05 April 2010

pindah kapal

kutipan sebuah cerita:

Sakit menghunjam hati Talo, yang baru saja memutuskan untuk berhenti berlayar bersama kapal Greens yang hampir 4 tahun dijadikannya sumber penghidupannya.

Ya, sakit, atau tepatnya, ia tak bisa menerjemahkan rasa yang kadang berdesir di hatinya, atau berkelebat di otaknya setelah ia pamitan sama awak kapal yang lain dalam perpisahan itu. Pamitan yang sampai sekarang kadang masih mengusiknya. Ya, karena Talo bilang, ia menemukan kapal lain, ‘kapal belum bernama’, yang tempat tujuannya sesuai dengan tempat yang diinginkannya selama ini, sebuah pulau yang penuh dengan keberkahan, pulau Nirwana. Memang kapal Greens selalu bilang kalau tempat tujuannya juga pulau Nirwana. Tetapi, setelah ia analisa lebih jauh, Talo merasa bahwa pulau Nirwana yang dituju kapal Greens bukanlah pulau Nirwana yang ada dalam benak Talo, rute pelayaran kapal Greens juga masih agak kabur bagi Talo. Sedangkan ‘kapal belum bernama’ yang ditemukannya itu, menurutnya menuju pulau Nirwana yang sesungguhnya diinginkannya, dan rute pelayarannya pun jelas. Ya, karena selama dua tahun terakhir ini, diam-diam ia saling berkirim surat dengan salah satu awak ‘kapal belum bernama’ itu.

Talo pernah menyesal berpamitan dengan cara seperti itu, karena apa? Ia tahu ia akan dianggap pembelot dan harus menghadapi perlakuan awak kapal Greens yang tidak akan seperti dulu lagi. Tidak seperti dulu yang walaupun Talo bukan awak yang setia di kapal Greens, tetapi ia berusaha memberikan yang terbaik yang Talo bisa dalam pelayaran kapal Greens itu. Ya, Talo tahu, awak kapal Greens tidak akan sampai hati menyakiti Talo karena mereka adalah orang-orang yang lemah lembut kepada siapapun. Bahkan Talo sempat dikirimi puisi oleh salah seorang sahabatnya dari Kapal Greens, yang isinya, ia tetap setia menunggu Talo kembali, menginginkan Talo kembali lagi bekerja di kapal Greens. Talo sebenarnya meneteskan air mata saat membaca puisi itu, karena Talo juga masih sangat mencintai sahabat-sahabatnya. Talo hanya bisa bilang, jika memang tempat tujuan kita sama, yakinlah sahabat, bahwa suatu saat nanti, kita pasti kan bertemu di pulau itu, pulau Nirwana.

Kadang ia berpikir, kenapa dulu ia tidak langsung pergi saja dari kapal Greens, tanpa pamit, supaya tak ada asumsi pembelotan, pengkhianatan. Atau pamit menggunakan alasan lain. Tapi bagaimanapun juga, ia merasa tak pantas menyesalinya. ia telah memilih, dan ia kan terus melangkah dengan pilihannya itu.

Talo memang membawa sebungkus rasa sakit di hatinya, karena tetap saja, sementara ini ia kehilangan sahabat-sahabat terbaiknya. Sahabat-sahabat terbaik yang bersama mereka, dulu Talo belajar banyak hal, melakukan perbaikan-perbaikan dalam hidupnya, dan bersama menjaga pelayaran kapal Greens.
Memang sakit, tapi Talo telah memilih kapal ini, dan selalu ia bisikkan pada dirinya, bahwa ia sudah siap menanggung segala resiko yang akan dihadapinya atas pilihannya itu. Tak peduli sesakit apapun, ia yakin bahwa kapalnya yang baru ini, akan benar-benar membawa penumpangnya ke pulau Nirwana itu, pulau yang akan memberikan keberkahan bagi manusia di dalamnya. Dan jika pun ia dapati kapal ini membohonginya, ia siap untuk mencari kapal lain lagi. Suatu ketika, di buku hariannya tertulis, “biar peluru menembus kulitku, biar 1000 pisau menusuk jantungku, aku tetap meradang menerjang”. Sepertinya ia baru saja membaca puisinya Chairil Anwar.

(mengandaikan diriku bisa setegar Talo)


***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar