Aku tak sebaik yang kau pikirkan.., aku juga mungkin lebih buruk dari yg terburuk yang pernah kau pikirkan.
Tak penting memang membahas hal ini. Toh, apa untungnya buatmu? Memang tak ada. Buatku, juga tak ada untungnya sama sekali, karena memang ku tak cari untung. Aku cuma ingin menulis, itu saja. Dan karena aku sedang tak tahu apa yang ingin kutulis, maka kutulis ini.
Hey, apa ini?! Ngomong apa kamu cit?
Hmh, entahlah, aku tlah tiba di saat di mana semua hal yg berbulan-bulan kulakukan ini tampaknya bullshit bgt. Dan apa yang dia sampaikan, dan apa yg dia bicarakan, dan apa yang dia lakukan, dan apa yg dia ejawantahkan, dan apa yg dia inginkan, tak ada artinya sama sekali. Ah, entahlah, kosong, dan apa yg sebenernya mereka inginkan dengan segala ucapan mereka?
Oh, cuma untuk dikenal... oh, cuma untuk eksis.. oh, cuma untuk mendapatkan perhatiannya.. oh, cuma untuk ini toh... oh, cuma untuk berpengaruh,.. oh, cuma untuk segala bayang semu itu..
Sejak kpn aku begitu peduli ttg kepentinganmu? Aaargh...!!! Aku hanya bosan n muak dg segala ego negatifmu..
Apa hakku memaki? Aku tak berhak, aku tlah membuat batasan bagi diriku untuk tak memaki, memang. Tapi apa bedanya tulisan ini dg makian? Apa bedanya pikiran ini dengan makian? Ah! Ya itu tadi, seperti kubilang di awal tulisan ini, memang aku tak sebaik yg kau pikirkan, aku juga mungkin lebih buruk dari yg terburuk yang pernah kau pikirkan.
***
Penjelajahan, dalam diri, dalam detail, dalam suasana, dalam kata, dalam angka, dalam semesta, dalam waktu... sampai kapanpun, will always be more delicious
Tampilkan postingan dengan label curahan hati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label curahan hati. Tampilkan semua postingan
13 Agustus 2010
sangat tak penting
Label:
curahan hati,
introspeksi diri,
refleksi
16 Juli 2010
rumit

Kadang merasa begitu munafik saat menulis atau berucap: "bahagiamu adalah bahagiaku".
Dan merasa begitu bodoh pula saat sudah tahu bahwa setiap degup jantung ini membisikkan tanya: "apakah dia juga rasa seperti yg kurasa?" tetapi masih tetap memilih untuk menyimpan tanya itu sampai jasad menyatu dg tanah dan jiwa menyatu dg energi semesta.
Lalu, merasa tak ada bedanya dg orang yg sakit jiwa, saat sudah tahu telah ada nama yg memenuhi ruang di hatinya, tapi tetap menyediakan ruang kosong di hati ini untuknya.
Entahlah, segalanya terasa begitu rumit ketika cinta telah ikut campur... (setidaknya bagiku)
***
Label:
cinta,
curahan hati,
kemunafikan,
pengakuan,
rumit
Langganan:
Postingan (Atom)