Tampilkan postingan dengan label sufi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sufi. Tampilkan semua postingan

20 Agustus 2010

di basrah .. oleh Mustofa Bisri

Untuk ali jabbar dan usman awam


Inilah basrah...
tanah batu putih..
tak pernah berhenti memerah..
tak pernah lelah dijarah sejarah..

Inilah basrah...
pejuang badar bernama utbah
membangun kota ini atas perintah umar al faruq sang khalifah
Entah mantra apa yg dibaca ketika meletakkan batu pertama
Sehingga kemudian setiap jengkal tanahnya..
Tak henti-hentinya merekam nuansa seribu satu cerita

Basrah yg marah.. basrah yg merah..
basrah yg ramah.. basrah yg pasrah..

Kota yg terus membatasi penduduknya
dengan menambah jumlah syuhada..

Inilah basrah..
disini ali dan aisyah.. menantu dan istri nabi
mengumpulkan dendam amarah..
ghirah terhadap keyakinan kebenaran ..
setelah mengantarkan az zubair dan al haq,
hawari-hawari nabi ke taman kedamaian abadi yg dijanjikan

Inilah basrah..
Di sini abu musa dan abul hasan
mematrikan nama al as’ari pada lempeng sejarah
Inilah basrah..
di sini berbaur seribu satu aliran
Di sini sunnah, syiah dan mu’tazilah,
masing-masing bisa menjadi bid’ah
Di sini berhala pemutlakkan pendapat terkapar oleh kekuasaan fitrah ..

Inilah basrah.. mimbar khalwat al hasan al bashari dan rabi’ah ..
Inilah basrah.. tempat bercanda abu nuas dan walibah ..
Inilah basrah.. tempat al musayyab dan syair2nya
menghidupkan mirwat yang wah..

Inikah basrah...
tangan takdir penuh misteri
menuntunku.. tamu tak diundang ini kemari
Aku menahan nafas...
Inikah basrah...

Inilah basrah.. setelah perang irak iran
Korma-korma yg masih pucat melambai ramah..
Para pemuda, gadis, dan bocah
menyanyi dan menari tahnyiah
untuk penyair mirbat yg berpesta merayakan
entah kemenangan apa

Di sini jumat siang 25 jumadil ula
Sehabis menelan dan memuntahkan puisi-puisi kebanggaan
Ratusan penyair dengan garang berhamburan menyerang kambing-kambing guling..
Ikan-ikan shatul arab yg dipanggang kering
Nasi samin dan roti segede-gede piring..
anggur dan korma kemurahan basrah..
Aku dilepas takdir ke tengah-tengah mereka..
mengeroyok meja makan yg panjang..
menelan puisi dan saji ..
sambil kuperhatikan wajah-wajah para penyair,.
Kalau-kalau…, ah…
sampai walibah dan abu nawas pun tak tampak ada..

Inilah basrah…
bersama para penyair yg lapar.. kutelan semuanya..
Bersama-sama menghabiskan apa yang ada..
sampai mentari ditelan bumi..
Dan aku pun tertelan habis-habisan..
Basrah mulai gelap…
barangkali adzan maghrib sudah dikumandangkan..
tapi tampaknya tak satupun yg mendengarnya..
Kami kekenyangan semua..

Dan aku, sambil bersendawa,
merogoh saku mencari-cari rokokku..
terasa kertas-kertas lusuh sanguku dari rumah..
puisi-puisi sufistik untuk al bashari dan rabi’ah..
Tiba-tiba.. aku ingin muntah..
Kulihat kedua zahid basrah itu.. di sudut sana sedang berbuka
hanya dengan air mata..

Aku ingin lari bersembunyi tapi kemana..
Tuhan.., berilah aku setetes saja air mata mereka..
untuk mencairkan batu di dadaku..
Basrah.. tolong, jangan rekam kehadiranku..

Basrah, 1410 H

***

hehe... maaf kalau ada kesalahan tulisan ... hasil listening mp3-nya soalnya.. :D
Mohon koreksinya.. terima kasih.. ^_^

---

17 Agustus 2010

di arafah

oleh Mustofa Bisri (Gus Mus)

Terlentang aku seenaknya
dalam pelukan bukit-bukit batu
bertenda langit biru,

Seorang anak
entah berkebangsaan apa
mengikuti arah mataku
dan dalam isyarat
bertanya-tanya:
"kapan Tuhan turun?"
Aku tersenyum..

Setan mengira dapat mengendarai matahari,
mengusik khusukku,
apa tak melihat ratusan ribu hati yang putih
menggetarkan bibir,
melepas dzikir,
menjagaku jutaan milyar malaikat
menyiramkan berkat..

