’ berkata, “Kau memanggilku?”
“Tidak ‘bingung’, jangan ajak ngobrol aku dulu saat ini,” pintaku.
“OK, aku akan tetap terjaga sampai kau temukan jawabannya,” jawab si ‘bingung’.
“Oh, tidak…”, pikirku.
Lalu datang si ‘empati’, “Sepertinya, kau bisa minta tolong si ‘syukur’ untuk menghubungi si ‘semangat’. Si ‘semangat’ sangat akrab dengan si ‘syukur’. Kulihat, dulu mereka sangat sering bersama kemanapun pergi. Tampaknya kau perlu segera minta tolong pada si ‘syukur’ sebelum ia juga memutuskan untuk pergi seperti si ‘semangat’. Soalnya, akhir-akhir ini, ia juga sering ngobrol sama si ‘sedih’ dan si ‘kecewa’. Bisa jadi, itu karena kau tak pernah mendengarkan pendapat si ‘syukur’.”
Ya, aku terlalu sibuk dengan si ‘bingung’, ‘ragu’, ‘sedih’, ‘kecewa’, dan jarang menyapa si ‘syukur’ dan ‘semangat’. Harusnya aku mendengarkan pendapat si ‘syukur’, dan juga menanyakan kabar si ‘semangat’ setelah aku ngobrol dengan si ‘bingung’, ‘ragu’, ‘sedih’, maupun ‘kecewa’. Karena nyatanya, semua keraguan dan peristiwa yang kualami ini membawaku menuju ke sesuatu yang sebenarnya aku butuhkan.
“Akhirnya kau memanggilku! Terima kasih! Aku akan dengan senang membantumu!”
Si ‘syukur’?!
Si ‘syukur’ memojokkanku dengan pertanyaan-pertanyaan retorisnya, “Kurasa akhirnya kau mengerti. Kau sedih karena si ‘semangat’ telah pergi? Apakah hidupmu mulai membosankan tanpa si ‘semangat’? Apakah pekerjaanmu mulai tampak biasa saja tanpa si ‘semangat’? Apakah kau mulai merasa hidupmu tak luar biasa tanpa si ‘semangat’? Apakah kau mulai merasa tak ada bedanya antara bangun tidur dan berangkat tidur? Apakah kau mulai merasa tak ada bedanya antara sakit dan sehat? Apakah kau mulai merasa waktu begitu cepat berlalu sedang kau masih terpaku di tempat dudukmu? Apakah kau mulai merasa kuliah, kerja, dan hidupmu ini suatu ‘tuntutan’? Apakah kau mulai merasa bahwa sepertinya hidupmu sampai kematianmu akan biasa saja? Apakah kau mulai tersiksa dan merasa tertuntut dengan semua rutinitasmu? Apakah kau mulai merasa bahwa kau akan terlindas oleh sejarah? Apakah kau merasa suntuk tanpa si ‘semangat’? Apakah kau mulai merasa tak ada bedanya antara ‘melihat’ dan ‘melakukan’? Apakah kau mulai merasa segalanya hancur dan reruntuhannya menimpamu? Apakah kau mulai mengandaikan bisa sembunyi dari Tuhan? Apakah kau mulai merasa semua ilmu tampak biasa saja? Apakah kau mulai merasa kau tak pantas memperoleh semua priviledge sebagai manusia, tanpa si ‘semangat’?” si ‘syukur’ menatapku beberapa detik.
Kukatakan, “Aku ingin si ‘semangat’ kembali menjaga ruang hidupku. Aku membutuhkannya.”
Si ‘syukur’ menjawab, “kau tak menyadari siapa yang ada di belakangku ini? kuhadirkan si ‘semangat’ untukmu.”
Pengalaman memahami perbedaan antara kesadaran dan kebiasaan ini mungkin bukan hal baru bagi sebagian besar orang, tetapi ini hal baru bagiku. Dan mungkin, yang bisa memahami ini hanya orang-orang yang juga sudah mengalami hal seperti yang sudah kualami. Dan sangat mungkin, ini adalah hal klise bagi yang belum pernah mengalaminya.
Aku menyadari, ternyata dulu aku belum menyadari makna dan manfaat “semangat”. Dulu ‘semangat’ adalah hal klise bagiku. Bahkan aku tak menyadari bahwa aku dulu begitu bersemangat. Mungkin, dulu SEMANGAT hanya menjadi kebiasaan dalam hidupku, yang tak kutahu maknanya. Hingga setelah ia pergi, lama baru kusadari manfaatnya.
Semoga SEMANGAT betah tinggal di ruang hidupku mulai detik ini, dan untuk selamanya.
saat sepi menari untukku ( setelah kuajak pulang karena kasihan melihatnya “menari di tepi jalan”),
31 Oktober 2009
20:48 (jam kelebihan 35 menit)
***
Label:
lifestyle,
motivasi,
refleksi,
renungan,
semangat hidup
11 Juni 2009
bahagia itu...
Ada yang bilang,
bahagia itu... uang
bahagia itu... kursi
bahagia itu... wanita
bahagia itu... pria
bahagia itu... IPK
bahagia itu... lulus
bahagia itu... sekolah
bahagia itu... kuliah
bahagia itu... bekerja
bahagia itu... anak
bahagia itu... ibu
bahagia itu... bapak
bahagia itu... rumah
bahagia itu... alam
bahagia itu... senyum
bahagia itu... air mata
bahagia itu... pikiran
bahagia itu... hati
bahagia itu... sehat
bahagia itu... juwita
bahagia itu... harapan
bahagia itu... setyo
bahagia itu... persahabatan
bahagia itu... cita
bahagia itu... mereka
berjuta kata mewakili bahagia...
dan tentu saja, bahagia itu... kamu
***
bahagia itu... uang
bahagia itu... kursi
bahagia itu... wanita
bahagia itu... pria
bahagia itu... IPK
bahagia itu... lulus
bahagia itu... sekolah
bahagia itu... kuliah
bahagia itu... bekerja
bahagia itu... anak
bahagia itu... ibu
bahagia itu... bapak
bahagia itu... rumah
bahagia itu... alam
bahagia itu... senyum
bahagia itu... air mata
bahagia itu... pikiran
bahagia itu... hati
bahagia itu... sehat
bahagia itu... juwita
bahagia itu... harapan
bahagia itu... setyo
bahagia itu... persahabatan
bahagia itu... cita
bahagia itu... mereka
berjuta kata mewakili bahagia...
dan tentu saja, bahagia itu... kamu
***
15 Mei 2009
jas merah-nya Bung Karno...
