Tampilkan postingan dengan label mustofa bisri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mustofa bisri. Tampilkan semua postingan

29 Agustus 2010

negeri teka teki -oleh Mustofa Bisri-

jangan tanya, tebak saja

jangan tanya apa
jangan tanya siapa
jangan tanya mengapa
tebak saja

jangan tanya apa yang terjadi
apalagi apa yang ada di balik kejadian
karena di sini yang ada memang
hanya kotak-kotak teka-teki silang
dan daftar pertanyaan-pertanyaan

jangan tanya mengapa
yang di sana dimanjakan
yang di sini dihinakan,
tebak saja

jangan tanya siapa
membunuh buruh dan wartawan
siapa merenggut nyawa
yang dimuliakan Tuhan
jangan tanya mengapa,
tebak saja

jangan tanya mengapa
yang di sini selalu dibenarkan
yang di sana selalu disalahkan
tebak saja

jangan tanya siapa
membakar hutan dan emosi rakyat
siapa melindungi penjahat keparat
jangan tanya mengapa,
tebak saja

jangan tanya mengapa
setiap kali terjadi kekeliruan
pertanggungjawabannya tak karuan
tebak saja

jangan tanya siapa
beternak kambing hitam
untuk setiap kali dikorbankan
tebak saja

jangan tanya siapa
membungkam kebenaran
dan menyembunyikan fakta
siapa menyuburkan kemunafikan dan dusta
jangan tanya mengapa
tebak saja

jangan tanya siapa
jangan tanya mengapa
jangan tanya apa-apa
tebak saja

rembang - oktober 1997

reformasi terus melaju -oleh Mustofa Bisri-

api terus melalap kota dan hutan
bayi-bayi terus dikabarkan dibuang sembarangan
demam berdarah terus meminta korban
aktivis-aktivis terus dikabarkan hilang
perusahaan-perusahaan besar terus dibingungkan utang
menteri-menteri terus bernegosiasi dengan para pemilik piutang
bank-bank terus deg-degan
petinggi-petinggi negara terus berusaha meyakinkan
negara-negara donor terus mempertimbangkan bantuan
ibu-ibu rumah tangga terus mengeluhkan harga bahan-bahan
toko-toko yang pintunya tak pro reformasi
terus jadi sasaran penjarahan
korupsi, kolusi, dan nepotisme terus menjadi pembicaraan
pengamat terus mengkritik dan mempertanyakan
pakar-pakar terus berteori
mahasiswa terus berdemonstrasi
abri terus berjaga-jaga
politisi-politisi terus memasang kuda-kuda
ulama dan umara terus beristighatsah dan berdoa
modal dan moral terus terkikis
sembako dan kepercayaan terus menipis
harga-harga terus naik
rupiah yang dicintai terus melemah
orsospol-orsospol terus bengong
wakil-wakil rakyat terus tampak bloon
padahal pak harto sudah lengser keprabon
reformasi terus melaju

rembang - 1998

***

sajak atas nama -oleh Mustofa Bisri-

ada yang atas nama Tuhan melecehkan Tuhan
ada yang atas nama negara merampok negara
ada yang atas nama rakyat menindas rakyat
ada yang atas nama kemanusiaan memangsa manusia

ada yang atas nama keadilan meruntuhkan keadilan
ada yang atas nama persatuan merusak persatuan
ada yang atas nama perdamaian mengusik kedamaian
ada yang atas nama kemerdekaan memasung kemerdekaan

maka atas nama apa saja atau siapa saja
kirimkanlah laknat kalian
atau atas namaKu
perangilah mereka!

rembang - agustus 1997

kinilah saatnya berterus terang -oleh Mustofa Bisri-

setelah sekian lama
kita dihimpit gelap kabut
ditindih rasa takut
setelah sekian lama
kita digoncang deru angin
setelah semua kata-kata
hanya menggumpal dalam dada

setelah semua merasa lara
kinilah saatnya berterus terang
jangan tutupi kebenaran
agar dunia tetap terang
jangan tutupi kesalahan
biar dada tetap lapang
kinilah saatnya berterus terang

jangan biarkan rasa takut
membuatmu menjadi munafik dan pengecut
cahaya kebenaran telah datang
kinilah saatnya berterus terang

marilah kita bicara laiknya saudara
jangan lagi kita biarkan
kepentingan merekayasa kita
menyumbat makna
tumpukan kata menyuburkan dendam
tumpukan keluhan meledakkan dada
dan akhirnya dendam membakar segalanaya

kinilah saatnya berterus terang
setelah sekian lama
kita saling terkam bagai serigala
masihkah tersisa kemanusiaan kita?
setelah sekian lama
kebencian antara kita membara
masihkah kita bersaudara?