Kulihat diriku
terapung-apung
dalam nikmat,
dan si anak
entah berkebangsaan apa
seperti melihat arak-arakan karnaval
menari-nari
dengan riangnya..

Terlentang aku..
satu diantara jutaan tumpukan dosa
yang mencoba menindih,
akankah kiranya bertahan
dari banjir air mata penyesalan massal ini

Gunung-gunung batu
menirukan tasbih kami,
pasir-pasir menghitung wirid kami

dan si anak..
yang aku tak tahu
berkebangsaan apa
tertidur di pangkuanku
pulas sekali..

Arafah, 1415 H

***

14 Agustus 2010

selamat tahun baru, kawan

oleh Mustofa Bisri

Selamat tahun baru, kawan
Kawan, sudah tahun baru lagi
Belum juga tibakah saatnya kita menunduk
Memandang diri sendiri
Bercermin firman Tuhan sebelum kita dihisabnya

Kawan, siapakah kita ini sebenarnya
Musliminkah..? mukminin..? muttaqin?
Khalifah Allah..? umat Muhammad-kah kita?
Khoiro Ummatinkah kita?
Atau kita sama saja dengan makhluk lain
Atau bahkan lebih rendah lagi
Hanya budak budak perut dan kelamin
Iman kita kepada Allah dan yang Ghaib
Rasanya lebih tipis dari uang kertas ribuan
Lebih pipih dari kain rok perempuan
Betapapun tersiksanya kita khusuk didepan massa
Dan tiba tiba buas dan binal justru saat disaat sendiri bersama-Nya

Syahadat kita rasanya seperti perut bedhug
Atau pernyataan setia pegawai rendahan aja
Kosong....Tak Berdaya
Shalat kita rasanya lebih buruk dari senam ibu ibu
Lebih cepat daripada menghirup kopi panas
Dan lebih ramai daripada lamunan seribu anak muda

Doa kita sesudahnya justru lebih serius
Kita memohon hidup enak didunia dan bahagia di surga
Puasa kita rasanya sekedar mengubah jadwal makan minum dan saat istirahat
Tanpa menggeser acara buat syahwat
Ketika datang lapar atau haus kita pun manggut manggut
Oh beginikah rasanya dan kita sudah merasa memikirkan saudara saudara kita yang melarat
Zakat kita jauh lebih dari berat terasa
Dibanding tukang becak melepas penghasilannya
Untuk kupon undian yang sia sia
Kalaupun terkeluarkan harapan pun tanpa ukuran
Upaya upaya Tuhan menggantinya berlipat ganda

Haji kita tak ubahnya tamasya menghibur diri
Mencari pengalaman spiritual dan material
Membuang uang kecil dan dosa besar
Lalu pulang membawa label suci asli made in Saudi
Haji...

Kawan...,
Lalu bagaimana, bilamana dan berapa lama kita bersamanya
Atau kita justru sibuk menjalankan tugas mengatur bumi seisinya
Mensiasati dunia sebagai khalifahnya

Kawan...,
Tak terasa kita memang semakin pintar
Mungkin kedudukan kita sebagai khalifah mempercepat proses kematangan kita
Paling tidak kita semakin pintar berdalih
Kita perkosa alam dan lingkungan demi ilmu pengetahuan
Kita berkelahi demi menegakkan kebenaran
Melacur dan menipu demi keselamatan
Memamerkan kekayaan demi mensyukuri kenikmatan
Memukul dan mencaci demi pendidikan
Berbuat semaunya demi kemerdekaan
Tidak berbuat apa apa demi ketentraman
Membiarkan kemungkaran demi kedamaian
Pendek kata demi semua yang baik halallah semua sampaipun yang paling tidak baik

Lalu bagaimana para cendekiawan dan seniman
Para mubaligh dan Kiai
Penyambung lidah nabi
Jangan ganggu mereka...
Para cendekiawan sedang memikirkan segalanya
Para seniman sedang merenungkan apa saja
Para mubaligh sedang sibuk berteriak kemana mana
Para Kiai sedang sibuk berfatwa dan berdoa
Para pemimpin sedang mengatur semuanya
Biarkan mereka diatas sana
Menikmati dan meratapi nasib dan persoalan mereka sendiri

Kawan, Selamat Tahun Baru
Belum juga tibakah saatnya kita menunduk
Memandang diri sendiri..

***

Hehehe... Mungkin tak tepat waktu aku mempostkannya, tapi semoga tetap bisa diambil hikmahnya bg yang membacanya, ^_^

---