Siapa sangka Indonesia adalah eks peradaban luar biasa gemilang? Siapa sangka JAS MERAH-nya Bung Karno menyimpan pesan moral sangat dalam untuk kebangkitan bangsa?
Berikut saya nukilkan sebuah analisis tentang keberadaan Atlantis dan Lemuria, peradaban hilang yang mulai terkuak...:
sumber: Nabble-Spiritual Indonesia
***
Berikut saya nukilkan sebuah analisis tentang keberadaan Atlantis dan Lemuria, peradaban hilang yang mulai terkuak...:
ahmad chodjim:
Ini analisis dari saya saja setelah banyak membaca literatur tentang Daratan Lemurian dan Atlantis dari literatur Barat. Kesimpulannya, Daratan Lemurian adalah "lembah" yang sekarang menjadi laut antara Sumatra dan Kalimantan dan laut Jawa, yang dikenal sebagai Dataran Sunda. Delapan ribu tahun sebelum Masehi, terjadi pencairan besar terakhir Gunung es utara setinggi 300m sehingga menenggelamkan Dataran Sunda tersebut.
Sebelum lembah tersebut tenggelam posisi Sumatra, Kalimantan dan Jawa adalah bukit. Dan, di antara bukit itu yang paling subur adalah Bukit Jawa yang akhirnya menjadi Pulau Jawa. Jadi, dulu Bengawan Solo itu muaranya ya di Laut Sulawesi yang memang benar-benar laut yang amat dalam. Laut antara Kalimantan dan Sulewesi itu paling dangkal 1000 m dan terus ke tengah hingga 8000 m. Sedangkan Laut Jawa hanya berkisar 100 -300 m. Sebelum lembah itu hilang, memang peradaban dunia itu ada di Lembah Jawa (Dataran Sunda atau Lemurian).
Atlantis ada di mana? Menurut berbagai riset, Atlantis yang hilang itu ya berada di sekitar laut yang diapit oleh Afrika dan Eropa. Jadi, kalau di Alquran ada istilah "Kaum Ad", menurut orang Barat yang dimaksud ya penduduk Atlantis, dan bukti-bukti tenggelamnya kaum Ad itu semakin nyata.
Kalau sekarang ada kekuatan Eropa dan Asia dan dimenangkan oleh Eropa, maka menurut berbagai tulisan orang Barat, yang akan tampil adalah masyarakat ex Lemurian yang sekarang ini amburadul, tapi kemampuan spiritualnya semakin ditakuti Barat. Oleh karena itu, Barat secara umum berusaha menutupi akan bangkitnya masyarakat Kepulauan Nusantara. Dan, upaya itu telah dilakukan oleh Barat sejak zaman Negara Kahuripan.
Jadi, memasuki Milenium II alias seribu tahun yang lalu, kekuasaan Mataram yang semula di Jateng terus digempur meski telah pindah ke Jatim. Dan, penggempuran ini berhasil ketika Raja Airlangga membelah Mataram Kahuripan menjadi dua, yaitu Jenggala (Singosari) dan Panjalu (Kediri). Meskipun semasa Majapahit sempat dipulihkan kebesaran Mataram itu, namun rontok juga setelah 100 tahun. Lha, memang mangsa jayanya kan di Milenium III ini?
Kata Bung Karno: "Jas Merah" (jangan sekali-kali meninggalkan sejarah).
Suwun,
ahmad chodjim
sumber: Nabble-Spiritual Indonesia
***
17 Maret 2009
Apakah benar bahwa 1/2 (setengah) itu positif?!
Sebuah pertanyaan yang mungkin bagi sebagian orang tampak bodoh dan sudah tak perlu ditanyakan lagi. Tetapi, inilah pertanyaan yang muncul saat perkuliahan Analisis Real beberapa hari yang lalu.
Sebagian orang mungkin akan langsung berkata: tentu saja setengah itu positif, tak perlu dipertanyakan lagi. Ternyata, matematika mempertanyakan: mana buktinya?
Yang kami ketahui adalah suatu teorema bahwa 1 itu positif, yang berdampak pada kenyataan bahwa semua bilangan asli adalah positif. Kami juga sudah mempelajari beberapa teorema urutan dalam himpunan bilangan real. Pembuktiannya menggunakan beberapa teorema itu.
Jadi, jika setengah itu bukan bilangan positif, ada dua kemungkinan: pertama, setengah adalah bilangan negatif; kedua, setengah sama dengan nol. Pernyataan kedua sudah jelas tidak mungkin karena nol adalah elemen identitas terhadap penjumlahan, dimana elemen identitas itu tunggal.
Pembuktian selanjutnya :

Jika kurang jelas, silakan klik gambar di atas.
Terjawablah mengapa setengah itu positif.
phiuh...
***
Sebagian orang mungkin akan langsung berkata: tentu saja setengah itu positif, tak perlu dipertanyakan lagi. Ternyata, matematika mempertanyakan: mana buktinya?
Yang kami ketahui adalah suatu teorema bahwa 1 itu positif, yang berdampak pada kenyataan bahwa semua bilangan asli adalah positif. Kami juga sudah mempelajari beberapa teorema urutan dalam himpunan bilangan real. Pembuktiannya menggunakan beberapa teorema itu.