1998

kembalikan makna pancasila -oleh Mustofa Bisri-

selama ini di depan kami
terus kalian singkat-singkat pancasila
karena kalian takut ketahuan
sila-sila yang kalian maksud
sila-sila yang kalian anut
tidak sebagaimana yang kalian tatarkan
kepentingan-kepentingan sempit sesaat
telah teralu jauh menyeret kalian
maka pancasila kalian pun selama ini adalah:

kesetanan yang maha perkasa
kebinatangan yang degil dan biadab
perseteruan indonesia
kekuasaan yang dipinpin oleh nikmat kepentingan
dalam kekerabatan/perkawanan
kelaliman sosial bagi seluruh rakyat indonesia

dan sorga kami pun menjadi neraka
di depan dunia
ibu pertiwi menangis memilukan
merahputihnya dicabik-cabik
anak-anaknya sendiri bagai serigala
menjarah dan memperkosanya
o, Gusti kebiadaban apa ini?
o, azab apa ini?
Gusti,
sampai memohon ampun kepada-Mu pun
kami tak berani

1998

24 Agustus 2010

DUNIA SERBA TUHAN ATAWA TUHAN SEMAKIN BANYAK

Terkesan dengan puisi-puisi Gus Mus, saya coba search puisi-puisi Gus Mus yang terbaru, dan akhirnya sampailah di GusMus.NET. Di kolom "embun", saya melihat daftar puisi-puisi Gus Mus, dan langsung tertarik pada judul puisi ini, Dunia Serba Tuhan Atawa Tuhan Semakin Banyak, hehehe... sangat mewakili perasaan saya.. tentu saja selain puisi Kau Ini Bagaimana Atau Aku Harus Bagaimana .. ^_^

DUNIA SERBA TUHAN ATAWA TUHAN SEMAKIN BANYAK

Di mana-mana semakin banyak tuhan
Di Irak dan Iran
Di Israel dan Afganistan
Di Libanon dan Nikaragua
Di India dan Srilangka
Di JEpang dan Cina
Di Korea dan Pilipina

Tuhan semakin banyak
Di Amerika dan Rusia
Di Eropa dan Asia
Di Afrika dan Australia
Di NATO dan PAlta Warsawa
Di PBB dan badan-badan dunia

Dimana-mana tuhan, ya Tuhan
Disini pun semua serba tuhan
Disini pun tuhan merajalela
Memenuhi desa dan kota
Mesjid dan gereja
Kuil dan pura
Menggagahi mimbar dan seminar
Kantor dan sanggar
Dewan dan pasar
Mendominasi lalu lintas
Orpol dan ormas
Swasta dan dinas

Ya Tuhan, di sana-sini semua serba tuhan
Pernyataanku pernyataan tuhan!
Kebijaksanaanku kebijaksanaan tuhan!
Keputusanku keputusan tuhan!
Pikiranku pikiran tuhan!
Pendapatku pendapat tuhan!
Tulisanku tulisan tuhan!
Usahaku usaha tuhan!
Khutbahku khutbah tuhan!
Fatwaku fatwa tuhan!
Lembagaku lembaga tuhan
Jama’ahku jamaah tuhan!
Keluargaku keluarga tuhan!
Puisiku puisi tuhan!
Kritikanku kritikan tuhan!
Darahku darah tuhan!
Akuku aku tuhan!

Ya Tuhan!

