31 Mei 2010

episode makan malam

Seharian beraktivitas, A makan malam bersama B,

B : apa yang sebenarya kaucari?

A : (cukup lama berpikir dan akhirnya menggelengkan kepala) aku tak tahu, entahlah… untuk apa aku beraktivitas seharian ini? apa yang kucari?

B : kau mencari uang.. (lalu menyeruput jus mangga di mejanya)

A : uang? (mengaduk-aduk es campurnya) iya sih, tapi sepertinya bukan cuma itu.. ada sesuatu yang lain yang seharusnya kucari, nonmaterial…

B : kau mencari popularitas? (menyendok nasi gorengnya)

A : ah! apa pula itu? (ada yang membenarkan di hatinya) tapi harusnya bukan itu yang kucari… itu hampa… penuh dengan pintu kekecewaan… manusia tak pernah sempurna… (menikmati capcay gorengnya)

B : mungkin kau mencari pahala?

A : pahala? (beberapa detik terdiam) bukan… mungkin seharusnya bukan itu yang kucari… aku tak peduli, Tuhan mau memberiku imbalan macam apa… (melanjutkan menyantap sesendok capcay-nya)

B : kau mencari surga? (masih asyik dengan nasi gorengnya)

A : ah! sama saja itu dengan pahala… aku cuma ingin memberi dan tak mengharap imbalan dari siapapun… (agak menggelengkan kepalanya)

B : aku tahu, kau mencari cinta… (beralih ke jus mangganya)

A : cinta? (cukup lama pandangnya menerjang apa yang ada di depannya, tak tahu kemana…, dan sendoknya menggantung…) ya, mungkin cinta yang kucari.. tapi cinta terlalu abstrak… aku tak mengharap cinta dari yang lain, aku ingin mencinta, tapi apa yang musti dicinta?

B : kau mencari ‘raga’ untuk dicinta? (beralih lagi ke nasi gorengnya)

A : raga? ia fana, akan rusak dan hancur… lalu harus kukemanakan cintaku jika sang raga itu telah rusak dan hancur?

B : kau mencari ‘jiwa dan raga’ untuk dicinta?

A : jiwa dan raga? suatu kesatuan? bagaimana jika nantinya sang raga mati, harus kukemanakan separuh cintaku?

B : jadi, kau hanya mencari ‘jiwa’ untuk dicinta?

A : (ia menarik dan menghembuskan nafas cukup panjang, dan pandangannya terus menerjang ke depan) jiwa… iya… tapi bahkan kemana jiwa itu pergi setelah tak punya raga, aku pun masih bertanya-tanya…

B : oh, aku tahu, ternyata kau masih mencari Sang Cinta untuk dicinta…

beberapa detik terdiam, saling pandang, lalu keduanya kembali asyik menyantap hidangannya masing-masing…

***

1 komentar:

  1. PAMRIH ?? hemm.... menurutku kita hanya boleh pamrih pada Allah Swt..... bukan mengharap surga atau pahalaNya.... Tapi RidhoNya...... dg kita pamrih pada Allah Swt berarti kita mengahambakan diri padaNya..... dengan kita mengahambakan diri berarti kita Percaya dan Yakin pada Allah Swt.....! (IMAN).....
    Wassalam mualaikum Orang Asing !

    BalasHapus