Jadi, jika setengah itu bukan bilangan positif, ada dua kemungkinan: pertama, setengah adalah bilangan negatif; kedua, setengah sama dengan nol. Pernyataan kedua sudah jelas tidak mungkin karena nol adalah elemen identitas terhadap penjumlahan, dimana elemen identitas itu tunggal.
Pembuktian selanjutnya :

Jika kurang jelas, silakan klik gambar di atas.
Terjawablah mengapa setengah itu positif.
phiuh...
***
Label:
inspirasi,
motivasi,
real analysis
12 Maret 2009
Leonhard Euler: blind but super productive

Leonhard Euler (1707 – 1783) lahir di Basel, Swiss. Ayahnya berharap agar ia menjadi seperti dirinya, bekerja di kementerian. Tetapi ketika Euler memasuki Basel University di usia 14 tahun, talenta matematikanya berhasil membuat Johann Bernoulli, mentornya, terpukau. Di tahun 1977, Euler pergi ke Rusia untuk bergabung dengan putra Johann, Daniel, di Akademi St. Petersburgh yang baru. Disana dia bertemu dan akhirnya menikah dengan Katharina Gsell, putri dari seorang seniman Swiss.
Di tahun 1741, Euler menerima tawaran dari Frederick The Great untuk bergabung di Akademi Berlin, dimana dia akhirnya berada di sana selama 25 tahun. Selama masa itu dia menulis beberapa buku tentang Kalkulus dan secara kontinu mempublikasikan paper-papernya. Ia juga menulis beberapa volum paper yang diberi judul Letters to A German Princess, atas permintaan Putri Anhalt-Dessau.
Di tahun 1766, dia kembali ke Rusia memenuhi undangan Catherine The Great. Euler mengalami gangguan pada penglihatannya, dan selang beberapa waktu setelah ia kembali ke Rusia, dia mengalami kebutaan total.
Yang menakjubkan adalah, kebutaannya menimbulkan efek yang luar biasa pada karya-karyanya di bidang matematika. Dia tetap berkarya, menulis beberapa buku dan lebih dari 400 paper ketika dia buta. Dia senantiasa sibuk dan aktif sampai hari kematiannya.
Produktivitas Euler semasa hidupnya memberikan kontribusi yang besar terhadap perkembangan matematika dan dunia ilmu pengetahuan : dia menulis buku-buku teks Fisika, Aljabar, Kalkulus, Analisis Real dan Kompleks, Geometri Analitik dan Diferensial, dan Berbagai Macam buku Kalkulus. Dia juga menulis ratusan paper yang original mencapai lebih dari 74 volum, yang beberapa di antaranya memenangkan penghargaan.
***
04 Maret 2009
Matematikawan Amatir?

Menurut wikipedia, Matematika adalah ilmu yang mempelajari tentang kuantitas, struktur, ruang, perubahan, dan topik-topik yang berkaitan dengan pola dan bentuk. Para matematikawan mencari pola yang ditemukan pada bilangan, ruang, ilmu alam, komputer, abstraksi imajiner, atau tempat yang lain.
Kata matematika berasal dari bahasa Yunani, mathema, yang berarti proses pembelajaran, proses studi, ilmu pengetahuan.
Matematika muncul ketika ada permasalahan yang melibatkan kuantitas, struktur, ruang, atau perubahan. Permasalahan seperti ini pada awalnya ditemukan dalam perdagangan, pengukuran tanah, dan astronomi. Sekarang, hampir semua ilmu pengetahuan membutuhkan matematika.
Matematika bukanlah sebuah sistem intelektual yang tertutup, dimana segalanya sudah terselesaikan. Masih banyak hal yang belum terselesaikan dalam matematika. Buktinya, setiap bulan terbit ratusan paper yang berisi penemuan-penemuan baru dalam matematika, oleh orang-orang yang mempelajari matematika dari berbagai penjuru dunia.
Bahkan, matematika berhutang besar kepada para matematikawan amatir. Mengapa disebut amatir? Karena bidang utama yang mereka tekuni sebetulnya bukan matematika. Tetapi kontribusi mereka bagi perkembangan matematika termasuk bisa diperhitungkan.
Para matematikawan amatir itu, antara lain (nama dan pekerjaan):
* Ahmes (scribe)
* Robert Ammann (programmer and postal worker)
* John Arbuthnot (surgeon and author)
* Jean-Robert Argand (bookkeeper)
* Rev. Thomas Bayes (Presbyterian minister)
* Harlan J. Brothers (teacher, inventor, and musician)
* Sir James Cockle (judge)
* Martin Demaine (goldsmith and glass artist)
* Reo Fortune (anthropologist)
* Bernard Frénicle de Bessy (counsellor)
* Danica McKeller (actress)
* Britney Gallivan (high school student)
* James Garfield (United States President)
* Thorold Gosset (lawyer)
* Hermann Grassmann (school teacher)
* George Green (miller)
* Oliver Heaviside (telegraph operator)
* Kurt Heegner (private scholar)
* F. H. Jackson (navy chaplain)
* Alfred Bray Kempe (lawyer)
* Emanuel Lasker (chess player)
* Napoleon I (general)
* Florence Nightingale (nurse)
* Kathleen Ollerenshaw (politician)
* Rudolf Ondrejka (veterinarian)
* Nicolò Paganini (schoolboy)
* Panini (linguist)
* Kenneth Perko (lawyer)
* Pingala (musician)
* François Proth (farmer)
* Marjorie Rice (homemaker)
* William Shanks (landlord)
* Gaston Tarry (civil servant)
* Nigel Chan (undergraduate student)
* Magnus Wenninger (monk)
Dan yang dianugerahi gelar sebagai "The King of Amateurs", adalah:
Pierre de Fermat (lawyer)
(sumber: wikipedia )
***
25 Februari 2009
Coba bayangkan......
Can you imagine if there aren't any number system in this world?
How can the human build their house?
How can a man buy something?
How can a man make a computer?
How can a man make a road?
How can a man make a type machine?
How can a man make a machine?
Hoe can a man measure something?
....
etc.