1987+1429

aku tak bisa lagi menyanyi - oleh Mustofa Bisri -

bagiku kini tak ada lagi lirik dan musik yang menarik
untuk kunyanyikan bersamamu atau sendiri

burung-burung terlalu berisik
mendendangkan apa saja setelah mereka merdeka
membuatku tak dapat lagi mengenali suaramu atau suaraku sendiri

taman tempat kita istirah.. becek darah..
yang seharusnya tak tumpah..

jalan-jalan tempat kita mendekatkan hati
tertutup dihadang geram dan amarah

malam-malam tempat kita menyembunyikan cinta
telah dionarkan kobaran kebencian..

daging-daging yang selama ini kita manjakan pun
ikut terpanggang api dendam

udara di sekitar kita meluapkan bau terlalu anyir..
dan lalat-lalat berpesta dimana-mana..

bagaimana aku bisa menyanyi..
aku tak mampu meski menyanyikan lagu duka..
aku tak bisa mengadukan duka pada duka
mengeluhkan luka pada luka
senar gitarku putus
dan aku tak yakin mampu menyambungnya lagi

dan langit pun seolah sudah muak
dengan lagu-lagu bumi yang sumbang

maaf sayang,
aku tak bisa lagi menyanyi bersamamu atau sendiri
entah..
jika tiba-tiba nabi daud datang membawa seruling ajaibnya

November, 1998

sujud -- oleh Mustofa Bisri --

bagaimana kau hendak bersujud pasrah
sedang wajahmu yang bersih sumringah
keningmu yang mulia dan indah
begitu pongah minta sajadah
agar tak menyentuh tanah

apakah kau melihatnya
seperti iblis saat menolak
menyembah bapamu dengan congkak
tanah hanya patut diinjak
tempat kencing dan berak
membuang ludah dan dahak
atau paling jauh
hanya lahan pemanjaan nafsu serakah dan tamak

apakah kau lupa bahwa tanah
adalah bapa dari mana ibumu dilahirkan
tanah adalah ibu yang menyusuimu dan memberi makan
tanah adalah kawan
yang memelukmu dalam kesendirian
dalam perjalanan panjang menuju keabadian

singkirkan saja sajadah mahalmu
ratakan keningmu
latakan heningmu
tanahkan wajahmu
pasrahkan jiwamu
biarlah rahmat agung Allah membelaimu
dan terbanglah..
kekasih..

dzikir malam --oleh Mustofa Bisri--

langit memimpin dzikir malam
membaca wirid hening
dalam hitungan renyai hujan
dan manik-manik keringat dinginku

angin mendesirkan tasbih
bersama pucuk-pucuk pohon di mulut pori-poriku
sesekali kilat memucatkan rumput-rumput
mencuatkan lidah-lidah laut
dalam gemuruh tahmid
bersama khauf raja’-ku

sementara petir dan guruh bergantian
meneriakkan takbir dari puncak
diamku
langit memimpin dzikir malam
di bumi kelam gelisahku

1415

20 Agustus 2010

di basrah .. oleh Mustofa Bisri

Untuk ali jabbar dan usman awam


Inilah basrah...
tanah batu putih..
tak pernah berhenti memerah..
tak pernah lelah dijarah sejarah..

Inilah basrah...
pejuang badar bernama utbah
membangun kota ini atas perintah umar al faruq sang khalifah
Entah mantra apa yg dibaca ketika meletakkan batu pertama
Sehingga kemudian setiap jengkal tanahnya..
Tak henti-hentinya merekam nuansa seribu satu cerita

Basrah yg marah.. basrah yg merah..
basrah yg ramah.. basrah yg pasrah..

Kota yg terus membatasi penduduknya
dengan menambah jumlah syuhada..

Inilah basrah..
disini ali dan aisyah.. menantu dan istri nabi
mengumpulkan dendam amarah..
ghirah terhadap keyakinan kebenaran ..
setelah mengantarkan az zubair dan al haq,
hawari-hawari nabi ke taman kedamaian abadi yg dijanjikan

Inilah basrah..
Di sini abu musa dan abul hasan
mematrikan nama al as’ari pada lempeng sejarah
Inilah basrah..
di sini berbaur seribu satu aliran
Di sini sunnah, syiah dan mu’tazilah,
masing-masing bisa menjadi bid’ah
Di sini berhala pemutlakkan pendapat terkapar oleh kekuasaan fitrah ..

Inilah basrah.. mimbar khalwat al hasan al bashari dan rabi’ah ..
Inilah basrah.. tempat bercanda abu nuas dan walibah ..
Inilah basrah.. tempat al musayyab dan syair2nya
menghidupkan mirwat yang wah..

Inikah basrah...
tangan takdir penuh misteri
menuntunku.. tamu tak diundang ini kemari
Aku menahan nafas...
Inikah basrah...