So, thank's God, You give us the ability to make a number system, and so to learn mathematics...
How can the human build their house?
How can a man buy something?
How can a man make a computer?
How can a man make a road?
How can a man make a type machine?
How can a man make a machine?
Hoe can a man measure something?
....
etc.
So, thank's God, You give us the ability to make a number system, and so to learn mathematics...
Label:
matematika,
mathematics,
motivasi,
pendidikan matematika
29 Januari 2009
Cara Jitu Belajar Matematika
Belajar matematika? Butuh strategi dan cara-cara jitu agar jadi selezat makan sate (hehe...).
Bagaimana bisa? Orang selama ini saya selalu mual jika belajar matematika? Kalau itu yang anda rasakan, anda perlu membaca artikel saya sebelumnya, tentang cara mengatasi gejala kronis saat belajar matematika.
Setelah anda bisa mengatasi gejala-gejala kronis yang menjengkelkan itu, anda perlu mereformasi dulu cara pandang anda terhadap matematika, khususnya mengenai maksud dan tujuan kemunculan matematika.
Setelah anda memahami esensi belajar matematika, tentunya anda tidak bisa diam saja. Anda butuh strategi yang lebih jitu dalam belajar matematika.
Bagaimana strateginya? Silakan anda simak artikel ini sampai tuntas.
Langkah pertama yang perlu anda lakukan adalah mengenal materi yang sedang anda pelajari. Apakah itu tentang Logaritma? Apakah itu tentang Aljabar? Apakah itu tentang Teori Peluang? atau yang lain?
Langkah kedua, berdasarkan materi yang anda pelajari itu, identifikasikan apa yang anda butuhkan.
Misalnya, anda sedang mempelajari Kalkulus Integral. Jelas, ketelitian, pengenalan pola, keterampilan dan kecepatan berhitung anda perlukan untuk bisa menguasainya. So, yang anda butuhkan dalam mempelajari Kalkulus Integral adalah banyak berlatih mengerjakan soal. Tentu saja anda juga perlu memahami berbagai teorema atau sifat-sifat di dalamnya. Tetapi, porsi latihan soal tetap harus lebih banyak.
Contoh yang lain, anda sedang mempelajari Teori Peluang dan Teori Bilangan. Anda akan dihadapkan dengan banyak soal jenis pembuktian, dan penalaran. So, jelas, anda butuh memahami sampai ke dasar-dasarnya mengenai berbagai definisi dan teorema. Judulnya saja sudah jelas: Teori. Definisi dan teorema-teorema itu akan sangat anda butuhkan dalam proses pembuktian atau berbagai soal penalaran. Jadi, yang perlu anda utamakan dalam mempelajari Teori Peluang adalah dengan memahami berbagai definisi dan teorema sebelum melangkah ke latihan soal.
Langkah ketiga, setelah anda mengetahui apa yang anda butuhkan, segeralah beraksi. Segeralah ambil tindakan, yakni memenuhi kebutuhan anda. Kalau anda butuh banyak latihan soal, ya segeralah berlatih mengerjakan soal. Kalau anda butuh memahami teorema dan definisi, ya segeralah pahami teorema dan definisi yang anda butuhkan.
Langkah keempat, menambah porsi latihan soal anda. Anda tentu sudah tahu bahwa meninggalkan latihan soal, artinya anda meninggalkan matematika. Tentu anda tidak menginginkannya.
Langkah kelima, anda butuh yang namanya keuletan. Pantang menyerah sangat dibutuhkan dalam belajar matematika. Tidak lekas puas, tidak lekas menyerah, sangat mempengaruhi kesuksesan anda dalam belajar matematika. Jika menghadapi soal yang tidak bisa anda pecahkan, cobalah sekali lagi. Jika tetap tidak bisa, cobalah tanya ke teman anda, atau guru anda, atau dosen anda.
Langkah keenam, buang rasa takut salah anda. Takut salah dalam belajar matematika sama sekali tidak dibutuhkan. Tak perlu khawatir anda akan menghabiskan berlembar-lembar kertas hanya untuk memecahkan satu permasalahan matematika. Tak perlu sayang untuk membuang kertas-kertas yang berisi jawaban salah anda, dan menggantinya dengan kertas dan jawaban yang baru. Saya sangat sepakat dengan seorang matematikawan: belajar matematika itu tidak hanya butuh pena dan kertas, tetapi juga butuh tempat sampah.
Langkah ketujuh, sebarkan artikel ini ke teman-teman anda yang lain. :)
(Ini langkah penting yang perlu anda lakukan. Hehe...)
Selamat makan sate. Ups salah. Selamat belajar matematika!
Semoga sukses....!
:)
***
Bagaimana bisa? Orang selama ini saya selalu mual jika belajar matematika? Kalau itu yang anda rasakan, anda perlu membaca artikel saya sebelumnya, tentang cara mengatasi gejala kronis saat belajar matematika.
Setelah anda bisa mengatasi gejala-gejala kronis yang menjengkelkan itu, anda perlu mereformasi dulu cara pandang anda terhadap matematika, khususnya mengenai maksud dan tujuan kemunculan matematika.
Setelah anda memahami esensi belajar matematika, tentunya anda tidak bisa diam saja. Anda butuh strategi yang lebih jitu dalam belajar matematika.
Bagaimana strateginya? Silakan anda simak artikel ini sampai tuntas.
Langkah pertama yang perlu anda lakukan adalah mengenal materi yang sedang anda pelajari. Apakah itu tentang Logaritma? Apakah itu tentang Aljabar? Apakah itu tentang Teori Peluang? atau yang lain?
Langkah kedua, berdasarkan materi yang anda pelajari itu, identifikasikan apa yang anda butuhkan.
Misalnya, anda sedang mempelajari Kalkulus Integral. Jelas, ketelitian, pengenalan pola, keterampilan dan kecepatan berhitung anda perlukan untuk bisa menguasainya. So, yang anda butuhkan dalam mempelajari Kalkulus Integral adalah banyak berlatih mengerjakan soal. Tentu saja anda juga perlu memahami berbagai teorema atau sifat-sifat di dalamnya. Tetapi, porsi latihan soal tetap harus lebih banyak.