Inilah basrah.. setelah perang irak iran
Korma-korma yg masih pucat melambai ramah..
Para pemuda, gadis, dan bocah
menyanyi dan menari tahnyiah
untuk penyair mirbat yg berpesta merayakan
entah kemenangan apa

Di sini jumat siang 25 jumadil ula
Sehabis menelan dan memuntahkan puisi-puisi kebanggaan
Ratusan penyair dengan garang berhamburan menyerang kambing-kambing guling..
Ikan-ikan shatul arab yg dipanggang kering
Nasi samin dan roti segede-gede piring..
anggur dan korma kemurahan basrah..
Aku dilepas takdir ke tengah-tengah mereka..
mengeroyok meja makan yg panjang..
menelan puisi dan saji ..
sambil kuperhatikan wajah-wajah para penyair,.
Kalau-kalau…, ah…
sampai walibah dan abu nawas pun tak tampak ada..

Inilah basrah…
bersama para penyair yg lapar.. kutelan semuanya..
Bersama-sama menghabiskan apa yang ada..
sampai mentari ditelan bumi..
Dan aku pun tertelan habis-habisan..
Basrah mulai gelap…
barangkali adzan maghrib sudah dikumandangkan..
tapi tampaknya tak satupun yg mendengarnya..
Kami kekenyangan semua..

Dan aku, sambil bersendawa,
merogoh saku mencari-cari rokokku..
terasa kertas-kertas lusuh sanguku dari rumah..
puisi-puisi sufistik untuk al bashari dan rabi’ah..
Tiba-tiba.. aku ingin muntah..
Kulihat kedua zahid basrah itu.. di sudut sana sedang berbuka
hanya dengan air mata..

Aku ingin lari bersembunyi tapi kemana..
Tuhan.., berilah aku setetes saja air mata mereka..
untuk mencairkan batu di dadaku..
Basrah.. tolong, jangan rekam kehadiranku..

Basrah, 1410 H

***

hehe... maaf kalau ada kesalahan tulisan ... hasil listening mp3-nya soalnya.. :D
Mohon koreksinya.. terima kasih.. ^_^

---

17 Agustus 2010

di arafah

oleh Mustofa Bisri (Gus Mus)

Terlentang aku seenaknya
dalam pelukan bukit-bukit batu
bertenda langit biru,

Seorang anak
entah berkebangsaan apa
mengikuti arah mataku
dan dalam isyarat
bertanya-tanya:
"kapan Tuhan turun?"
Aku tersenyum..

Setan mengira dapat mengendarai matahari,
mengusik khusukku,
apa tak melihat ratusan ribu hati yang putih
menggetarkan bibir,
melepas dzikir,
menjagaku jutaan milyar malaikat
menyiramkan berkat..

Kulihat diriku
terapung-apung
dalam nikmat,
dan si anak
entah berkebangsaan apa
seperti melihat arak-arakan karnaval
menari-nari
dengan riangnya..

Terlentang aku..
satu diantara jutaan tumpukan dosa
yang mencoba menindih,
akankah kiranya bertahan
dari banjir air mata penyesalan massal ini

Gunung-gunung batu
menirukan tasbih kami,
pasir-pasir menghitung wirid kami

dan si anak..
yang aku tak tahu
berkebangsaan apa
tertidur di pangkuanku
pulas sekali..

Arafah, 1415 H

***

15 Agustus 2010

kau ini bagaimana atau aku harus bagaimana

Kau ini bagaimana?
kau bilang aku merdeka, kau memilihkan untukku segalanya
kau suruh aku berpikir, aku berpikir kau tuduh aku kafir

aku harus bagaimana?
kau bilang bergeraklah, aku bergerak kau curigai
kau bilang jangan banyak tingkah, aku diam saja kau waspadai

kau ini bagaimana?
kau suruh aku memegang prinsip, aku memegang prinsip kau tuduh aku kaku
kau suruh aku toleran, aku toleran kau bilang aku plin plan

aku harus bagaimana?
aku kau suruh maju, aku mau maju kau selimbung kakiku
kau suruh aku bekerja, aku bekerja kau ganggu aku

kau ini bagaimana?
kau suruh aku takwa, khotbah keagamaanmu membuatku sakit jiwa
kau suruh aku mengikutimu, langkahmu tak jelas arahnya