Contoh yang lain, anda sedang mempelajari Teori Peluang dan Teori Bilangan. Anda akan dihadapkan dengan banyak soal jenis pembuktian, dan penalaran. So, jelas, anda butuh memahami sampai ke dasar-dasarnya mengenai berbagai definisi dan teorema. Judulnya saja sudah jelas: Teori. Definisi dan teorema-teorema itu akan sangat anda butuhkan dalam proses pembuktian atau berbagai soal penalaran. Jadi, yang perlu anda utamakan dalam mempelajari Teori Peluang adalah dengan memahami berbagai definisi dan teorema sebelum melangkah ke latihan soal.
Langkah ketiga, setelah anda mengetahui apa yang anda butuhkan, segeralah beraksi. Segeralah ambil tindakan, yakni memenuhi kebutuhan anda. Kalau anda butuh banyak latihan soal, ya segeralah berlatih mengerjakan soal. Kalau anda butuh memahami teorema dan definisi, ya segeralah pahami teorema dan definisi yang anda butuhkan.
Langkah keempat, menambah porsi latihan soal anda. Anda tentu sudah tahu bahwa meninggalkan latihan soal, artinya anda meninggalkan matematika. Tentu anda tidak menginginkannya.
Langkah kelima, anda butuh yang namanya keuletan. Pantang menyerah sangat dibutuhkan dalam belajar matematika. Tidak lekas puas, tidak lekas menyerah, sangat mempengaruhi kesuksesan anda dalam belajar matematika. Jika menghadapi soal yang tidak bisa anda pecahkan, cobalah sekali lagi. Jika tetap tidak bisa, cobalah tanya ke teman anda, atau guru anda, atau dosen anda.
Langkah keenam, buang rasa takut salah anda. Takut salah dalam belajar matematika sama sekali tidak dibutuhkan. Tak perlu khawatir anda akan menghabiskan berlembar-lembar kertas hanya untuk memecahkan satu permasalahan matematika. Tak perlu sayang untuk membuang kertas-kertas yang berisi jawaban salah anda, dan menggantinya dengan kertas dan jawaban yang baru. Saya sangat sepakat dengan seorang matematikawan: belajar matematika itu tidak hanya butuh pena dan kertas, tetapi juga butuh tempat sampah.
Langkah ketujuh, sebarkan artikel ini ke teman-teman anda yang lain. :)
(Ini langkah penting yang perlu anda lakukan. Hehe...)
Selamat makan sate. Ups salah. Selamat belajar matematika!
Semoga sukses....!
:)
***
Label:
inspirasi,
matematika,
motivasi,
pendidikan matematika,
tips
28 Januari 2009
Ngapain Belajar Matematika?!
Pernahkah anda, saat sedang suntuk belajar matematika, tiba-tiba bertanya-tanya:
Kalau yang terjadi adalah demikian, berarti ada sesuatu yang salah dalam diri anda. Anda belum memahami esensi belajar matematika, tetapi sudah terlanjur masuk terlalu dalam dalam proses teknis matematis. Dijamin, anda tidak akan bisa menikmati proses belajar anda.
So, mungkin anda bertanya-tanya: apa yang harus kulakukan? what must I do?
OK. Simple sebenarnya. Jadi, masalahnya adalah anda perlu memahami esensi belajar matematika. So, how?
Ini bisa dimulai dari mempelajari hakikat matematika, sejarah matematika. Apaan tuh? Kok susah amat?
Tenang, tenang. Ini tidak sesulit yang anda bayangkan. But very simple. Anda cukup menyimak artikel ini sampai habis. Bersedia? Saya yakin anda bersedia.
Dari mana memulainya, ya?
Sebenarnya sangat gampang. Anda cukup menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut, dan anda sudah memperoleh setengah dari proses memahami hakikat matematika. Menurut anda, bagaimana bisa ada matematika (bagaimana proses kemunculan matematika)? Matematika itu apa? Apakah matematika itu suatu ilmu? Kalau begitu, apa tujuan matematika dijadikan ilmu?
Anda sudah mempunyai jawabannya? Kalau belum, baiklah, akan coba saya jawab dengan pemikiran yang paling sederhana. Dalam uraian singkat di bawah ini anda akan bisa menemukan jawaban dari keempat pertanyaan itu.
Bagaimana bisa ada matematika (proses kemunculan matematika)? Tidak terlalu rumit ceritanya. Dulu, matematika itu tidak ada. Yang ada adalah ilmu tentang hal-hal yang lain, seperti ilmu tentang perbintangan (astronomi), ilmu tentang makhluk hidup (biologi), ilmu tentang benda-benda mati (fisika), dll. Dalam berbagai ilmu tersebut ada yang namanya hitung-menghitung. Awalnya mungkin hanya ada perhitungan sederhana, tetapi semakin lama semakin kompleks saja perhitungan yang dibutuhkan. Maka, dirasa perlu untuk mempelajari tata cara berhitung tersebut agar bisa lebih cepat dan tepat.
Adanya perdagangan dan berbagai kegiatan masyarakat yang membutuhkan teknik perhitungan tersebut membuat diperlukannya suatu ilmu khusus yang mempelajari tata cara berhitung.
So, muncullah suatu ilmu yang disebut matematika.
Sampai disini, saya yakin anda sudah bisa memahami gambaran umum tentang kemunculan matematika dan untuk apa sebenarnya matematika itu.
Dengan adanya suatu ilmu khusus yang mempelajari tentang tata cara berhitung, menjadi lebih mudah-lah dalam mempelajari ilmu-ilmu yang lain.
Matematika semakin berkembang dari waktu ke waktu. Perkembangannya pun tak bisa lepas dari perkembangan ilmu-ilmu lainnya. Muncul pula beberapa matematikawan hebat yang semakin mengembangkan matematika, baik dalam perhitungan sederhana maupun dalam perhitungan tingkat tinggi seperti integral, dsb.
Matematika terbang terlalu tinggi sehingga lupa daratan. (Hehehe....) Orang-orang yang mempelajari matematika kadang melupakan tujuan belajar matematika yang sebenarnya.
Sehingga, muncullah rasa hampa, rasa suntuk, rasa kering, dalam mempelajari matematika.
Bukankah demikian?
Ya. Memang sangat penting untuk memahami esensi belajar matematika sebelum kita terjun lebih dalam dalam proses teknis matematis yang super rumit.
***
“Ngapain sih, belajar matematika?!”
”Mengapa harus belajar matematika segala?”
”Apa gunanya aku mempelajari ini?”
Kalau yang terjadi adalah demikian, berarti ada sesuatu yang salah dalam diri anda. Anda belum memahami esensi belajar matematika, tetapi sudah terlanjur masuk terlalu dalam dalam proses teknis matematis. Dijamin, anda tidak akan bisa menikmati proses belajar anda.
So, mungkin anda bertanya-tanya: apa yang harus kulakukan? what must I do?
OK. Simple sebenarnya. Jadi, masalahnya adalah anda perlu memahami esensi belajar matematika. So, how?
Ini bisa dimulai dari mempelajari hakikat matematika, sejarah matematika. Apaan tuh? Kok susah amat?
Tenang, tenang. Ini tidak sesulit yang anda bayangkan. But very simple. Anda cukup menyimak artikel ini sampai habis. Bersedia? Saya yakin anda bersedia.
Dari mana memulainya, ya?
Sebenarnya sangat gampang. Anda cukup menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut, dan anda sudah memperoleh setengah dari proses memahami hakikat matematika. Menurut anda, bagaimana bisa ada matematika (bagaimana proses kemunculan matematika)? Matematika itu apa? Apakah matematika itu suatu ilmu? Kalau begitu, apa tujuan matematika dijadikan ilmu?
Anda sudah mempunyai jawabannya? Kalau belum, baiklah, akan coba saya jawab dengan pemikiran yang paling sederhana. Dalam uraian singkat di bawah ini anda akan bisa menemukan jawaban dari keempat pertanyaan itu.
Bagaimana bisa ada matematika (proses kemunculan matematika)? Tidak terlalu rumit ceritanya. Dulu, matematika itu tidak ada. Yang ada adalah ilmu tentang hal-hal yang lain, seperti ilmu tentang perbintangan (astronomi), ilmu tentang makhluk hidup (biologi), ilmu tentang benda-benda mati (fisika), dll. Dalam berbagai ilmu tersebut ada yang namanya hitung-menghitung. Awalnya mungkin hanya ada perhitungan sederhana, tetapi semakin lama semakin kompleks saja perhitungan yang dibutuhkan. Maka, dirasa perlu untuk mempelajari tata cara berhitung tersebut agar bisa lebih cepat dan tepat.
Adanya perdagangan dan berbagai kegiatan masyarakat yang membutuhkan teknik perhitungan tersebut membuat diperlukannya suatu ilmu khusus yang mempelajari tata cara berhitung.
So, muncullah suatu ilmu yang disebut matematika.
Sampai disini, saya yakin anda sudah bisa memahami gambaran umum tentang kemunculan matematika dan untuk apa sebenarnya matematika itu.
Dengan adanya suatu ilmu khusus yang mempelajari tentang tata cara berhitung, menjadi lebih mudah-lah dalam mempelajari ilmu-ilmu yang lain.
Matematika semakin berkembang dari waktu ke waktu. Perkembangannya pun tak bisa lepas dari perkembangan ilmu-ilmu lainnya. Muncul pula beberapa matematikawan hebat yang semakin mengembangkan matematika, baik dalam perhitungan sederhana maupun dalam perhitungan tingkat tinggi seperti integral, dsb.
Matematika terbang terlalu tinggi sehingga lupa daratan. (Hehehe....) Orang-orang yang mempelajari matematika kadang melupakan tujuan belajar matematika yang sebenarnya.
Sehingga, muncullah rasa hampa, rasa suntuk, rasa kering, dalam mempelajari matematika.
Bukankah demikian?
Ya. Memang sangat penting untuk memahami esensi belajar matematika sebelum kita terjun lebih dalam dalam proses teknis matematis yang super rumit.
***
Label:
inspirasi,
lifestyle,
matematika,
motivasi,
pendidikan matematika
21 Januari 2009
Panduan Bisnis Online Paling Panas?
Anda pemula dalam bisnis online? Saya ucapkan SELAMAT karena pilihan anda untuk berbisnis online itu sangat tepat.
Apakah anda bingung apa yang harus anda lakukan pertama kali berbisnis online? Atau justru anda bingung bagaimana para pebisnis online atau internet marketer bisa sesukses itu? Sangat wajar jika anda bingung.
Anda perlu melakukan hal-hal di bawah ini untuk memulai dan kemudian memantapkan bisnis anda:
Panduan bisnis? Ya, benar. Anda butuh panduan bisnis. Tentunya tidak sekedar panduan bisnis biasa. Anda butuh panduan bisnis yang mudah dipahami, kata-katanya mudah dicerna, dan mudah dipraktekkan. Saya yakin anda membutuhkan panduan bisnis online paling panas, paling mudah dikunyah dan dicerna..... Tak salah lagi. Ini yang anda butuhkan. Klik disini untuk mendapatkan info tentang panduan bisnis dan konsultan bisnis online paling panas, paling mudah dikunyah dan paling mudah dicerna.
Perlu bukti? Saya menunggu anda untuk membuktikannya sendiri. Dijamin halal....
Salam sukses untuk anda.
Apakah anda bingung apa yang harus anda lakukan pertama kali berbisnis online? Atau justru anda bingung bagaimana para pebisnis online atau internet marketer bisa sesukses itu? Sangat wajar jika anda bingung.