aku harus bagaimana?
aku kau suruh menghormati hukum, kebijaksanaanmu menyepelekannya
aku kau suruh berdisiplin, kau mencontohkan yang lain

kau ini bagaimana?
kau bilang Tuhan sangat dekat, kau sendiri memanggil-manggilnya dengan pengeras suara tiap saat
kau bilang kau suka damai, kau ajak aku setiap hari bertikai

aku harus bagaimana?
aku kau suruh membangun, aku membangun kau merusakkannya
aku kau suruh menabung, aku menabung kau menghabiskannya

kau ini bagaimana?
kau suruh aku menggarap sawah, sawahku kau tanami rumah-rumah
kau bilang aku harus punya rumah, aku punya rumah kau meratakannya dengan tanah

aku harus bagaimana?
aku kau larang berjudi, permainan spekulasimu menjadi-jadi
aku kau suruh bertanggungjawab, kau sendiri terus berucap wallahu a’lam bissawab

kau ini bagaimana?
kau suruh aku jujur, aku jujur kau tipu aku
kau suruh aku sabar, aku sabar kau injak tengkukku

aku harus bagaimana?
aku kau suruh memilihmu sebagai wakilku, sudah kupilih kau bertindak sendiri semaumu
kau bilang kau selalu memikirkanku, aku sapa saja kau merasa terganggu

kau ini bagaimana?
kau bilang bicaralah, aku bicara kau bilang aku ceriwis
kau bilang jangan banyak bicara, aku bungkam kau tuduh aku apatis

aku harus bagaimana?
kau bilang kritiklah, aku kritik kau marah
kau bilang carikan alternatifnya, aku kasih alternatif kau bilang jangan mendikte saja

kau ini bagaimana?
aku bilang terserah kau, kau tidak mau
aku bilang terserah kita, kau tak suka
aku bilang terserah aku, kau memakiku

kau ini bagaimana?
atau aku harus bagaimana?

1987
Mustofa Bisri (Gus Mus)

***

14 Agustus 2010

kaum beragama negeri ini

oleh Mustofa Bisri (Gus Mus)

Tuhan, lihatlah betapa baik kaum beragama negeri ini
mereka tak mau kalah dengan kaum beragama lain di negeri negeri lain
Demi mendapatkan ridhlo-Mu mereka rela mengorbankan saudara saudara mereka
Untuk merebut tempat terdekat disisi-Mu,
mereka bahkan tega menyodok dan menikam hamba hamba-Mu sendiri
Demi memperoleh rahmat-Mu,
mereka memaafkan kesalahan dan mendiamkan kemungkaran
Bahkan mendukung kelaliman
Untuk membuktikan keluhuran budi mereka,
terhadap setanpun mereka tak pernah berburuk sangka

Tuhan, lihatlah betapa baik kaum beragama negeri ini
Mereka terus membuatkan-Mu rumah rumah mewah diantara gedung gedung kota
hingga ditengah tengah sawah dengan kubah kubah megah,
dan menara menara menjulang untuk meneriakkan nama-Mu,
menambah segan dan keder hamba hamba kecil-Mu yang ingin sowan kepada-Mu

Nama-Mu mereka nyanyikan dalam acara hiburan hingga pesta agung kenegaraan
Mereka merasa begitu dekat dengan-Mu hingga masing masing merasa berhak mewakili-Mu
Yang memiliki kelebihan harta membuktikan kedekatannya dengan harta yang Kau berikan
Yang memiliki kelebihan kekuasaan membuktikan kedekatannya dengan kekuasaan yang Engkau limpahkan
Yang memiliki kelebihan ilmu membuktikan kedekatannya dengan ilmu yang Engkau kurniakan
Mereka yang Engkau anugerahi kekuatan seringkali bahkan merasa diri Engkau sendiri
Mereka bukan saja ikut menentukan ibadah
Tapi juga menetapkan siapa ke surga siapa ke neraka
Mereka sakralkan pendapat mereka
Dan mereka akbarkan semua yang mereka lakukan
Hingga takbir dan ikrar mereka yang kosong bagai perut bedhug
Allahu Akbar... walillah hilham...

***

selamat tahun baru, kawan

oleh Mustofa Bisri

Selamat tahun baru, kawan
Kawan, sudah tahun baru lagi
Belum juga tibakah saatnya kita menunduk
Memandang diri sendiri
Bercermin firman Tuhan sebelum kita dihisabnya

Kawan, siapakah kita ini sebenarnya
Musliminkah..? mukminin..? muttaqin?
Khalifah Allah..? umat Muhammad-kah kita?
Khoiro Ummatinkah kita?
Atau kita sama saja dengan makhluk lain
Atau bahkan lebih rendah lagi
Hanya budak budak perut dan kelamin
Iman kita kepada Allah dan yang Ghaib
Rasanya lebih tipis dari uang kertas ribuan
Lebih pipih dari kain rok perempuan
Betapapun tersiksanya kita khusuk didepan massa
Dan tiba tiba buas dan binal justru saat disaat sendiri bersama-Nya

Syahadat kita rasanya seperti perut bedhug
Atau pernyataan setia pegawai rendahan aja
Kosong....Tak Berdaya
Shalat kita rasanya lebih buruk dari senam ibu ibu
Lebih cepat daripada menghirup kopi panas
Dan lebih ramai daripada lamunan seribu anak muda

Doa kita sesudahnya justru lebih serius
Kita memohon hidup enak didunia dan bahagia di surga
Puasa kita rasanya sekedar mengubah jadwal makan minum dan saat istirahat
Tanpa menggeser acara buat syahwat
Ketika datang lapar atau haus kita pun manggut manggut
Oh beginikah rasanya dan kita sudah merasa memikirkan saudara saudara kita yang melarat
Zakat kita jauh lebih dari berat terasa
Dibanding tukang becak melepas penghasilannya
Untuk kupon undian yang sia sia
Kalaupun terkeluarkan harapan pun tanpa ukuran
Upaya upaya Tuhan menggantinya berlipat ganda

Haji kita tak ubahnya tamasya menghibur diri
Mencari pengalaman spiritual dan material
Membuang uang kecil dan dosa besar
Lalu pulang membawa label suci asli made in Saudi
Haji...

Kawan...,
Lalu bagaimana, bilamana dan berapa lama kita bersamanya
Atau kita justru sibuk menjalankan tugas mengatur bumi seisinya
Mensiasati dunia sebagai khalifahnya

Kawan...,
Tak terasa kita memang semakin pintar
Mungkin kedudukan kita sebagai khalifah mempercepat proses kematangan kita
Paling tidak kita semakin pintar berdalih
Kita perkosa alam dan lingkungan demi ilmu pengetahuan
Kita berkelahi demi menegakkan kebenaran
Melacur dan menipu demi keselamatan
Memamerkan kekayaan demi mensyukuri kenikmatan
Memukul dan mencaci demi pendidikan
Berbuat semaunya demi kemerdekaan
Tidak berbuat apa apa demi ketentraman
Membiarkan kemungkaran demi kedamaian
Pendek kata demi semua yang baik halallah semua sampaipun yang paling tidak baik

Lalu bagaimana para cendekiawan dan seniman
Para mubaligh dan Kiai
Penyambung lidah nabi
Jangan ganggu mereka...
Para cendekiawan sedang memikirkan segalanya
Para seniman sedang merenungkan apa saja
Para mubaligh sedang sibuk berteriak kemana mana
Para Kiai sedang sibuk berfatwa dan berdoa
Para pemimpin sedang mengatur semuanya
Biarkan mereka diatas sana
Menikmati dan meratapi nasib dan persoalan mereka sendiri

Kawan, Selamat Tahun Baru
Belum juga tibakah saatnya kita menunduk
Memandang diri sendiri..

***

Hehehe... Mungkin tak tepat waktu aku mempostkannya, tapi semoga tetap bisa diambil hikmahnya bg yang membacanya, ^_^

---

bila kutitipkan -oleh Mustofa Bisri-

bila kutitipkan dukaku pada langit, pastilah langit memanggil mendung
bila kutitipkan resahku pada angin, pastilah angin menyeru badai
bila kutitipkan geramku pada laut, pastilah laut meggiring gelombang
bila kutitipkan dendamku pada gunung, pastilah gunung meluapkan api

tapi…

akan kusimpan sendiri mendung dukaku dalam langit dadaku
kusimpan sendiri badai resahku dalam angin desahku
kusimpan sendiri gelombang geramku dalam laut pahamku
kusimpan sendiri api dendamku dalam gunung resamku
kusimpan…sendiri…

1415 H

***