Anda perlu melakukan hal-hal di bawah ini untuk memulai dan kemudian memantapkan bisnis anda:
- memiliki panduan bisnis yang tepat
- memiliki konsultan atau guru dalam bisnis online
- membangun karakter pebisnis online
- membuka akun paypal atau alertpay, atau egold
Panduan bisnis? Ya, benar. Anda butuh panduan bisnis. Tentunya tidak sekedar panduan bisnis biasa. Anda butuh panduan bisnis yang mudah dipahami, kata-katanya mudah dicerna, dan mudah dipraktekkan. Saya yakin anda membutuhkan panduan bisnis online paling panas, paling mudah dikunyah dan dicerna..... Tak salah lagi. Ini yang anda butuhkan. Klik disini untuk mendapatkan info tentang panduan bisnis dan konsultan bisnis online paling panas, paling mudah dikunyah dan paling mudah dicerna.
Perlu bukti? Saya menunggu anda untuk membuktikannya sendiri. Dijamin halal....
Salam sukses untuk anda.
Label:
bisnis,
bisnis online,
inspirasi,
lifestyle,
motivasi,
penduan bisnis,
uang,
uang panas
What makes mathematics more difficult?
Actually nothing makes math seems difficult, but your mind.
Benar sekali. Tidak ada yang membuat matematika tampak susah kecuali pikiran anda sendiri.
Pernahkah anda mengucapkan salah satu dari pernyataan-pernyataan menyesatkan di bawah ini?
Jika anda sering mengucapkan pernyataan-pernyataan di atas, dapat dipastikan salah satu gejala kronis di bawah ini pernah anda rasakan saat belajar matematika?
Tidak masalah. Anda harus percaya dan yakin bahwa semua bisa diatasi. Baca, pahami, resapi, pilih, kemudian ucapkanlah kalimat di bawah ini (yang menurut anda paling tepat) saat anda akan memulai belajar matematika:
Yakinlah, setelah anda meresapi dan mengucapkan kata-kata itu, matematika akan tampak mudah bagi anda. Buktikan! Saya sudah membuktikannya.
***
Benar sekali. Tidak ada yang membuat matematika tampak susah kecuali pikiran anda sendiri.
Pernahkah anda mengucapkan salah satu dari pernyataan-pernyataan menyesatkan di bawah ini?
”matematika adalah momok di sekolah”
”aku tidak berbakat di bidang matematika”
”matematika bukan keahlianku”
”sudah kubilang aku nggak bisa matematika”
”ada matematika hari ini? mati aku!”
”matematika kok sulit bgt sih!”
”andai nggak ada matematika di sekolah”
”matematika itu musuh besarku”
Jika anda sering mengucapkan pernyataan-pernyataan di atas, dapat dipastikan salah satu gejala kronis di bawah ini pernah anda rasakan saat belajar matematika?
mual
pusing
sakit perut
ingin muntah
pening
ingin pingsan
ingin menghilang
ingin segera selesai
jantung berdebar
keluar keringat berlebih
badan terasa gerah
muka terasa gatal-gatal
Tidak masalah. Anda harus percaya dan yakin bahwa semua bisa diatasi. Baca, pahami, resapi, pilih, kemudian ucapkanlah kalimat di bawah ini (yang menurut anda paling tepat) saat anda akan memulai belajar matematika:
setiap orang berbakat di bidang matematika
setiap orang pasti bisa menguasai matematika
matematika ada untuk manusia
manamungkin manusia tidak bisa bermatematika?
aku mau bisa bermatematika
aku pasti bisa menguasai matematika
aku pasti bisa menyelesaikan soal-soal matematika ini
aku dikaruniai bakat di semua bidang, termasuk matematika
aku akan berusaha untuk menaklukkan matematika
matematika itu sangat menyenangkan
matematika itu mudah
matematika itu ada untukku, manamungkin aku menghindarinya?
matematika itu teman hidupku
matematika itu mengayikkan
selalu ada yang baru dari matematika, menakjubkan
aku menyukai matematika
mathematics is amazing
mathematics is miracle
aku mencintai matematika
Yakinlah, setelah anda meresapi dan mengucapkan kata-kata itu, matematika akan tampak mudah bagi anda. Buktikan! Saya sudah membuktikannya.
***
Label:
education,
inspirasi,
matematika,
mathematics,
motivasi,
pendidikan
Mengapa Nge-Blog itu penting?
Pernahkah anda berpikiran bahwa nge-blog itu menghabiskan waktu, tenaga, biaya, dan tidak ada gunanya? OK, anda perlu membaca artikel ini.
Mengapa nge-blog itu penting? Why? Here’s the reasons:
Mengapa nge-blog itu penting? Why? Here’s the reasons:
- Bagi anda para pemula bisnis online, nge-blog is very important. Why? Blog bisa dijadikan sarana untuk mencitrakan diri anda. Blog adalah sarana penting bagi pemula bisnis online. Misal, anda sedang mengikuti program affiliate dari sebuah bisnis online. Blog bisa dijadikan tempat untuk mempromosikan URL affiliate anda. Misal, jika anda adalah member di beberapa situs PTC, pasti anda punya URL untuk merefer orang lain. URL itu bisa anda pampang di blog anda dengan sedikit preselling untuk menarik pengunjung untuk mengklik URL itu. Semakin banyak pengunjung blog anda, semakin besar peluang URL affiliasi anda di-klik orang. So, sangat penting untuk senantiasa meng-update blog anda. Tidakkah nge-blog itu bermanfaat?
- Sekali lagi bagi anda yang ingin serius di dunia bisnis online, nge-blog bisa menjadi media pembelajaran untuk mengelola situs sebelum anda membeli domain dengan harga mahal. Awalnya mungkin anda belum punya modal yang cukup untuk membeli domain dengan harga jutaan. Cukup manfaatkan fasilitas yang telah diberikan oleh penyedia blog gratis, dan buatlah blog seperti contohnya blog More Delicious ini, dan manfaatkan seoptimal mungkin untuk mengembangkan bisnis online anda. Banyak hal akan anda dapatkan ketika nge-blog. Sebagai pengembang blog, pasti anda menginginkan agar pengunjung blog anda semakin banyak (traffiknya tinggi). Mau tidak mau, anda akan mencari cara untuk mewujudkannya. Dari sana, anda akan mulai belajar dan menerapkan berbagai cara yang ada, misalnya berbagai teknik SEO (search engine optimation). Kalau anda tidak nge-blog, gimana anda mau mencoba teknik-teknik itu? Sekali lagi ini sangat bermanfaat sebagai bahan pembelajaran sebelum mengelola situs anda nanti.
- Agaknya, bagi anda yang tidak suka berbisnis online, nge-blog sedikit mubadzir. Tapi, eittt...., tunggu dulu. Jangan terburu-buru mengambil kesimpulan. Dengan nge-blog, anda bisa memberikan manfaat kepada banyak orang. Blog berisi artikel-artikel yang mencerminkan pemikiran-pemikiran/cara pandang penulisnya tentang berbagai hal. Tidakkah anda pernah berpikir bahwa mungkin saja banyak orang yang terinspirasi oleh artikel-artikel anda dan akhirnya memperbaiki diri menjadi lebih baik? Blog adalah wujud nyata kontribusi anda dalam menghiasi dunia maya ini. Hiasilah dengan pemikiran-pemikiran positif anda. Ubahlah dunia dengan artikel-artikel anda. Ubahlah dunia dengan blog anda. Sekali lagi, blog adalah ladang amal bagi anda..... Artinya, nge-blog itu beramal....
- Setidaknya, nge-blog jauh lebih baik daripada nge-buka situs-situs asusila
Membuat Puisi Spontan: Cara Jitu Membangkitkan Jiwa Kepenulisan Anda
Puisi spontan? What’s this?
OK, saya jelaskan. Puisi spontan adalah puisi yang ditulis secara spontan. Misalnya, anda diberi sebuah kata atau tema, kemudian selama maksimal 10 menit anda diminta membuat puisi tentang tema itu.
Natalie Goldman, dalam bukunya yang berjudul Alirkan Jati Dirimu (Dengan Menulis), menjelaskan bagaimana efek membuat puisi spontan ini terhadap kemampuan menulis kita. Sangat positif.
Anda ingin mencobanya? Mudah saja. Anda juga bisa mendapatkan penghasilan dari menulis puisi spontan ini. Bagaimana bisa? Kalau biasanya berbicara tentang bisnis online, kali ini adalah tentang bisnis offline.
Begini teknisnya:
Jika ada bazar di kampus, sekolah, atau di daerah di sekitar anda, berpartisipasilah. Bukalah stan. Stan? Ya. Stan Puisi Spontan.
Tidak butuh modal besar. Anda bisa mengajak 2 orang teman anda.
Cukup sediakan tikar, meja, setumpuk kertas dan pulpen.
Jangan lupa pasang banner atau spanduk atau tulisan sebagai nama stan anda: PUISI SPONTAN, dan sedikit kalimat iklan.
Pengunjung akan datang, meminta anda membuatkan puisi dengan tema yang mereka minta. Pasanglah tarif murah, misal Rp3.000,- per puisi.
Mudah bukan? Selain anda bisa meningkatkan kemampuan menulis anda, anda pun bisa meningkatkan penghasilan anda. Buktikan sendiri.
***
OK, saya jelaskan. Puisi spontan adalah puisi yang ditulis secara spontan. Misalnya, anda diberi sebuah kata atau tema, kemudian selama maksimal 10 menit anda diminta membuat puisi tentang tema itu.
Natalie Goldman, dalam bukunya yang berjudul Alirkan Jati Dirimu (Dengan Menulis), menjelaskan bagaimana efek membuat puisi spontan ini terhadap kemampuan menulis kita. Sangat positif.
Anda ingin mencobanya? Mudah saja. Anda juga bisa mendapatkan penghasilan dari menulis puisi spontan ini. Bagaimana bisa? Kalau biasanya berbicara tentang bisnis online, kali ini adalah tentang bisnis offline.
Begini teknisnya:
Jika ada bazar di kampus, sekolah, atau di daerah di sekitar anda, berpartisipasilah. Bukalah stan. Stan? Ya. Stan Puisi Spontan.
Tidak butuh modal besar. Anda bisa mengajak 2 orang teman anda.
Cukup sediakan tikar, meja, setumpuk kertas dan pulpen.
Jangan lupa pasang banner atau spanduk atau tulisan sebagai nama stan anda: PUISI SPONTAN, dan sedikit kalimat iklan.
Pengunjung akan datang, meminta anda membuatkan puisi dengan tema yang mereka minta. Pasanglah tarif murah, misal Rp3.000,- per puisi.
Mudah bukan? Selain anda bisa meningkatkan kemampuan menulis anda, anda pun bisa meningkatkan penghasilan anda. Buktikan sendiri.
***
20 Januari 2009
Sungguh-Sungguh
Sungguh-sungguh adalah lawan dari main-main dan menyepelekan, lemah dan lamban. Di bawah ini adalah definisi sungguh-sungguh menurut Muhammad Nazhif Masykur, penulis buku Living Smart:
1. segera melaksanakan tugas
2. kuat dan tekad yang membaja
3. tahan banting dan kontinu
4. mengerahkan segala potensi
5. mampu mengatasi semua rintangan dan alasan.
Apakah sifat-sifat di atas ada dalam diri anda? Jika iya, saya ucapkan selamat, karena kesuksesan besar menanti anda.
1. segera melaksanakan tugas
2. kuat dan tekad yang membaja
3. tahan banting dan kontinu
4. mengerahkan segala potensi
5. mampu mengatasi semua rintangan dan alasan.
Apakah sifat-sifat di atas ada dalam diri anda? Jika iya, saya ucapkan selamat, karena kesuksesan besar menanti anda.
Langganan:
Postingan (Atom)